Satu Lagi Buku “Membela” G30S PKI

Copy-paste tulisan berikut ini adalah bentuk “kekesalan” diriku yang merasa “bodoh” ketika diperkuliahan ada sedikit pembahasan tentang buku ini. Baca neh sampai selesai!!!

Kamis, 27 Maret 2008

Profesor sejarah Universitas Columbia Inggris menulis tentang G30S/PKI. Untuk kesekian, buku “meringankan” PKI. Tapi mengapa muncul setelah Soeharto tak tak ada?

ImageHidayatullah.com—Untuk kesekian kali, buku ini termasuk “meringankan” tragedy G30S/PKI. Buku karya John Roosa menyoroti bahwa G30S sebagai dalih bagi kudeta Soeharto dan pembunuhan massal 1965-66.

Buku John Roosa, berjudul Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto itu, diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (25/03) kemarin.

Acara bedah buku yang diselenggarakan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Hasta Mitra itu juga menghadirkan dua pengamat; Dr. Daniel Dhakidae dan Ibu Ratna (Guru Sejarah SMA 6 Jakarta).

Pengamat politik Daniel Dhakidae menduga buku ini “dapat mengubah pandangan sejarah dan pandangan kita semua”. Ibu Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah memujinya sebagai kajian cermat yang tak berpihak.

Dua ratusan khalayak hadir, namun sayang penulisnya sendiri absen. Sejarawan Kanada tersebut dalam sambutannya yang dibacakan penyelenggara, memperingatkan, buku ini adalah kajian tentang G30S, yaitu apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965.

Dengan begitu, dia mengimbau publik agar memahami bahwa tidak semua versi tentang peristiwa itu dapat dianggap sebagai ‘versi alternatif’. Ada misalnya yang menulis tentang Soekarno sebagai dalang G30S, maksudnya penulis Belanda Anthony Dake.

Dengan sedikit “membela” G30S, Roosa mengatakan, G30S-PKI memiliki sebuah kejadian yang, melalui kudeta Soeharto, dijadikan dalih bagi suatu hukuman kolektif, yaitu pembunuhan massal.

“G30S”, demikian sambutan John Roosa, “adalah aksi persekongkolan yang melibatkan sejumlah orang saja. Tapi represi terhadap gerakan itu mengenai lebih dari satu juta orang.”

Simpatisan PKI

Melalui buku ini, John Roosa juga menguji berbagai pendapat tentang dalang G-30-S-PKI dan keterlibatan Amerika di dalamnya. Ia meneliti “apa yang telah terjadi” dan “apa yang sebenarnya telah terjadi” untuk kemudian “menjalin cerita baru” tentang G-30-S.

Dalam situs dan blog nya, Roosa mengatakan, bukunya memuat hasil wawancara-wawancara sejarah lisan dengan sejumlah tokoh dan simpatisan PKI; terbitan-terbitan dalam berbagai bentuk dari para pelaku utama yang marak bermunculan pasca-kejatuhan Suharto; serta deklasifikasi seberkas dokumen milik pemerintah AS.

Dalam pengantarnya sebagaimana juga ditulis di blog nya, Roosa mengatakan, “Sudah saatnya pula untuk berhenti berpikir mengikuti stereotip-stereotip basi. Sepanjang kekuasaan Suharto PKI digambarkan sebagai momok jahat sehingga tidak mungkin memahami bagaimana partai itu pernah menjadi demikian populer, dengan jutaan anggota dan simpatisan. Bagaimana mungkin sebegitu banyak orang Indonesia dihujat sebagai iblis? Buku ini ditulis berdasarkan anggapan bahwa anggota-anggota PKI sebenarnya manusia, bukan setan, dan memiliki karakter moral yang tidak lebih baik atau lebih buruk dari orang-orang lain di Indonesia.”

Sayangnya, meski sejarah PKI sangat bersinggungan dengan Islam, tak ada pembicara atau bahasan dalam buku ini melibatkan tokoh-tokoh Islam. Atau penulis menganggap sekedar mengabaikan arti sejarah Islam di dalamnya?

