GTT

  • Nasib Guru Swasta
    [2007-04-18 04:36:23] Assalaamu\’alaikum Wr.Wb,Salam sejahtera.

    Bapak-bapak wakil rakyat dan wakil kami yang sangat kami hormati.

    Kami adalah salah satu dari sekian juta guru-guru yang ada di Indonesia.

    Perlu bapak-bapak wakil rakyat ketahui, bahwa salah satu dari sekian banyak permasalahan yang terjadi di Indonesia, masalah guru termasuk di dalam agenda yang menurut harapan kami perlu banyak direnungkan mengingat tugas guru adalah salah satu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau ditinjau dari sisi sejarah bangsa Indonesia, munculnya guru jaman dahulu dengan guru sekarang ini atau dijaman alam demokrasi saat ini sudah sangat jauh berbeda. Dulu guru bekerja dengan perbandingan antara tenaga dan waktu serta gaji tidak banyak mengalami tuntutan atau tidak banyak menuntut akan hak-haknya. Akan tetapi melihat di era jaman sekarang ini sepertinya apabila nasib guru terutama kesejahteraannya tidak diperhatikan oleh pemerintah dan khususnya wakil-wakil rakyat, tidak akan mungkin dan pasti tidak akan mengalami perubahan pada kesejahteraannya.

    Pada jaman sekarang ini guru harus bersaing dengan lembaga-lembaga lain yang apabila dibandingkan antara tenaga, waktu dan tanggung jawab yang dikeluarkan dalam mendidik dan mencerdaskan bangsa melalui anak didik atau siswa sangat-sangat jauh dari harapan. Oleh sebab itu perlu kiranya Bapak wakil rakyat untuk mengetahui dan membantu kami dalam ikut meningkatkan kesejahteraan kami melalui suatu kebijakan yang SANGAT ADIL DAN BERADAB guna mencapai tujuan dan cita-cita luhur yang telah di awali oleh pendahulu-pendahulu kita.

    Ada beberapa permasalahan-permasalahan pada kami yang mana menurut hemat kami perlu kami sampaikan kepada Bapak-bapak Wakil rakyat yang terhormat, bahwa :

    1. Dulu istilah guru hanya satu. Tetapi saat ini istilah guru sudah berkembang dengan istilah-istilah yang sudah tidak asing lagi di lingkungan pendidikan di seluruh Indonesia. Istilah-istilah tersebut adalah : Guru Negeri, guru DPK, guru Bantu, guru Honda (Honor Daerah), Guru GTT Negeri, Guru Tetap Yayasan, Guru Tidak Tetap Yayasan atau yang sering diistilahkan guru swasta.

    2. Harapan Guru di Indonesia

    Semua guru di seluruh Indonesia saya akui baik mulai dari Sabang sampai Merauke pasti akan menginginkan atau mendambakan atau mengidam-idamkan atau mempunyai cita-cita menjadi guru dengan status Guru Negeri.

    3. Kebijakan Perekrutan Pegawai Negeri

    Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang sampai saat ini masih banyak yang kurang bijaksana, padahal yang namanya KEBIJAKAN harus BIJAKSANA. Ini bisa dilihat dari informasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat tidak sama dengan yang diambil oleh pemerintah daerah seperti dalam hal :

    a. Peraturan Pemerintah atau PP khususnya PP no. 48

    Di dalam PP tersebut isinya sangat tidak adil dan beradab. Bagaimana tidak adil seorang guru swasta yang sudah mengabdi puluhan tahun dengan usia yang makin hari makin senja atau tua tidak dapat menikmati kesempatan untuk ikut test seleksi CPNS gara-gara tidak masuk dalam kategori :

    a. Usia

    b. Tidak mendapat surat rekomendasi dari Instansi Terkait seperti dibuktikan dengan SK yang dikeluarkan oleh Pejabat Setingkat Eselon II atau seperti Walikota, Bupati, Kepala Dinas, Kepala Sekolah, padahal guru tersebut jelas-jelas kalau dilihat usia, masa kerja, tempat bekerja di lembaga Pendidikan dapat menunjukkan surat atau bukti yang riil, nyata dan akurat.

    c. Guru tidak ada tempat atau lembaga untuk menyalurkan aspirasinya, keluhannya. Ada lembaga yang namanya PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) tetapi sangat nyata sekali bahwa PGRI hanya mewakili guru yang berstatus NEGERI saja. Terhadap guru swasta tidak pernah memperjuangkan nasib guru swasta.

    Kepada Guru yang berstatus GTT di Instansi Negeri hak guru GTT sangat jauh dibandingkan dengan hak Guru Negeri, sehingga nasib guru GTT di negeri bagaikan telur di ujung tanduk. Peluang dikeluarkan dari Instansi Pendidikan sangat besar sehingga sulit untuk mengembangkan daya kreatifitas sebagaimana seorang guru semestinya.

    d. Pemerintah Daerah atau Kepala Dinas setempat begitu mudahnya menempatkan seorang guru baik guru yang baru maupun yang lama yang berstatus negeri untuk ditempatkan di sekolah negeri, yang mana keberadaan guru GTT Negeri semakin hari semakin sempit ruang geraknya dalam hal jam atau tugas yang disandangnya karena jam yang diterima atau dijalankan oleh seorang guru GTT di sekolah negeri telah berpindah kepada guru negeri yang baru menempati sekolah yang telah ditunjuk oleh sang pemberi kebijakan.

