Siswa Abaikan Sejarah

Jakarta, Kompas – Lantaran tidak diujikan dalam ujian nasional, mata pelajaran Sejarah kini cenderung dipandang remeh oleh siswa. Jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, upaya membangun karakter bangsa pada diri siswa hanya akan tinggal sebatas slogan.

Demikian wacana yang mengemuka dalam pertemuan guru-guru sejarah tingkat SMA di Jakarta, Rabu (28/2). Pertemuan yang diprakarsai Onghokham Institute dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tersebut menampilkan Magdalia Alfian (Direktur Nilai-nilai Sejarah, Departemen Budpar) dan Ratna Hapsari (Ketua Asosiasi Guru Sejarah DKI Jakarta).

Sri Wuryaningsih, guru SMA Negeri 70 Jakarta, berpandangan bahwa adanya pemilahan antara ujian nasional (UN) dan ujian akhir sekolah (UAS) di ujung proses pembelajaran telah mendikotomikan orientasi siswa terhadap mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah. Karena mata pelajaran Sejarah tidak diujikan dalam UN, tambahnya, siswa pun cenderung tidak serius mengikuti mata pelajaran tersebut.

“Siswa SMA jurusan IPA misalnya, lebih fokus pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional, yakni Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia,” ujar Sri.

Suparman, guru SMA Negeri 17 Jakarta, mengakui bahwa baik UN maupun UAS sebetulnya sama-sama menentukan kelulusan siswa. Hanya saja, soal-soal UAS relatif akrab dengan materi yang diajarkan guru setempat, termasuk pelajaran sejarah. Adapun soal-soal UN acapkali tidak seluruhnya sesuai materi yang diajarkan oleh guru setempat.

“Itu sebabnya siswa SMA tidak terlalu menempatkan sejarah sebagai prioritas,” paparnya.

Para guru sejarah yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan prihatin atas kecenderungan diremehkannya mata pelajaran Sejarah oleh siswa SMA. Alasannya, para siswa SMA adalah generasi muda yang siap-siap mengenyam bangku perguruan tinggi. Jika cara berpikir mereka itu terbawa-bawa sampai dewasa, peluang hancurnya sendi-sendi kehidupan berbangsa akan kian melebar.

Sikap korup dicontohkan sebagai bukti nyata atas minimnya kesadaran sejarah di negeri ini. “Bangunan untuk kepentingan publik cepat melapuk karena anggarannya di-tilep. Coba bandingkan ini dengan bangunan monumental yang mewarnai peradaban bangsa-bangsa masyhur,” kata Nani Asri, guru SMA Negeri 6 Jakarta.

Sebagai solusi, Magdalia Alfian menyarankan agar pembelajaran sejarah lebih kreatif. Teori perlu diimbangi dengan lawatan sejarah ke tinggalan-tinggalan yang menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme. (NAR)

Sumber: Kompas, 01 Maret 2007 (Sumber: http://rumahkiri.net/index.php?option=com_content&task=view&id=703&Itemid=210)

One thought on “Siswa Abaikan Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s