John Roosa adalah asisten profesor sejarah di Universitas Columbia Inggris dan pengarang buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

G30S Jadi Dalih Pembantaian – “Sebuah Sumbangan Besar” Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta
Buku karya John Roosa yang menyoroti G30S sebagai dalih bagi kudeta Soeharto dan pembunuhan massal 1965-66 dinilai sebagai “sumbangan besar” bagi pemahaman sejarah. Pengamat politik Daniel Dhakidae menduga buku ini “dapat mengubah pandangan sejarah dan pandangan kita semua”. Ibu Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah memujinya sebagai kajian cermat yang tak berpihak. Buku John Roosa, berjudul Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto itu, diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (25/03).

Jarang suatu peluncuran buku mendapat perhatian begitu besar seperti karya John Roosa yang kini terbit dalam bahasa Indonesia. Dua ratusan khalayak hadir, namun sayang penulisnya sendiri absen. Sejarawan Kanada tersebut dalam sambutannya yang dibacakan penyelenggara, memperingatkan, buku ini adalah kajian tentang G30S, yaitu apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965.

Dake vs Roosa
Dengan begitu, dia mengimbau publik agar memahami bahwa tidak semua versi tentang peristiwa itu dapat dianggap sebagai ‘versi alternatif’. Ada misalnya yang menulis tentang Soekarno sebagai dalang G30S, maksudnya penulis Belanda Anthony Dake, namun Dake tidak punya bukti-bukti yang sahih.

Dengan menunjuk pentingnya metode dan bahan-bahan bukti, John Roosa berharap kajiannya dapat memacu penulisan lanjut tentang era yang menjadi tonggak zaman tersebut.

Logika G30S = logika invasi Irak
G30S, menurut pendapatnya, memiliki logika yang diproyeksikan ke depan: sebuah kejadian yang, melalui kudeta Soeharto, dijadikan dalih bagi suatu hukuman kolektif, yaitu pembunuhan massal; dia menjadi proyek bagi suatu era baru dan negara baru, yaitu Orde Baru. Tak berbeda dengan George W. Bush menjadikan peristiwa 11 September 2001 sebagai dalih bagi invasi ke Irak tahun 2003, untuk menciptakan Irak yang baru.

“G30S”, demikian sambutan John Roosa, “adalah aksi persekongkolan yang melibatkan sejumlah orang saja. Tapi represi terhadap gerakan itu mengenai lebih dari satu juta orang. Banyak sejarawan yang berasumsi bahwa represi ini wajar dan dapat dibenarkan. Saya pikir ini tidak benar. Represi itu adalah kekerasan yang diarahkan ke masa depan. Menuju pembentukan sebuah kediktatoran baru, sekalipun dianggap sebagai respons yang pantas terhadap kejadian masa lalu.

Logika yang sama bisa kita saksikan hari ini. Presiden George Bush membenarkan invasi tahun 2003 ke Irak sebagai respons yang pantas terhadap serangan 11 September 2001, yang muncul hampir dua tahun sebelumnya. Banyak orang di Amerika mendukung invasi itu karena percaya berdasarkan apa yang dikatakan pemerintah Bush kepada mereka, bahwa Irak berada di belakang serangan 11 September 2001. Tapi pemerintahan Bush berbohong”.

Pengamat politik Daniel Dhakidae dalam pengantarnya juga berbicara tentang buku Anthony Dake. Buku Dake “terlampau indah untuk kebenaran”. Dan tak ada sumbangan teoretisnya. Jadi, tak usah diterbitkan, demikian saran Daniel Dhakidae kepada sebuah penerbit Singapura. Tetapi, kalau ingin menyaingi dongeng Da Vinci Code, ya silahkan terbitkan. Dengan sinisme tajam itu, Daniel Dhakidae menunjuk pada kebalikan Dake, yaitu adanya teori, kekayaan detil, dan ketajaman analisis pada buku John Roosa.

