Metode Alternatif Pengajaran Sejarah

Oleh Rama Dira J“Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataannya bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu.”

Pernyataan di atas saya kutip dari pendapat Dr Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah. Sebagai intelektual yang mendedikasikan hidupnya untuk penulisan dan pengajaran Ilmu Sejarah, Pak Kunto benar ketika mengatakan bahwa sejarah itu perlu hingga kemudian ia ditulis, didokumentasikan.

Sejarah dalam tulisan atau dokumentasi ini menjadi sarana penting bagi kita dalam mempelajari kemajuan dan kemunduran yang terkandung dalam berbagai peristiwa di masa lalu. Dengan demikian, pelajaran dari peristiwa masa lalu yang sudah menjadi anasir-anasir sejarah berguna dalam memaknai hidup yang tengah berjalan demi kemajuan di masa depan.

Di negeri ini, ilmu sejarah telah menjadi salah satu mata pelajaran wajib dalam kurikulum, sejak sekolah dasar. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah sudahkah pembelajaran sejarah berjalan dengan baik?

Pada kenyataannya, pengajaran sejarah di banyak sekolah tak lebih dari transfer ilmu guru ke murid di dalam kelas melalui komunikasi satu arah. Murid hanya menjadi obyek pasif yang mempunyai kewajiban menghafal catatan yang diberikan guru supaya bisa menjawab soal-soal yang akan diujikan.

Metode pengajaran sejarah semacam ini telah menjadikan pelajaran sejarah membosankan. Ia kemudian tak memberikan sentuhan emosional karena siswa merasa tak terlibat aktif di dalam proses pembelajarannya.

Dalam Forum Lawatan Sejarah Nasional IV di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, 15 Agustus 2006, permasalahan metode pengajaran sejarah yang kaku ini sempat mencuat ke permukaan. Perubahan metode pengajaran dianggap penting agar pelajaran sejarah tak lagi membosankan. Amnesia sejarah

Metode pembelajaran yang kaku berakibat buruk untuk jangka waktu panjang dan berpotensi memunculkan generasi yang mengalami “amnesia (lupa atau melupakan) sejarah” bangsa sendiri.

Agar pembelajaran sejarah berhasil baik, metode yang digunakan harus bisa mengonstruk “ingatan historis” yang disertai dengan “ingatan emosional”. Metode pembelajaran satu arah yang ada selama ini hanya akan mengonstruk “ingatan historis”. Alhasil, siswa menjadikan sejarah hanya sebagai fakta-fakta hafalan tanpa adanya ketertarikan dan minat untuk memaknainya, pun menggali lebih jauh. Ingatan historis semata tak akan bertahan lama. Supaya ingatan “historis” bisa bertahan lama, ia perlu disertai “ingatan emosional”.

Ingatan jenis ini adalah ingatan yang terbentuk dengan melibatkan emosi hingga bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa untuk menggali lebih jauh dan memaknai berbagai peristiwa sejarah. Proses pembelajaran kemudian tak hanya berhenti pada penghafalan saja, siswa bisa aktif dalam komuniasi dua arah dengan guru untuk mengutarakan pendapatnya mengenai obyek sejarah yang tengah dipelajari karena sedari awal ia telah merasa menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Kunjungan ke situs sejarah bisa dikatakan sebagai salah satu metode yang dapat menimbulkan “ingatan emosional”. Setelah siswa diberikan fakta-fakta sejarah untuk mengonstruk “ingatan historis” dalam kelas, ingatan emosionalnya dapat tergali berkat kunjungan ke situs-situs sejarah.

Selain metode di atas, beberapa metode alternatif dalam kaitannya dengan modifikasi pengajaran sejarah perlu dikembangkan. Salah satu metode yang menurut saya bisa diterapkan adalah pemanfaatan media audiovisual.

Pemutaran film dokumenter, semidokumenter, dan film layar lebar yang berlatar sejarah bisa membentuk “ingatan emosional” dalam diri siswa. Bagaimanapun juga film adalah media audiovisual yang bisa menghadirkan “suatu rekaman dunia”, lengkap dengan unsur gambar, suara, suasana, ruang dan waktu pada masa lalu yang bisa menggugah emosi. Dengan demikian, setelah menonton film, siswa akan terpicu menggali lebih jauh lagi “sejarah” yang terdokumentasikan atau yang dibuat versi layar lebarnya. Seorang siswa yang usai menonton film layar lebar Tjoet Nyak Dhien, misalnya, akan terpicu untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana sejarah perlawanan rakyat Aceh dalam menentang kompeni Belanda yang dipimpin oleh pejuang perempuan ini. Pengalaman ini pernah saya rasakan ketika masih duduk di sekolah dasar.

