Pertanyaan Terkait G 30 S (?????)

Ini tulisan dapat mencari dari search engine Google, tahun terbitnya: 2006. Menarik. Judulnya gahar baget : “Buat Yang Pengen Ngerjain Guru Sejarah dan PMP”. Dari judulnya, saya yakin yang posting di forum ini sudah tidak sekolah lagi, atau tidak mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Sekarang bukan pelajaran PMP, tapi PPKn, dan PKn. Isi tulisan ini merupakan “kegelisahan” Salim Said dalam berbagai pertanyaan, tentang Peristiwa tanggal 30 September tahun 1965.

Kepada pembaca budiman, selamat menyimak.

Sejumlah Pertanyaan Yang Muncul Di Sekitar
Gerakan Tiga Puluh September 1965.

GESTAPU sudah terjadi lebih dari 40 tahun silam tapi sampai kini masih saja ada mengandung misteri yang belumb terungkap. Berikut ini saya mencoba mengkompilasi sejumlah pertanyaan yang saya percaya akan bisa menuntun kita ke arah terungkapnya misteri GESTAPU tersebut.

1. Apa sebenarnya yang disampaikan Latif kepada Pangkostrad, May. Jen TNI Suharto di rumah sakit Angkatan Darat pada malam 30 September? Apakah waktu itu Latief mengatakan bahwa para Jenderal akan diambil/diculik untuk dihadapkan kepada Presiden Sukarno keesokan harinya? Apakah Latief memberi tahu siapa yang akan melakukan aksi penculikan itu? Apakah Latief berbicara tentang GESTAPU dengan keterlibatan Untung dan Suoardjo? Dalam peleidoinya
Latif mengaku tidak tahu, bahkan terkejut (dalam sebuah wawancara)
mengetahui terbunuhnya para Jenderal. Dengan informasi ini bisakah
disimpulkan bahwa Latief tidak menyampaikan kepada Jenderal Suharto bahwa para Jenderal akan dibunuh?

2. Apa sebenarnya yang diketahui Suharto mengenai Gestapu sejak Latief muncul di Rumah Sakit Angkatan Darat pada malam itu? Jika seandainya Latif memang melaporkan bahwa sejumlah Jenderal akan dihadapkan kepada Presiden Sukarno dengan cara paksa, apakah Suharto memang tidak bisa berbuat apa-apa? Mengapa?

3. Kolonel Latief kelihatannya sangat mempercayai Suharto sehingga mau membocorkan rahasia rencana gerakan para perwira “progressiv revolusioner” terhadap pimpinan Angkatan Darat. Bisa dibayangkan bahwa dengan para konspirator, Latif telah membicarakan posisi Suharto terhadap rencana Gestapu, terhadap Sukarno dan terhadap “Dewan Jenderal.” Apa kira-kira penilaian Latif dan para konspirator Gestapu itu terhadap Suharto? Apakah mereka tahu bahwa hubungan Suharto dengan Yani serta kelompoknya kurang baik dan hubungan buruk itu akan dimanfaatkan? Atau mereka sangat yakin akan
menang dan bisa membawa serta Suharto yang hanya seorang oportunis? Rasanya sukar percaya begitu saja bahwa Suharto disepakati oleh konspirator Gestapu untuk dihubungi oleh Latif hanya karena hubungan sentimental masa revolusi dan masa Trikora antara Latief (juga Untung) dengan Suharto. Pasti ada yang lebih dalam dan prinsipil dari itu. Dan bukan tidak mungkin keputusan mengirim Latief untuk menghubungi Suharto telah mendapat persetujuan DN Syam dan bahkan Aidit. Jadi apa dasar sebenarnya dibalik dihubunginya Suharto oleh Latief?

