Humanisme : Pengantar

Perkembangan aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis yang sangat pesat di Amerika Serikat ternyata merisaukan beberapa pakar psikologi di negara itu. Mereka melihat bahwa kedua aliran itu memandang manusia tidak lebih dari kumpulan refleks (behaviorisme) atau kumpulan naluri saja (psikoanalisis).

Mereka juga menganggap bahwa kedua aliran itu memandang manusia sebagai makhluk yang sudah ditentukan nasibnya (determinisme) yaitu oleh stimulus (behaviorisme) atau oleh alam ketidaksadaran (psikoanalisis). Merekapun juga berkesimpulan bahwa kedua aliran itu menganggap manusia sebagai robot (behaviorisme) atau sebagai makhluk yang pesimistik dan penuh masalah (psikoanalisis).

Manusia harus dikembalikan dalam kesatuannnya yang utuh.pandangan seperti ini dinamakan holistik.selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya,perkembangan pribadinya,perbedaan-perbedaan individualnya dan dari sudut kemanusiaannya itu sendiri. Karena itu psikologi harus masuk dalam topik-topik yang selma itu hampir tidak pernah diteliti oleh aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreativitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna,kebencian, agresivitas, kemandirian, tanggung jawwab dan sebagainya. Pandangan seperti ini disebut pandangan humanistik.

Abraham Maslow adalah seorang psikolog yang awalnya sangat antusias terhadap behaviorisme. Maslow menggunakan teori-teori Watson untuk menemukan berbagai persamaan antara kera dan manusia. Akan tetapi tiga pengalaman dalam hidupnya yang menyebabkan ia meninggalkan behaviorisme. Pertama adalah kasih sayang ayahnya semasa kecil yang dirasakan jauh lebih besar daripada kasih sayang ibunya. Kedua, ketika ia mengamati bayinya yang mungil sebagai hasil pernikahannya sehingga ia berkata “orang yang sudah pernah memiliki bayi tidak akan menjadi behavioris”. Ketiga, ketika Pearl Harbour dibom Jepang pada bulan Desember 1941, ia muak dengan penelitian-penelitiannya tentang kera. Ia pun menambahkan “dengan cara ini kita tidak akan pernah mengenal siapa Hitler, siapa Stalin dan siapa orang Rusia. Dengan cara ini kita tidak perbah mencapai perdamaian, karena kita tidak pernah mengenal orang lain dengan sesungguhnya” demikian kata Maslow. Karena itulah kemudian Maslow beralih ke psikologi holistik dan humanistik.

Teori Maslow tentang motivasi berawal dari pra-anggapan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, atau setidak-tidaknya netral bukan jahat. Dalam paradigma seperti ini, Maslow berpendapat bahwa manusia yang sehat jiwanya adalah manusia yang mengembangkan dirinya sendiri berdasarkan kekuatan-kekuatan dari dalam. Sementara orang-orang yang terganggu jiwanya, yang anti sosial, yang jahat adalah orang-orang yang terhambat perkembangan dirinya, yang frustasi oleh gangguan-gangguan dari luar. Karena itu menurut Maslow, psikoterapi atau konseling bertujuan mengembalikan seseorang ke jalur pengembangan dirinya sendiri melalui potensi-potensi yang ada dalam dirinya sendiri juga.

Salah satu teori Maslow yang sangat terkenal adalah teori hierarki kebutuhan. Dalam teori ini ia mengatakan bahwa ada lima macam kebutuhan manusia yang berjenjang ke atas, seperti spiral yang makin lebar ke atas (kebutuhan yang lebih tinggi akan timbul jika kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi).

Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologik seperti kebutuhan akan udara, makanan, minuman, sex dan sebagainya, yang ditandai oleh kekurangan (defisit) sesuatu dalam tubuh orang yang bersangkutan. kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan sangat ekstrim bisa manusia kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar itu relatif sudah terpenuhi, muncullah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).

Jenis kebutuhan yang kedua ini berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa diprakirakan, bebas dari rasa takut, cemas dan sebagainya. Karena adanya kebutuhan inilah manusia membuat peraturan undang-undang, mengembangkan kepercayaannya, membuat sistem asuransi, pensiun dan sebagainya.

Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipebuhi, maka timbullah kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai (belonging and love needs). Orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain. Ia butuh menjadi bagian dari keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dan sebagainya. Disisi lain, jika kebutuhan tingkat ketiga tersebut di atas relatif sudah dipenuhi, maka timbul kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Ada dua macam kebutuhan akan harga diri ini, yang pertama adalah kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan dari orang lain seperti statusketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain. Orang-orang yang sudah terpenuhi kebutuhan akan harga diri ini akan tampil sebagai orang yang peryaca diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization)

One thought on “Humanisme : Pengantar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s