BANGSA YANG PELUPA

Oleh: A Makmur Makka

Obyektivitas sejarah selalu dipengaruhi oleh obyektivitas manusia pada suatu zaman tertentu. Setiap sejarah akan dipengaruhi oleh semangat zamannya,tetapi “semangat zamannya” sangat relatif, karena mungkin berupa data baru yang ditemukan kemudian, bisa juga karena faktor penguasa baru yang muncul kemudian. Inilah yang selalu hadir dalam usaha “penjernihan”, “pemurnian” atau “pelurusan” sejarah.

 

Ada dua peristiwa penting dalam bulan ini telah kita peringati bersama. Pertama hari Kesaktian Pancasila pada tanggal 30 September dan yang kedua Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober. Keduanya telah menjadi peristiwa bersejarah penting yang tidak bisa di lewatkan dalam kehidupan bangsa ini. Tetapi saya selalu khawatir, karena obyektivitas sejarah selalu dipengaruhi oleh obyektivitas manusia pada suatu zaman tertentu. Bukankah setiap sejarah akan dipengaruhi oleh “semangat zamannya”, kata ahli sejarah Leopold van Ranke.

 

Sejarah memang harus dituliskan seperti apa yang terjadi dan kebenaran kemarin mungkin akan terhapus dengan kebenaran baru dan fakta baru yang ditemukan pada hari ini. Tetapi “semangat zamannya” sangat relatif, karena mungkin berupa data baru yang ditemukan kemudian, bisa juga karena faktor penguasa baru yang muncul kemudian. Inilah yang selalu hadir dalam usaha “penjernihan”, “pemurnian” atau “pelurusan” sejarah. Kita tidak pernah sadar, bila dalam sejarah yang telah kita anggap benar dalam periode pemerintahan Soekarno, ternyata bisa “diluruskan” atau ” dijernihkan” dalam periode pemerintahan Soeharto. Kemudian sejarah yang tertuliskan dalam periode pemerintah Soeharto , bisa “dijernihkan” atau “diluruskan” dalam periode pemerintahan Megawati. Karena itu, dibalik usaha “penjernihan” dan “pelurusan” sejarah , selalu harus dicurigai, bahwa selain ditemukannya fakta baru juga kemunmgkinan subyektivitas dan kepentingan penguasa memegang peranan. Ini terjadi, bukan hanya dalam sejarah politik modern, tetapi juga dalam penulisan sejarah kerajaan dalam babad dan pupuh sejak dulu. Setiap penguasa yang baru muncul, secara naluriah ingin meninggalkan hal-hal yang baik tentang diri dan kekuasaan mereka. Seluruh aib ingin dihapuskan dan seluruh noktah hitam harus diputihkan.

 

Inilah tugas berat bagi sejarawan. Catatlah, beberapa buku sejarah yang telah kita baca, ditulis oleh tim, guru besar yang berpangaruh, sejarawan terkemuka, ternyata kemudian “dianulir” , oleh sejarawan berikutnya.Karena itu , wajar jika Carl Beker meragukan diktum yang mengatakan tulislah sejarah “sebagaimana yang terjadi”, karena bertentangan dengan psikologi. Sadar atau tidak , orang yang menulis pasti ada maksud. Fakta sejarah itu, tidak seperti batu bata yang tinggal dipasang, tetapi fakta itu sengaja dipilih oleh sejarawan.