4. Menurut Peter Dale Scott, pada Januari 1965 terjadi pertemuan penting para Jenderal Angkatan Darat di Jakarta.Pesertanya adalah para pendukung Yani (garis moderat menghadapi PKI) dan Nasution (Garis keras menghadapi PKI) dan Suharto. Suharto digambarkan oleh Scott sebagai memainkan peran penting dalam rapat itu. Pertanyaannya adalah apakah Suharto secara politik memang sudah tokoh penting militer saat itu? Sumber lain menyebutkan bahwa pada rapat itulah dicapainya kebulatan tekad bersama para Jenderal (pengikut Nasution dan Yani) untuk menghadapi PKI. Mungkinkah hasil rapat ini yang membuat Sukarno akhirnya putus asa menghadapi Yani dan lalu muncullah skenario “penculikan” Yani CS?

5. Menurut Dake (Sukarno File, 63) May.Jen Pranoto Reksosamudro, Asisten Personalia Pangad Ahmad Yani, ikut rapat bersama Aidit, Supadjo dan kelompok Untung pada tanggal 29 Agustus 1965 di Jakarta. Sebagai Asisten Personalia Pangad, menurut Dake, Pranoto “berwewenang memutuskan pasukan-pasukan mana saja yang dapat diberangkatkan ke Jakarta dalam rangka peringatan tersebut [5 Oktober 1965].” Jika demikian halnya, atas dasar apa Aidit percaya
Angkatan Darat akan melakukan coup pada 5 Oktober 1965? Bukankah Pranoto, orang binaan PKI, yang justru berada dalam posisi menentukan pasukan apa saja dari Angkatan Darat yang boleh ikut ambil bagian dalam HUT ABRI tersebut? Bahwa ada pasukan yang ikut HUT ABRI itu adalah pasukan yang dipakai oleh GESTAPU, bukankah itu memberi alasan kuat bahwa hal demikian sudah direncanakan oleh Pranoto sendiri?

6. Siapa yang memerintahkan pasukan Kostrad dari luar Jakarta harus datang dengan perlengkapan tempur dan persediaan peluru garis pertama? Pada beberapa tulisan disebutkan nama Pangkostrad Suharto yang memberikan perintah. Tapi kalau ketua panitia HUT ABRI adalah Pranoto (Asisten Personalia KASAD), maka apakah Suharto masih punya wewenang memberikan perintah tersebut?

7. Mengapa Latief diadili di (Mahmilti) Mahkamah Militer Tinggi dan bukan di Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa) seperti Letkol Untung dan Brigjen Supardjo?

8. Mengapa diperlukan waktu lama sebelum mengadili Kolonel Latief sedang Brigjen Suparjo segera diadili, tidak terlalu lama setelah ditangkap?

9. Mengapa Latief disiksa (kakinya ditusuk bayonet dan kemudian ditembak) pada saat di ditangkap, sementara Supardjo diperlakukan baik-baik, pada hal keduanya tidak melakukan perlawanan tatkala disergap?

10. Mengingat bahwa Kolonel Latief adalah satu-satunya pelaku GESTAPU yang secara terbuka menuduh Jenderal Suharto terlibat, mengapa Latief dibiarkan hidup (dan kemudian mati secara alamiah) dan tidak dieksekusi seperti Supardjo dan Untung?

11. Betulkah bahwa keputusan Presiden Sukarno untuk menyingkirkan para pimpinan Angkatan Darat yang menolak NASAKOM diputuskan di Istana Tampaksiring pada bulan Juni 1965? (menurut Victor M. Fic keputusan inilah yang mendorong Aidit menciptakan isyu “Dewan Jenderal” untuk makin memperkeras tekad dan mendorong Sukarno menyingkirkan Jenderal Yani CS).

12. Berapa jauh kebenaran hasil interogasi Kolonel Marinir Bambang
Widjanarko, ajudan Presiden, mengenai perintah Presiden Sukarno pada tanggal 4 Agustus 1965 kepada Letkol Untung untuk mengambil dan menghadapkan para anggota “Dewan Jenderal” itu kepadanya? Apakah pernah ada informasi dari Untung (di dalam ataupun di luar pengadilan) yang membenarkan atau membantah adanya perintah Presiden Sukarno tersebut?

