Metode Baru Pembelajaran Sejarah

Tahun ini adalah kali kelima pelaksanaan Lawatan Sejarah Nasional atau Lasenas. Diikuti sekitar 200 siswa dan guru sejarah SMA dari seluruh provinsi di Indonesia, Lasenas ini sungguh istimewa. Pada 13 Agustus 2007, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memberi sambutansekaligus melepas peserta menuju Sumatera Barat.

Kali ini pula Departemen Pendidikan Nasional terlibat langsung, seperti tampak dengan dukungan anggaran. Mudah dimengerti karena sesungguhnya Lasenas berada di ranah pendidikan. Dalam sambutannya, Mendiknas mengatakan bahwa Lasenas merupakan metode baru bagi pembelajaran sejarah yang efektif.

Lasenas yang berakhir pada 18 Agustus itu mengunjungi sejumlah situs dan monumen bersejarah dengan tema “Pemerintah Darurat Republik Indonesia sebagai Mata Rantai Perjalanan NKRI”. Ide itu mendukung tema utama setiap Lasenas sejak 2003, yakni “Merajut simpul- simpul Perekat Keindonesiaan”.

Pengertian “nasional” pada Lasenas berarti ruang lingkup sejarah Indonesia dan merupakan tingkat yang lebih tinggi dari Lawatan Sejarah Daerah (Laseda). Penyelenggara Laseda adalah Balai Pelestarian (d/h Kajian) Sejarah dan Nilai
Tradisional, unit pelaksana teknis (UPT) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di daerah. Peserta Lasenas adalahmereka yang terpilih dari Laseda. Lasenas diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Depbudpar.

Lawatan adalah mengunjungi situs dan monumen bersejarah yang bermakna integrasi bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk memperoleh pemahaman dan pemaknaan itu, peserta Lasenas berdiskusi dan berdialog dengan sejarawan, tokoh, dan pelaku sejarah.

Selain itu, peserta Lasenas— dengan berpakaian daerah masing-masing—mengikuti upacara HUT Kemerdekaan 17 Agustus di daerah tujuan Lasenas, dapat memberi warna dan makna tersendiri. Periode pelaksanaan Lasenas memang ditetapkan dalam suatu pekan, termasuk di dalamnya tanggal 17 Agustus. Jadi, “lawatan” tidak sama dengan perjalanan wisata biasa.

Mengapa disebut “lawatan”? Bukankah istilah itu hanya cocok untuk kunjungan ke negeri asing, seperti istilah untuk kepala negara apabila bepergian ke China misalnya.

Akan tetapi, bukankah Indonesia juga merupakan “negeri” asing bagi kebanyakan warganya? Buktinya, bukan hanya tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi juga masih banyak terjadi peristiwa seperti konflik sosial yang marak antara 1999-2001. Kalau begitu, mungkin benar konstatasi Benedict Anderson bahwa Indonesia adalah “komunitas yang dibayangkan”.

eprihatinan akibat konflik itulah yang menjadi dasar penciptaan Lasenas. Mengapa melalui sejarah? Bukankah sejarah yang kita warisi lebih banyak tentang konflik dan kekerasan. Celakanya lagi, materi sejarah yang diberikan di sekolah banyak tentang perang antarkerajaan dan konflik di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Maka boleh jadi ingatan kolektif bangsa ini didominasi oleh konflik dan perseteruan saja.

Sebenarnya banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya. Banyak bukti peristiwa sejarah sebagai faktor integrasi bangsa. Oleh karena itulah, dengan Lasenas, fakta sejarah seperti itu dapat dirajut sebagai simpul- simpul perekat keindonesiaan. Dalam perspektif historis, integrasi bangsa—menurut Taufik Abdullah—adalah salah satu konsep yang ditemukan dalam sejarah Indonesia. Kehidupan dalam masa kolonial Belanda bagi penduduk di kepulauan Indonesia—meskipun dengan intensitas tidak merata—adalah nasib yang dirasakan secara bersama (common destiny).