    4. Guru Bantu

    Jika melihat status guru Bantu hampir sama saya katakan dengan kebijakan yang dulu diambil oleh pemerintah yaitu seperti perekrutan KAMRA. Anggota Kamra dibentuk dengan waktu yang relatif pendek dan dibubarkan tanpa ada kelanjutan yang berarti demi masa depannya. Hanya di sini kenapa guru Bantu sampai menuntut haknya untuk dijadikan PNS ? Padahal apabila dilihat dari perekrutan :

    a. Usia

    Sangat berbeda-beda. Usia Guru Bantu ada yang muda,sedangkan guru swasta ada yang tua, bedanya guru swasta tidak mendapat kesempatan. Contohnya ada guru dengan jurusan Teknik Mesin atau STM / SMK, tetapi karena TIDAK DIBUKA LOWONGAN untuk guru Teknik maka guru swasta yang usia sudah tua atau usia senja tidak punya kesempatan. Apakah sudah bijaksana ?

    b. Masa Kerja

    Masa kerja usia guru Bantu banyak yang relatif sedikit, tetapi guru swasta sangat banyak yang puluhan tahun bekerja. Apakah sudah bijaksana ?

    c. Munculnya Guru Bantu untuk menjadi guru PNS karena adanya desakan guru-guru di pusat atau yang berada di Jakarta sebagai Ibu Kota Negera. Apakah yang bersuara di Jakarta saja yang harus diakui, sedangkan suara guru di daerah tidak perlu di akomodir atau di gubris ?

    5. Guru Honda (Honor Daerah)

    Yang perlu kami prihatinkan, kenapa pemerintah tidak adil dalam mendata dalam bentuk data base seorang guru dengan status Guru Honda yang memberikan kesempatan besar untuk menjadi PNS dibanding dengan seorang guru GTT baik Negeri maupun Swasta disebabkan guru Honda mengantong SK yang telah dikeluarkan oleh Pejabat setempat atau terkait, sedangkan di tiap-tiap daerah kebijakan pemberian SK antara daerah satu dengan daerah yang lain berbeda ?

    6. Guru Swasta adalah guru yang banyak teraniaya.

    a. Guru Negeri dengan hanya bekerja dengan jam minimal 24 jam atau mempunyai arti bahwa bekerja dengan wajib mengajar siswa mulai hari Senin sampai hari Rabua atau 3 hari dengan bekerja mulai jam 07.00 sampai 13.00 saja, tiap bulan sudah di gaji dengan lebih kurang Rp. 1.000.000,-

    b. Guru Bantu sama dengan guru Negeri.

    Hanya bedanya digaji sekitar Rp. 750.000,- tiap bulan dan ditambah gaji di sekolah yang ditemapati atau dapat mengajar lebih dari satu sekolah

    c. Guru Honda (Honor Daerah)

    Tiap bulan dari sekolah yang ditempati dan ada tambahan dari Pemkot Setempat sebesar Rp. 550.000,-

    d. Guru GTT Negeri

    Dibayar variatif tetapi masih dibawah guru point a, b, c bahkan ada sangat di bawah nilai tersebut.

    e. Guru Swasta

    Gaji tidak ada patokan atau ketentuan yang berlaku, bisa Rp. 50.000,- perbulan. Untuk dapat gaji sebesar Rp. 750.000,- harus bekerja membanting tulang mulai hari Senin sampai hari Sabtu serta mulai jam 07.00 sampai jam 17.30 baru mendapatkan gaji seperti tersebut.

    Apakah nanti di usia yang mendekati usia senja seorang guru GTT Negeri dan Guru swasta akan meletakkan pekerjaannya sebagai guru disebabkan oleh tenaga dan kesejahteraan yang semakin jauh dari harapan ? Wallahu \’Alam bi Showab. Hanya Alloh yang tahu.

    Kepada Bapak Wakil Rakyat yang kami hormati,

    1. Apakah Bapak-bapak tidak pernah atau sama sekali tidak mengetahui suara-suara hati nurani kami atau guru GTT Negeri dan Guru – guru swasta ?

    2. Apakah Bapak-bapak tidak pernah mengecek suatu kebijakan baik dipusat maupun di daerah yang sampai saat ini masih diskriminatif, syarat dengan KKN ? Siapa yang dekat dialah yang menang ? Apakah setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak ? Apakah guru GTT Negeri dan Swasta harus nyambi mengajar dan jualan singkon goreng demi berpacu di jaman yang serba sulit ini ? Apakah pemerintah akan menuruti keinginan guru-guru Bantu dan Honda yang secara jelas kesejahteraannya lebih baik dibandingan dengan guru guru Swasta ? Apakah Guru Swasta dibiarkan begitu saja nasibnya dengan memprioritaskan guru-guru Bantu dan Honda ?Kemana lagi kami harus berkeluh kesah kalau tidak pada wakil-wakil kami yang ada di lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat Yang Terhormat dan di muliakan Tuhan ?

    Kami dan teman-teman ingin mendapatkan jawaban dari Bapak atau wakil-wakil kami yang sangat kami harapkan.

    Sekian dan mohon maaf apabila ada kata-kata kami atau kalimat kami yang kurang berkenan.

    dari Perwakilan Guru-guru GTT Negeri dan Guru-guru Swasta

  • Sumber: http://www.mpr.go.id/index.php?lang=id§ion=opini&order=4&id=5670&PHPSESSID=d81f131d2b154d702b807012d6077e94

    2 thoughts on “GTT

    1. wauuuuuuuuuuuuuuu yang bener ccc???????????????????
      ————————————-
      bener????,…?????……

    2. Memang nasib guru wb menyedihkan. Gaji 125 ribu wb smp, sementara rekan pns yg kerjanya sama 2 sd 3 juta
      ——————————–
      Harus ada perubahan, adakah yang mampu???

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s