Momentum kunci bagi Soeharto
Ada dua sumbangan besar buku ini. Pertama, John Roosa mematahkan sambung-menyambung yang selama ini dijejalkan oleh Orde Baru di benak kepala kita, yaitu pertalian prolog-peristiwa dan epilog. Maksudnya, propaganda Orde Baru tentang persiapan PKI, kejadian G30S, dan hal yang terjadi kemudian.

Tali prolog sampai epilog itu tidak ada, karena John Roosa menarik pemisah tajam antara dua ihwal, yaitu, yang terjadi Oktober sampai Desember tahun 1965, dan pembunuhan massal setelahnya. Apa yang terjadi tiga bulan terakhir tahun 1965 itu, adalah pergulatan antar elite dan kekuatan-kekuatan politik tingkat tinggi. Sedangkan yang terjadi setelah itu adalah sebuah kudeta merangkak melalui Surat Perintah 11 Maret dan pembunuhan massal.

John Roosa menamakan yang pertama itu “pretext” atau “dalih” bagi yang kedua, sekaligus menganggapnya ‘momentum kunci’ bagi Soeharto untuk membuka suatu lembaran baru, yaitu kediktaturan, bagi Indonesia.

Daniel Dhakidae: “Menurut buku ini juga Soekarno pun sangat memahami bahwa itu adalah urusan yang sangat terbatas di dalam angkatan darat, di dalam hubungan antara, baik PKI sendiri dengan tokoh-tokoh seperti Sjam dan macam-macam di sana, tetapi artinya, berapa pun penting tokoh-tokoh itu, seluruhnya itu adalah dalam lingkup yang terbatas. Itu pertama.

Dan yang kedua, yaitu pembunuhan massal. Pembunuhan massal itu menurut buku ini adalah satu peristiwa yang lain lagi sama sekali. Yang seharusnya tidak boleh dihubungkan dengan yang terjadi pada bulan Oktober, November sampai Desember. Karena itu adalah konsekuensi satu kudeta dan yang memberikan legitimasi untuk kudeta itu adalah, tentu saja, seperti kita semua tahu, yaitu Surat Perintah Sebelas Maret “.

Dokumen Soepardjo
Sumbangan besar kedua John Roosa, menurut Daniel Dhakidae, adalah apa yang disebut “Dokumen Soepardjo”, yaitu analisis militer yang ditulis tokoh G30S, Brigjen Soepardjo.

Daniel Dhakidae: “Isinya kira-kira begini. Seharusnya apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober itu tidak boleh sedrastik yang sudah dilaksanakan itu. Seharusnya bertahap. Yaitu pertama, urusan intern militer, angkatan darat terutama. Kedua, baru sedikit-sedikit melibatkan partai. Ketiga baru satu penyelesaian dalam pengertian penguasaan partai dalam arti yang sesungguhnya.

Tetapi yang terjadi adalah, kata dokumen ini, karena ketidaksiapan baik oleh Untung sendiri, Soepardjo sendiri dan beberapa batalyon-batalyon yang terlibat di sana, karena ketidaksiapan itu tiba-tiba semuanya menjadi pukul rata aja oleh mereka. Dan yang dari militer tiba-tiba menjadi partai, partai menjadi militer”.

Soepardjo mengungkap betapa ambur adul ketika suatu kepemimpinan sipil, yaitu tokoh Biro Chusus PKI, Sjam Kamaruzaman, bersama Ketua PKI D.N. Aidit, atas nama partai, memimpin suatu aksi militer tanpa komando yang jelas, dan tanpa logistik yang memadai. Aksi mereka pada 1 Oktober 1965 itu gagal total hanya dalam beberapa jam, karena pasukan G30S yang bergerak sejak dini hari itu, lapar!

Daniel Dhakidae: “Ndak ada makanan, yang datang dari Bandung, datang ke sini lapar. Yang datang dari Jawa Timur di sini juga tidak ada makanan dan lapar. Dan semua komplikasi itulah yang menyebabkan kegagalan-kegagalan pada dua tiga empat hari itu.

Saya pikir, tentu saja kita percaya kepada originality (keaslian, red.) dokumen semacam ini. Dan kalau ini benar, dokumen ini akan mengubah semua pandangan. Pandangan kita, pandangan sejarah, dan pandangan semua orang mengenai apa yang terjadi pada bulan Oktober, November, Desember menuju ke tahun 1966 sampai kudeta yang sesungguhnya”.

