Pembelajaran Sejarah Perlu Direvitalisasi

LAWEYAN – Pembelajaran sejarah di sekolah, menurut Anhar Gonggong, perlu direvitalisasi. Sebab, kata mantan Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu, kenyataan carut marut pemahaman tentang sejarah Indonesia telah menyebabkan vitalitas yang terkandung di dalamnya mengalami pelemahan.

Di sisi lain, ada anggapan bahwa ilmu-ilmu sosial dan budaya tidak penting untuk masa depan. Karena itu, menurutnya, sajarah yang dipandang sebagian orang sebagai dongeng masa lampau, lalu dianggap mata pelajaran yang membuang-buang waktu.

“Anggapan seperti itu, sampai sekarang juga terdapat di lingkungan Depdiknas-Dikdasmen, yang menangani pendidikan dasar dan menengah,” paparnya pada seminar revitalisasi pembelajaran sejarah di sekolah, yang digelar Yayasan Warna-Warni, di Rumah Makan Roemahkoe di Laweyan, Solo, kemarin.

Pada forum yang dimoderatori sajarawan UNS, Sudharmono SU, itu Anhar pun mengungkapkan proses perjalanan sejarah dan pembelajarannya di Indonesia. Menurutnya, pada periode 1950-an pembahasan sejarah dilakukan untuk memperlihatkan peran bangsa Indonesia yang merdeka.

Lalu sejak 1970-an, terlihat gejala adanya usaha dari kekuasaan untuk menempatkan sejarah sebagai salat satu tiang penyangga dari kekuasaan. Sejak itu, sejarah harus sejalan dengan interpretasi kekuasaan.

“Buku-buku sejarah di sekolah-sekolah harus sesuai dengan kehendak dan tujuan kekuasaan pemerintah. Lebih parah, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) menggunakan tafsir sejarah untuk mengontrol cara berpikir warga negara,” ungkapnya.

Meminggirkan Sejarah

Beberapa faktor penentu usaha revitalisasi pembelajaran sejarah, ujarnya, antara lain mencakup kurikulum dan tujuannya, sumber pembelajaran khususnya muatan buku pelajaran, guru dan pemahaman, serta penghayatan terhadap makna sejarah untuk kehidupan.

“Pembelajaran itu harus dibersihkan dari muatan emosional nasionalisme, persatuan-kesatuan, yang karenanya fakta sejarah disajikan kepada siswa adalah fakta tidak untuk pembenaran, tetapi menegakkan kebenaran,” tandasnya.

Pendiri Yayasan Warna-Warni, Krisnina Maharani, mengemukakan ada kecenderungan meminggirkan sejarah. Padahal semestinya, pembelajaran sejarah dapat dilakukan secara senang, jalan-jalan mengetahui tempat-tempat peninggalan. Maka, pembelajaran sejarah perlu direvitalisasi.

Sementara itu Kepala Dispora Surakarta, Drs H Kuswanto MM, menyampaikan suatu ironi soal banyaknya siswa SD hingga SLTA tidak memahami secara benar sejarah negeri sendiri. Mereka tidak mengetahui secara jelas tempat-tempat bersejarah di Solo. “Jangan sampai kita tidak tahu sejarah sendiri, tetapi malah mengetahui sejarah negara-negara lain,” ujarnya.(D11-18a)

Sumber:http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/23/slo11.htm (Kamis, 23 Juni 2005)

One thought on “Pembelajaran Sejarah Perlu Direvitalisasi

  1. Pembelajaran harus direvitalisasikan? Untuk sebagian peminat sejarah akan berkata “YA”. Hanya, permasalahan di sini yaitu penentu kebijakan mengerti atau tidak tentang sejarah. Ketika saya mengikuti seminar sejarah di UPI tanggal 8 April 2008, sangat terkejut ketika Anhar Gonggong mengatakan bahwa konseptor-konseptor dalam kurikulum sejarah sendiri itu bukan dari yang ahli sejarah. Kedua, Menteri Pendidikanpun bukan dari kalangan akademisi pendidikan. Disini titik persoalannya adalah tetap pada pengambil kebijakan, karena melihat dari sosio-historis orang Indonesia masih berada pada sikap feodalis dan birokratis, sehingga peluang The Right Man on the right place itu tidak ada. Sangat disayangkan. Dengan Kebijakan dari atasnya demikian, maka guru-gurupun akan mengikutinya karena sebagai aturan (walaupun mereka memiliki idealisme tinggi untuk membangkang) apalagi banyak di sekolah, backgroundnya bukan dari sejarah. Sehingga pembelajarannyapun akan tetap konservatif, dan teks book. Sehingga dia tidak mengerti keberadaan zaman sekarang telah menginjak pada postmodernisme. Dia masih mencekoki siswa dengan fakta. Tetapi siswa tidak tahu untuk diapakan fakta itu!!! (MIRIS SEKALI!!!)Sehingga suatu keironisan, kita menggembor-gemborkan revitalisasi, pemerintah tidak mengerti untuk apa sejarah. Atau TIDAK MAU MENGERTI, karena menurutnya tidak syarat dengan finansial yang konkrit.Selanjutnya ya…. perlu dehumanisasi.
    Namun, saya tetap optimis bahwa sejarah akan tetap terpelihara kebermaknaannya dan kebenarannya selama masih ada orang yang idealis. Walaupun pemerintah membuat suatu pembenaran sejarah!! Tetapi masih ada sejarawan yang akan mengungkapkan kebenaran sejarah secara ilmiah. Terimakasih……Wallahualam…
    ———————–
    Cukup banyak yang benar atas komentar anda, saya kira anda akan banyak terkejut apabila mendengarkan ceramah/kuliah Anhar Gonggong dan Diana N.M. di UNJ, bahkan mungkin bisa pingsan (sebagai ungkapan betapa “kaga’ beresnya” cara pengurusan pendidikan sejarah di Indonesia, terutama kurikulum dan kebijakan terkaitnya hingga ke meja guru).
    Keyakinan anda tentang mekanisme “Top Down” dalam pendidikan sejarah yang masih “berlaku” di Indonesia, saya pikir tidak semuanya akan stagnan atau langgeng. Barangkali anda harus, maaf, membaca buku yang dapat membedakan dengan jernih apa itu “pendidikan sejarah” dengan “ilmu sejarah”. Saya tidak sepakat “kemerdekaan” dalam berkreativitas guru dibelenggu, bahkan direnggut oleh pemerintah melalui beragam kebijakan politisnya. Namun, saya selaku guru sejarah misalnya, tidak mungkin selamanya mengajarkan atau yang anda maksud sebagai: “mengungkapkan kebenaran sejarah secara ilmiah” kepada siswa di sekolah, apalagi melakukan pembelajaran di SD atau SMP. Pemahaman psikologi mengambil peranan penting pada bagian ini.
    Apa jadinya dikemudian hari,….kemanakah Nasionalisme Indonesia nantinya??, pernahkan anda mendengar berita protes keras terhadap Jepang oleh warga Korsel terhadap historiografi nasional negeri matahari terbit itu?, pernahkah anda membaca sejarah Timor Leste yang sangat sedikit mencantumkan RI dalam perjalanan bangsanya?. Sadarilah, bahwa semua bangsa memiliki keburukan, yang dikenal dengan “grey Area”.
    Saya masih optimis, bahwa banyak guru sejarah, saya yakin: saya salah satunya, akan melakukan pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggandeng erat nasionalisme Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s