Februari 2008, SMA N 7 Mulai Terapkan Moving Class

Sebagai sekolah rintisan menuju Kategori Mandiri (SKM), SMA N 7 Yogyakarta mulai terapkan sistem moving class. Apa itu SKM? Bagaimanakah sistem moving class itu? Mengapa harus menggunakan sistem moving class? Apa manfaat moving class bagi guru dan murid?

Apa itu sistem moving class?
Sistem moving class adalah salah satu sistem pembelajaran yang dimana setiap guru mata pelajaran sudah siap mengajar di ruang kelas yang telah ditentukan sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Sehingga saat pergantian pelajaran, bukannya guru yang datang ke kelas siswa, namun siswa datang ke kelas guru.

Dalam sistem moving class ini, siswa dan guru harus bisa memanage waktu sebaik mungkin. Karna dimungkinkan waktu belajar mengajar akan terpotong karana berbagai hal. Misalnya untuk pelajaran sebelumnya molor waktunya, jalan atau pindah ruangan dari satu ruangan ke ruangan lainnya, mempersiapkan pelajaran, dll.

Satu jam pelajaran di SMA N 7 adalah 45 menit. 45 menit itu bisa jadi akan banyak berkurang karna berbagai hal yang telah disebutkan di atas. Pertama, dikurangi pelajaran sebelumnya ngaret + 5-10 menit. Sisa waktu pelajarannya tinggal 40-35 menit. Kedua, dikurangi waktu yang di butuhkan siswa untuk berpindah ruangan kelas, + 5-10 menit. Kini sisanya jadi 30-25 menit. Dikurangi lagi waktunya oleh guru untuk mempersiapkan pelajaran, mengondisikan suasana, bercerita, dan untuk berdoa, membutuhkan waktu + 5-15 menit. Pada akhirnya, waktu efektif 1 jam pelajaran tinggal 25-15 menit. Bayangkan, 1 jam pelajaran hanya 15 menit. Semoga saja itu tidak terjadi.

Dalam sistem moving class ini, seorang siswa dituntut untuk kreatif dalam belajar. Guru sudah tidak saatnya lagi ngopyak-ngopyak siswa untuk belajar. Namun siswa harus belajar dengan kesadaran diri. Sehingga siswa mampu menguasai konsep dengan sepenuhnya. Jadi, bukanya guru yang butuh murid, namun murid yang butuh guru.

Mengapa harus menggunakan sistem moving class?
Sekolah kita, SMA N 7 Yogyakarta, dalam rangka mensikapi UU No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dan dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan maka profil Sekolah Kategori Mandiri. Jadi sekolah kita sekarang ini adalah sekolah rintisan menuju Kategori Mandiri (SKM).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh sekolah untuk melangkah menuju SKM. Syarat menjadi Sekolah Kategori Mandiri adalah sistem Satuan Kredit Semester (SKS) dan Moving Class. Moving class adalah langkah awal SMA 7 menuju SKM. Moving class yang dimulai Februari 2008 ini masih bersifat percobaan. Karna moving class yang sebenarnya akan dimulai pada tahun ajaran 2008-2009.

Apa itu SKS?
SKS adalah singkatan dari Satuan Kredit Semester. Sistem SKS ini biasanya diterapkan di perguruan-perguruan tinggi atau di universitas. Pada sistem pembelajaran ini, bisa jadi siswa yang pandai dan rajin lulus/tamat SMA kurang dari 3 tahun. Dan sebaliknya, bagi siswa yang malas, bisa jadi lulus/tamat SMA lebih dari 3 tahun.

Di SMA N 7 Yogyakarta, sistem pembelajaran SKS ini akan mulai di terapkan pada tahun ajaran 2008-2009 kelas X (angkatan 2010-2011). Jadi, untuk angkatan 2009-2010 ke atas, masih menggunakan kurikulum KTSP seperti sedia kala.

