SAS: Kritik dan Birokratif

Jakarta, 06 Desember 2007

Tulisan berikut merupakan pengalaman yang membuatku berdebar-debar, namun menarik untuk ditelusuri sebagai bagian dari perjalanan karirku sebagai seorang guru SMA.

Hari ini, pekerjaan untuk scan hasil ujian siswa dalam tes sumatif, menempatkanku untuk tetap di depan komputer. Di waktu senggang, aku buka situs yang luas cakupannya, bernama Sistem Administrasi Sekolah yang begitu akrab atau dikenal oleh guru-guru di DKI Jakarta. Guru menyebutnya dengan tiga huruf : SAS. Situs ini, adalah alat yang salah satu fungsinya: memproses penilaian siswa, dari pembuatan indikator pencapaian sampai mencetak hasil belajar. Kira-kira sebagai raport online.


 Selayaknya sebuah situs, buku tamu-pun tersedia. Wadah inilah yang digunakan oleh user untuk berkomunikasi, berkeluh kesah, bahkan mengkritik. Seakan tanpa ada yang menghalangi, buku tamu ini berkembang dengan berbagai opini. Ada yang sekedar bertanya, say hallo, mengkritisi perkembangan situs, mendukung program SAS ini, begitupula menolak.

Kemarin, ada user yang menulis dengan kesan “tidak resmi” (baca: sepertinya menggunakan bahasa sehari-hari—santai), katakan saja: bercanda, tentang “bagaimana menemukan solusi” dalam menyelesaikan tagihan entry nilai untuk tes sumatif yang begitu banyak dengan waktu yang sempit? (dalam waktu dekat diskusi ini akan ditampilkan). Oleh karena kesan itulah, saya menanggapi dengan rasa yang sama. Dengan analogi “orang ketiga” yang saya sebut: “kata teman saya”, termuatlah gambaran yang menjelaskan “cara mudah” dengan mengajak siswa untuk mengentry skor yang banyak tersebut. Teman guru dalam sekolah yang sama, dimana kami tidak pernah “kong-kalikong” merencanakannya, ternyata menanggapi opini saya.

Nada idealis yang mengidentifikasikan adanya “pengurangan hak siswa” ditujukan kepada pendapat saya itu, sekaligus memberikan sebuah info realitas bahwa sudah cukup banyak, guru bertindak kurang maksimal dalam melayani anak didiknya. Saya kira, setelah menyimak dengan baik, jelas pendapat saya bukanlah sesuatu yang serius, apalagi menjadi jati diri dan realitas di sekolah kami. Sebagai sebuah diskusi ringan, saya melontarkan hal yang serupa: selain dengan sebutan “kata teman saya”, pendapat berikutnya dilengkapi dengan kata: “jangan-jangan”, yakni sebuah susunan kata yang mengasosiasikan kepada usaha menduga-duga atau prakiraan (baca: sangat spekulatif ).

Tanpa harus menungu lama adanya respon dari user lain, dimana seringkali tidak ada tanggapan apapun, ternyata tidak lebih dari 1 jam, diskusi kami yang tidak pernah direncanakan itu, mendapat tanggapan. Sang penanggap adalah Amorgani (Nama sesuai pada buku tamu ini). Dan, Ibu ini selalu menuliskan The Owner SAS atau Koordinator Tim Pengembang SAS DKI tepat dibawah namanya: A***, dalam groups SAS. Dengan nada cukup keras, dimana nama kami dan beberapa kalimat lainnya dengan huruf besar (kata beliau: huruf kapital/besar dalam dunia maya adalah berarti marah), terlontar. Diskusi kami tentang solusi duga-menduga tersebut, mungkin terkesan “nyeleneh” menurut beliau, dianggapnya sebagai suatu realitas nyata disekolah kami. Sungguh, ini sangat mengganggu perasaan dan pikiran saya selaku pendidik, dimana terutama saya tidak pernah berencana apalagi melakukannya. Belum hilang rasa itu, dilanjutkan lagi “usaha birokratif” yang menyangkutkan pimpinan kami terhadap diskusi atau mimbar bebas dalam buku tamu ini.

