Tentang Nasionalisme Indonesia

Omong-omong tentang nasionalisme Indonesia cukup menarik, apalagi perkembangan politik kini telah banyak mempengaruhinya. Komentar-komentar dari para pembaca blog di http://rovicky.wordpress.com/2008/04/08/nasionalisme-barang-jadul/#comment-19181 tentan kerja di luar negeri dan semangat nasionalisme, lagi-lagi, menarik untuk disimak. Hanya karena nasionalisme itulah anda atau saya patut membacanya!!!.

1.) ternyata nasionalisme tidak berhubungan langsung dengan kenapa bekerja diluar negeri. pertanyaan yang lebih baik menurut saya: “apakah orang yang bekerja didalam negeri adalah seorang nasionalis?” halo para pelaku KKN, halo para koruptor, halo pak pejabat yang menindas rakyat, halo pelayan masyarakat yang meminta layanan dari rakyat? halo? halo? (suryo — 8 April 2008)

2.) Hmmm,.. agak tricky juga dirimu memaknai angka-angka itu, Vick. Terutama ketika dirimu tidak membahas fakta feed-back questionaire yang 14%nya (prosentase paling besar) menganggap gaji&benefit merupakan driving factornya. Apalagi ketika dalam pengkelasan “gaji-benefit-pajak” kamu pisahkan dari komponen “profesionalisme & karir”; ini juga sangat subjective. “Gaji-benefit-pajak” inheren dalam pengertian profesionalisme. Jadi, mustinya sampeyan gabungkan “Gaji-benefit-pajak” itu dalam overall klasifikasi “profesionalisme dan karir”. Kalau misalnya dari questionaire tsb hanya minoritas (say, less than 5%) yang menganggap “Gaji-benefit-pajak” sebagai driving force, barulah faktor korelasi profesionalisme dan gaji tsb menjadi negatif, dan kesimpulan sampeyan jadi valid. Tapi, lha ini wong kebanyakan (14%) bilang gaji-benefit-pajak itu pendorong utamanya, jee….. Coba kalau ditanyakan dalam questionaire: Kalau anda digaji sama dengan di Indonesia, tapi diberikan peluang berprestasi dan berkarir secara profesional dengan berbagai embel2: international exposure, batu loncatan, expatriate image, dsb, dsb,…. apakah anda tetep mau kerja di Malaysia? Hehehehe.. kemungkinan statistik jawabannya akan lebih aneh lagi analisisnya.

Anyway,.. salut untuk usahanya terus menerus menggedor nasionalisme dan profesionalisme migas Indonesia. Keep on moving broer….

ADB (andang bachtiar — 8 April 2008)

3). nasionalisme kan tidak hanya melulu soal kerja dan tinggal di mana, nasionalisme itu luas, pakde (Hedi — 8 April 2008)

4.) Pak Rov Yth.,
mungkin model penelitiannya yang harusnya lebih fokus dengan tujuannya. Kalau sekilas saya lihat khan hasilnya general…tidak 100% mempertanyakan masalah nasionalisme tock. sehingga kesimpulannya juga harusnya general. Pertanyaan lanjutan adalah berapa per sen khah yang ada diluar sana dibandingkan di dalam negeri?… Kalau meminjam istilah di penyakit (MenKes) apakah sudah “epidemi” , “kejadian luar biasa” atau masih dalam batas ambang?.
Rasul pernah menghadapi masalah kekacauan /jahiliah masyarakat Mekah dan beliau melakukan kontemplasi (khalwat) di Gua Hira…dan kemudian diberi petunjuk dan terpilih sebagai Rasul…..jadi tetap tinggal di dalam negeri juga suatu pilihan….he he he..
wass. HI (Hardi I — 8 April 2008)

5). Brain drain ini pertama-tama bukan soal nasionalisme, tapi merosotnya harkat dan martabat pekerja di Indonesia menjadi sekadar tool atau sekrup korporasi dan kapitalisme. Sudah begitu, gajinya pun terlalu kecil; sehingga pekerja yang punya tingkat keahlian tinggi merasa seperti pelacur jalanan; padahal untuk menjadi pelacur high class pun masih merasa malu pada hati nurani. Soal kedua, mungkin, lantaran di semua bidang pekerjaan di negara ini tidak berlaku merrit system. Soal ketiga, pemerintah yang pro-bisnis adalah musuh alamiah bagi pekerja intelek. Ini sekadar urun pendapat. sejatinya masalah ini sangatlah kompleks.