Masalah yang Akan Dihadapi di SMA 7 saat moving class

  1. Kondisi kelas Belum Ditata Sempurna.

Sekolah kita ini masih jauh dari sempurna. Dalam moving class, seharusnya ruangan kelas lengkapi dengan berbagai sarana-prasarana belajar sesuai mata pelajaran terkait. Dan ruangan kelas, di desain dan di tata sesuai kebutuhan belajar. Sehingga murid bisa belajar dengan nyaman dan didukung dengan alat-alat yang dibutuhkan. Contohnya pada kelas Geografi dilengkapi dengan berbagai buku sumber, peta, globe, dll. Begitu juga dengan pelajaran-pelajaran lainnya.

  1. Sarana Belum Lengkap

Beberapa sarana yang dibutuhkan dalam moving class, belum tersedia. Salah satunya almari/rak tas. Karna sekolah kita berusaha seadanya dulu, sambil jalan nanti kita akan dibenahi kekurangan-kekurangannya.

  1. Sifat Malas

Bagi siswa yang hobi mbolos, moving class bisa menjadi sasaran empuk. Karna peluang untuk kabur dan melarikan diri sangatlah besar. Ini semua tergantung dari diri kita masing-masing. Kalau kita mbolos/kabur dari pelajaran, nanti yang rugi juga kita sendiri.

  1. Dan masih banyak lagi.

Apa kata mereka yang sudah pernah merasakan moving class?

Komentar-komentar ini diambil dari Yahoo! Answers dengan pertanyaan “Moving Class, menyenangkan atau tidak?” Inilah jawaban mereka:

  1. “Waktu Daffy duduk di bangku SMP dulu sistem pengajaran di sekolah Daffy pake moving class asyik khan, tiap kelas jadi laboratorium pada mata pelajaran masing-masing. Jadi misalnya kelas matematika, semuanya yang berhubungan dengan Matematika ada di dinding kelas atau di lemari kelas matematika
    kelas geografi, sama juga semua yg berhubungan dg geografi pasti ada di dinding atau lemari geo. Mungkin g enaknya pindah pindah melulu, belom lagi kalo di kelas kita ada yang bandel, yang harusnya langsung pindah ke kelas berikutnya malah pindah ke kantin, wah satu kelas dihukum, terutama ketua kelas.” Oleh daffy.
  2. “Cukup bagus, karena kita bisa konsentrasi… Kendalanya adalah:
    1. Kita hanya bisa menguasai sedikit mata pelajaran
    2. Cepat bosan karena pelajarannya hanya itu melulu.”

Oleh Dani S.

  1. “Ribet ah.” Oleh hellogood bye is a kiddo.
  2. “Lumayan……….asik ko.” Oleh romy.
  3. “Klo mnurut q seeiihh, Gak enak bangeettzz Sualnyee, dlu qu pernah ngalamin tuh yang namanya moving class taapii, pas masih TK,, Jadiiee yaa apa BoLeH BWT orang pereturannya sudahh begitcyyuu!!!!!.” Oleh Baby S.
  4. “Moving Class, asyik bagi yang cepat bosan, paling tidak untuk ganti suasana penerapan masih dominan untuk TK dan SD. Tapi sebetulnya tidak hanya berpindah tempat tujuannya, dan mata pelajarannya pun tertentu yang butuh suasana pendukung dan fasilitas lain. Maka kelas bisa berbentuk melingkar, duduk di atas karpet atau kelas yang sama tapi meja dan kursi di set perkelompok dan guru berada disekitar kelas tidak di depan. Jadi murid dan guru bisa lebih dua arah hubungannya, murid dapat berdiskusi dengan leluasa bersama guru dan teman. Sehingga tidak lagi guru hanya berdiri di depan kelas dan murid memandang ke satu arah saja (depan) dan belajar jadi lebih menyenangkan.” Oleh tye.
  5. “Enak kok kan skrg ak msh skla,,, n d skla sistemnya moving class,,, lain bs cuci mata blum msk klas lagi,,, olahraga,,,, kan jalan kesani-sini n naik turun tangga hehehehe.” Oleh Jane.
  6. “dulu pernah waktu sma..smea ding.sama kan??? spt layaknya ada hitam dan putih , kebaikan dan kejahatan, atas dan bawah , kaya dan miskin. ya so pasti system nyang atu ini ada plus minusnya. Ga enaknya..capek.naik turun tangga..finally,ga konsen belajar. Manfaatnya, kita jd dispiln dan bertanggung jawab.krn bukan guru yg butuh kita.melainkan sebaliknya.kita yg hrs muter nyari beliau ada dikelas mana.dan ga ada lg tu murid yg molor2.maen2 kesana kemari.kecuali emang buandel ding!” Oleh aprhee.
  7. “asik banget, tempat duduk bisa pindah2. ga diatur2 gara2 sering bikin ribut. kalo ada ktinggalan buku atau apa gitu, bisa pinjem dolo sama temen kls sblh wktu ada pergantian kelas. n jdi ga bosen deh, pemandangan dlm kelas berubah terus. enak bngt. tapi yg ga asik kalo ada ulangan, ngerjainnya jadi buru2! takut keburu diusir kelas lain yg mau nempatin tu kls…” Oleh Sadako-i….