Implikasi bagi sejarah
Tak kalah penting, adalah implikasi semua ini bagi pengajaran sejarah dan kesadaran sejarah masyarakat. Tiga dasawarsa lamanya Orde Baru mengobok-obok sejarah dengan mesin propagandanya yang selalu menyudutkan satu pihak demi pihak yang lain.

John Roosa tidak bermaksud meluruskan sejarah. Sejarah selalu lurus atau bengkok, tergantung pemahamannya. Jadi, guru sejarah harus membuka lebar peluang anak didik untuk memperoleh berbagai sumber. Guru sejarah SMA Negeri VI Jakarta, yang juga Ketua Asosiasi Guru Sejarah, Ibu Ratna Hapsari mengatakan:

“Memang kebanyakan sumber itu mengarah bahwa PKI adalah dalang utama peristiwa berdarah itu. Sehingga perlu negara kemudian melakukan tindakan represif, agar peristiwa ini tidak terulang kembali.

Nah, sebagai guru, saya tidak pernah melakukan justifikasi. Artinya saya memberikan motivasi pada anak-anak saya, ini lho salah, karena dia sudah melakukan kekejaman dan lain sebagainya.

Tetapi saya mengajukan agar anak-anak itu mempunyai pemikiran-pemikiran yang cukup kritis. Dan itulah yang kemudian ingin kami kehendaki sehingga mereka mampu mencari kebenaran itu sendiri”. Demikian Ibu Ratna Hapsari. (RNL)

http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/g30s_dalih_pembantaian080326

buku ini terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007

TELAH BEREDAR!
untuk membeli buku ini hubungi: jpr.dpm@gmail.com Harga buku: Rp 60.000,- ditambah ongkos kirim sesuai jarak.

John Roosa
Dalih Pembunuhan Massal:
GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia ©2006 The University of Wisconsin Press, Madison, USA

Pertama kali diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia seizin penerbit asli oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia bekerjasama dengan Hasta Mitra pada Januari 2008.

Penerjemah : Hersri Setiawan
Penyunting: Ayu Ratih dan Hilmar Farid
Penyelaras bahasa: M. Fauzi dan Th. J. Erlijna

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
John Roosa,
Dalih Pembunuhan Massal
Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Cetakan 1
Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008
xxiv+392 hlm; 16 cm x 23 cm ISBN: 978-979-17579-0-4

“Saya harus menekankan bahwa buku ini hanya tentang G-30-S. Ini bukan buku tentang kekerasan massal yang muncul setelah gerakan itu terjadi walaupun di bagian pengantar saya sampaikan beberapa argumen dasar tentang kekerasan tersebut dan kaitannya dengan G-30-S. Saya beranggapan bahwa lebih banyak penelitian harus dilakukan tentang kekerasan massal pasca G-30-S sebelum sebuah analisis ilmiah yang baik bisa ditulis. Menimbang skalanya, kekerasan pasca G-30-S merupakan topik yang lebih penting daripada G-30-S itu sendiri. Buku ini diharapkan bermanfaat bagi penelitian lebih lanjut tentang kekerasan massal pasca G-30-S dengan menyajikan konteks baru untuk memahami tragedi tersebut. Jika G-30-S lebih jelas mungkin akan lebih mudah untuk memusatkan perhatian pada topik-topik lain yang berkaitan. Lebih banyak pula studi-studi yang perlu digarap tentang kudeta Suharto, misalnya, bagaimana ia mengambilalih media massa, keuangan negara, dan birokrasi sipil.” John Roosa, cuplikan dari kata pengantar edisi bahasa indonesia

JOHN ROOSA adalah Assistant Professor di Departemen Sejarah, University of Columbia, Vancouver, Kanada. Ia salah satu penyunting buku kumpulan esai sejarah lisan Tahun Yang Tak Pernah Berakhir
____________________________________________________

Ditulis dengan sangat baik dan mengasyikkan, inilah upaya ilmiah pertama dalam kurun waktu lebih dari dua dasawarsa untuk mengkaji secara serius bukti-bukti yang berkenaan dengan teka-teki paling penting dalam sejarah Indonesia, kudeta 30 September 1965.