13. Marsekal Trenggono SH adalah ajudan Menlu Dr. Subandrio pada masa akhir Demokrasi terpimpin. Menurut pengakuan Trenggono kepada Kolonel Sugondo dari Team Pemeriksa Pusat (Teperpu) di kemudian hari, Menlu Cina, Chen Yi, mengatakan kepada Subandrio di Jakarta menjelang Gestapu bahwa “Untuk Sukarno sudah saya siapkan tempat yang aman di danau Angsa [Cina].” Mengingat bahwa informasi Trenggono ini bisa menjadi titian bagi dugaan keterlibatan Cina pada Gestapu tersebut, maka pertanyaannya adalah berapa jauh kebenaran informasi Trenggono itu? Seperti diketahui bahwa dalam buku Victor M. Fic, “ANATOMY OF THE JAKARTA COUP: OCTOBER 1, 1965,” diuraikan
dengan jelas keterlibatan Mao Tse Dong dalam mendorong dan mempersenjatai DN Aidit untuk melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia. Seandainya Chen Yi memang berkata demikian kepada Subandrio, tentu tafsirannya tidak harus hanya satu, yakni Sukarno akan di makzulkan lalu diperlukan seperti Pangeran Sihanouk. Tergantung konteks pembicaraan Chen Yi dan Subandrio. Sebab bukan
tidak mungkin danau Angsa dipersiapkan untuk Sukarno beristirahat sementara di Indonesia ia tetap Presiden, dan tidak di-coup oleh Dewan Revolusi.

14. Masih tentang Cina.Apakah kita telah memiliki suatu studi yang mendalam mengenai hubungan Jakarta Peking sebagai bagian terpenting dari politik Sukarno dalam bentuk Poros Jakarta Panomphen, Peking dan Pyongyang? Bagaimana sebenarnya hubungan Jakarta Peking Waktu itu? Selain hubungan resmi lewat Deparlu, adakah hubungan khusus lewat Istana Presiden Sukarno? Bagaimana hubungan antara PKI dan Komunis Cina waktu itu? Apakah memang Aidit banyak dikendalikan oleh Mao?

15. Victor M. Fic mencoba meyakinkan pembaca bukunya bahwa nama May. Jen. Pranoto Reksosamudro sebagai care taker Pangad (Panglima Angkatan Darat) datang dari Aidit yang disampaikan kepada Sukarno lewat Supardjo di rumah Komodor Susanto di Halim Perdana Kusumah pada 1 Oktober siang. Bahkan menurut Fic, Aidit menemui Jenderal Pranoto di rumah Syam beberapa jam sebelum penculikan para Jenderal. Berapa jauh kebenaran informasi ini?

16. Tentang Presiden Sukarno dan Mahmillub dan Mahmilti, apakah ada bukti atau dasar untuk menyimpulkan bahwa ada perintah atau “pesan” dari Pangkopkamtib waktu itu untuk menjauhkan Sukarno dari keterlibatan dalam Gestapu agar tidak cukup alasan membawanya ke pengadilan?

17. Apakah bisa ditemukan bukti bahwa Presiden Sukarno memerintah Dr. Subandrio memanggil pulang DN Aidit dari Peking setelah Sang Presiden terserang penyakit pada awal Agustus 1965? Untuk apa pemanggilan itu?

