Konstruktivisme : Pemahaman Awal

KONSTRUKTIVISME DAN PEMBELAJARAN YANG DIKONDISIKAN

Dengan situasi :
Seorang anak yang belum pernah ke rumah sakit, berbaring di tempat tidur di salahsatu kamar. Seorang perawat dari pos-nya memanggil anak itu dengan menggunakan interkom yang yang ada di atas tempat tidur; “Hallo Chelsea, bagaimana keadaanmu?, perlu sesuatu?”. Gadis itu terdiam dan tidak menjawab. Si perawat megulangi pertanyannya, tapi tetap juga tidak menjawab. Akhirnya dengan nada yang meninggi; : “Chelsea, kamu masih disana?, katakana sesuatu?”. Gadis itu menjawab dengan datar; “Hallo tembok—aku disini”.

Dalam hal ini, Chelsea menghadapi situasi baru­—tembok yang bisa bicara. Tembok itu diam. Tembok itu terlihat seperti orang dewasa yang asing baginya, dan dia tidak boleh bicara dengan orang asing. Dia menggunakan apa yang dia tahu dan bagaimana situasi yang ada untukmengkinstruksikan arti yang didapat dan untuk melakukannya.

Contoh lain, dalam pengertian konstruksi diambil dari Berk (2001, hlm.31). Pada situasi ini seorang ayah dan putranya yang berusia 4 tahun, menyusun pengertian yang menyeluruh ketika mereka menyusuri sebuah pantai di Kalifornia, mengumpulkan sampah-sampah setelah hari-hari yang ramai;

Ben: (Berlari ke depan dan memanggil) Ada beberapa botol dan kaleng. Aku akan menggambilnya.
Mel: Jika botol itu rusak, itu bisa melukai tanganmu. Biar aku yang menggambil (menggambil dan memasukkan ke tasnya)
Ben: Ayah, lihat kerang ini, ada sesuatu yang sangat besar didalamnya. Warnanya beragam
Mel: Hmmh, mungkin itu kerang tiram
Ben: Apa itu kerang tiram?
Mel: Apakah kamu ingat isi sandwich yang aku makan di dermaga kemarin? itu kerang tiram
Ben: Kamu memakannya?
Mel: Ya, kamu bisa makan itu. Kamu makan bagian berdaging yang dignakan kerang tiram itu untuk menempel di batu.
Ben: Oh, aku tidak mau memakannya. Boeh aku menyimpan cangkangnya?
Mel: Iya, bisa saja. Mungkin kamu bisa menemukan benda-benda di dalam kamarmu dan menyimpannya didalamnya (sambil menunjuk bagian cangkang yang berwarna). Terkadang orang membuat perhiasan dari cangkang.
Ben: Seperti kalung Ibu ?
Mel: Iya, benar. Kalung Ibu terbuat dari sejenis tiram yang mempunyai banyak warna di cangkangnya—merah muda, ungu, biru. Itu disebut Paua. Kalau kamu balik, warnanya akan berubah.
Ben: Wow, ayo kita mencari caangkang Paua
Mel: Kamu tidak bisa menemukan di sini, hanya ada di Selandia Baru.
Ben: Di mana itu, apa Ayah pernah ke sana?
Mel: Belum, seseorang membawakan untuk Ibumu sebgai cenderamata. Tapi aku akan tunjukkan kamu di globe. Selandia Baru itu sangat jauh, jaraknya separuh dunia kalau dari sini.

Amati pengetahuan yang dibangun mengenai mahluk laut dan kegunaannya untuk makanan atau dekorasi, menghindari bahasa, tanggungjawab lingkungan dan jga geografi. Teori pemelajaran yang diyakini oleh kaum konstruktiv, berfokus pada bagaimana orang menyususn arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, seperti Chelsea, dan dari interaksi dengan orang lain, seperti Ben.

PANDANGAN KONSTRUKTIVISME TENTANG PEMBELAJARAN

Konstruktivisme, “merupakan rung yang melingkupi dalam psikologi psikologi, epistemology, dan pendidikan kontemporer”(Von Glasersfeld, 1997, hlm.204), gambaran tersebut adalah istilah yang secara luas digunakan oleh para filsuf, penyusun kurikulum, psikolog, pendidik, dan lainnya. Sebagian orang yang menggunakan istilah ini “menegaskan kontribusi para cendikiawan untuk menerjemahkan dan mempelajarinya melalui 2 sisi, baik itu aktivitas individu dan sosial” (Brunning, Schraw, & Ronning, 1999, hlm.215). Pandangan konstruktivisme didasari oleh oenelitian Piaget, Vygotsky, psikolgi Gestalt, Bartlett, dan Brunner, seperti juga filsafat pendidikan Jhon Dewey yang mengemukakan beberapa akar intelektual.