Saya ingat kalimatnya, kurang lebih seperti ini: “apakah kepala sekolah anda tahu tentang ini?”, dan usulannya agar diadakan pemotongan uang TPP (khusus guru PNS) karena dianggapnya sekolah kami melakukan tindakan “menyuruh siswa untuk entry nilai” yang merupakan, yang diawali kata: “jangan-jangan”, berkesan berlebihan. Benar, sebelumnya saya berpendapat agar TPP diberikan kepada guru yang berdedikasi (baca: agar tepat sasaran), tapi saya tidak pernah mengungkapkan bahwa sekolah kami melakukan tindakan “menyuruh siswa untuk entry nilai”, lagi-lagi, dengan menggunakan kata: “jangan-jangan” sebagai penyambung kalimat tersebut, yang dituduhkan penanggap kepada kami dalam tulisan I. Saya sejenak terbesit: apakah mau berpendapat harus bilang kepada kepala sekolah?, se-birokratif inikah dunia guru, yang selalu mengedepankan professional-argumentatif?. Sungguh, saya merasa tidak nyaman dengan pernyataan penanggap ini, karena mengganggu semangat saya dalam berpendapat. Bukankah, keterbatasan mengungkapakan pendapat (baca: “dilarang kritis”) sudah usai ketika Orba runtuh tahun 1998?, Toh, pendapat saya tidak membawa unsur SARA, apalagi penghinaan terhadap obyek ataupun subyek tertentu.

Tanggap ke II, dengan huruf kapital/besar, menyudahi diskusi ini. Terdapat kalimat: jangan dibuat polemik. Bukankah dengan menaggapi pendapat saya dengan tulisan I, sudah menyeburkan diri dengan nuansa polemik?. Belum habis diminum, kopi dalam gelas saya, Ibu Amorgani menulis tanggapan bahwa tulisan saya sebelumnya, adalah bersifat provokatif. Apa yang dibilang sebagai provokatif, merupakan reaksi pendapat saya yang, lagi-lagi-lagi, diawali kata: “jangan-jangan” dan “kata teman saya” . Saya menulis, kira-kira seperti ini: “kata teman saya” buat apa mengolah nilai yang terpusat (melalui SAS) sementara kurikulum kita bersifat lokal (KTSP)?, dasarnya apa?, bukankah guru seharusnya sebagai professional, dan bukan birokratif yang melanjutkan instruksi dari pusat?…hampir diakhir kalimat, saya menuliskan: “jangan-jangan” “teman saya” yang mengkritisi (berdasarkan kalimat diatas) hanya malas dalam entry nilai…pada bagian bawah, lagi-lagi-lagi-lagi, diakhiri dengan kata: “jangan-jangan” (haruskah saya menjelaskan lagi-lagi, arti kata tersebut?).

Bukankah tanggapan beliau telah menyangkal tanggap sebelumnya yang jelas-jelas, dan semakin jelas karena menulis dengan huruh kapital/besar, bahwa “cukup sudah jangan diteruskan lagi”. Tapi, saya ulangi, rambu tersebut dilarangnya sendiri, dan beliau memulainya, serta terjebak dalam polemik dia sendiri. Ini semakin diperparah, ternyata beliau menanggapi pendapat saya dengan kalimat yang tidak perlu diungkapkan oleh orang dewasa yang berpendidikan, yakni mengganggap pendapat yang “hanya sekedar pendapat” seorang guru biasa dengan cara berlebihan, yakni tulisan saya dianggap provokatif (atau mungkin, saya provokator yang biasanya selalu ditanggap kemudian diadili, walaupun tidak resmi?). Walaupun saya berdebar-debar, kalimat dalam kurung tersebut seakan-akan terbukti.

Teman disamping saya ditelefon oleh Kepsek, dan menanyakan “apa yang ditulis oleh kami” dalam buku tamu?, Kepsek tidak tahu isinya karena beliau menyuruh teman saya untuk membacakannya, dari mana Kepsek tahu?, kalimat “apakah kepala sekolah anda tahu tentang ini?” sudah tidak berlaku lagi, “jangan-jangan” penanggap ini memiliki nomor pribadi alat komunikasi Kepsek, sehingga dengan secepat kilat memberitahukannya. Nuansa birokratif terkesan sekali. Apakah pendapat pribadi saya harus diketahui Kepsek?, kenapa diasosiasikan dengan sekolah sehingga Kepsek harus tahu?. Lagi-lagi, sebenarnya guru itu sosok birokratif atau kreatif-profesional?.

Kesan birokratif, semakin kental setelah teman saya (tanpa tanda kutip, karena bukan spekulatif), memberitahukan bahwa kami harus menghadap Kepsek esok pagi, sembari memasukkan hp-nya kedalam saku setelah bicara dengan Kepsek. Apa urusannya?.

