Keganasan Fretilin Terungkap di Kamp Pengungsi

2409676_20121002021216

47721489

Atambua, NTT, 21/8/2001 (Info-ri) – Keganasan sikap dan tindakan partai
Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente (Fretilin) pada
pergolakan perang saudara 1975 di Timor Lorosae mulai terungkap di
berbagai kamp pengungsi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

`Para pendukung partai Fretilin sangat ganas. Mereka tidak hanya
membunuh saudara sebangsanya tetapi juga menyayat tubuh korban yang
sudah menjadi mayat itu secara sangat tidak manusiawi,` kata salah
seorang ibu rumah tangga, Amelia de Deus Pinto, di atambua, Selasa.
Dia mengakui, ketika terjadi pergolakan di Timtim tahun 1975, dirinya
sudah berusia 15 tahun sehingga dapat memahami secara baik dan benar
perjuangan politik Fretilin ketika itu.

Sehingga, masuknya Pasukan TNI ke wilayah Timtim pada tahun itu
sebenarnya merupakan jawaban atas permintaan mayoritas rakyat di
negeri itu agar ideologi komunis dapat secepatnya diberantas dari
persada Timor Lorosae.

Dikatakan, jika Fretilin hendak membunuh seseorang yang tidak sehaluan
politik dengannya, maka terlebih dahulu lawan politiknya itu disiksa
secara kejam.

Fretilin juga telah banyak membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak
berdosa. Mereka membantai warga timtim dalam jumlah yang sangat banyak
lalu dibuang ke dalam jurang terjal.

Karena itu, jika pada kampanye pemilu perdana ini partai Fretilin
menyatakan bahwa mereka telah berjasa menghantar rakyat Timtim ke
pintu gerbang kemerdekaan secara damai maka pernyataan itu merupakan
kebohongan yang paling besar.

Fretilin harus lebih dahulu menunjukkan kuburan massal rakyat Timtim
pada pergolakan tahun 1975 sebelum mereka keluar sebagai pemenang
pemilu 30 Agustus nanti.

Seorang pengungsi lainnya, Carlito BC. Alves mengatakan, dirinya tidak
percaya kalau Fretilin dapat memimpin Timor Lorosae menuju sebuah
bangsa dan negara yang merdeka dan sejahtera karena tangan dari mereka
yang memimpin itu telah dilumuri darah saudara-saudaranya sendiri.

`Kekejaman Fretilin itu tidak hanya terjadi pada tahun 1975 tetapi
hingga 1999. Karena itu mustahil bangsa dan negara Timor Lorosae
dipimpin oleh manusia yang bertangan darah,` katanya.

Pada masa integrasi (1976-1999) Fretilin telah banyak membantai TNI
dan Polri kelahiran Timtim. Mereka membantai secara sangat keji di
luar batas-batas peri kemanusiaan.

Karena itu, lanjutnya dirinya merasa khawatir, jika terjadi pergolakan
di Timtim pasca pemilu yang berujung pada pecahnya gelombang
pengungsian ke wilayah NTT, maka TNI dan Polri yang bertugas di tapal
batas NTT akan bersikap apatis dalam membantu pengungsi itu.

Bila TNI dan Polri di wilayah perbatasan NTT benar-benar bersikap
apatis terhadap pengungsi pasca pemilu, maka hal itu harus dimaklumi
juga. Mungkin mereka masih merasa sakit hati karena banyak rekan
mereka dibantai selama bertugas di Timtim.

Padahal, lanjutnya kalau masyarakat Timtim saat ini bersikap jujur
maka kedatangan TNI ke Timtim tahun 1975 berawal dari permintaan
rakyat Timtim sendiri melalui para pemimpin partai Uniao Democralica
Timorense (UDT) dan Associacao Popular Democratica Timorense
(Apodeti).

`Kedatangan TNI ke Timtim pertama-tama bertujuan kemanusiaan yakni
mengangkat rakyat Timtim keluar dari limpur pertikaian fisik, tetapi
akhirnya dibalas oleh Fretilin dengan tindakan kekerasan hingga 1999,`
katanya. (ant/aa)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s