Tidak ada teori pembelajaran tunggal dari konstruktivisme. Sebagian besar teori dalam ilmu pengetahuan kognitif meliputi beberapa macam konstruktivisme, karena teori-teori ini menyimpulkan bahwa individu-individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti ketika mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu (Palincsar, 1998). Terdapat beberapa pendekatan konstruktivisme dalam ilmu pengetahuan, pendidikan matematika, psikologi, antropologi, dan komputerisasi. Walaupun banyak psikolog dan pendidik menggunkan istilah konstruktivisme, mereka seringkali memahami dengan arti yang berbeda-beda (Marshall, 1996; McCaslin & Hickey, 2001; Phillips, 1997). Satu cara ntuk mendapatkan intisari pandangan adalah membahas dua bentuk konstruksi psikologi dan sosial (Palincsar, 1998; Phillips, 1997).

Konstruktivisme psikologi/individual.
Kaum psikologi konstrktivisme “memfokuskan dengan bagaimana individu-individu membangun elemen-elemen tertentu dari perangkat kognitif dan emosional” (Phillips, 1997, hlm.153). Kaum konstruktisme tertarik dengan pengetahuan, keyakinan, konsep diri, atau identifikasi individual, oleh sebab itu mereka kadang disebut kaum konstruktiv individual; mereka semua fokus dalam kehidupan psikologi inner manusia. Ketika Chelsea berbicara dengan tembok yang digambarkan pada bagian sebelumnya, dia mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengetahuan dan keyakinannya secara individu.

Dengan menggunakan standar ini, teori proses informasi yang belakangan ini muncul adalah teori kaum konstruktivisme (Mayer, 1996). Pendekatan proses informasi dalam pembelajaran berkaiatan dengan pikiran manusia sebagai simbol proses system itu sendiri. Sistem ini mengubah sensor input menjadi struktur simbol (proposisi, gambaran, atau skema) lalu proses (mengulangi atau mengelaborasi) struktur simbol itu sehingga pengetahuan dapat diingat dan diolah kembali. Dunia luar dilihat sebagai sumber input, tapi ketika moment tersebut masuk ke dalam daya ingat, hal-hal yang penting, diasumsikan “sedang terjadi di dalam otak” individu (Schunk, 2000; Vera & Simon, 1993). Akan tetapi, sebagian psikolog percaya, bahwa proses informasi adalah “trivial constructivism” (konstruktivisme yang sepele), karena kontribusi konstruktiv individual hanya untuk membangun representasi yang akurat tentang dunia luar (Derry, 1992; Garrison, 1995; Marshall, 1996).

Kebalikannya, pandangan psikologi konstruktiv Piaget, sedikit memfokuskan kepada representasi yang “benar” dan lebih tertarik kepada pengertian yang dibangun oleh individu. Seperti yang kita lihat pada bagian 2, Piaget mengemukakan sebuah tingkatan kognitif yang semua manusia harus melewatinya. Dengan mempelajari setiap tingkat, akan membangun dan menggabungkan tahapan sebelumnya yang membuatnya lebih teratur dan adaptif, serta tidak terpaku dalam kejadian yang nyata. Piaget lebih memfokuskan pada hal-hal yang masuk akal dan konstruksi pengetahuan secara umum, yang tidak bisa secara langsung dipelajari dari lngkungan—pengetahuan seperti konservasi atau resersevibilitas (Miller, 2002).

Pengetahuan-pengetahuan ini muncul dari merefleksikan dan menghubungkan kognisi atau pikiran-pikiran kita sendiri, bukan dari pemetaan realitas eksternal. Piaget melihat lingkungan sosial sebagai sebuah faktor penting dalam pengembangan kognisi, tapi dia tidak meyakini bahwa interaksi sosial merupakan mekanisme utama dalam mengubah penikiran (Moshman, 1997). Beberapa psikologi pendidikan dan perkembangan, telah menempatkan jenis konstruktivisme Piaget sebagai “aliran pertama konstruktivisme” atau jenis konstruktivisme “solo” dan penegasannya mengenai proses pembentukan arti secara individual (DeCorte, Greer, and Verschaffel, 1996; Paris, Byrnes, & Paris, 2001).

Konstruktivisme Sosial Vygotsky.
Seperti yang dikemukakan pada bagian 2, Vygotsky meyakini bahwa interaksi sosial, unsur-unsur budaya, dan aktivitas yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu, seperti ketika interaksi Ben di pantai dengan Ayahnya, membentuk proses pembelajaran Ben mengenai mahluk laut, menghindari bahaya, tanggung jawab lingkungan dan geografi. Dengan berpartisipasi dalam sebuah aktivitas luar dengan orang lain “learner” (individu tersebut) mendapatkan outcome (hasil interaksi) untuk kepentingannya; “mereka memperoleh strategi dan pengetahuan dunia dan budaya” (Palincsar, 1998, hlm.351-352). Menempatkan pembelajaran dalam konteks sosial budaya adalah “aliran kedua konstruktivisme” (Paris, Byrnes, & Paris, 2001).

