I KEEP CASH: Kritik

PENDAHULUAN   

Manusia memiliki dua dimensi kehidupan yang mencirikan sisi kemanusiaan sepanjang masa, yaitu sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Selama hidupnya, manusia berusaha untuk memenuhi beraneka ragam kebutuhannya, baik itu jasmani maupun rohani. Seiring dengan itulah, kemampuan dalam diri manusia terlihat, terbentuk, dan menjadi karakter yang membedakannya dari individu yang lain. 

Secara psikologis, pengembangan kemampuan manusia tidak hanya berasal sebagai bagian dari hereditas, bakat, tetapi juga merupakan hasil belajar, baik dalam lembaga formal, ataupun lembaga informal, semisal keluarga, dan lingkungan kerja yang kemudian mempengaruhi kejiwaannya, terutama dalam berperilaku atau bertindak.

Terkait dengan pengembangan kemampuan inilah, maka akan disajikan sebuah pembahasan sebagai usaha dari book reviuw dari buku berbahasa Inggris, yang berjudul How To Develop Competency Using The I KEEP CASH® Approach karya Willy Susilo. Beliau ini telah menulis lima buku dalam bahasa Inggris tentang human resource (SDM), motivasi, dan manajemen. Buku yang akan dikaji kali ini adalah bukunya yang kelima, dan terbit untuk pertamakalinya pada tahun 2004.  

RESUME  

Pertanyaan besar yang diungkapkan dalam buku ini adalah bagaimana caranya mengembangkan kemampuan (competency) agar mencapai kesuksesan?. Untuk menjawab itu, Willy menggagas sebuah solusi yang disebut sebagai I KEEP CASH® Approach. Dengan kata lain, kandungan buku ini berisi tentang bagaimana mengembangkan kompetensi menggunakan pendekatan tersebut, khususnya secara praktis berdasarkan sembilan prinsip dasar. 

Buku ini lahir dari pengalaman profesionalnya selama 24 tahun di bidang human resource. Buku ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai macam orang dengan profesi yang berbeda-beda, walaupun demikian kompetensi manusia merupakan isu utama dalam buku ini. Dengan membaca buku ini, impian setiap individu untuk menjadi sukses dalam kehidupannya, dapat terbantu secara signifikan, dan kompetensi yang dimiliki dapat dikembangkan dengan menggunakan I KEEP CASH® Approach. 

Strategi seperti apakah yang terkandung di dalam tema I KEEP CASH® Approach?. Dalam pendekatan ini, terdapat sembilan elemen yang bersinergi, dimana kesembilan hal itu merupakan karakter huruf yang diuraikan sebagai berikut.

I untuk IMAGINATIONK untuk KNOWLEDGEE untuk EMOTIONALE untuk EXPERIENCEP untuk PASSIONC untuk CHARACTERA untuk ATTITUDES untuk SKILLH untuk HEALTH 

Buku ini menjelaskan pendekatan tersebut secara praktis terkait elemen-elemen kompetensi di atas, yakni bagaimana pemgembangannya sehingga menjadi kompetensi yang berarti, bersinergi dengan elemen kompetensi lainnya, dan menjadi satu kesatuan strategi untuk mencapai sukses. Sehubungan dengan itu, Willy mendefinisikan sukses dan strategi sukses sebagai berikut:

 In a simple definition success is doing one’s best to make the most of one’s self. In a little bit complicated, I define success as one’s best capability to transform one’s highest imaginative wants into reality by digging, rising and utilizing self best potentially which gives ultimate result in satisfaction, happiness and peace…..A strategic success is achieving one’s highest goal of life in the long run through the selection and implementations of right strategies and utilizing the nine elements of competency (p.viii).

Willy sang penulis buku meyakini bahwa kesuksesan dapat diraih dengan pendekatan yang digagasnya, yakni untuk membentuk diri yang mampu mewujudkan keinginannya, dan untuk menjadikan diri lebih baik dengan cara memaksimalkan 9 kompetensi. Bermimpi untuk menjadi sukses, tanpa kompetensi tersebut adalah sebuah fantasi liar, omong kosong. Kompetensi diibaratkan seperti memiliki setumpuk uang dalam genggaman tangan. Artinya, apabila kita bersungguh – sungguh, maka kita dapat berbuat banyak dalam hidup ini. 

