SAS: Tergelitik dan menelisik!?

09/12/2007 14:52:21

Bag. I :
Para User SAS yg berbahagia,
Saya senang anda sudah mulai “on” lagi dlm bekerja. Saya selalu mengikuti pendapat dan tanggapan anda semua. Utk itu saya ucapkan “BRAVO” utk semangat yg positif dan berkemajuan. Tapi saya anjurkan agar selain bekerja anda juga rajin membuka milis SAS. Bukankah sudah sejak awal tahun ini milis SAS dipublis-kan utk umum, shg setiap orang dapat membacanya dengan bebas tanpa tergantung Admin lagi?
(A***)

09/12/2007 14:51:12

Bag. II
Di milis SAS banyak info, tips, jawaban utk segala macam persoalan baik teknis maupun non-teknis yg dirilis oleh teman-teman kita para User SAS. Saya harap dgn membaca tulisan dan penjelasan antar teman sesama User SAS anda dapat memahami kinerja SAS dan teknis operasionalnya (apalagi SOPnya sudah setahun yg lalu diterbitkan). Dgn mengetahui seluk-beluk SAS anda tdk mudah iseng mengeluarkan tanggapan miring yg bernada melecehkan, profokatif, menghujat, yg semuanya cuma berdampak membuang waktu yg semakin sempit.
Org mungkin hanya bisa berkomentar sebatas pengetahuannya yg terbatas, maka utk memperluas wawasan sebaiknya kita mau berpikir positif dan terbuka. Anda dipersilahkan mengirim tanggapan/kritik/saran yg membangun di milis SAS.
(A***)

09/12/2007 14:50:38

Bag. II :
Mengkritik dan mencaci adalah dua hal yg sangat jauh berbeda. Bebas bicara sangat diperbolehkan bahkan dianjurkan. Tapi bebas bicara dlm konteks bertanggung-jawab atas materi yg dibicarakan – tdk sama dgn bebas bicara se-mata2 asal mau ngomong, ngobrol, nyeletuk seenaknya – tanpa konteks solusi alias “asal bunyi”. Apalagi jika itu hanya obrolan antar 2 orang guru dari sebuah sekolah yg sama…. wah… alangkah mahalnya harga “obrolan” itu jika dihitung dgn biaya kode digital yg harus dibuat oleh Sistem agar “obrolan antar 2 org guru itu” dapat ditransfer via jaringan ke Mail Server SAS utk kemudian didistribusikan kembali ke semua PC yg sedang membuka Buku Tamu utk dapat dibaca secara luas….????.
(A***)

09/12/2007 14:50:06

Bag. III :
Agar dapat mengkritisi dan memberi saran pada umumnya orang yg bijaksana akan mempelajari terlebih dahulu persoalannya kemudian ia akan menyarankan perbaikan. Ia tidak akan asal celetuk asal bunyi atau asal ngobrol. Dengan berlandaskan pengetahuan yg cukup maka dia akan menawarkan solusi. Oleh krn itu janganlah kita sok mengatas-namakan kemerdekaan dgn bebas bicara yg ASBUN dan justru terkesan murahan, tdk berbobot, dan tdk bersolusi semacam itu. Bgmnpun anda semua mewakili spirit para guru/pendidik/pengajar SMA se DKI Jakarta. Apa kata dunia jika masyarakat awam di luar kita membaca celotehan anda yg tidak bermutu di Buku Tamu ini?
(A***)

——————————

Di setiap kesempatan, baik itu di milis SAS ataupun Kepsek, selalu “A***” menulis, membangun opini bahwa “yang kritik adalah Asbun”…saya secara pribadi “ngak habis pikir”, kok masih ada ya sikap “Orba” seperti itu, barangkali tepat juga slogan golongan kiri di Indonesia yang meneriakkan: “Awas, bahaya laten Orde Baru”….