Robert Cribb, Australian National University

Tiga pencapaian mengagumkan yang diraih John Roosa adalah menyoroti bukti baru empat puluh tahun setelah peristiwa, memutar balikkan kesimpulan-kesimpulan yang sudah diterima umum, dan melakukan ini semua dalam gaya mencekam ala kisah detektif.

Gerry van Klinken, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

Buku John Roosa yang menggugah dan berdasar pada penelitian menyeluruh menyajikan bukti padu untuk mendukung interpretasi-interpretasi yang sebelumnya didasarkan hanya pada spekulasi. Buku ini merupakan sumbangan yang penting bagi kepustakaan tentang kudeta di Indonesia.

Harold Crouch, Review of Politics

Ini merupakan bahan bacaan penting bagi pelajar sejarah modern Indonesia, dan bagi siapapun yang tertarik pada kekerasan politik, peran militer dalam politik, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Geoffrey Robinson, University of California at Los Angeles

Buku ini merupakan catatan paling detil dan dengan penelitian terbaik tentang kejadian-kejadian 1965 yang pernah ditulis. Siapa pun yang berniat memahami kejadian-kejadian yang masih menebar mendung di atas bumi Indonesia dan sedikit dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia akan memperoleh manfaat sangat besar dengan membaca buku kelas satu ini.

Carmel Budiardjo, Tapol Bulletin

Sumbangan yang luar biasa berharga … ini merupakan masukan akademik pertama yang signifikan tentang masalah yang dibicarakan dalam jangka waktu tertentu, dan cukup memukau dibaca.

Vedi Hadiz, Pacific Affairs

Catatan John Roosa tentang Gerakan 30 September merupakan karya detektif yang mengesankan … ia sudah barang tentu menyumbangkan penelitian yang terbaik sampai saat ini tentang siapa yang mengorganisasikan gerakan ini, mengapa gerakan tersebut gagal, dan bagaimana gerakan ini beranjak ke pembunuhan massal, yang diikuti dengan berpuluh-puluh tahun represi. Buku ini layak dibaca kalangan seluas-luasnya.

Olle Törnquist, International Review of Social History

(Sumber: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6592&Itemid=65)

Berita terkait lainnya:

Peluncuran Buku JOHN ROSA

Oleh : Ibrahim Isa Alias Bramijn

27-Mar-2008, 21:01:53 WIB

KabarIndonesia – Di tengah-tengah berita yang memilukan hati mengenai kenaikan harga bahan-bahan makanan dan lain-lain komiditi keperluan hidup sehari-hari, matinya aliran listrik di beberapa daerah, yang kesemuanya itu amat menyusahkan rakyat yang sudah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, serta belum melihat celah-celah yang membesarkan hati mengenai hari depan, — tokh terdapat kegiatan yang memberikan optimisme. Dimaksudkan adalah terbitnya edisi Indonesia sebuah buku sejarah sekitar G30S yang ditulis oleh seorang pakar Canada. Betapa pun buku John Rosa edisi Indonesia, telah menambah khazanah literatur politik bagi generasi muda, yang diharapkan menambah input bagi pengetahuan sejarah mereka mengenai bangsa kita. Mengingat arti penting buku John Rosa, Sejarawan Canada serta peluncurannya di Jakarta pada tanggal 25 Maret yang lalu, di bawah ini kusiarkan ulang, liputan sahabatku jurnalis kawakan Aboeprijadi Santoso, Tossi.

Kecuali memberitakan besarnya perhatian publik, jumlah hadirin pada peluncuran itu kurang lebih 200 orang. Tossi melaporkan juga sambutan Sejarawan John Rosa sendiri pada hari peluncuran tersebut; tanggapan pengamat politik, Daniel Dhakidae dan pendapat guru sejarah, Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah. Ratna Hapsari yang memuji buku John Rosa sebagai kajian cermat yang tak berfihak.