Sejarah yang obyektif itu tidak ada, seperti halnya ilmu alampun penuh ketidakpastian”.( Kuntowijowo, Ilmu Sejarah l995). Ada yang disebut kekuatan sejarah yang bisa mempengaruhi bagaimana peristiwa sejarah itu terjadi ( Kuntowijoyo,ibid) . Dua diantaranya adalah kekuatan institusi atau kelembagaan dan individu . Negara mempunyai kekuatan sejarah karena kelembagaan khas negara itu mempengaruhi bangunan sejarah dalam negara itu. TNI misalnya yang baru saja berulang tahun ke 58, sebuah lembaga yang kekuatan sejarah telah membentuk perjalanan bangsa Indonesia. Determinasi TNI dengan mayoritas pemimpinnya yang anti Komunis, telah membuat Partai Komunis tidak bisa bebas mengembangkan ideologi komunis di Indonesia .
Sebaliknya Partai Komunis Indonesia dan organisasi mantelnya seperti SOBSI ( buruh), BTI ( petani), LEKRA ( seniman), CGMI (mahasiswa) sebagai sebuah institusi juga mempunyai kekuatan sejarah. Hanya saja mereka tidak mujur, dan itulah jalannya sejarah. Lembaga-lembaga itu kemudian di nyatakan terlarang, karena dinyatakan terlibat dalam pemberontakan G 30 S. Semua anggota organisasi mantel PKI banyak yang eksekusi dan yang tertangkap dijadikan sebagai tahanan politik. Bisa dibayangkan, jika penggerak pemberontakan G 30 S PKI berhasil, maka para organisasi mantel PKI ini akan berjaya dan bebas melaksanakan program ideologi komunis di Indonesia, menindas rakyat yang bukan komunis. Ingat jumlah anggota SOBSI tahun l962 berjumlah 3.3 juta orang, BTI 5,7 orang, LEKRA 100.000,dll. Organisasi mantel ini, potensial melakukan protes , demo, kerusuhan dan sabotase yang anarkis terhadap mereka yang dianggapnya musuh komunis. Ingat peristiwa Aksi Sepihak anggota BTI merampas tanah negara dan rakyat , Aksi boikot SOBSI pada perusahaan negara dimana organsasi ini berkuasa, atau “pengganyangan” seniman yang disebut “Manikebuis” seperti H.B.Jassin, Buya HAMKA oleh Lekra. Karena itu, ketika sebuah siaran televisi swasta baru-baru menayangkan pembelaan tokoh SOBSI bahwa mereka tidak terlibat pemberontakan, mengungkit kembali keganasan massa non komunis, ketidak adilan hukum, saya berguman dalam hati. Ya, kebetulan penggerak pemberontakan G 30S/PKI gagal di Jakarta dan Yogyakarta. Jika seandainya Untung cs berhasil mengambil alih kepemimpinan negara ini, maka SOBSI sebagai lembaga dan lembaga mantel PKI lainnya, akan melakukan sikap yang sama , “membumihanguskan” masyarakat dan rakyat yang anti komunisme. Sayang sejarah terbalik.

 

Banyak pledooi pembelaan dari generasi muda sekarang ini , terhadap PKI , LEKRA, tetapi pembelaan mereka itu bertolak dari rasa kemanusiaan, ketidakadilan, persoalan internal angkatan darat, tetapi semua itu adalah argumen belaka. Sebenarnya , siapa yang tidak bersimpati pada kemanusiaan dan membela ketidak adilan. Tetapi begitulah. Sejarah dibangun dari fakta. Fakta sejarah hanya bisa dihilangkan oleh fakta baru yang lebih sahih dan teruji, bukan dengan argumen emosional.

 

Individu juga adalah kekuatan sejarah. Banyak pribadi yang telah tercatat dalam sejarah, ada Iskandar yang Agung, Harun AL Rasyid, Jenghis Khan ,Napoleon Bonaparte, Saladin yang pernah memenuhi lembaran pelajaran-pelajaran sejarah. Di Indonesia ada Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Sudirman, Moh.Roem, Soeharto, Oerip Sumohardjo. Sejarah Indonesia sebagai eks jajahan Hindia Belanda akan tetap ada, tetapi tanpa Soekarno dan Hatta akan jadi lain.

Untung dan Dul Arif hanya berpangkat perwira menengah, tetapi karena merekalah, sejarah PKI yang pernah hampir menguasai bangsa ini , menjadi lain. Hanya pribadi-pribadi yang mengukir sejarah itu cepat hilang, termakan waktu dan terlupakan. Iskandar yang Agung, Harun Alrasyid, Jenghis Khan di pentas dunia. Soekarno, Soeharto.B.J.Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati kelak di Indonesia

 

Masa jaya PKI yang brutal cepat dilupakan, pribadi penting pemimpin bangsa yang berjasa cepat dilupakan. Bangsa kita ini, punya banyak kekuatan sejarah, tetapi makin cepat menjadi pelupa.(AMM)

(Sumber: http://www.habibiecenter.or.id/index.cfm?fuseaction=artikel.detail&detailid=77&bhs=ina)

One thought on “BANGSA YANG PELUPA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s