Selain dari aspek politik, pendekatan budaya dalam mempelajari sejarah perlu dilakukan. Proses keindonesiaan adalah juga karena faktor sosio-budaya. Pelayaran dan perdagangan menjadi sarana perkembangan ekonomi dan persebaran sukubangsa dari masyarakat yang beragam. Perkembangan itu sudah berlangsung jauh sebelum orang Eropa menginjakkan kakinya di kepulauan ini. Gejala itu juga merupakan simpul-simpul perekat keindonesiaan.

Dengan tindakan pemerintah kolonial Belanda membuang atau mengasingkan para pejuang yang melawan, melalui pemikiran atau angkat senjata, praktik kolonialisme justru semakin mempererat simpul-simpul keindonesiaan. Di tempat-tempat pengasingan yang tersebar di Tanah Air, para pejuang bangsa berinteraksi dengan sesama mereka dan
masyarakat sekitar. Maka, makin tersebar dan kuatlah semangat persatuan untuk membebaskan diri dari kolonial
Belanda.

Kilas balik

Begitulah, Lasenas pertama tahun 2003 adalah perjalanan mengunjungi tempat-tempat pengasingan pejuang di Jawa. Sumedang adalah tempat pengasingan dan makam Cut Nyak Dien. Di Sukabumi dapat dikunjungi bekas rumah pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir selama dua bulan sebelum datangnya tentara Jepang di IndonesiaMaret 1942.

Cianjur adalah tempat pengasingan Tuanku Imam Bonjol setelah ditangkap tahun 1837. Pimpinan Perang Paderi itu kemudian dibuang ke Ambon dan ke Manado hingga wafat dan dimakamkan di Desa Lotak. Bandung bukan saja merupakan tempat pengasingan bagi Sultan Bone Segeri La Pawiwoi pada tahun 1905, tetapi juga penjara Sukamiskin
bagi Soekarno sebelum dibuang ke Ende, Flores (1931-34). Selain Cut Nyak Dien, pejuang wanita dari Aceh, PoceutMeurah Intan diasingkan Belanda di Blora hingga wafat pada tahun 1934.

Lasenas kedua dilaksanakan di Aceh dan Sabang tahun 2004 bertema “Dari Titik Nol Kilometer Merajut Indonesia”. Dari titik ini ditegaskan bahwa Aceh merupakan daerah modal bagi NKRI. Sementara itu, aktivitas Dr Jonas Latumeten selaku Kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang (1931-35) dapat disebut simpul Indonesia. Dokter asal Ambon inilah yang membantah pendapat Belanda bahwa orang Aceh pelaku aksi membunuh orang Belanda secara sporadis dianggap “gila”. “Aceh moorden” yang menakutkan Belanda itu, menurut Latumeten, dilakukan secara sadar, semacam rituelle extase.

Ada dua simpul bermakna dalam Lasenas ketiga, tahun 2005, di Makassar-Selayar. Pertama, sejarah sebagai faktor pendamai, dan kedua, peran Makassar dalam sektor kelautan. Generasi kini perlu diberi pengertian historis untuk mendudukkan secara obyektif tentang Sultan Hasanuddin dan Arupalaka. Jika yang pertama digelari “pahlawan” bukanberarti yang kedua “pengkhianat”. Di Makassar ini pula terdapat makam Pangeran Diponegoro yang wafat pada 1855. Pahlawan nasional ini sebelumnya dibuang ke Manado.

Lasenas keempat, tahun 2006, di Bangka bertema “Pangkalpinang Pangkal Kemenangan”. Di sini tampak peran orang Bangka dalam merajut simpul perekat Indonesia. Penduduk di Pangkalpinang dan Menumbing- Muntok dengan antusias mendukung perjuangan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta sejumlah pimpinan tinggi negara dalam pembuangan, setelah Yogyakarta diduduki Belanda 18 Desember 1948. Padahal, Bangka Belitung saat itu merupakan daerah yang dikuasai Belanda.

Maka, Lasenas kelima tahun ini hendak menegaskan betapa pentingnya PDRI sebagai satu mata rantai NKRI. Sebab, mengabaikannya berarti menghilangkan satu mata rantai penting itu. Tanpa PDRI apakah mungkin RI bertegak? Pun untuk menegaskan betapa besarnya dukungan rakyat, khususnya di Sumatera Barat, terhadap perjuangan dalam
menegakkan NKRI.