Nah, sekarang bagaimana komentar anda?

Sumber: http://koran.seveners.com/2008/01/30/februari-2008-sma-n-7-mulai-terapkan-moving-class/#comment-1049

SMA Negeri 7 Yogyakarta Mencoba Terapkan Moving Class

February 6th, 2008 — Ditulis oleh Drs. Bandono, MM

Di semester 2 tahun ajaran 2007-2008 SMA Negeri 7 Yogyakarta mencoba dengan segala kekurangan dan kelebihannya menerapkan proses belajar mengajar menggunakan Kelas Berpindah (moving class) dan menggunakan sistem Satuan Kredit Semester dalam pembelajarannya untuk SKS ini SMA Negeri 7 Yogyakarta belum menerapkan karena sedang dikaji secara komprehensip. Dengan dua variabel tersebut diatas memiliki keterkaitan dan perlu adanya pengaturan yang menunjang keterlaksanaan dalam sistem Pembelajaran pembelajaran yang tersurat dalam Sekolah Kategori Mandiri

Pelaksanaan Pembelajaran dalam SKM berdasarkan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menetapkan kebijakan tentang pengkategorian sekolah berdasarkan tingkat keterlaksanaan standar nasional pendidikan ke dalam kategori standar, mandiri dan bertaraf internasional. Pasal Ayat 2 dan Ayat 3 Peraturan Pemerintah tersebut menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan, maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah menjadi sekolah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah mengkategorikan sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri, dan sekolah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan). Pemerintah telah menetapkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan tersebut paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah tersebut. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang berarti berada pada kategori sekolah mandiri.

SMA Negeri 7 Yogyakarta sebagai salah satu sekolah Rintisan SKM telah memiliki program-program yang berkaitan dengan persiapan dan pelaksanaannya. Pada tahun pelajaran 2007/2008 merupakan tahap awal rintisan SKM yang selanjutnya pada tahun pelajaran 2008/2009 diharapkan dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang diisyaratkan dalam pelaksanaan SKM. Dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan, maka perlu disusun suatu acuan dasar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, salah satunya adalah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sistem Kelas Berpindah (moving class).

Pembelajaran sistem moving class adalah kegiatan pembelajaran dengan peserta didik berpindah sesuai dengan pelajaran yang diikutinya. Dengan demikian diperlukan adanya kelas mata pelajaran atau kelas mata pelajaran serumpun untuk memudahkan dalam proses keterlaksanaannya dan memudahkan dalam pengaturan kegiatan mengajar guru yang dilaksanakan secara Team Teaching. Pembelajaran dengan Team Teaching memudahkan guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan penilaian, kegiatan remedial dan pengayaan serta mengambil keputusan dalam menentukan tingkat pencapaian peserta didik terhadap mata pelajaran atau materi tertentu. Agar pelaksanaan dengan sistem Kelas berpindah dapat terlaksana dengan baik dan memberi peningkatan yang signifikan terhadap mutu pembelajaran dan lulusan peserta didik maka perlu disusun strategi pelaksanaan, perangkat peraturan dan administrasi yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut

Strategi Pelaksanaan Moving Class dalam SKM

Strategi pembelajaran dengan sistem moving class merupakan salah satu syarat pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri dilaksanakan dengan pendekatan kelas mata pelajaran. Pendekatan ini mensyaratkan agar sekolah menyediakan kelas-kelas untuk kegiatan pembelajaran mata pelajaran tertentu atau untuk rumpun tertentu. Startegi ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

  1. Guru memiliki ruang mengajar sendiri yang memungkinkan untuk melakukan penataan sesuai karakteristik mata pelajaran
  2. Guru memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber-sumber belajar dan media pembelajaran yang dimiliki karena penggunaannya tidak terikat oleh keterbatasan sirkulasi dan troubeling.
  3. Guru berperan secara aktif dalam mengontrol prilaku peserta didik dalam belajar.
  4. Pembelajaran dengan Team Teaching mudah dilakukan karena guru-guru dalam mata pelajaran yang sama terkumpul dalam satu tempat sehingga memudahkan dalam koordinasi.
  5. Penilaian terhadap hasil belajar peserta didik lebih obyektif dan optimal karena penilainnya dilakukan secara TIM sehingga dapat mengurangi inkonsistensi dalam penilaian terhadap mata pelajaran tertentu.

Untuk mencapai hasil yang optimal dalam pembelajaran yang dilakukan secara moving class maka perlu ditetapkan strategi pelaksanaannya. Pengorganisasian Pelaksana, tugas, kewajiban dan wewenang.

1. Penanggung Jawab Akademik

Penanggung jawab akademik secara umum memiliki peran sebagai wali kelas, disamping itu memiliki tugas dan kewajiban khusus:

  1. Membuat rekap terhadap kejadian-kejadian khusus terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya yang diserahkan kepada guru pembimbing
  2. Memberi bimbingan terhadap peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus dibidang akademik dalam rangka meningkatkan hasil belajarnya
  3. Membantu peserta didik dalam menentukan beban belajar yang akan diambil (dalam sistem SKS)
  4. Membuat rekap terhadap tingkat kehadiran peserta didik, mengumpulkan nilai hasil belajar peserta didik yang diserahkan kepada TIM TIK dalam rangka pengolahan laporan hasil belajar peserta didik (LHBPD).

2. TIM Pengembang TIK

TIM Pengembang TIK secara umum berkewajiban melakukan perawatan dan pengembangan prasarana TIK yang berkaitan dengan administrasi dan Pembelajaran. Secara khusus TIM TIK memiliki tugas:

  1. Melakukan pengolahan nilai, baik untuk nilai midsemester maupun nilai semester yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
  2. Membuat Laporan hasil penilaian sesuai format yang berlaku
  3. Membuat hasil analisa beban studi peserta didik berdasarkan data yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
  4. Membuat hasil analisa penjurusan peserta didik berdasarkan data yang telah diserahkan oleh Penanggung Jawab Akademik
  5. Membuat hasil rekap mengenai kehadiran peserta didik, kehadiran guru berdasarkan data yang diserahkan oleh Penanggungjawab Akademik dan hasil input data Sistem Informasi Manajemen Absensi Guru dan Karyawan

3. TIM Pengelola Moving Class

TIM Pengelola moving class secara akademik dibawah Wakasek Urusan Kurikulum/Wakil Bidang Akademik yang secara umum menjalankan kewajiban dan tugasnya sesuai beban yang diberikan. TIM ini dapat dibentuk secara khusus dibawah Wakil Bidang Kurikulum yang secara Khusus memiliki tanggungjawab untuk:

  1. Mengelola Jadwal dan Perencanaan moving class
  2. Mengkoordinasi Penanggung Jawab Akademik dalam pelaksanaan administrasi dan bimbingan terhadap peserta didik
  3. Menyiapkan format-format yang diperlukan untuk pengelolaan administrasi pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran
  4. Menyusun peraturan dalam pelaksanaan kegiatan PBM, remedial dan Pengayaan, piket guru dan Penetapan Peraturan Akademiknya

Strategi Pengelolaan Moving Class

1. Pengelolaan Perpindahan Peserta didik

  1. Peserta didik berpindah ruang belajar sesuai mata pelajaran yang diikuti berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan
  2. Waktu perpindahan antar kelas adalah 5 menit.
  3. Peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan tempat duduknya sendiri
  4. Peserta didik perlu ditegaskan peraturan tentang penggunaan ruang dan tata tertib dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta konsekuen-sinya
  5. Bel tanda perpindahan suatu kegiatan pembelajaran dibunyikan pada saat pelajaran kurang 5 menit.
  6. Sebelum tersedia loker, peserta didik diperkenankan membawa tas masuk dalam ruang belajar. Kegiatan pembelajaran di Laboratorium dibuat peraturan tersendiri hasil kesepakatan guru dengan laboran
  7. Peserta didik diberi toleransi keterlambatan 10 menit, diluar waktu tersebut peserta didik tidak diperkenankan masuk kelas sebelum melapor kepada guru piket atau Penanggung Jawab Akademik
  8. Keterlambatan berturut-turut lebih dari 3 (tiga) kali diadakan tindakan pembinaan yang dilakukan Penanggung Jawab akademik bersama dengan Guru Pembimbing.

2. Pengelolaan ruang belajar-Mengajar

  1. Guru diperkenankan untuk mengatur ruang belajar sesuai karakteristik mata pelajarannya
  2. Ruang belajar setidak-tidaknya memiliki sarana dan media pembelajaran yang sesuai, Jadwal Mengajar Guru, Tata Tertib Peserta didik dan Daftar Inventaris yang ditempel di dinding.
  3. Ruang belajar dapat dilengkapi dengan perpustakaan referensi dan sarana lainnya yang mendukung proses Pembelajaran
  4. Tiap rumpun Mata pelajaran telah disediakan prasarana multimedia. Penggunaan prasarana diatur oleh Penanggung Jawab Rumpun Mata Pelajaran
  5. Guru bertanggungjawab terhadap ruang belajar yang ditempatinya. Dengan demikian setiap guru memiliki kunci untuk ruang masing-masing.

3. Pengelolaan Pembelajaran

  1. Pembelajaran dilaksanakan secara TIM (Team Teaching) yang minmal terdiri dari 2 orang guru, dimana 1 orang guru sebagai guru utama dan yang lain sebagai kolaboran/asisten
  2. Dalam TIM Teaching, ada 1 guru yang bertanggung jawab untuk tingkat kelas yang berbeda. Misal : Guru penanggungjawab kelas X, Guru Penanggungjawab kelas XI dan Guru Penanggungjawab kelas XII.
  3. Apabila ada seorang guru tidak dapat mengajar karena suatu hal atau sedang melaksanakan tugas dan kegiatan kedinasan lain yang berkaitan dengan Peningkatan mutu, dapat digantikan dengan kolaboran dan kepada yang bersangkutan mengganti hari-hari tidak mengajar kepada kolaboran sebagai guru utama . Misalnya Seorang guru utama kelas X mempunyai kolaboran guru utama kelas XI, apabila guru utama kelas X tidak mengajar 6 jam maka yang bersangkutan berkewajiban mengganti sebagai guru utama kelas XI sebanyak 6 jam pelajaran.