Apa sikap Orba?, yaitu meneriakkan kebebasan bicara, tapi kalau dikritik: marah!. Selanjutnya, dengan berbagai alasannya, yang kemudian mengistilahkan kritikan tersebut dengan sebutan rendahan, seperti asbun, ngak mutu, murahan, dan lainnya, bahkan melakukan aksi birokratif represif yang dianggap mapan sebagai sebuah hukuman dan percontohan, agar yang lain berpikir lagi, untuk melakukan kritik. Dalam kasus SAS ini, ternyata berharap juga dengan pengkritik, khususnya meminta solusi (kok minta kepada yang rendahan?!). Haruskah?, bukannya dari sebuah kritik dapat ditemukan solusi?!. Ketahuilah, bahwa dari kritik menunjukkan kelemahan, dari sinilah maka timbul kesadaran untuk membangun lebih baik lagi-mengurangi kekurangan. Mungkin yang dikritik tidak sadar.

Ketika pembaca budiman menyimak teks ini, rasanya gelora benci begitu kentara, namun itu tidak benar adanya. Saya hanya prihatin dengan sikap birokrat pendidikan di Jakartakhususnya, dan ini semata-mata sebuah refleksi pengalaman pribadi, tanpa bermaksud secara sadar menyudutkan pihak tertentu, apalagi tendensius kepada A***.

Namun demikian, secara sadar, sayamerasa selalu tersudutkan dengan posting yang dikirimkan oleh A***(boleh jadi, kita sama). Apa buktinya?, hampir disetiap posting, terutama setelah mendapat kritik, kalimat yang menunjukkan “kritikan adalah rendahan”, selalu tertampilkan. Dan, ketahuilah, bahwa yang seringkali kritik, dan tetap konsisten, hanyalah, satu-satunya adalah SMAN 32 Jkt, didalamnya termasuk Tim SAS, dan saya. Artinya, kami telah menjadi “momok” bagi Koordinator SAS DKI, karena walaupun kritikan kami sudah lewat berhari-hari, selalu kami dijadikan sebentuk “musuh bersama” dengan membangun opini disetiap postingnya. Saya merasa benar-benar tergelitik, kalau kritikan kami diartikan sebagai suatu yang rendahan,…bagaimana bisa, kami selalu dibahas berulang-ulang kali,…atau dengan kata lain: “katanya asbun,..kok dilawan terus?, katanya ngak bermutu,.. kok terus ditanggapi?, bahkan, karena seringnya kami mengkritik SAS, maka kami “dikeluarkan” dari group SAS, lucu bukan??. Yang terakhir ini, sungguh-sungguh lucu, kenapa?…coba bayangkan, bagaimana kalau beliau jadi Guru, saya yakin banyak murid kritis yang akan dikeluarkan…hiks..hiks, dan apabila menjadi presiden (SBY) sekarang, saya kira Amin Rais akan dikeluarkan dari Indonesia (baca: bisa jadi dicoret ke-WNI-annya)….

Ketahuilah, yang jauh lebih lucu lagi, kami dianggapnya sebagai penghembus isu SARA…”lha wong nanya kenapa tanggal 20-21 Desember ngak libur, sementara 25-26 libur, padahal sama-sama hari besar,..malah dibilang SARA!?”. A***- Koordinator Tim Pengembang SAS, sebelumnya membuat argument, bahwa 25-26 Desember libur untuk memberikan kesempatan merayakan hari raya/hari besar,…bukankah tanggal 21 dan 25 Desember adalah sama-sama hari besar, “tanggal merah, Bu!?”, tapi kenapa tanggal 21 tidak diliburkan?…ketahuilah lagi, bahwa kata SARA sudah banyak tidak digunakan, karena dianggap sebagai pembenaran bagi Orba untuk melakukan tidakan represif demi stabilitas politik nasional, namun tidak cerdas dalam memaknainya, karena sangat boleh jadi, bukanlah kasus SARA sejatinya, tapi sebagai alat politik untuk membungkam keburukan, atau salah asuh terhadap rakyat sehingga banyak yang memberontak…saya harap A*** tidak sama keliru dengan Orba dalam hal ini.