18. Betulkah – seperti yang yang dijelaskan oleh Bambang Widjanarko – bahwa pada tanggal 23 September 1965, pukul 7 pagi, May.Jen. Mursyid melaporkan kepada Presiden Sukarno mengenai kurangnya loyalitas sejumlah para petinggi penting Angkatan Darat kepada Sukarno? Reaksi Sukarno waktu itu adalah memerintahkan dilakukannya tindakan tegas kepada para Jenderal yang tidak loyal tersebut. Presiden lalu berbalik kepada Jenderal Sabur (komandan
Cakrabirawa) sembari mengulangi perintah sebelumnya (perintah kepada Letkol Untung tanggal 4 Agustus 1965) agar “penculikan” secepatnya dilaksanakan. Pada saat yang sama juga Sukarno memerintahkan kepada Jenderal Sudirgo (Komandan Polisi Militer Angkatan Darat) yang juga hadir di Istana Merdeka pagi itu, untuk membantu Sabur. Menurut Widjanarko, selain Mursyid, Sudirgo dan Sabur, juga hadir di Istana Merdeka pagi itu adalah Dr. Subandrio, Chairul Saleh, Dr. Leimena, Brigadier Jenderal Sunaryo (Jaksa Agung Muda) serta Laksamana Madya Udara Omar Dani. Pertanyaannya adalah jika memang ada rencana menyingkirkan Jenderal Yani dan pimpinan Angakatan Darat lainnya,
mengapa tidak dilakukan oleh Sukarno sendiri dari kedudukannya sebagai Panglima Tertinggi? Dan mengapa soal sensitif seperti itu dibicarakan di depan banyak orang yang bukan tidak mungkin akan membocorkannya kepada Yani? [Konon Chairul Saleh dikemudian hari membenarkan keterangan Bambang Widjanarko ini].

19. Betulkah — masih bersumber pada hasil interogasi Bambang Widjanarko — bahwa Presiden Sukarno pada tanggal 29 September 1965 di Istana Merdeka melakukan sebuah pertemuan yang dihadiri Sabur, Mursyid Omar Dani, Mualif Nasution, Jaksa Agung Muda Sunaryo dan Menteri Jusuf Muda Dalam? Pertemuan itu mendengarkan laporan Sabur mengenai persiapan rencana pengambilan/”penculikan” para Jenderal yang sudah akan segera dilaksanakan. Presiden juga menanyai Mursyid apakah bersedia menjadi pengganti Yani yang akan disingkirkan. Mursyid, menurut Widjanarko, menyatakan bersedia.

20. Victor M. Fic mengungkapkan adanya kontak — lewat Brigjen Supardjo — antara Aidit dan Sukarno selama yang terakhir masih berada di rumah Komodor Susanto sepanjang hari pada tanggal 1 Oktober 1965. Apakah ada cara untuk membenarkan atau membantah pendapat Fic tersebut? Apa saja sebenarnya yang dilakukan oleh Sukarno di rumah Komodor Susanto sepanjang hari itu? [Mungkin
saksi satu-satunya yang masih hidup sekarang adalah Omar Dani].

21. Sehubungan dengan kehadiran dan aktivitas Sukarno di Pangkalan Udara Halim, pada tanggal 4 Oktober 1965, Panglima Angkatan Kepolisian R.I. waktu itu, Sutjipto Judhodihardjo, memberikan berifing mengenai apa yang dilihat dan dialamanya di Halim bersama Sukarno. Briefing dipimpin oleh Jenderal A.H. Nasution dan dihadiri sejumlah Jenderal. Nampaknya dari briefing inilah Nasution, Suharto dan para Jenderal yakin adanya keterlibatan Sukarno serta hubungannya dengan Aidit dalam operasi Gestapu. Apakah kita masih bisa mendapatkan laporan dan minute jalannya briefing almarhum Judodihardjo tersebut?

22. Tapi jika seandainya memang benar Sukarno dan Aidit bekerja sama dalam menyingkirkan para “Jenderal Kepala Batu” yang anti Nasakom itu, bagaimana kita harus mengerti dekrit-dekrit Dewan Revolusi yang jelas-jelas tidak lagi memberi tempat kepada Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi?

23. Pertanyaan selanjutnya sehubungan dengan dekrit Dewan Revolusi itu adalah: Siapa yang membuatnya? Aidit atau Syam? Mengingat adanya kecurigaan terhadap kemungkinan rencana operasi GESTAPU dirancang untuk gagal (lihat antara lain keterangan Heru Atmodjo dalam buku GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965: Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, hal 94)), dan banyaknya cerita tentang Syam yang misterius dan kemungkinannya sebagai double agent atau bahkan multiple agent (lihat tulisan Peter Dale Scott), maka mungkinkah penyusunan draf Dewan Revolusi itu adalah salah satu cara Syam menggagalkan Gestapu, jika memang betul Syam yang menyusun draf serta susunan keanggotan
Dewan Revolusi?

