Ayat-ayat Cinta

….Saya jadi teringat perkataan dosen saat kuliah S1, Drs. Ali Imron, M. Hum, yang mengatakan bahwa: “kenapa pemikiran Clifford Geertz menjadi besar?…karena banyak yang mengkritiknya”,….itulah yang terjadi kini pada film bernuansa agama (ditafsirkan melalui novelnya) dengan judul Ayat-Ayat Cinta (AAC)….

 

ayat2cinta.jpg


Dalam dunia maya Blog, banyak sekali komentar, bahkan yang teramat banyak (setidaknya yang saya cari) adalah yang kontra. Dari analisis dunia cinema, sampai nuasa agamais. Ada yang menganggap ACC sebagai “Film Ayat-ayat Cinta-lebih Berbahaya dari Film Maksiat-Sebuah Analisis”Di: http://tanfidz.wordpress.com (sampe’ 3 edisi tulisan!), kemudian ada yang mendudkung seperti di: http://leluconsinga.wordpress.com.

Terlepas dari itu semua, saya masih mengganjal dengan imej orang Indonesia yang “gemar ikut-ikutan-trendy” alias “latahan”. Boleh jadi, kritisnya kita karena “latahan”, atau komentar kita, ya karena “latahan”…. Boleh jadi, saya salah satunya…Namun demikian, akankah film ACC menjadi besar, seperti fenomena pemikiran Cliffort Geertz yang saya singgung diawal tulisan?….

Berikut Kutipan tentang Komentar film AAC:

Sumber pertama: http://kajiislam.wordpress.com/2008/03/04/film-ayat-ayat-cinta-yang-menjual-ayat-ayat-allah/#comment-27

Kemarin di COMMON ROOM kampusku aku nonton film AYAT-AYAT CINTA di laptop temanku yang alumni AL-AZHAR MESIR. Film ini lagi ramai dibicarakan orang. Bioskop yang memutarnya penuh sesak oleh muda-mudi, ibu-ibu juga bapak-bapak yang penasaran ingin melihat versi film novel AYAT-AYAT CINTAnya HABIBURAHMAN ASY-SYIRAZI.

Bagian akhir film itu memang sangat mengharukan dan menyentuh hati. Terus terang aja aku juga sempat meneteskan air mata…karena terharu. Namun aku harus tetap bersikap obyektif, banyak adegan dari film itu yang harus ku kritisi. Bila Novel AAC dipuji-puji orang karena keindahan ceritnya, kehebatan alurnya dan kepiawaian menyampaikan ajaran-ajaran Islam dalam setiap dialognya, tidak demikian dengan filmnya. Sulit bagiku untuk menyetujui dan mengatakan bahwa itu adalah FILM ISLAMI atau FILM RELIGI. Bagaimana pun dan terhadapa apa pun ketika nama ISLAM telah dilekatkan, maka semua aturan ISLAM berlaku di dalamnya…tak terkecuali FILM AAC.  Dalam film AAC yang ku tonton itu dan juga ditonton ribuan ABG MUSLIMAH di Indonesia ada beberapa adegan yang tidak mendidik. Di sini cukup kusebutkan satu adegan dan ini yang paling mengganggu, KETIKA FAHRI DAN AISHA BERMESRAAN DAN BERCIUMAN SETELAH AKAD NIKAH. Adegan ini tidak bisa dilindungi dengan dalih, ITU KAN SETELAH JADI SUAMI ISTERI!

Saya tidak habis pikir, katanya film ini langsung dibawah pemantauan HABIBURAHMAN sang penulis dan DIN SYAMSUDIN sebagai penasihat. Lalu bagaimana keduanya membenarkan adegan ini muncul dan tak teredit? Padahal dengan kreatifitas yang tinggi tanpa menampilkan adegan ini pun FILM AAC saya yakin bisa dibuat lebih menyentuh seperti halnya novelnya. Bila kekuatan novel AAC terletak pada setiap diksi dan redaksinya, maka seharusnya kekuatan film ini terletak pada dialog dan penokohan yang kuat. Tetapi itulah sulitnya dunia FILM. Kepentingan pasar dan kapitalisme telah begitu kuat menjeratnya. Karena kepentingan UANG itu pulalah FILM AYAT-AYAT CINTA INI TELAH MENJUAL AYAT-AYAT ALLAH. Jadi kayaknya, harus ada FILM AAC NEW EDITION NIH!!!

O, ya satu lagi, walau pun menurutku ini tidak prinsipil. Ini berkaitan dengan penokohan FAHRI. menurutku dalam film itu ia terlalu muda untuk seorang mahasiswa S2 yang berpikiran dewasa dan perfeksionis. Di FILM itu FAHRI lebih cocok sebagai siswa SMU. Seharusnya dicari pemeran yang lebih tua sedikit dan lebih kelihatan dewasa. Gi mana Kang Abik Nih???