Dalam kata sambutannya itu, John Rosa menegaskan bahwa, represi yang berlangsung sesudah G30S, memiliki logika yang diproyeksikan ke depan: sebuah kejadian yang, melalui kudeta Soeharto, dijadikan dalih bagi suatu hukuman kolektif, yaitu pembunuhan massal; dia menjadi proyek bagi suatu era baru dan negara baru, yaitu Orde Baru.

Pengamat politik ,Daniel Dhakidae menilai buku John Rosa dapat mengubah pandangan sejarah dan pandangan kita semua. Silakan pembaca menyimak liputan Tossi, mantan wartawan senior Ranesi, Radio Nederland Seksi Indonesia.
* * *

G30S JADI DALIH PEMBANTAIAN, ‘SEBUAH SUMBANGAN BESAR’

Liputan tentang buku John Roosa: Buku karya John Roosa yang menyoroti G30S sebagai dalih bagi kudeta Soeharto dan pembunuhan massal 1965-66 dinilai sebagai “sumbangan besar” bagi pemahaman sejarah. Pengamat politik, Daniel Dhakidae menduga buku ini dapat mengubah pandangan sejarah dan pandangan kita semua. Ibu Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah memujinya sebagai kajian cermat yang tak berpihak.

Buku John Roosa, berjudul Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto itu, diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (25/03). Jarang suatu peluncuran buku mendapat perhatian begitu besar seperti karya John Roosa yang kini terbit dalam bahasa Indonesia. Dua ratusan khalayak hadir, namun sayang penulisnya sendiri absen. Sejarawan Kanada tersebut dalam sambutannya yang dibacakan penyelenggara, memperingatkan, buku ini adalah kajian tentang G30S, yaitu apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965.
Dake vs Roosa, dengan begitu, dia menghimbau publik agar memahami bahwa tidak semua versi tentang peristiwa itu dapat dianggap sebagai ‘versi alternatif’. Ada misalnya yang menulis tentang Soekarno sebagai dalang G30S, maksudnya penulis Belanda Anthony Dake, namun Dake tidak punya bukti-bukti yang sahih. Dengan menunjuk pentingnya metode dan bahan-bahan bukti, John Roosa berharap kajiannya dapat memacu penulisan lanjut tentang era yang menjadi tonggak zaman tersebut.

Logika G30S = logika invasi Irak

G30S, menurut pendapatnya, memiliki logika yang diproyeksikan ke depan: sebuah kejadian yang, melalui kudeta Soeharto, dijadikan dalih bagi suatu hukuman kolektif, yaitu pembunuhan massal; dia menjadi proyek bagi suatu era baru dan negara baru, yaitu Orde Baru. Tak berbeda dengan George W. Bush menjadikan peristiwa 11 September 2001 sebagai dalih bagi invasi ke Irak tahun 2003, untuk menciptakan Irak yang baru.
“G30S”, demikian sambutan John Roosa, “adalah aksi persekongkolan yang melibatkan sejumlah orang saja. Tapi represi terhadap gerakan itu mengenai lebih dari satu juta orang. Banyak sejarawan yang berasumsi bahwa represi ini wajar dan dapat dibenarkan. Saya pikir ini tidak benar. Represi itu adalah kekerasan yang diarahkan ke masa depan. Menuju pembentukan sebuah kediktatoran baru, sekalipun dianggap sebagai respon yang pantas terhadap kejadian masa lalu.
Logika yang sama bisa kita saksikan hari ini. Presiden George Bush membenarkan invasi tahun 2003 ke Irak sebagai respon yang pantas terhadap serangan 11 September 2001, yang muncul hampir dua tahun sebelumnya. Banyak orang di Amerika mendukung invasi itu karena percaya berdasarkan apa yang dikatakan pemerintah Bush kepada mereka, bahwa Irak berada di belakang serangan 11 September 2001. Tapi pemerintahan Bush berbohong.
Pengamat politik, Daniel Dhakidae dalam pengantarnya juga berbicara tentang buku Anthony Dake. Buku Dake “terlampau indah untuk kebenaran”. Dan tak ada sumbangan teoretisnya. Jadi, tak usah diterbitkan, demikian saran Daniel Dhakidae kepada sebuah penerbit Singapura. Tetapi, kalau ingin menyaingi dongeng Da Vinci Code, ya silahkan terbitkan. Dengan sinisme tajam itu, Daniel Dhakidae menunjuk pada kebalikan Dake, yaitu adanya teori, kekayaan detil, dan ketajaman analisis pada buku John Roosa.