Isi buku ini terdiri dari sepuluh bab. Sembilan bab berisikan pembahasan dari kompetensi berdasarkan karakter: I KEEP CASH®. Bab1 dijabarkan tentang Imagination, Bab 2 adalah Knowledge, dan seterusnya mengikuti tema pendekatan tersebut. Satu bab terakhir digunakan sebagai penutup yang berisikan a competence worksheet.

Imajinasi merupakan potensi tanpa batas yang dimiliki manusia. Semua invention dan discovery yang dilakukan manusia, diawali oleh imajinasi. Kita bebas menggunakan imajinasi sesuai keinginan pribadi, tetapi haruslah disadari bahwa ada konsekuensinya. Ketika kita membiarkan kekuatan imajinasi kita untuk menciptakan gambaran yang negative, maka hasil nyatanya akan negatif pula. Walaupun demikian, kita harus bijak dan cerdas dalam mengontrol imajinasi, bilamana nuansa negatif itu kembali lagi, maka mengadulah kepada Tuhan, apa yang harus dilakukan selanjutnya, dengan mencoba teknik meditasi-introspeksi diri. 

Willy  memberikan saran bahwa, waktu terbaik untuk melatih imajinasi adalah dikesunyiaan malam dalam kesendirian. Sediakan waktu antara 20-30 menit sebelum tidur. Duduklah dengan nyaman, dan jangan sampai ada gangguan sedikitpun dalam proses mengontrol imajinasi ini, untuk membentuk gambaran mental tentang masa depan, membuat imajinasi yang kreatif. Dalam bab 1 ini pula, terdapat bagan yang disebut sebagai imagination-motivation process. Dan, disetiap babnya selalu terdapat bagan berbentuk lingkaran ditenganya dengan garis-garis berjumlah delapan, seakan memancar seperti matahari. Elemen yang dibahas terletak didalam lingkaran, dan seterusnya berputar sesuai kajian tiap babnya yang mengikuti tema: I KEEP CASH. Bab 2 adalah Knowledge, dimana pembaca budiman disuguhkan tiga subbab, yaitu strategic learning, systematic learning, dan knowledge management.

Dunia masa kini adalah dunia yang penuh dengan informasi pengetahuan, dan tugas kita adalah bagaimana mengoptimalkannya. Pengetahuan adalah kekuatan dan kunci untuk membuka pintu sukses. Dari sekian banyak contoh kesuksesan, pengetahuan selalu menjadi faktor mendasar dan kebutuhan yang sifatnya absolut. Dengan dasar inilah, harus diadakan strategi pembelajaran. Strategi yang dimaksud lebih ditekankan kepada evaluasi diri, coba menanyakan kelebihan dan kekurangan, yang diharapakan timbul kesadaran untuk kesuksesan. Pembelajaran yang sistematik menggunakan pola PDCA, P= Plan, D= Do, C= Check, A= Action.

Untuk memfasilitasi dalam memetakan pengetahuan yang dibutuhkan, kita dapat menyiapkan lembar kerja yang sederhana dalam bentuk matriks. Dalam matriks itu, disusun suatu fokus yang kita pikir berpengaruh secara signifikan pada masa sekarang, maupun masa depan. Sebagai bagian manajemen pengetahuan, kita diharapkan tidak hanya menjadi pendengar, akan tetapi harus lebih aktif dalam mengikuti perkembangan dengan bicara, atau menulis. Di bab 3, emosi menjadi uraian yang utama, bahkan Willy ingin menunjukkan bahwa emosi dapat merupakan kekuatan membentuk motivasi dengan diperantarai imajinasi, yang kesemuanya merupakan satu kesatuan yang saling terhubung:

Emotion is power, and imagination is the media to produce the power. If the power is used to generate actions, it becomes motivation. When intensity of emotion gets higher, the force of motivation also becomes stronger. To have positive motivation, we need positive emotion. To have positive emotion, we need positive imagination. Therefore we have to control our imagination to produce positive mental pictures most of the time in our life (p.26). 

Pengalaman merupakan informasi yang penuh dengan rangkaian fakta masa lalu, dan imajinasi adalah informasi kreatif tentang masa depan. Dalam bab 4 ini, penjabaran sepertinya mengikuti pola umum: “belajarlah dari pengalaman”. Temukanlah kesempatan yang lain untuk bergerak maju setelah jatuh, dan pengalaman orang lainpun dapat dijadikan acuan untuk mencapai sukses.