Salam Merdeka! (Robert Manurung — 8 April 2008)

6). Saya baca dengan cukup hati-hati tulisan ini….saya bekerja di bidang pendidikan, dan memang benar, ternyata di Malaya jauh lebih baik, terutama perkembangan keilmuannya…beberapa teman bercerita, kalau ada pertunjukkan yang berbau Indonesia, para imigran Indonesia berbondong-bondong datang untuk menontonnya…mereka masih bercokol yang namanya Nasionalisme, namun apakah citra kebangsaan itu tetap akan meleket???, saya yakin masih….(suciptoardi — 9 April 2008)

7). Sebenarnya untuk rasa nasionalisme kawan2 (temasuk saya) yg kerja diluar tidak perlu diragukan lagi pakdhe. Bahkan kalo saya simak uneg2nya mereka, sebagian besar lebih suka kerja diindonesia. Tapi ya itu tadi, lagi2 faktor gaji as main reasonnya. Kalo saja mereka or saya bisa dapet gaji yg = diluar, 100% moleh pakdhe…(Abdi negara — 9 April 2008)

8). Dear Pak Dhe,

Definisi Nasionalisme itu apa to…

Perlu ditanyakan ke para Profesional yang bekerja di luar negeri , setelah puas mendapatkan apa yang mereka inginkan, apakah mereka lupa dengan Indonesia…saya kira tidak….

Saat 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dikumandangkan, Nasionalisme saat itu begitu menggelora, untuk saat ini, Nasionalisme sudah berkaitan dengan berbagai aspek dalam kehidupan…

Contoh nya , la kalo dinegeri sendiri saja penghargaan kepada para profesional, misal dari segi gaji saja relatif gak bisa bersaing dengan gaji di luar negeri, padahal unjuk kerja yang diberikan adalah sama, ya tentu secara normal akan memilih yang ‘lebih baik’…

Kalo aku jadi bagian dari pemerintah, akan aku susun program jangka panjang, yang akan disepakati oleh siapa pun yeng memerintah nanti nya, semacam ‘blue print’…

Terus isi dari program jangka panjang itu, antara lain membahas tentang “bagaimana menumbuhkan kembangkan semangat nasionalisme”, yang disokong oleh unsur2 penghargaan dari pemerintah kepada rakyat nya, misal dari gaji yang bagus untuk para pegawai negeri sipil, TNI-POLRI, kejaksaan, kehakiman, dan aparatur negara lain nya…kalo kesejahteraan sudah makin bagus, saya kok masih punya keyakinan, bahwa nilai dasar kehidupan seperti kejujuran akan semakin meningkat, la kalo sudah enek hidup nya, tercapai apa semua keinginan nya, ya masak sih masih tergoda buat berbuat ‘nakal, he he he…

Kemudian untuk para karyawan, baik yang ‘pure scientist’ maupun yang ‘managerial’, diberikan standart gaji yang bersaing juga, iklim keilmuan dimajukan, riset2 yang berguna untuk masyarakat banyak, di lombakan dan diberikan hadiah, baik saat di umumkan maupun setelah nya, jadi ada sistem royalti untuk para scientist…

Darimana sumber dana nya, apa mesti ngutang lagi…

Gak harus ngutang, Indonesia kaya akan sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan…

Tinggal dimaksimalkan, pengelolaan nya secara profesional dan jujur, sesuai pasal 33 UUD 1945, dsb.,…

Selain juga dari pemaksimalan penerimaan pajak, dan bagus juga kalo setiap pembayaran pajak, ada laporan nya ke masyarakat, entah per bulan/pertahun, atau dalam jangka waktu tertentu, dipakai untuk apa saja uang dari pajak tersebut…

kalo masyarakat melihat secara berkesinambungan, bahwa membayar pajak, ternyata dipakai untuk pembangunan ini, itu, dan jelas pemakaian nya, minimal untuk lingkungan dimana dia tinggal, saya kok masih yakin, rakyat akan berbondong-bondong berinisyatif membayar pajak secara aktif dan sukarela…