Komentar:

Ruhul Jadid  |  Maret 5, 2008 at 5:56 pm

Sy kecewa dengan penokohan fahri di AAC the movie yang jauh sekali dari sosok fahri di AAC the novel yang merupakan seorang yang faqih thd al-slam.
Berikut yg sy jadikan sorotan
1. Fahri makan sambil berdiri di awal film.
2. Fahri hobi mencuri2 pandang ke lawan jenis (pd aisha n noura)
3. Fahri sering berkholwat (berdua2an dgn maria) di kamar dan di sungai nil.
4. Fahri menjawab dan mendahului salam pd orang kafir (pd maria)
5. Fahri minum sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri.
6. Fahri tdk menjaga diri dr kemungkinan bersentuhan tangan dengan aisha (sebelum menjadi istri) ketika menyerahkan tasbih.
Setidaknya 6 poin itu yang sy tangkap.
Hmm.. yang sy pengen tau gimana komen kang abik thdp AAC the movie ini??

Sumber kedua:

http://leluconsinga.wordpress.com/2008/03/05/komentar-film-ayat-ayat-cinta/#comment-1237

Mantap. Keren abis! Itulah komentar gw setelah menonton film ini. Dua jam lebih terasa mengalir begitu cepatnya.

Btw anyway busway, ini point-point komentar gw:

  • Salah sinyal???

Kenapa yah Fahri dan Maria bisa berduaan di tepian sungai Nil. Kan nggak boleh? Lagian kalo berduaan gitu, masuk akal dong kalo Maria menganggap Fahri memberikan sinyal-sinyal kepada dia. Makanya setelah mendengar Fahri sudah menikah, Maria kelihatan shock berat gitu. Kalo begini kejadiannya, sewajarnya gw mesti menyalahkan Fahri atas apa yang terjadi dengan Maria.

  • Akting Zaskia

Selain akting Carissa (Maria) yang bagus sekali di film ini, gw suka dengan akting Zaskia waktu di pengadilan. Baru kali ini gw ngeliat dia berperan jahat dan kelihatannya dia cocok sekali memerankan Noura. Tapi ingat, jangan mau berakting jahat terus-terusan yah. Ntar kejadian kayak siapa tuh, yang selalu memerankan tokoh jahat di sinetron. Bisa-bisa ditimpukin kue sama ibu-ibu kalo sedang shopping di mall hehe…

  • Menangis

Ada beberapa scene yang bisa membuat orang nangis: Maria dan Nurul waktu mendengar Fahri telah menikah, Fahri bersujud setelah bebas dari tuduhan, dan waktu Maria meninggal. Gw sendiri sih nggak sampai nangis, cuman mata gw berkaca-kaca aja hehe. Secara visual, gw sih biasa-biasa aja, tapi damn…soundnya itu lho, bikin nggak kuat….

  • Kenyataan tidak sesuai impian

Film ini mengingatkan gw bahwa terkadang kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita impikan. Cinta bertepuk sebelah tangan adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang remaja yang beranjak dewasa. Obatnya: lupakan, delete semua memori tentang dia (tekan tombol shift + delete :D). Format berkali-kali. Kalo perlu, pake shredder biar nggak ada recovery tool yang bisa mengingatkan dia lagi hehe.

Ada komentar lain?

Sumber ketiga:

http://tanfidz.wordpress.com/2008/03/03/film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-dari-film-maksiat-sebuah-analisa-dari-ustad-lukaman-2/ 

 

Wah sampe di komentari oleh ustad di eramuslim.com tulisanku…..Aku fikir biasa sajalah, berbeda pendapat gak perlu saling berperang ayat. Gak perlu kita saling tuding bahwa aku ada di golongan tertentu. Toh, itu juga bukan tulisanku. kalaupun aku mengkopinya bukan tujuan apa-apa, aku hanya ingin melihat sedewesa apa orang Indonesia menerima perbedaan.

Harus kita akui, banyak hal yang kurang baik ketika Novel ini di film kan. Aku melihat banyak wanita di bioskop, mereka berdesakan, mereka lupa waktu sholat. Magrib dan sudah gelap mereka masih di luar dengan bukan muhrimnya…. bahkan ada rombongan ibu-ibu hanya ingin menonton karena ada cerita poligaminya…. masih untung begitu, coba bayangkan kalau ada yang ingin menonton karena Catherin yang cantik… yang putih… yang mulus… atau karena si pemeran fahri yang ganteng…. atau ada yang ingin melihat Adya Meca beracting di layar lebar….. naudzubillah…..

Aku memang bukan orang suci… tapi ingat kita harus berlaku adil pada keimanan yang ada dalam diri kita. Memang benar Film, atau pertunjukan tidak bisa dinafikkan membawa nilai-nilai dakwah, tapi ini akan sangat berpengaruh pada kualitas keimanan kita. Aku memandang Novel ini biasa biasa saja. Bahkan ada temanku berceletuk…. masak dia mengawini orang yang dia temukan di Jalan…..

Jangan sampai rasa penasaran kita menutupi keimanan kita hanya untuk menonton film itu….nilai keimanan kita jauh lebih berharga daripada datang ke bioskop. Jaga pandanganmu saudaraku….. bukankah kita diciptakan Allah untuk beribadah bukan untuk yang lain. ibadah yang maknanya luas sekalipun bukan berarti membolehkan kita untuk datang ke bioskop.

silahkan kalau anda tetap ingin menonton, saya tidak akan mengusik lagi. Karena anda sendiri yang tahu hati dan mata anda yang nantinya dimintai pertanggungjawaban… saya hanya menyampaikan…… kalau Allah bertanya saya akan menjawab….. saya sudah sampaikan ya Allah……..

One thought on “Ayat-ayat Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s