Pengalaman adalah proses untuk menambahkan pengetahuan and kemampuan dengan cara melihat, melakukannya dan belajar. Jadi, pengalaman merupakan sesuatu yang amat penting dan elemen sinerji untuk dapat digunakan untuk mengembangkan kompetensi diri. Keinginan besar untuk bekerja (passion) adalah isi bab 5. Guna mendapatkan strong passion, pertama-tama harus membuat visi untuk masa depan. Visi merupakan manifestasi terbaik yang diciptakan oleh imajinasi kreatif manusia. Didalamnya meliputi strategi, bentuk holistic, intuitif dan proses sitematis pembuatan hasrat nyata untuk masa depan, berdasarkan informasi nyata dan imajinasi krestif. Ketika kita sudah memilikinya, maka kita akan terus dipandu dalam perjalanannya mengarah ke tujuan, bahkan berpengaruh kepada perilaku kita, seperti bagaimana kita merasa, berpikir, dan berkomunikasi.  

Pengembangan kompetensi berikutnya ialah karakter. Dalam baba 6 ini, Willy mengutip 4 tipe karakter manusia dari Hippocrates dan Gelanus. Keempat tipe karakter tersebut adalah choleric, melancholic, phlegmatic, dan sanguine. Selain itu, dikutip pula karakter moderen dari teori Florence Littauer, dimana merupakan pengembangan teori tokoh-tokoh Yunani itu dengan menambahakan kelebihan dan kekurangan keempat tipe karakter tersebut. Dengan demikian, karakter meliputi kualitas fisik, sosial, budaya, emosi, moral dan spiritual seseorang sebagai hasil dari belajar serta proses pengembangannya. Kita tidak bisa menentukan karakter kepribadian secara bebas, karena kita mahluk sosial.  Dengan memahami karakter orang lain yang paling dominan dari keempat tipe tersebut, khususnya orang yang memiliki kesamaan visi, kita dapat membangun kekuatan sosial untuk berinteraksi dengannya. Ingatlah bahwa, hidup akan bermakna apabila kita merasa enjoy, positif dalam berbagai pikiran dan tindakan, dan berinteraksi antar sesama, dengan memainkan banyak peran di masyarakat. Banyak peran dimasyarakat, dimana kita selalu memarankannya, diwujudkan dalam bagan dengan penampang waktu yang digagas penulis hingga tahun 2034. Bagan terlihat seperti perjalananan waktu dengan proses dan tujuan yang terencana dengan baik. 

Proses mengarah ke sana mebutuhkan sebuah sinergi lainnya dari kompetensi sikap (attitude).  Sikap adalah pola yang konsisten dan melekat pada perilaku individu dalam menanggapi berbagai kehidupannya, seperti pada bagian fisik, pemikiran, emosi, sosial, dan spiritual.  Dalam bab 7 inilah dipaparkan bahwa, berdasarkan sejarah manusia dari berbagai generasi, atau dari pengalaman kita sendiri, sikap positif dibangun untuk menuju kesuksesan, dan sebaliknya sikap negative tidak membangun untuk kesuksesan.

Selain mengedepankan sikap positif, komitmen yang kuat dan latihan yang ajeg atau konsisten merupakan hal yang utama dalam pengembangan kompetensi diri. Tidak terlupa, keterampilan juga memiliki peranan. Keterampilan (skill) yang dibahas pada bab 8, haruslah dikembangkan melalui proses belajar, dan terutama dengan latihan-latihan. Terkait hal itu, Willy membaginya menjadi learning philosophy, strategic skills development dan systematic skill development. 

Konsep sederhana belajar adalah untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan dan atau keterampilan melalui latihan. Prinsip pembelajaran menjelaskan bahwa, semakin banyak kita belajar, maka semakin terampillah kita. Seseorang mungkin dianugrahi bakat ketika ia lahir, tapi tanpa belajar, bakat itu tidak akan menghasilkan keterampilan yang menaukkan derajatnya. Inilah philosopi belajar. Cara yang diterapkan menyangkut hal diatas adalah dengan pendekatan yang strategis dan sistematis. Guna menentukan keterampilan khusus dan strategi yang dibutuhkan untuk mengembangkannya, dapat digunakan istrumen SWOT, yakni untuk menilai Strenghts (kekuatan), Weaknesses (kelemahan),  Opportunities (kesempatan), dan Threats (Perlakuan-follow up). Pengembangan sistematis keterampilan menggunakan pola PDCA, P= Plan, D= Do, C= Check, A= Action, serupa pada bab 2 tentang knowledge. Matrik worksheet juga berguna dalam penilaian keterampilan yang sedang dan sudah dilakukan atau dikembangkan.  