Selain itu program2 yang menyerap tenaga kerja yang banyak, perlu ditumbuhkan, agar tingkat pengangguran bisa ditekan, yang semoga dengan makin meningkat nya tingkat ekonomi, pendidikan, akan berkorelasi dengan menurun nya tingkat kriminalitas, yang ujung-ujung nya kemajuan bangsa yang terus berproses akan lebih cepat dicapai…

Tolok ukur kemajuan bangsa ada banyak, gak harus yang njlimet-njlimet..antara lain :

1. Pendapatan per kapita, ini ngitung nya gimana ya…secara konsisten, ada pemonitoran, bagaimana suatu bangsa lain bisa mencapai kemajuan nya seperti saat ini, proses nya, aspek-aspek kehidupan yang haru diselaraskan, dsb., jadi untuk mengejar ketertinggalan itu ada tolok ukur dan contoh nyata nya, dan selalu diinfo kan ke masyarakat…
2. Pendapatan per kepala keluarga, tentu tiap KK, tiap daerah lain-lain, namun sebaik nya ada angka standart tertentu secara nasional, supaya kelihatan, gak ada yang maju bangett, gak ada yang masih tertinggal, mesti maju bersamaan, katanya bangsa yang satu…
3. Tingkat pengangguran, makin tinggi atau turun, apa penyebab nya…, bagaimana membuat program yang bisa menurunkan tingkat pengangguran secara bertahap…
4. Tingkat melek huruf, pemberantasan buta huruf minimal harus dicapai, syukur2 dikenalkan dengan teknologi tepat guna, yang bermanfaat untuk menjadi wira usahawan…
5. Hutang pemerintah dan swasta, nah ini yang agak rumit pembahasan nya, la wong skema hutang nya saja berbeda-beda, tingkat suku bunga, jangka waktu pengembalian berbeda-beda, kayak nya bila gak terlalu bergantung dengan hutang, alias sebagai bangsa suatu saat bisa sedikit saja hutang nya, martabat sebagai bangsa akan lebih baik di mata negara-negara lain…
6. Terserap nya program2 Pemerintah ke tiap daerah, dan disetujui oleh DPR, diketahui manfaat dan urgensi nya oleh masyarakat,…saya masih mikir, gimana mengefektifkan pola ‘top down’ dan ‘bottom up’…, jadi bila masyarakat punya keinginan yang memang urgent dan bagus untuk dimasukkan ke program pemerintah, DPR sebagai wakil rakyat bisa secara efektif merumuskan nya, kemudian saat disusun RUU sebelum jadi UU, disosialisaikan ke masyarakat yang memilih nya, minimal untuk daerah dimana wakil rakyat tersebut berasal…

kemudian yang top down, saat pemerintah membuat Perpu, apakah sudah pasti akan berguna untuk kemjuan masyarakat nya, apakah ada media komunikasi untuk menjembatani nya ya…?

7. Apa lagi ya…

Hmmm, kayak nya sudah agak menjadi diskusi yang tidak hanya membahas Nasionalisme saja ya, he he he…

Semoga bisa menambah ‘warna’ dalam berdiskusi, dan membawa manfaat..

Best Regards
Sigit (Sigit — 9 April 2008)

9). Sigit
Sebenernya menghubungkan nasionalisme dengan “brain drain” tidaklah sederhana.
Tidak ada salahnya kita mengerti dahulu apa itu nasionalisme. Wiki memberikan definisi sederhana begini. Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Memang ini hanyalah faham yang mengatakan bahwa “nation” harus didahulukan, dan ini merupakan bagian demi kepentingan eksistensi sebuah negara. Jadi awalnya nationalism hanyalah untuk negara. Dalam perkembangannya ada Nasionalism budaya, Juga ada Nationalism etnic (misal china, etnic melayu, etnic India, caucasian dll).
Dalam nationalism etnic ini misalnya orang melayu yang berpikir “yang penting untuk orang melayu”, ini banyak terdengar di Malaysia. Sehingga ketika nationalism etnic ini muncul maka Malaysia akan bersatu dengan Kaum Melayu di Indonesia Barat, dimana nationalisme negara akan pudar.