4. Pengelolaan Administrasi Guru dan Peserta didik

  1. Guru berkewajiban mengisi daftar hadir peserta didik dan guru
  2. Guru membuat catatan-catan tentang kejadian-kejadian di kelas brerdasarkan format yang telah disediakan
  3. Guru mengisi laporan kemajuan belajar peserta didik, absensi peserta didik, keterlambatan peserta didik dan membuat rekapan sesuai format yang disediakan
  4. Guru membuat laporan terhadap hal-hal khusus yang memerlukan penanganan kepada Penanggung Jawab Akademik
  5. Guru membuat Jadwal topik/materi yang diajarkan kepada peserta didik yang ditempel di ruang belajar

5. Pengelolaan Remedial dan Pengayaan

  1. Remedial dan Pengayaan dilaksanakan diluar jam kegiatan Tatap Mu-ka dan Praktik.
  2. Remedial dan Pengayaan dilaksanakan secara TIM Teaching, dimana kolaboran dapat menjadi guru utama pada materi tertentu
  3. Kegiatan Remedial dan Pengayaan dapat menggunakan waktu dalam kegiatan Pembelajaran Tugas Terstruktur (25 menit) maupun Tak terstruktur ( 25 menit ) .
  4. Remedial dan Pengayaan dilaksanakan dalam waktu berbeda maupun secara bersamaan jika memungkinkan, misal : Guru utama memberi pengayaan, sedangkan kolaboran memberi remedial.
  5. Remedial dan Pengayaan dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan hasil analisis postest , ulangan harian dan ulangan mid semester.

6. Pengelolaan Penilaian

  1. Penilaian dilakukan untuk mengukur proses dan produk hasil pembelajaran
  2. Penilaian Proses dilakukan setiap saat untuk menilai kemajuan belajar peserta didik, sedangkan penilaian produk/hasil belajar dilakukan melalui ulangan harian, mid semester maupun ulangan semester.
  3. Penilaian meliputi Kognitif, Praktik dan Sikap yang disesuaikan dengan peraturan yang telah ditetapkan serta mengacu pada karakteristik mata pelajaran
  4. Hasil penilaian dimasukkan sesuai dengan format yang telah disediakan dalam bentuk file exel yang kemudian diserahkan kepada Penanggung Jawab Akademik
  5. Untuk memudahkan Pengelolaan hasil penilaian maka hasil-hasil penilaian harian yang telah dilaksanakan segera diserahkan kepada Penaggung Jawab Akademik agar dapat dimasukkan kedalam Pengelolaan SIM Sekolah oleh TIM TIK
  6. Tidak diadakan Remedial untuk ujian/ulangan semester. Remedial dilakukan sesuai dengan ketentuan pengelolaan Remedial dan Pengayaan.
  7. Guru mata pelajaran bertanggungjawab dan memiliki kewenangan penuh terhadap hasil penilaian terhadap mata pelajaran yang diampunya. Segala perubahan terhadap hasil penilaian hanya dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

Sumber: http://seveners.com/berita/sma-negeri-7-yogyakarta-mencoba-terapkan-moving-class/

3 thoughts on “Februari 2008, SMA N 7 Mulai Terapkan Moving Class

  1. moving class jika dikelola denganbagus akan memiliki manfaat besar. sebagai prasyarat aalah kedisiplinan yang tinggi yang diterapkan di sekolah. namun yang paling menetukan menurut saya bukan movingnya namun labieh pada kemampuan guru untuk menhadirkan pengajaran yang berkualitas
    ————
    Guru adalah garda terdepan kemajuan pendidikan, dan peserta didik menjadikannya lebih bermakna….pembelajaran yang direncanakan guru, tidak hanya sebagai pedomannya, tetapi juga untuk membantu peserta didik agar mereka belajar, memperoleh pengalaman belajar, sehingga menciptakan pembelajaran yang mencerdasakan, baik dari domain kognitif, afektif, maupun psikomotor, tak lupa life skill…..

  2. di dago tubagus ismail bandung ada ajaran yang menyesatkan islam dipimpin ibu gadis yang mengaku sebagai malaikat jibril..hal ini menyesatkan masyarakat..tolong segera diberantas… wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s