Oleh karena teorinya sangat bergantung pada interaksi sosial dan konteks budaya dalam menjelaskan pembelajaran, kebanyakan psikolog mengklasifikasikan Vygotsky sebagai kaum konstruktivisme sosial (Palincsar, 1998; Prawat, 1996). Meskipun demikian, beberapa teoritikus mengkategorikannya sebagai kaum psikologi konstruktivisme, karena ketertarikannya dalam pengembangan individu (Moshman, 1997; Phillips, 1997). Dalam pengertian ini, Vygotsky termasuk dalam kedua kategori tersebut; konstruktivisme sosial dan psikologi konstruktivisme. Satu kelebihan teori pembejarannya adalah membuka jalan untuk kita mempertimbangkan kedua sisi tersebut; dia menjembatani kedua kategori itu. Sebagai contoh, konsep Vygotsky tentang zona pengembangan proximal—sebuah area dimana seorang anak menyelesaikan masalah dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mahir—dapat disinyalir sebagai tempat dimana budaya dan kognisi membentuk satu sama lain (Cole, 1995). Budaya membentuk kognisi ketika orang dewasa menggunakan unsur-unsur dan peristiwa dalam budaya (seperti bahasa, pemetaan, komputer, bayangan, atau musik) untuk mengarahkan anak menuju nilai-nilai budaya (seperti membaca, menulis, menenun, atau menari). Sedangkan kognisi membentuk budaya, dimana orang dewasa dan anak secara bersama-sama melalui pengalaman baru dan pemecahan masalah untuk menambah daftar kelompok-kelompok budaya (Serpell, 1993).

Istilah konstruktionisme terkadang digunakan untuk membahas bagaimana pengetahuan publik terbentuk. Meskipun bukanla merupakan unsur utama dalam psikologi pendidikan, ini penting untuk dijadikan bahan pertimbangan

Konstruktionisme.
Kaum konstruktionisme sosial tidak memfokuskan dalam pembelajaran individu. Mereka fokus pada bagaimana pengetahuan publik dalam disiplin ilmu seperti sains, matematika, ekonomi atau sejarah dibangun. Diluar dari jenis pengetahuan akademis ini, kaum konstruktionisme juga tertarik dalam bagaimana ide-ide yang masuk akal, keyakinan sehari-hari, dan pengertian umum mengenai dunia dikomunikasikan kepada anggota baru kelompok sosial budaya (Gergen, 1997; Phillips, 1997). Pertanyaan yang muncul meliputi siapa yang memastikan apa itu sejarah, cara yang seharusnya dalam publik atau bagaimana dapat terpilih sebagai ketua dalam kelompok sosial. Seluruh pengetahuan dibangun secara sosial, dan lebih penting lagi, sebagian orang mempunyai kekuasaan yang lebih dari orang lain untuk mendefinisikan apa itu pengetahuan. Hubungan diantara guru, murid, keluarga, dan komunitas adalah isu utama. Kolaborasi untuk mengerti perbedaan pandangan selalu dikedepankan, dan bentuk tradisional pengetahuan seringkali diperdebatkan (Gergen, 1997). Teori Vygotsky yang memfokuskan diri pada bagaimana kognisi membentuk budaya, mempunyai beberapa elemen yang sama dengan konstruktionisme.

Kesulitan yang ada dalam kondisi ini adalah ketika didorong ke dalam pengertian relativisme secara ekstrem, semua pengetahuan dan keyakinan adalah setara, karena mereka dibangun secara bersamaan. Terdapat beberapa masalah mengenai pemikiran ini bagi pendidik. Pertama, guru memiliki tanggung jawab professional untuk menegaskan nilai-nilai seperti kejujuran, dan keadilan diatas kefanatikan dan kecurangan. Keyakinan satu dan lainnya tidaklah sama. Sebagai guru, kita mengajarkan untuk belajar dengan giat. Jika pembelajaran tidak mendapatkan pengertian yang lebih mendalam dikarenakan semua pengertian dianggap sama, David Moshman (1997) menyatakan “kita bisa saja membiarkan siswa meneruskan untuk meyakini apa yang mereka yakini” (hlm.230). Lebih jauh, ini menimbulkan bahwa beberapa ilmu pengetahuan, seperti menghitung dan korespondensi tidak dibangun tetapi bersifat umum. Menimbang bahwa koresponden adalah bagian dari kemanusiaan (Gergen, 1995; Schunk, 2000).

Pandangan-pandangan berbeda dalam konstruktivisme menimbulkan beberapa pertanyaan umum dan ketidaksamaan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan bisa terpecahkan, tetapi beberapa teori berbeda, cenderung untuk mendukung posisi-posisi yang berbeda itu.

2 thoughts on “Konstruktivisme : Pemahaman Awal

  1. ok sich gw gak mauksih banyak komentar ntar ada yang nuntut lagi
    ———
    saya berdo’a agar eno menjadi sosok yang berani. amiiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s