Solusi Cepat dan Tepat Hentikan Tawuran Pelajar di Jakarta

Kenakalan remaja dalam bentuk tauran sudah ada sejak lama. Ketika saya duduk di bangku sekolah, seorang guru yang merupakan alumni SMA ternama di Jakarta pernah bercerita tentang tauran yang pernah terjadi di sekolahnya. Berdasarkan penuturannya itu, dapat di katakan, tauran di Jakarta sudah berlangsung setidaknya sekitar dua dasawarsa.

Belakangan peristiwa tauran yang kategorinya sudah bukan lagi kenakalan remaja, tapi berubah menjadi kriminalitas banyak menyita perhatian banyak kalangan. Semalam, berbagai tokoh berdiskusi untuk sekalian deklarasi damai Stop Tawuran di Hotel Sultan. Begitu berbahayanya tauran yang merebak di penerus bangsa ini, membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh; Kapolda Metro Jaya, Irjen Untung S Rajab; Dirjen Pendidikan sekolan Menengah se-Jadetabek; Kasubdin Pendidikan menengah se-Jadetabek; Tokoh Agama, Sukrom Makmur; Tokoh Masyarakat; Tokoh Pendidikan, Arif Rahman; Tokoh Budaya, M. Sobari; Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi; Kepala Sekolah SMU dan SMK se-Jadetabek dengan komite sekolah, guru BP, serta ketua Osis, untuk membahas tawuran.

Bagi saya, acara tersebut menjelaskan bahwa tauran bukan hanya sekedar keprihatinan, bahkan bisa jadi ancaman yang mengharuskan berbagai pihak bergerak untuk hentikan tawuran. Acara yang saya yakin menghabiskan cukup banyak uang itu, sepertinya belum sampai menohok ke dasar karena para pelaku dan “penggiat” tawuran tidak di undang, juga terhadap sekolah yang “tidak rawan” tawuran-pun demikian, padahal pola antisipasi agar tidak menjalar sebagai tren untuk sekolah lain sepertinya amat diperlukan.

Dalam minggu yang bersamaan ini, di kelas terjadi presentasi dan diskusi tentang tawuran dengan kasus yang masih hangat dan bersejarah “Sekolah Bertetangga yang Gemar Tawuran”. Kami sepakat dalam diskusi tersebut bahwa tawuran harus dihentikan, namun caranya bagaimana (lagi)?. Pertanyaan demikian adalah ekspresi nyaris kehabisan solusi karena berbagai cara di lakukan namun belum menemukan penyelesaian jitu, sejak dulu hingga kini.

Berdasarkan hasil diskusi terdapat beberapa cara, yang tentunya sudah dilakukan dan hasilnya tidak hentikan tawuran, namun saya yakin dapat menjadi bahan pemikiran yang bisa jadi kalau diolah bisa hasilkan solusi ampuh. Berikut adalah beberapa yang telah dilakukan:

  1. Orang tua agar meluangkan perhatian lebih untuk memberikan pemahaman yang tepat sehingga keinginan tawuran anaknya di sekolah tidak terjadi lagi.
  2. Pihak sekolah memberlakukan peraturan yang tegas agar para pelaku dan “penggiat” tawuran agar di tindak tegas baik itu dari siswa, alumni, atau bahkan dari guru (yg dianggap siswa memiliki kekuatan sebagai cerminan/inspirasi/figur tawuran).
  3. Pihak kepolisian bertindak tegas terhadap remaja yang melakukan tawuran.
  4. Putus senioritas yang sarat dengan penghambaan dan pelanjut “history kehebatan” budaya tawuran sekolah tersebut.
  5. Stop segala macam bentuk bullying dan kekerasan di sekolah.
  6. Deklarasi damai bersama dengan berbagai bentuk simbolisnya, baik itu antar sekolah, ataupun berbagai pihak terkait dan peduli dengan pendidikan.
  7. Perbanyak dan perluas sarana penyaluran energi remaja (SMA) seperti di bidang olah raga, seni, dan keilmuan.