24. Sebagai pemimpin/pelaksana operasi Gestapu, Syam juga gagal dalam bidang logistik, sehingga tentara yang dikerahkannya di Monas akhirnya dapat makan dari Kostrad, sementara yang mundur ke Halim diberi makan oleh Komandan Pangkalan Halim, Wisnu Djajengminardo. Apakah ini kesalahan karena tidak punya pengalaman dalam memimpin operasi, atau memang suatu kesengajaan sebagai bagian dari usaha penggagalan Gestapu seperti yang dicurigakan oleh Heru Atmodjo?

25. Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, pertanyaan pertama Suharto kepada May. Jen. Ahmad Wiranatakusumah (Kepala Staf Kostrad waktu itu) adalah: “Di mana Syam?” Mengapa Suharto menanyakan Syam? Apakah sebelum GESTAPU Syam sering atau pernah bertemu Suharto?

26. Masih berbicara tentang kemungkinan penggagalan Gestapu. Pembunuhan para Jenderal menurut Latif dan Supardjo bukan bagian dari rencana. Dan perintah pembunuhan, menurut Latif , datang dari Syam. Kesaksian Heru dan otokritik Sudisman (CC PKI) dengan jelas berbicara tentang Syam yang berhubungan langsung dengan Aidit dalam partai. Jika demikian halnya, logikanya Aidit-lah yang memberi perintah bunuh. Tapi mengingat bahwa dari sejumlah kesaksian
dalam Mahmillub diketahui bahwa Gestapu bagai Aidit belum perebutan
kekuasaan oleh PKI melainkan sekedar usaha melempengkan jalan ke arah kekuasaan dengan cara pembersihan kaum anti Nasakom dalam Angkatan Darat. Untuk itulah maka GESTAPU didisain oleh Aidit sebagai “soal internal Angakatan Darat.” Dalam urusan membuat disain para pelaku GESTAPU ini Aidit sukses hingga bisa mengecoh Ben Anderson di Cornell University.

27. Nah kalau hanya soal internal Angkatan Darat, jelas Aidit tidak perlu merencanakan pembunuhan para Jenderal, sebab itu hanya akan memprovokasi mereka untuk akhirnya menghajar PKI, bukan? Jadi bukan Aidit, dan jelas bukan juga Sukarno, yang cuma menginginkan para Jenderal diculik gaya zaman revolusi, seperti Sukarno-Hatta (Rengas Dengklok) dan kemudian Syahrir (Solo). Diculik tidak untuk dibunuh melainkan untuk didaulat. Jika bukan Sukarno, bukan Aidit, maka tersisa dua penjelasan: pembunuhan terjadi karena kepanikan prajurit di lapangan, atau ada disain asing (ini juga kecurigaan Heru Atmodjo) yang memakai tangan Syam (multiple agent) menumpangi Gestapu untuk memprovokasi Angkatan Darat dengan cara membunuh Jenderal mereka. Dengan provokasi itu, sekaligus PKI dan Sukarno akan dihajar oleh Angkatan Darat.

28. Dalam buku Dake (h.24) dikatakan bahwa Sjam dalam pengadilannya (1968) menyatakan bahwa kebijakan membunuh para Jenderal diputuskan pada tanggal 29 September 1965. Hadir dalam rapat penting itu adalah Sjam, Pono, Untung, Latief dan Supardjo. Tapi di kesempatan lain Latif mengku terkejut atas terjadinya pembunuhan itu., sebab baginya pemubunuhan bukan merupakan rencana yang disepakati. Latief menuduh Sjam yang memerintahkan pembunuhan. Sjam sendiri dalam pengadilan Pono (Januari 1971) bersaksi bahwa dialah (Sjam) yang memerintahkan pembunuhan Jenderal-Jenderal terculik yang tiba dalam keadaan hidup di Lubang Buaya. Kesimpulan-kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari fakta-fakta ini, jika cerita yang dituturkan Dake itu memang
benar adanya? Khusus tentang Kolonel Latief, kelihatan bahwa beliau
memberikan keterangan yang tidak konsisten tentang pembunuhan para Jenderal tersebut.