Melengkapi tema I KEEP CASH, bab 9 menjabarkan tentang Health. Kesehatan merupakan pondasi bagi ketercapaian kesuksesan yang direncanakan. Adalah sulit untuk berimajinasi, berpikir untuk visi masa depan, atau merencanakannya, apabila kesehatan terganggu. Dengan demikian, pengembangan kesehatan harus dibina setiap harinya agar tubuh tetap segar dan mampu menopang secara fisik gerak untuk kemajuan. 

Bagian terakhir adalah bab 10 tentang competence worksheet. Sebagai kajian praktis, buku ini mengakhiri dengan teknik panduan yang diwujudkan pada kertas kerja dalam bentuk matrik dan tabel. Kompetensi yang umum sampai yang khusus, dan strategi pengembangannya, diuraikan seperti bentuk jurnal penjualan dan pembelian. Harapannya, dapat tertata rapi dan terkontrol secara tertulis, sebuah budaya tertib berkas yang harus digalakkan di Indonesia.    

ANALISIS 

Kesulitan atau kebingungan awal dari buku ini adalah pada bagan imagination-motivation process p.7. Pada bagan terlihat Spiritual Intellegence, Emotional Intellegence, Rational Intellegence, dan Imagination, digambarkan berasal dari kepala manusia yang kesemuanya menuju kepada hadirnya motivasi yang melahirkan sebuah aksi, dan dari aksi inilah panah (arah) berakhir pada success motive, yang meliputi peace, happiness, satisfaction, social, spiritual, mental, dan physical. Sedangkan Uno menjelaskan bahwa rasio bersumber dari kepala (head) yang diukur dengan IQ, dan emosi yang bersumber dari hati sanubari (heart) seseorang diukur dengan EQ[1]. 

Selanjutnya dari penjabaran bagan tersebut, terlihat dimensi sosial sebagai bagian pembentukan manusia tidak terlihat sama sekali. Padahal, proses konstruksi pengetahuan seseorang yang kemudian menjadikannya seorang yang pandai sehingga timbul kesadaran untuk mencapai tujuan tertentu, sekaligus motivasinya, tidaklah terpisah dari konteks sosial dan budayanya[2]. Hal ini yang tidak disadari penulis buku, sehingga dianggapnya hanya kemampuan individu saja. Akhir dari gambaran bagan itu, yang juga dapat dikatakan sebagai goal buku ini, adalah kesuksesan karena motivasi yang terbangun dari pengembangan sembilan kompetensi.

Pembaca budiman akan tertarik untuk mengikuti isi buku ini karena praktis, namun adalah tidak tepat untuk diterapkan. Hal ini disebabkan latar belakang dan kebutuhan orang berbeda-beda. Bagaimana kita mengembangakan kompetensi dengan menyempurnakan kesehatan, sementara uang untuk membeli makanan bergizi tidak terpenuhi?, motivasi sulit akan dicapai dengan keadaan seperti ini, oleh karenanya maka motivasi ditempatkan sesuai kebutuhan. Atau dengan kata lain, apabila kebutuhan pada tingkat yang rendah sebagian besar telah terpenuhi, maka akan timbul kebutuhan pada tingkat yang lebih tingi yang akan memotivasi tingkah laku[3].  Kenyataan tersebut erat kaitannya dengan teori motivasi dan hierarki kebutuhan Maslow[4].

Psikolog ini meyakini bahwa kebutuhan manusia akan selalu berubah, meningkat. Apabila hasrat telah dipenuhi, maka ia (manusia) akan mencari pemenuhan kebutuhan lainnya. Inilah motivasi-motivasi manusia dalam hidupnya, apabila selesai pada satu kebutuhan maka akan mencari pemenuhan kebutuhan lainnya. Apapun ragam hieraraki kebutuhannya, manusia selalu memiliki kebutuhan untuk tumbuh (being values), dan memiliki pula pengaruh lingkungan eksternal sebagai pelengkap dalam menjelaskan lahir dan tumbuhnya kebutuhan manusia. Selain itu, elemen yang akan dikembangkan seperti imajinasi, emosi, dan sikap, diarahkan kepada keyakinan bahwa, kalau kita berpikir positif, maka tindakan kita akan positif sehingga sukses dapat tercapai.