Lalu, kapan Lasenas sampai ke Tanah Papua? Perlu dicatat, di Serui, Kabupaten Waropen, terdapat tempat pengasingan Sam Ratulangie beserta enam orang pengikutnya antara tahun 1946-1948. Itu akibat mereka menolak bekerja sama untukmengembalikan pemerintah kolonial Belanda di Sulawesi.

Tidak cuma itu di sanalah pengaruh mereka yang dikenal sebagai “Bapak Merdeka” mendorong Frans Kasiepo dankawan-kawan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Jangan dilupakan bahwa penjara Boven Digul yang dibangun tahun 1927 bagi para pejuang bangsa juga merupakan simpul perekat keindonesiaan.

Secara tersirat pemaparan di atas memperlihatkan perkembangan sejarah sebagai warisan bersama (common historical destiny) menjadi dasar bagi terwujudnya identitas politik bersama (common political identity). Jadi, “Indonesia” adalah perwujudan identitas politik terus-menerus dari masa kini ke masa depan untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam konteks ini, peserta Lasenas diharapkan meresapi makna perjalanan keindonesiaan itu: lampau, kini, dan masa depan.Jika sejarah dapat memberi inspirasi untuk memperkuat keindonesiaan, maka belajar sejarah memang ada gunanya. Selain itu, belajar sejarah adalah hal menyenangkan. Begitulah menurut Sartono Kartodirdjo: sejarah adalah juga pesona lawatan.

Susanto Zuhdi Penggagas Lawatan Sejarah Daerah dan Nasional, Mantan Direktur Sejarah/Asisten Deputi Sejarah
Nasional pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2001-2006)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/28/humaniora/3794955.htm

13 thoughts on “Metode Baru Pembelajaran Sejarah

  1. Tulisan yang sangat menarik, blog ini amat berguna terutama bagi saya sebagai guru sejarah. Sejarah bagi kebanyakan kalangan memang masih dianggap satu pelajaran yang membosankan, oleh karena itu diperlukan satu inovasi metode pembelajaran yang menyenangkan bagi generasi muda saat ini.
    ————-
    Mari kita bangun pembelajaran sejarah yang lebih baik, history for better life!!!!

  2. Pelajaran Sejarah di Indonesia telah dikebiri demi kepentingan politik… sehingga jam pelajaran makin sedikit….
    —————–
    bukankah karena guru yang tak mampu menghasilkan produk siswa yang telah belajar sejarah sehingga lebih berarti?….dan, karena dinilai kurang, maka dampaknya jamnyapun dikurangi..hihihi….

  3. sebenarnya lebih baik pelajaran sejarah terlepas dari ikatan IPS hingga bisa maksimal membrikan rasa nasionalisme pada siswa, tapi mungkinkah bisa sejarah berdiri sendiri

    1. Sejarah sudah terlepas dari IPS, bahkan sudah lama. Sejarah masuk IPS hanya pada tingkat SD dan SMP, sedangkan SMA dan perguruan tinggai, sejarah sebagi mata pelajaran tersendiri….

  4. Tulisan yang sangat mendalam dan bermanfaat, khususnya untuk guru sejarah, sejarawan, para pemerhati sejarah, dan orang-orang yang mau mengerti terhadap sejarah bangsa dan negaranya…

  5. pelajaran sejarah semakin membosankan karena kita selaku guru sejarah kurang maksimal melengkapi pengetahuan kita tentang sejarah itu sendiri. kebiasaan mengajarkan materi sejarah secara konvensional selalu menjadi jebakan pada proses penyampaian informasi sejarah. sehingga peserta didik pun akhirnya terbentuk sebagai sosok yang konvensional tanpa dihiasi dengan pembentukan prilaku yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
    sayang ya pak group ini tidak menyentuh guru sejarah di daerah-daerah kecil lainnya di indonesia. saya mohon info yang lebih detail bila ada kegiatan lasenas khususnya untuk guru di batam dan kepulauan kepri umumnya.. thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s