Sudahlah, kita tunggu ceritanya esok hari, Jum’at.

 End: 24.03 WIB

 

 

Jakarta, 14 Desember 2007

Berikut merupakan bagian terhubung dari tulisan tanggal 6 Desember 2007 lalu. Setelah menulis di atas, saya belum bisa tidur lelap. Bad plan sudah tertata rapi, dengan catatan: apabila Kepsek marah-marah, maka tulisan di atas akan saya sampaikan ke pihak Kick Andy Show, Republik Mimpi, LSM yang bergerak di bidang Pendidikan, Hukum, Politik, dan media cetak khusus pendidikan, dan umum.

Sekitar pukul 07.10 Jum’at pagi, saya, teman diskusi di BT (buku tamu), dan teman lainnya yang tidak terlibat, menghadap Kepsek. Ternyata, suasana ketegangan seperti kemarin: mencair, mereda, dan aku coba mengerti isi pembicaraan Kepsek yang kali ini sungguh-sungguh  bersifat birokratif. “Ini dan itu” dibahas, yang menurutku coba menjinakkan “semangat kritis” terhadap program “orang-orang atas”. Dan, kritisku yang terlontar dalam BT, kemudian memunculkan julukan kepada saya, sebagai seorang “provokator”, dan “ekstrimis”. Julukan baru untukku itu, dikarenakan diskusi kami berdua di BT, bukan hanya menyinggung “orang-orang dinas (Dikmenti), namun sudah menusuk”, tutur Kepsek. Saya kemudian teringat dengan Suryadi Suryaningrat yang tulisannya diberanguskan, dan dilanjutkan dengan keluarnya: wilden schoolen ordonantie. Belum hanya sampai disitu, mungkin saya “provokator” yang nantinya ditangkap tanpa surat penangkapan dan diadili tanpa kejelasan seperti kawan-kawan pergerakan tahun 1998, atau saya juga seperti “Si Pitung” jago Betawi yang dibilang “ekstrimis” oleh Kompeni yang berambut kemerah-merahan, ada juga yang berambut kecoklat-coklatan. Barangkali, EKo P, yang menulis buku “Guru: Mendidik Itu Melawan!!” membaca refleksi saya, akan berkomentar banyak, bahkan menulis buku lagi untuk perkembangan ini: “Guru: Birokrasi vs Profesionalisme!! (atau, mungkin saya saja yang menulisnya…).

Alasan lainnya yang diungkapkan adalah, boleh jadi obrolan kami di BT yang ditanggapi sebagai kritikan, dikhawatirkan menjadi “komoditas politik” pihak musuh Dikmenti untuk merongrong program SAS ini, yang BT-nya baru dibuka secara umum sebulan belakangan ini. Saya pikir, kalau SAS memang sudah terencana dengan baik, kenapa harus takut dengan serangan dari orang lain?…Ketakutan serupa sangat jelas terlihat, baik itu berupa tanggapan yang berlebihan disetiap kritik yang diutarakan (tertuju) kepada kinerja pengembang SAS DKI, dan jawaban, yang menurutku sering ngawur, karena tidak rasional, tidak mampu dijawab dengan baik, serta seringkali “diplintir” menjadi isu baru yang melenceng dari pertanyaan semula. Dan, hampir setiap kritikan yang muncul, lazim diartikan sebagai 1). penghambat kerja SAS, 2). dianggap sebagai musuh, dan 3). dihimbau kepada user lainnya: jangan terpengaruh karena akan memecah belah kesatuan kita. Pada bagian ketiga itu, mungkin julukan baru untuk saya dan kritikus lainnya adalah: “Gerakan Sparatis”, melakukan “tindakan makar”, semakin seperti sentralistik dan otiriter, sekaligus angkuh, bukan?!.

Kritikan hanya sedikit misalnya, lalu ditanggapi/ditunjukkan dengan balasan surat yang panjang, dengan sebutan yang merendahkan, terutama yang saya alami, yakni mengartikan, mengasosiasikan, menyebutkan, atau menyindir kritikan terlontar sebagai “asbun” dan semacamnya. Beginikah dunia pendidikan DKI Jakarta?, yang memberanguskan kritikan?,….yang lebih parah lagi apabila kedepan, tulisan berupa kritik dari saya, baik di BT, maupun di blog ini, masih ditanggapi negative oleh Tim Pengembang SAS DKI, saya akan meringgis piluuuu: “I DON’T KNOW WHAT TO SAY….ANYMORE….