Pola pararel tersebut baru-baru ini di Indonesia muali mendapat pandangan baru. Menurut buku berjudul Be Negativ! [5], tidak selamanya hal demikian benar adanya. Sebaliknya, berdasarkan studi dalam buku itu, ternyata banyak orang sukses di dunia ini harus berawal dengan negatif untuk bertindak positif. Artinya, banyak kasus, orang dapat bangun dengan kesadaran dan semangat tinggi serta positif, setelah mereka menemukan hal yang negatif pada diri sendiri ataupun di sekelilingnya.

Pandangan ini linear dengan prinsip kompensasi dalam psikologi, yang menegaskan bahwa manusia secara sadar ataupun tidak, akan menonjolkan satu kemampuan positif (lebih) sebagai usaha untuk menutupi kekurangan lainnya yang bernilai negatif (kurang).Prinsip kompensasi tersebut diungkapkan oleh Alfred Adler[6]. Menurutnya, mekanisme kompensasi inilah yag mendasari tingkah laku manusia untuk mencapai tujuan (thelos) tertentu, dan watak seseorang ditentukan pula oleh hubungan orang itu dengan masyarakatnya. 

Mengenai hubungan masyarakat ini, Adler menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang terdapat hasrat atau dorongan untuk diakui atau dianggap penting oleh masyarakat. Dorongan ini disebut geltungstrieb yang mendapat hambatan berat dari perasaan rendah diri (minderwertigkeitsgefhl).  Orang yang mendapatkan pengalaman yang demikian itu, yakni pengalaman rendah diri tidak akan tinggal diam. Dia akan berusaha meniadakan perasaan tersebut, dengan menebus atau mencari pemulihannya. Penebus atau pemulih itulah yang disebut kompensasi. Pandangan inilah yang tidak disinggung pada buku Wiily. Ia selalu menandaskan berkali-kali, bahwa dalam mencapai tujuan tertentu harus dikondisikan dengan pikiran, emosi, dan imajinasi positif. 

Metode introspkeksi diri dengan meditasi, menanyakan apa yang telah diakukan sebagai bentuk evalusi diri, rasanya kurang mumpuni dalam melakukan akselerasi mencapai tujuan yang tinggi. Hal ini dianggap tidak berimbang, karena yang lebih realistis adalah dengan dilengkapi pandangan dari orang-orang sekitar dalam lingkungannya. Keyakinan ini didasari pula oleh pendapat Uno tentang kecerdasaan atau kemampuan manusia dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, kecerdasan merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif[7]. Dengan kata lain, pengembangan potensi dan kompetensi manusia, selalu terkait dengan sesama dalam ranah sosialisasi. 

Pengembangan kompetensi dengan pendekatan I KEEP CASH®, tidak memberikan elemen mana sebagai awalnya, untuk segera dilakukan. Urutan karakter kata itu, yang meyuguhkan bagian yang selalu ada didiri manusia, menjadi sulit dipahami karena disetiap pembahasannya jarang sekali menyangkutkannya dengan elemen lain sebagai totalitas, wujud humanistik seperti keyakinan Psikologi Humanis.

Elemen tersebut sulit untuk diterjemahkan, apalagi disinergikan karena dalam tiap bab pembahasannyapun, tidak dijabarkan bagaimana mekanisme kerja bersama, elemen Imagination, Knowledge, Emotion, Experience, Passion, Character, Attitude, Skill, dan Health, untuk menuju sukses.   

Daftar Pustaka 

Baharudi dan Wahyuni, Nur, 2007, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruz Media.Goble, Frank. G, 2007, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius.Sarwono, Sarlito Wirawan, 1986, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang.Sarwono, Sarlito. W, 2002, Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang. Uno, Hamzah. B, 2006, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.   

End Note:


[1] Uno, Hamzah. B, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 117.

[2]Ini adalah pendapat Vygotsky yang dikutip dari: Baharudi dan Wahyuni, Nur, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media), h. 124.

[3]Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 64.

[4]Goble, Frank. G, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), lihat pada h. 69-92 bab Teori Tentang Kebutuhan Dasar.

[5]Buku berjudul Be Negativ! pernah saya baca di toko buku, tapi karena mahal maka tidak saya beli sehingga saya tidak tahu persis pada halaman berapa tentang kajian yang saya kutip ini. Pengetahuan tentang buku ini semakin bertambah pada Desember 2007, ketika saya berkesempatan menontonnya di talk show Kick Andy dengan edisi “Cara Gila Menulis”, dimana penulis wanita Be Negatif menuturkan bahwa ia dipanggil oleh motivator ternama karena dianggapnya “mengganggu” usaha “pola pararel-positif” yang digagas sejak lama. Buku tersebut menjadi best seller.