29. Masih tentang pembunuhan para Jenderal tersebut, untuk apa Sukarno memerintahkan Kolonel M Saelan menggali lubang pembuangan jenazah para Jenderal sebelum pihak Angkatan Darat menggalinya di Lubang Buaya. Bisakah ini dimengerti sebagai usaha Sukarno untuk menghilankang jejak pembunuhan tersebut?

30. Tentang Kolonel Saelan, betulkah perwira Cakrabirawa ini pada tinggal 30 September 1965 (sehari sebelum penculikan dan pembunuhan para Jenderal) telah ke Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah guna menyiapkan rumah Komodor Susanto untuk dipakai Presiden Sukarno keesokan harinya?

31. Pertanyaan yang lebih mendasar mengenai Syam dan hubungannya dengan Aidit adalah, apakah kita punya cukup bahan untuk bisa sampai pada kesimpulan bahwa Syam memang double atau bahkan multiple agent yang sanggup mengkhianati Aidit dan siapa saja yang secara serius “berjuang” dalam GESTAPU?

32. Kesaksian Heru Atmodjo yang mengikuti secara saksama operasi Gestapu pada tanggal 1 Oktober adalah bahwa pemimpin operasi bukanlah Brigjen Supardjo, Bukan Kolonel Latif, juga bukan Letkol Untung, tapi Syam Kamaruzaman Bin Ahmad Mubaidah, kepala Biro Khusus PKI. Heru heran bagaimana operasi sepenting dan sebesar itu tidak dipimpin oleh tentara, pada hal di situ ada seorang Jenderal, seorang Kolonel dan seorang Let.Kol. Ketika bersama di penjara Cimahi pada tahun 1967, Supardjo menjelaskan kepada Heru Atmodjo bahwa Syam mengaku pernah mengikuti latihan militer di Cina. Latihan
apa, tingkat apa? Supardjo tidak menjelaskan. Tapi bahwa seorang Jenderal, seorang Kolonel, seorang Let Kol dan sejumlah Mayor, Kapten serta Letnan secara bersama tunduk kepada seorang sipil dan menerima kepemimpinan militer Syam dalam melakukan operasi militer yang sepenting GESTAPU, bukankah itu sangat amat mencurigakan? Bukankah ini membuktikan bagusnya disiplin ketiga perwira itu (Supardjo, Latif dan Untung), tapi bukan sebagai tentara, melainkan sebagai kader partai yang tunduk dan taat pada Political Commisar-nya?

33. Keberadaan Aidit di Halim Perdana Kusumah malam itu juga jadi bahan kontroversi. Pihak mantan PKI menyebut Aidit diculik oleh tentara untuk kemudian dibawa dengan paksa ke Pangkalan Udara Halim. Tapi banyak keterangan lain yang menyebutkan kedatangan Aidit ke Pangkalan Halim itu bagian dari rencana operasi Gestapu, artinya bukan diculik oleh tentara. Informasi solid apa yang kita punyai mengenai ini?

34. Masih tentang Aidit. Kali ini dengan Brigjen TNI Soegandhi, Direktur Penerangan Staf Angkatan Bersenjata (SAB) waktu itu. Menurut kesaksian Soegandhi, pada tanggal 27 September 1965 ia berjumpa Aidit yang mengajaknya ikut gerakan membersihkan para Jenderal pembangkang Sukarno. “Kita akan mulai dalam waktu satu dua hari lagi. Semua ini Bung Karno sudah tahu. Lebih baik saudara ikut kita,” kata Aidit kepada Soegandhi. Mengingat kerahasiaan rencana GESTAPU, bagaimana kita harus mengerti keputusan Aidit “membuka
rahasia” kepada Soegandhi? Yang terakhir ini seorang pejabat tinggi di DepHankam, tapi juga untuk waktu yang lama adalah ajudan Bung Karno. Apakah Aidit masih melihat Soegandhi sebagai seorang loyalis Sukarno maka ia diajak ikut GESTAPU?