Momentum kunci bagi Soeharto

Ada dua sumbangan besar buku ini. Pertama, John Roosa mematahkan sambung-menyambung yang selama ini dijejalkan oleh Orde Baru di benak kepala kita, yaitu pertalian prolog-peristiwa dan epilog. Maksudnya, propaganda Orde Baru tentang persiapan PKI, kejadian G30S, dan hal yang terjadi kemudian.
Tali prolog sampai epilog itu tidak ada, karena John Roosa menarik pemisah tajam antara dua ihwal, yaitu, yang terjadi Oktober sampai Desember tahun 1965, dan pembunuhan massal setelahnya. Apa yang terjadi tiga bulan terakhir tahun 1965 itu, adalah pergulatan antar elite dan kekuatan-kekuatan politik tingkat tinggi. Sedangkan yang terjadi setelah itu adalah sebuah kudeta merangkak melalui Surat Perintah 11 Maret dan pembunuhan massal.
John Roosa menamakan yang pertama itu “pretext” atau “dalih” bagi yang kedua, sekaligus menganggapnya ‘momentum kunci’ bagi Soeharto untuk membuka suatu lembaran baru, yaitu kediktatoran bagi Indonesia.
Daniel Dhakidae: “Menurut buku ini juga Soekarno pun sangat memahami bahwa itu adalah urusan yang sangat terbatas di dalam angkatan darat, di dalam hubungan antara, baik PKI sendiri dengan tokoh-tokoh seperti Sjam dan macam-macam di sana, tetapi artinya, berapa pun penting tokoh-tokoh itu, seluruhnya itu adalah dalam lingkup yang terbatas. Itu pertama.

Dan yang kedua, yaitu pembunuhan massal. Pembunuhan massal itu menurut buku ini adalah satu peristiwa yang lain lagi sama sekali. Yang seharusnya tidak boleh dihubungkan dengan yang terjadi pada bulan Oktober, November sampai Desember. Karena itu adalah konsekuensi satu kudeta dan yang memberikan legitimasi untuk kudeta itu adalah, tentu saja, seperti kita semua tahu, yaitu Surat Perintah Sebelas Maret”.

Dokumen Soepardjo

Sumbangan besar kedua John Roosa, menurut Daniel Dhakidae, adalah apa yang disebut “Dokumen Soepardjo”, yaitu analisis militer yang ditulis tokoh G30S, Brigjen Soepardjo.
Daniel Dhakidae: “Isinya kira-kira begini. Seharusnya apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober itu tidak boleh sedrastik yang sudah dilaksanakan itu. Seharusnya bertahap. Yaitu pertama, urusan intern militer, angkatan darat terutama. Kedua, baru sedikit-sedikit melibatkan partai. Ketiga baru satu penyelesaian dalam pengertian penguasaan partai dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi yang terjadi adalah, kata dokumen ini, karena ketidaksiapan baik oleh Untung sendiri, Soepardjo sendiri dan beberapa batalyon-batalyon yang terlibat di sana, karena ketidaksiapan itu tiba-tiba semuanya menjadi pukul rata saja oleh mereka. Dan yang dari militer tiba-tiba menjadi partai, partai menjadi militer.”

Soepardjo mengungkap betapa amburadul ketika suatu kepemimpinan sipil, yaitu tokoh Biro Khusus PKI, Sjam Kamaruzaman, bersama Ketua PKI D.N. Aidit, atas nama partai, memimpin suatu aksi militer tanpa komando yang jelas, dan tanpa logistik yang memadai. Aksi mereka pada 1 Oktober 1965 itu gagal total hanya dalam beberapa jam, karena pasukan G30S yang bergerak sejak dini hari itu, lapar!