[6]Pembahasan tentang pendapat Adler berasal dari: Sarwono, Sarlito. W, Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), hh. 167-169.

[7] Uno, hamzah B, Loc. Cit. h. 58.

2 thoughts on “I KEEP CASH: Kritik

  1. Suatu hari saya sempat ngobrol ngalor ngidul dengan rekan sejawat tapi beda profesi. Dia seorang Supervisor di Perusahaan BUMN Penjual Pupuk. Dari obrolan ringan, berlanjut menjadi obrolan sedikit serius seputar honor yang kami terima,

    “Denger-denger kamu ngajar ya, Di?” Tanya Haris membuka obrolan.

    “Iya, nih! Cuma ngajar 12 jam per minggu doang kok!” Jawabku agak seret.

    “Mayan dong, sebulan bisa 48 jam dikali berapa? Rp.15K,-? Jadi Rp.720K ya?” Kata temenku menganalisa.

    “Ngawur kamu!! Kalo gitu itungannya, enak gua Ris!! Gajiku itu cuma RP.180.000,-!!” Kataku menjelaskan. “Tadinya aku pikir begitu, tapi ternyata 12 jam itu itungan sebulan, meski pada kenyataannya kita tiap hari mengerjakan pekerjaan yang tidak ada hubungan dengan profesi kita, tetep aja gajiku segitu…”

    “Murah banget! Katanya jadi guru kesejahteraannya udah meningkat?”

    “Itu Guru PNS, Ris. Guru Honor mah jadi kuli!! Yah, jangan salahkan kalo guru honor kerjanya setengah hati. Yang PNS aja banyak yang males-malesan. Gimana gak setengah hati Ris? Dia harus ngebut cari objekan lain, termasuk aku. Makanya aku masih mo nerima job ‘kan Ris, meski statusku disebut Guru..” Jelasku panjang lebar.

    “Wah, susah juga ya? Tapi kenapa guru honor sepertimu gak langsung ciao aja, cari kerjaan lain kek, apa kek, yang lebih menghargai skill kamu? ” Tanya Haris memancing opini.

    “Banyak faktor Ris yang menyebabkan guru atau tenaga honorer lainnya tetep begini. Pertama, mungkin karena gak ada kerjaan lain, kedua, bisa jadi gak punya keahlian lain buat ngobjek, terakhir bisa jadi karena hutang budi karena disekolahkan ke jenjang lebih tinggi..” kataku, “Untuk kasusku, masih mending Ris, aku masih memiliki pekerjaan sampingan, memiliki keahlian yang bisa aku manfaatkan jadi duit, sehingga profesi guru dengan gaji kecilpun tetep aku jabanin..”

    “Di, untuk kasusmu mungkin pengecualian, tapi gak semua guru bisa seperti kamu ‘kan?” tanya Haris sambil menyeruput Kopinya.

    “Bener Ris, oleh sebab itu jadi guru itu butuh keiklasan. Tapi harga sebuah keiklasan dan pengabdian ternyata murah sekali. Padahal guru itu memiliki tanggungjawab yang sangat besar, dipundak mereka dipikul harapan banyak orang, banyak orang Ris..!! harga yang tak sepadan dengan beban yang harus ditanggung!” Jelasku panjang lebar kembali.

    “Kamu udah berapa lama jadi guru honor Di?” Tanya Haris.

    “Baru 4 bulan Ris. Mungkin aku gak lama lagi jugs ciao..Mo ngumpulin duit dulu. Entar kalo memang nasibnya jadi guru, pasti jadi guru ‘kan Ris. Tapi guru yang PNS. Minimal ngobjeknya dikurangi kalo dah PNS” Jawabku diplomatis.

    “Yang penting, gimana caranya dapur tetap ngebul, ngajar tetep jalan, meski gak optimal. Kalo gitu kapan dung pendidikan kita mo maju kalo begini..?” kata haris seperti bertanya pada diri sendiri.

    “Kapan-kapan Ris, kapan-kapan..” Jawabku enteng.
    ————————————————————–

    wah, salah kamar lagi neh…tapi saya kira ini melihat banyak tulisan tentang guru…..mmmmmmmh, kapan ya pendidikan kita bisa maju???….itu baru sebagiannya, saya punya referensi cerita nyata ‘true story’ tentang pertanyaan kapankah sekolah kita mau maju???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s