Intrapsikis: Sebuah Kilasan

Mazhab intrapsikis merupakan psikologi yang mengulas tentang segi kesadaran dan ketidaksadaran manusia. Tokoh-tokoh yang dapat mewakili mazhab ini adalah Frued, Jung, dan Adler.

Dalam kehidupan, manusia memiliki dua dimensi kenyataan, yaitu sebagai individu dan sosial. Pada proses perkembangannya, bersifat paradoksal. Di satu sisi, sebagai individu manusia berusaha mempertahankan diri, disisi lainnya, berkembang secara sosial. Hal demikian, bukan hanya untuk mengembangkan diri secara individu, akan tetapi juga nilai-nilai toleransi diantara sesama. Belajar yang diterapkan guna mendukung ke arah tersebut, dilakukan dengan proses eksperiental learning. Dalam eksperiental learning, siswa diajak untuk belajar sambil bertindak atau learning by doing, untuk menghayati kejadian tertentu. Guna mendalami arti toleransi, siswa tidak perlu menghafal pengertian toleransi, akan tetapi diajak untuk bertindak yang mampu memberikan pemahaman toleransi, seperti dicontohkan : antri di sebuah pintu besar pada KBM TK di Australia.

Siswa diajak mengantri, akan tetapi sesungguhnya di dalam KBM tersebut terdapat sebuah hidden curriculum (kurikulum yang tersembunyi), dan eksperiental learning ini merupakan salahsatu bentuk kesengajaan yang tidak disengaja (unconscious awereness). Bentuk lain terkait tentang kesadaran, adalah kasus Penpield Lev Landau pasca kecelakaan pesawat terbang. Syaraf yang menjadikannya tidak fokus dan tidak sadar dengan masa lalunya, kemudian tersadarkan kembali setelah bertemu isterinya. Begitupula dengan alzheimer. Orang yang mengidap penyakit ini lupa dengan peristiwa-peristiwa baru, akan tetapi pikirannya segar, ketika dipertemukan orang atau teman lama sehingga menguak kembali masa-masa yang sudah lama berlalu.

Kasus-kasus demikian memberikan pemahaman bahwa alam bawah sadar, kemudian menjadi sadar, dapat melalui lingkungan terdekat. Hal ini juga, yang menarik Jung untuk meneliti seseorang yang tidak pernah belajar bahasa Cina, tiba-tiba mampu dengan fasih mengucapkannya. Beliau meyakini, ketidaksadaran yang dimiliki manusia dapat berupa hasil dari dasar rasial dan filogenetis generasi sebelumnya yang disebut ketidaksadaran kolektif.

Terkait tema serupa, Frued beranjak pada masa lalu, terutama masa kanak-kanak dalam memahami pasiennya guna menggali kembali unsur ketidaksadaran seseorang. Metode yang digunakan adalah hipnotis dan mimpi. Untuk mimpi, beliau meyakini bahwa yang tidak dapat muncul dalam kesadaran dapat memunculkan bentuk-bentuk/simbol di dalam mimpi. Oleh sebab itu, dengan menganalisis mimpi diharapkan dapat mengetahui dinamika kepribadian penderita yang bersangkutan.

Menurut Frued, perkembangan kepribadian disebabkan oleh dorongan-dorongan seksual (libido) yang didalamnya terdiri dari 3 unsur, yaitu nafsu, rasio, dan kata hati. Teori ini banyak menuai kritik, terutama dari murid-muridnya seperti Jung dan Adler. Mereka memberikan penekanan yang lebih kuat pada tujuan tingkah laku (teleologi), dibandingkan libido. Sisi sosial juga menjadi sorotan, artinya watak seseorang ditentukan pula oleh hubungan orang dengan masyarakatnya. Inilah ciri kemanusiaan sepanjang masa, yaitu sebagai individu dan sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s