Apakah nationalism itu penting ? Yang jelas faham nationalism itu ADA ! dan beragam ! (Rovicky — 9 April 2008)

10). nasionalisme memang dapat dipengaruhi oleh tingkat kemakmuran suatu bangsa dan budaya serta kebijakan pemerintah dalam membina dan mendidik warga negaranya. misalnya saja negara India yang mana mereka lebih suka memakai kain sari dan menggunakan Tata mobil kecil seperti VW kodok dari pada produk asing, karena pendidikan kepada warganegara sangat ditanamkan semenjak kecil. mungkin itu pendapat saya, kalau ada salah kata mohon maaf, salam. andiku.wordpress.com (andiku — 9 April 2008)

11). Nasionalisme , bukan barang jadul, ia berbentuk adjective noun yang hanya melekat pada pribadi-pribadi berjiwa besar pada tempo dulu dan zaman modernisasi sampai sekarang ini. (Alya — 9 April 2008)

12). Nasionalisme …. mmmm artinya seperti yang di katakan di post subjek , tetapi makna lain org pasti beda maknanya. ya kalau bagi yang bekerja di luar negeri tidak bisa di bilang tidak nasionalisme. butuh uang , butuh penghidupan yang layak , namanya juga manusia, jika ada kesempatan kenapa tidak !!!!.

Lebih cocok jika membahas masalah nasionalisme ini di tujukan kepada org keturunan yang katanya lahir disini dan besar disini malahan udah 25 sampai 30 tahunan , akan tetapi masih berstatus warga negara asing. nah itu nasionalismenya harus di pertanyakan. dan pada kenyataannya mereka mendapat lebih dari apa yang kita rasakan.

Alasan susah dapet gelar WNI , tuh mah alasan klise ya.

Contoh nya saudara gw : ayahnya AS ibunya orang sini, tetapi semua anaknya orang Indonesia. mau tahu caranya gampang aja. waktu anaknya lahir tuh si bapak dateng ke badan imigrasi dan aparat terkait trus buat pernyataan kalau anak anaknya diserahin kepada bangsa ini. udah deh bisa dapet akte kelahirannya.

jika ingin berbicara tentang nasionalisme gk akan habis – habisnya. tergantung kepada kita sendiri.
saya , anda dan mereka apakah kita mempunyai rasa nasionalisme (trilogy — 9 April 2008)

13). Aneh ya, nasionalisme kok dihubungkan dengan tempat tinggal. Indonesia itu bangsa, bukan negara atau alamat tinggal. Tidak tinggal di Indonesia apa terus jadi bukan orang Inonesia? Kenapa pizza, makanan italia ada di mana-mana? Juga makanan cina dan jepang? Kenapa ada artis cina yang ngetop di hollywood, dan sutradara India yang dihormati di sana. Atau boss perusahaan global kayak Citibank atau Pepsi kok bossnya orang India? Kenapa? Karena mereka berani meninggalkan tanah airnya dan menyebarkan kebangsaannya di tanah yang baru apapun alasannya. Menurut saya mereka nasionalisme, karena mereka justru mengharumkan nama bangsanya lewat makanan, inteligensia, fashion, budaya, dll di seluruh dunia. (jusak — 9 April 2008)

14). Ada seorang ahli fusi nuklir, kalau nggak salah namanya Iwan; satu-satunya orang Indonesia yang expert di bidang itu; malah dikucilkan dan idle capacity di BATAN.

Dia disalahkan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan aturan administratif dan standar kepatuhan yang diminta bosnya di BATAN.

Kalau tidak salah orang itu sekarang kerja di Mitsubishi Jepang; TERPAKSA, padahal dia sangat ingin membaktikan ilmunya demi kemajuan Indonesia.

Habibie adalah contoh lain lagi. Pulang ke Indonesia, terpaksa berpolitik untuk melindungi proyek teknologi yang mau dibangunnya; akhirnya ilmunya sia-sia dan karir politiknya tamat secara menyedihkan (Timtim). (Robert Manurung — 9 April 2008)

15). Ya iya lah. Mau di mana pun namanya hujan emas lebih mengasyikkan dari hujan batu. Dan kalau yang cerdas, mengumpulkan emas di negeri orang, lalu dibawa ke negeri sendiri supaya di negeri sendiri isinya bukan batu doang. ). Dengan pepatah lama yang berbau mbok-mboken itu (takut jauh dari rumah) akibatnya devisa kita nggak bertambah. Sementara hujan emas yang di sini sudah diboyong ke negeri lain. (jusak — 9 April 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s