Metode lain yang bisa dimanfaatkan adalah penggunaan media sastra. Banyak karya fiksi berlatar sejarah di negeri ini yang dapat digunakan sebagai sarana membangkitkan minat siswa pada studi sejarah. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Romo Mangunwijaya adalah contoh yang bisa disebut.

Dalam karya fiksi, sejarah memang hanya digunakan sebagai latar. Namun, ada unsur-unsur estetis di dalamnya yang bisa membuat pembaca menghadirkan dunia imaji di kepalanya sendiri. Ada pula unsur-unsur drama, konflik, dan solusi yang tentunya bisa menyentuh emosi si pembaca sehingga membetuk ingatan emosional. Ingatan emosional yang diperoleh siswa melalui pembacaan karya fiksi akan bisa menggugah mereka mempelajari lebih lanjut sejarah yang dijadikan latar dalam karya fiksi. Misalkan, mereka yang habis membaca Burung-burung Manyar karya Romo Mangun atau Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer akan tergerak mempelajari lagi sejarah revolusi fisik.

Dalam kaitannya dengan penggunaan karya sastra pengarang Indonesia sebagai sarana pembelajaran, kita justru tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Di Malaysia sudah sejak lama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP, begitu pula dengan Gadis Pantai yang menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP di Australia. Sementara itu, di negeri si pengarang, semua karya-karyanya sempat dilarang keras beredar.

Jadi, sebagai ilmu sejarah harus senantiasa mendasarkan dirinya pada fakta-fakta, sementara ia tak boleh menutup diri dari metode pembelajaran yang lebih mudah diterima dan lebih digemari siswa sehingga mereka tak mengalami “amnesia sejarah”.

Rama Dira J Penulis Lepas dan Pembaca Novel Sejarah

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0609/06/jateng/41127.htm

6 thoughts on “Metode Alternatif Pengajaran Sejarah

  1. Pak Dira yang terhormat, saya tertarik dengan metode pembelajaran sejarah yang bapak usulkan, khususnya metode pembelajaran sejarah yang menggunakan karya sastra (novel) yang berlatar belakang sejarah. Pertannyaan saya, apakah metode ini sudah pernah anda gunakan dalam pembelajaran sejarah di sekolah? jika sudah, apakah metode ini efektif dalam mengembangkan kesadaran sejarah siswa?
    ————–
    thanks 4 d koment…

  2. Salam. Saya adalah guru baru di sebuah sekolah yang baru didirikan dan yang bercita-cita merevitalisasi pendidikan di Indonesia, mulai dari sekolah ini. Saya tertarik untuk berkorespondensi dengan anda karena saya ingin dan insya Allah terus ingin belajar bagaimana agar anak-anak belajar sejarah dengan baik sehingga pembelajaran itu juga berefek positif dalam perkembangan dirinya sebagai manusia.
    —————-
    Silahkan saja berkorespondensi dengan saya, dengan senang hati akan berbagi demi kemajuan pendidikan sejarah…silahkan melaui blog ini saja, baik itu dibuku tamu atau disalah satu tulisan. Thanks.

  3. salam hormat..
    Pa Rama,sya cukup tertarik dengan metode elternatif mengajar sejerah dengan menggunakan karya sastra. namun saya sempat berfikir pula dengan keadaan siswa yang notabene saat ini banyak yang tidak gemar membaca. tapi lebih dominan melihat tontonan (film). lalu bagaimana untuk menyikapi hal tersebut?
    mhon sekiranya bapa dapat memberikan solusi untuk kendala tersebut.
    Terimakasih atas balasannya.
    (apabila tidak berkebaratan, saya mohon bapak membalasnya lewat email saya)
    terimakasih, jajakumulloh…khoeron…
    ———–

    Semoga Pak Rama membaca tulisan anda….

  4. Pak saya ingin mengirim email kepada Anda. Bisakah saya minta email accoun Bapak? saya ingin menanyakan apabila Bapak punya pandangan tentang pengajaran sejarah di jurusan sastra/bahasa asing. Terimakasih.
    ——————
    sciptoa@gmail.com

  5. Sy tidak menyangka tulisan yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu yang dimuat di Kompas mendapat apresiasi dan dimuat di blog ini untuk kemudian mendapatkan respons juga dari teman2 lain. Jujur, saya bukanlah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan sejarah. Saya hanya seorang penulis cerita yang kebetulan awal proses kreatif, banyak membaca karya-karya Pramoedya dan Romo Mangun. Sehingga kemudian suatu saat muncul pemikiran, metode pembelajaran sejarah dengan pembacaan karya sastra seperti menarik dan bisa dicoba. Silahkan buat kawan2 yang ingin berkorespondensi bisa melalui email : bocahtaman@gmail.com atau ke account fb saya :http://www.facebook.com/ramadira
    —————
    Terima kasih atas kunjungannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s