  

End. 21.31 WIB.

        

10 thoughts on “SAS: Kritik dan Birokratif

  1. Bu Aida itu orang bodoh tapi sok pintar !!!!
    ——————————————-
    kalau bagi saya, salahsatunya, dia seorang yang ketakutan, terutama dengan kritikan!!!!!!

  2. Kalau mau password semua sekolah sma dki call me…, sasnya si aida gampang di hack
    ———————————————————————————-
    saya perlu pembuktian, kalau anda seorang hecker yang handal………….

  3. AIDA ADALAH ORANG SUKA BUAT SENGSARA GURU DENGAN PROGRAMNYA YANG GENDENG, SINTING, KUNO, GAK LAKU, MURAHAN, GAK KREATIF, DIPAKSAIN, SEENAK UDELNYA, IDIOT, NGABISIN WAKTU, TIDAK ADA NILAI DIDIKNYA. DIA BILANG SAS INI MILIK DIA. LIAT AJA DI EDARAN DIA KIRIM. “OWNER” AIDA. EMANG DIA BIKIN SAS INI PAKE DUIT DIA. MODALNYA TUH GAK ADA. KALO DIA OWNER BERANI GAK NGASIH GURU DKI UANG TUNJANGAN SAS. PALING BEGIDIK NYALINYE. TOBATLAH AIDA SEBELUM ENGKAU DITUNTUT DI AKHIRAT NANTI OLEH GURU2 YANG DIZALIMI. “HANCURKAN SAS.” SAS MENJADIKAN KITA BUDAK CYBER.
    ——————————–
    komentar yang tendensius namun realistis….walaupun ada benarnya, saya no-comment dulu deh…luar biasa….

  4. wah ternyata susah juga ya jadi guru negeri…sedikit berbeda (pendapat) saja dianggap melakukan “provokasi”

    @ penulis : sejujurnya para kepsek itu ikut SAS karena manfaat atau karena emang “diharuskan” dari atasannya ?
    ————

    di..ha..rus..kan..

  5. kalau begitu saya hanya bisa mengucapkan…”selamat berjuang ” katakan yang benar…ceile
    ———
    hahahahahaha…

  6. biasa org kita kan gt..membuncitkan perut sendiri tanpa memikirkan orang lain..apa lg kl ada proyek ky sas gini..maksudnya mu bikin mudah eh nyatanya malah nyusahin..diupgrade lg donk gan..yakin deh kl dananya gak”disunat”tuk program pembuncitan perut pribadi ato tuk jln2 keluar negri pasti program sas gak selemot ini..coba dibuktikan..kasihan sm guru2 honorer ky kita2 ini,apa lagi gak ada dana pengganti tuk kewarnet,mending kembali kejaman baheula..manual aja deh biar susah yg penting kerjaan gak tersendat2..kasihan anak murit masa nilainya gak tertera di raport..cobala dipikirkan&mawas diri gan..
    ————-
    oke gan….

  7. SAS lagi ya yang jadi masalah, Mohon doa dari teman-teman semua agar penelitian saya mengenai SAS di DKI berjalan dengan baik. sejauh ini kekecewaan terhadap SAS mencapai 90 % dari data saya, mudah-mudahan dari hasil penelitian ini dapat memecahkan masalah yang ada seputar SAS.
    saya juga guru, jadi juga merasakan kekecewaan yang sama dengan kalian.

    Hidup Guru Indonesia

    Lawan sistem yang centralisme
    sudah saatnya jatuhkan sistem yang ada.
    Jangan mau di perbudak Cyber.
    ——–
    kalau penelitiannya selesai, jangan lupa kabari saya melalui Blog ini atau email. Saya amat menunggu kedatangan “kabar ilmiah’ tersebut. Thanks a lot.

  8. Rekan-rekan guru mari kita bergabung hancurkan SAS AIDA. Saya telah menghubungi Komisi E DPRD DKI Jakarta dan telah memdemonstrasikan SAS di depan mereka. Hanya sempat demo sedikit saja mereka terkejut dan mengerti kita terzolimi dan proyek milyaran. DPRD akan segera mengundang pihak terkait Dinas Pendidikan dengan saya. Bantu segera saya dan hubungi saya aliamran4@yahoo.co.id.
    —————
    Bisa bapak kirimkan analisis tentang SAS yang bapak kira mendzolimi?, saya ingin membacanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s