Selain itu, kami dianggap provoktif, dan sebutan lainnya, sehingga kami seakan menjadi musuh atau pengacau dalam program SAS ini. Sungguh, picik bukan?!. Kami ini guru, dan selalu membuka kepada hal yang baru, terutama teknologi, baik itu TIK, ataupun teknologi pembelajaran. Namun, kami bukanlah pegawai pemerintahan yang hanya mengikuti instruksi dari atasan, yang jelas birokratif. Kami, adalah insan terpelajar yang memegang teguh semboyan: “no taken for granted”. Selama pelatihan tentang KBK, dan KTSP yang didesain dan dipersembahakan Dinas Dikmenti DKI Jakarta, ditegaskan bahwa guru adalah professional. Salah satu penjabarannya, informasi yang diperoleh agar diolah demi kebaikan dunia pendidikan, terkhusus pelayanan publik kepada siswa. Dengan kata lain, kalau kami dianggap “provokator”, itu sama saja menuduh instruktur-instruktur Dinas sebagai “guru-nya provokator”, karena kami belajar menjadi guru profesional dari mereka.

Saya secara pribadi tidak sepenuhnya sepakat dengan program SAS, karena melihat realitas, dalam pelaksanaan SAS, banyak menelantarkan anak didik, artinya pelayanan guru terhadap siswa, tergadaikan, setidaknya satu tahun belakangan ini – sejak SAS online juli 2006. Kalau mau jujur, hampir disetiap sudut ruang pendidikan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) di DKI Jakarta, mengeluhkan akselerasi SAS yang begitu memakan waktu. Saya tidak mau mengungkapkan lagi, karena terlalu banyak yang terlontar, terutama disetiap pelatihan guru di Jakarta. Saya akan setuju, kalau SAS yang direncanakan untuk melayani dunia kependidikan, benar-benar melayani dengan baik, tanpa sedikitpun mengorbankan masa depan siswa.

Saya melihat, SAS cenderung sebagai usaha “trial and error”. Ini terlihat penambahan dan pengurangan program disetiap waktu, tidak terjadwal dengan baik, dan sebentuk kekurangan lainnya. Yah, kira-kira tidak siap dengan program ini, seperti juga ketidaksiapan program Pemda DKI lainnya–semisal Transjakarta, Busway. Dan juga serupa dengan mental birokrat lainnya, yang selalu memaksakan suatu program tertentu dengan dalih “peningkatan mutu”, walaupun belum “ready”. Bahkan, ada teman yang menuturkan, bahwa SAS ini merupakan “program duit”, artinya kalau SAS ini berhasil di Jakarta, maka selanjutnya akan dijual ke provinsi lainnya”. “Duga menduga itu”, dapat berarti, dunia pendidikan SMA di DKI Jakarta harus menjadi “kelinci percobaan” dan sudah pasti, siswa (lagi) yang dikorbankan. Lihatlah betapa banyaknya, hasil belajar dari penilaian yang “ngawur” dengan sistem skoring di program SAS, terutama bagi guru yang tidak mengerti karena selama ini dengan bentuk nilai. (Baca: bagaimana mungkin, dengan cepat merubah suatu budaya!?). Dan, memang banyak yang ngak “mudeng”!!–yang penting ngak merah!?…

Huh, luas juga ya, cakupannya…walaupun saya menuliskan ini dengan kesadaran dan keberanian, saya agak “wedi” alias agak takut, karena banyak temanmenghimbau, kalau mengkritik “orang-orang atas” –“orang dinas” bisa-bisa diberhentikan atau dimutasi. Saya kira, gejala itu sudah terasa di sekolah ini…

3 thoughts on “SAS: Tergelitik dan menelisik!?