Daniel Dhakidae: “Ndak ada makanan, yang datang dari Bandung, datang ke sini lapar. Yang datang dari Jawa Timur di sini juga tidak ada makanan dan lapar. Dan semua komplikasi itulah yang menyebabkan kegagalan-kegagalan pada dua tiga empat hari itu.
Saya pikir, tentu saja kita percaya kepada originality (keaslian, red.) dokumen semacam ini. Dan kalau ini benar, dokumen ini akan mengubah semua pandangan. Pandangan kita, pandangan sejarah, dan pandangan semua orang mengenai apa yang terjadi pada bulan Oktober, November, Desember menuju ke tahun 1966 sampai kudeta yang sesungguhnya.”

Implikasi bagi sejarah

Tak kalah penting, adalah implikasi semua ini bagi pengajaran sejarah dan kesadaran sejarah masyarakat. Tiga dasawarsa lamanya Orde Baru mengobok-obok sejarah dengan mesin propagandanya yang selalu menyudutkan satu pihak demi pihak yang lain.

John Roosa tidak bermaksud meluruskan sejarah. Sejarah selalu lurus atau bengkok, tergantung pemahamannya. Jadi, guru sejarah harus membuka lebar peluang anak didik untuk memperoleh berbagai sumber. Guru sejarah SMA Negeri VI Jakarta, yang juga Ketua Asosiasi Guru Sejarah, Ibu Ratna Hapsari mengatakan:
“Memang kebanyakan sumber itu mengarah bahwa PKI adalah dalang utama peristiwa berdarah itu. Sehingga perlu negara kemudian melakukan tindakan represif, agar peristiwa ini tidak terulang kembali. Nah, sebagai guru, saya tidak pernah melakukan justifikasi. Artinya saya memberikan motivasi pada anak-anak saya, ini lho salah, karena dia sudah melakukan kekejaman dan lain sebagainya. Tetapi saya mengajukan agar anak-anak itu mempunyai pemikiran-pemikiran yang cukup kritis. Dan itulah yang kemudian ingin kami kehendaki sehingga mereka mampu mencari kebenaran itu sendiri,” demikian Ibu Ratna Hapsari berkata.

(Sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&dn=20080327153820)

2 thoughts on “Satu Lagi Buku “Membela” G30S PKI

  1. di masa itu kuat adanya perebutan kekuasaan ideologi antara kubu timur dan barat di indonesia hingga muncul bantai atau di bantai. yang mengawali pembantaian diwaktu itu adalah PKI dengan dalih adanya dewan jendral oleh TNI AD yang akhirnya berimbas dengan pemberontakan dan pembantaian massal yg didalangi oleh PKI di madiun dan daerah lain. kemudian Soeharto menkonsolidasi TNI AD dan bersama rakyat yg merasa keluarganya dibantai kemudian berbalik menghabisi PKI beserta simpatisannya. timbulah perang saudara dan pembantaian besar2an di indonesia. lagipula sekarang banyak sekali buku2 yg beredar dipasaran dengan fakta yg diputar balikkan.jadi apapun itu ceritanya, yang sudah terjadi janganlah disesali… setahu saya TNI-AD tidak dendam dengan PKI yang sudah sadar tapi TNI-AD akan menghadang org2 yang ingin menghidupkan kembali paham KOMUNISME di indonesia.
    ————–
    masa seh?,….
    …..kita masih terus butuh pembaruan fakta dan interpretasi masa lalu. Thanks atas kunjungannya….

    1. Wow..bung Darius. Anda ini tampaknya pretensius sekali yah.

      Perang saudara? memangnya kapan pernah ada perang saudara di masa-masa setalah G30S?

      Memangnya orang-orang PKI itu golongan sesat sampai merasa perlu dibimbing ke jalan yang benar?

      En lagi, anda tahu komunisme itu apa? Memangnya apa yang salah dengan komunis (seandainya pun anda tahu apa itu komunis)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s