Solusi di atas bukannya tidak dilakukan, akan tetapi banyak mengalami kendala, antara lain:

  1. Pelaku tawuran di sekolah mendapat bekingan dari pihak yang memang memiliki power, sehingga pihak aparat keamanan tidak banyak berbuat banyak. Kedua sekolah yang gemar tawuran tersebut banyak yang merupakan anak pejabat sipil dan kemiliteran, dan terdiri dari anak pengusaha yang sudah barang tentu disebut “orang berduit”, sehingga besar kemungkinan hukuman dapat “dibeli” dengan pangkat dan rupiah. Ini sepertinya harus diteliti lebih lanjut walaupun dalam kenyataannya sudah terlanjur berkembang biak di masyarakat, terutama di kalangan anak SMA di Jakarta.
  2. Pihak keamanan, dengan demikian belum sepenuhnya menjalankan semangat reformasi yang “tidak pandang bulu” dalam menegakkan hukuman. Terlebih ketika terjadi aksi tawuran, polisi bukanlah menjadi pihak yang ditakuti¬† oleh para pelaku tawuran di Jakarta, polisi sekan kehilangan “kejantanannya”.
  3. Begitupula pihak sekolah, kedua sekolah tersebut hingga kini dikenal sekolah yang “relatif bebas”, belum mampu mengendalikan (baca: pembinaan) secara optimal. Tersebar kabar, bahwa penekanan dari “pihak atas” telah membuat kepala sekolah dan guru merasa “terjepit” dalam menerapkan peraturan sekolah, sehingga tidak mengagetkan bila Kakak Kelas lebih dihormati, bahkan ditakuti dibandingkan guru-nya sendiri. Seakan guru tidak memiliki “gigi” dihadapan siswa mereka sendiri.
  4. Tradisi kekompakan di setiap angkatan yang melembaga dan seringkali diikuti dengan tindakan bully dan kekerasan terus dilestarikan. Para “penggiat” tawuran, baik itu dari pelajar atau alumni, tidak sepenuhnya ditangani dengan pendidikan dan ketegasan yang proporsional oleh berbagai pihak yang terkait dan berwenang.

Selanjutnya, bagaimana cara yang tepat, bahkan cepat agar tawuran di kedua sekolah tersebut berakhir?. Solusi dibawah ini, bukanlah semudah seperti membalikkan tangan, atau juga PASTI berhasil, akan tetapi ini cara yang bisa menjadi alternatif utama, setidaknya tidak sampai dua dasawarsa belakangan ini. Semoga.

  1. Kampanye berkesinambungan tentang anti-tawuran dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.
  2. Orang tua siswa harus ekstra dalam memberikan perhatian dan kasih sayang.
  3. “Potong satu atau dua generasi” dengan cara: satu atau dua tahun berturut-turut tidak menerima murid baru.
  4. Perubahan nama sekolah, misalnya menjadi SMA Burung 1 dan SMA Burung 2. Ingat, jarang sekali sekolah dengan nama yang sama terus ber-tawuran.
  5. Sekolah harus berani/bernyali memberikan hukuman tegas dan mendidik “tanpa pandang bulu” kesemua pihak yang terbukti sebagai “penggiat” dan pelaku tawuran.
  6. Pihak kepolisian juga demikian, jangan sampai kehilangan “kejantanan-nya” (lagi).
  7. Regenerasi atau penggantian total (seluruh) guru di kedua sekolah tersebut dengan guru terpilih yang konsern dengan Anti-Tawuran/bentuk kekerasan lainnya.
  8. Media memberitakan tawuran secara proporsional sehingga gambar yang ditertampilkan tidak terkesan heroik atau membangkitkan solidaritas “nama sekolah”.
  9. Turunkan status atau grade atau peringkat sekolah, dari Sekolah Bertaraf Internasional menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Intrenasional (RSBI). Dari RSBI turun ke sekolah Standar Nasional. Dari Standar Nasional ke sekolah biasa. Dari Akreditas A turun ke B, lalu ke C.
  10. Mengurangi kuota SNPTN Undangan secara bertahap hingga nol kepada sekolah yang “gemar” tawuran.
  11. Kampus/Universitas Negeri Favorit menolak (dengan memasukkan ke daftar hitam, black list) lulusan sekolah yang “rajin” tawuran masuk/diterima ke kampusnya.

Semoga solusi dari kamu dapat membantu….

Jangan sampai seperti di bawah ini lagi…

This slideshow requires JavaScript.

Portal yang di dalamnya menulis plus foto tentang tawuran:

Tawuran 1

Tawuran 2

Tawuran 3

Tawuran 4

About these ads

2 thoughts on “Solusi Cepat dan Tepat Hentikan Tawuran Pelajar di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s