  1. PERNAHKAH AIDA MENGERJAKAN SAS? JAWABNYA TIDAK, KETIKA GURU BERSUSAH PAYAH DENGAN SAS, SAYA YAKIN DID ENAK2AN DI RUMAH, ATAU DI HOTEL. GANTUNG AIDA. DIA ADALAH KORUPTOR DUNIA PENDIDIKAN YANG TAK BERMORAL.
    ———————————-
    ….kalau Aida tidak mengerjakan SAS seperti yang guru lakukan selama ini, saya kira itu sangat mendekati kebenaran…tetapi kalau “gantung Aida” saya kira jangan dulu karena beliau harus mempertanggungjawabkan semua “keguncangan” yang ditimbulkan melalui SAS, terutama “kerusakan” penilaian terhadap siswa, masa depan siswa….”GANTUNG AIDA. DIA ADALAH KORUPTOR DUNIA PENDIDIKAN YANG TAK BERMORAL”, luar biasaa….

  2. Dra. Maria Lucia Aida, Grad.Ed.Comp, MM., MEd.
    amorgani@yahoo.com

    inilah aida🙂
    ———————-
    kok pakai nama google??, emailnya: yahoo atau gmail??, masa seh http-nya adalah: //google.com??. (*Rolling on the floor laughing*) =))

    inilah c1p🙂

  3. Buat pak teguh dan pak Sucipto Ardi, saya mungkin awam soal SAS ini, tapi selaku moderator forum, saya pikir ibu AIDA memiliki otoritas untuk bersikap otoriter ataupun terbuka terhadap isi forum. Memangnya ada perkembangan apa dengan sistem online SAS di Jakarta?
    —————————————————
    sebelumnya saya merasa senang karena ada yang “mau bicara” soal SAS, minimal menanyakannya. Menanggapi pernyataan anda, saya kira itu karena ketidaktahuan anda tentang SAS. Saya memakluminya. Terlepas dari itu semua, saya ingin menjawab bahwa perkembangan sistem SAS harus ditinjau ulang secara komprehensif. Perubahan yang akan dibawa juga harus dikritisi kembali, dan yang terpenting adalah plan yang cerdas pada fase perubahan ini. Saya sudah merasa “melecehkan” diri saya sendiri selaku pendidik yang memegang prinsip kejujuran, dan kritis (apabila) menyatakan sepakat dengan SAS 100% (sekarang ini). Keburukan dunia pendidikan begitu terlihat dengan adanya SAS ini. Saya sudah menjalani SAS ini lebih dari 2 tahun, namun evaluasi terhadap siswa yang dilakukan guru tidak sesuai yang diharapkan. Apabila mau mencari siapa yang bersalah, akan terjebak pada lingkaran setan. Dan, kalau sikap otoriter tersebut (AIDA) anda anggap “no problem” di forum, itu sama saja (maaf) menutup lorong kritisisme, dan dunia pendidikan (tidak lebih) menjadi dunia “instruksi” seperti militer….menyedihkan, bukan?!, kalau guru saja “dibungkam” untuk (hanya) mengkritisi, bagaimana anak didik kami nantinya??, anda harus tahu, bahwa guru bukanlah sosok “penjinak” siswa, tapi adalah sosok pengajar perlawanan, melawan terhadap ketidakadilan dengan cara kritis dan peka pada berbagai lini kehidupan, dan pelajaran di sekolah berfungsi sebagai alat atau media,…kami membentuk siswa memiliki kemampuan (kompetensi/skill), bukan hanya mengerti satu ditambah satu samadengan dua….sistem SAS?, sampai hari ini jauh api dari panggangnya….saya merasa polemik SAS tidak akan selesai karena nuansa birokrtif, atau kata teman saya “politik tingkat tinggi” telah membawanya sampai ke meja penilaian guru…walaupun terkesan pesimistis, saya berpendapat bahwa SAS harus ditinjau ulang (itu juga kalau tidak mau dibilang SAS itu buruk dan harus dihapuskan), dan segi positif yang ada, seperti membuat guru jadi bisa internet tetap menjadi pengakuan bagi saya untuk SAS….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s