35. Omar Dani — dalam wawancaranya yang dimuat dalam buku MENYINGKAP KABUT HALIM 1965 (hal. 242 Dan 243) — menjelaskan bahwa beliau baru tahu kehadiran Aidit di Halim pada pengadilan Mayor Udara Suyono, artinya lama setelah GESTAPU. Anehnya, di kesempatan lain Omar Dani mengakui memberi izin penggunaan pesawat Dakota AURI untuk dipakai menerbangkan Aidit malam itu ke Yogyakarta. Bagaimana kita menjelaskan informasi yang saling bertentangan ini? Pertanyaan lain sehubungan dengan Aidit dan Omar dani, adalah: mungkinkah perintah Omar Dani itu merupakan perintah Presiden Sukarno kepadanya untuk menyelamatkan Aidit ke Jawa Tengah, mengingat bahwa penerbangan Aidit hanya beberapa jam setelah Sukarno meninggalkan Pangkalan Udara Halim untuk pergi ke Istana Bogor?

36. Mengapa setelah tahu akan ada GESTAPU yang pusatnya (Cenko) ada di dalam dan di sekitar Halim Perdanakusumah, Omar Dani memutuskan bermalam di Halim pada tanggal 30 September malam itu? Apakah itu memang SOP di Angkatan Udara waktu itu? Mengingat bahwa Omar Dani sangat dekat dengan Presiden Sukarno, mengapa setelah mendapat laporan intel dari Heru Atmodjo dikediaman resmi Pangau malam itu tentang akan adanya GESTAPU, Omar Dani tidak berusaha melakukan pengecekan kepada Sukarno? Apakah karena laporan Heru Atmodjo hanya merupakan konfirmasi terhadap apa yang sebenarnya sudah diketahui
oleh Omar Dani sebelumnya? Kecurigaan terhadap Omar Dani diperkuat oleh cerita Heru Atmodjo yang menyebut Pangau tidak mengambil tindakan apa-apa kepada Mayor Suyono (pemimpin latihan Sukwan di Lubang Buaya dan orang yang ada GESTAPU untuk menggunakan fasilitas milik AURI di Halim dan luar Halim) meski segala rencananya sudah dilaporkan kepada Omar Dani oleh Heru Atmodjo. Kesimpulan Heru Atmodjo: “Pimpinan AURI mengambil sikap jalan setengah-setengah. Setengah membiarkan, tidak melarang secara tegas Mayor Sujono ambil peran, walau sudah dilaporkan sebelumnya. Mengapa jalan ini ditempuh? Karena kuatnya loyalitas Laksamana Omar Dani kepada Bung Karno, yang tanpa reserve, tanpa memikirkan akibat-akibatnya.” (hal. 33)

37. Tokoh Gestapu kalangan militer di Jawa Tengah adalah Kolonel Sahirman yang baru saja pulang dari pendidikan di Fort Leavenworth, Amerika Serikat. Tokoh lain, Let Kol Usman, malahan baru saja pulang dari Okinawa, pusat pendidikan intelejen miluter Amerika Serikat di Jepang. Banyak yang meragukan kekomunisan atau kekirian Saherman dan Usman, sebab jika memang ia kiri, tentu Amerika tidak akan membolehkan Sahirman belajar Fort Leavenworth. Bagaimana kita menjelaskan ini? Sahirman adalah komunis, hanya Sukarnois, atau reformis yang kerakyatan yang niatnya memang hanya mau membersihkan pimpinan Angkatan Darat yang dianggapnya kurang merakyat dan
kurang revolusioner serta kurang loyal kepada Sukarno? Jika para perwira Diponegoro itu adalah hasil binaan Biro Khusus, apakah kita punya buki yang cukup solid? Apa ada hasil interogasi, hasil Mahmillub atau kesaksian saksi lainnya? (Salim Said / 17 Januari 2006.)

Sumber: http://www.ikastara.org/forums/archive/index.php/t-1370.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s