Tingkah Polah Polisi di Perempatan “lampu Merah” Pasar Minggu

Jum’at sekitar pukul 15.30-an, kami akan pulang menuju arah Depok. Sambil (akan) menunggu angkutan yang datang, tepatnya ingin menuju salah satu sisi jalan, teman bilang: “pak, tunggu dulu, kita lihat polisi nilang”. Kata-kata tersebut muncul lantaran di samping kami ada polisi menilang pengendara motor.

Kejadian tersebut, TKP-nya terletak di sebelah kiri jalan arah ke terminal Pasar Minggu, depan pusat perbelanjaan Robinson. Dahulu, perempatan ini terdapat lampu lalu lintas alias lampu merah. Tepatnya kapan, saya tidak tahu, lampu-lampu kini bukan hanya mati, tapi hilang sama sekali. Melihat kenyataan demikian, mungkin ditugaskan polisi untuk melancarkan lalu lintas, bahkan ada tiga polisi.

Selain fungsi tersebut, polisi juga menilang bagi yang dianggapnya melanggar peraturan, dan tentu saja dilihatnya. Penglihatan polisi pada Jum’at sore itu akhirnya menyetop pengendara motor yang diboncenginya tidak memakai helm. Pengendara itu berumur sekitar 13-16 tahun, sang pengendara motor nahas itu adalah laki-laki, dan adiknya masih memakai seragam SMP dan tidak mengenakan helm.

Polisi langsung menanyakan SIM dan STNK. Remaja yang terlihat ketakutan itu, mengeluarkan “resi SIM”, menurut pengakuan Ibunya yang datang dikemudian, dan STNK yang hanya difotokopi. Kontan melihat STNK yang fotokopi, polisi langsung mengambil dan memberikan temannya (polisi juga tentunya) yang berada di sisi jalan. Saya bergumam: “kok ‘nilang yang diambil STNK, kenapa harus ‘dilempar-lempar’,…emangnya bola?,…surat tilangnya mana?”, polisi tersebut memberi isyarat dengan tangannya agar pengendara yang masih kaget tersebut agar menghampirinya.

Berselang beberapa detik, tukang ojek yang berkulit gelap dan, maaf, dekil, berkata: “telefon aja orang tua lu, suruh ambil, cepet”. Tidak lama kemudian, Ibu-nya datang. Dengan suasana yang tegang, Ibu itu menjawab setelah saya tanya tentang status SIM-nya: “Anak saya baru pengen buat SIM, cuma baru punya resi-nya, dan STNK yang asli saya yang bawa” (sambil menunjukkan kepada kami). Lanjut si tukang ojek:”datengin aja Bu, ngak perlu takut, dia polisi baru,…biasa kalau masih baru, nilangnya sembarangan aja, kasih aja duit”. Celotehan tukang ojek itu, membuatku ingin tahu. Aku bertanya: “Memang kalau ditilang bayar berapa, bang?”, “lima puluh ribu, ya?” lanjutku. “uh, itu sih kemahalan, duapuluh rebu”, si tukang ojek menjawab dengan fasihnya.

Ibu dan pengendara motor tersebut menyeberang jalan, tempat dimana perputaran bis ke arah depok, S15A, S75, 614, dan kendaraan lainnya, guna menghampiri polisi. Entah pembicaraan apa yang terjadi di seberang sana, saya lihat anak si Ibu memegang tangan polisi lalu menciumnya (salim) dan sang Ibu juga berjabat tangan. Setelah mendekat dengan kami, karena kami berdiri tepat disamping putrinya yang menunggu motor tertilang, saya bertanya: “kena berapa?, si anak menjawab: tiga puluh rebu”. Setelah itu mereka membubarkan diri.

Selanjutnya kami pindah keseberang jalan, tidak jauh dari proses negosiasi antara “tertilang” dengan “si penilang”. Lagi, kami terdiam, berdiri dengan memperhatikan baik-baik, seperti peneliti yang sedang observasi, memperhatikan semrawutnya lalulintas, apadahal ada polisi. Mereka sibuk menilang. Lucunya, si yang ditilang itu distop polisi karena tidak memakai helem, padahl saya menyaksikan ada puluhan yang tidak memakai helem, persis seperti yang dilakukan remaja yang ditilang tersebut.

Saya melihat kebingungan polisi, itu juga kalau tidak mau dibilang kebodohan polisi, karena tidak mampu mengendalikan arus lalu lintas. Bukan hanya, karena para pengendara sulit diatur, tetapi terlihat polisi tidak serius mengangkat tangannya seiring arah mana yang berhenti atau maju. Parahnya, saya melihat mereka malahan mengobrol….

Saya, mau nyanyi lagu Iwan Fals dulu akh…
…..
di depan ada Polantas
wajahnya begitu buas,
tangkap akau…
tawar-menawar harga, pas
tancap gas….

……

3 thoughts on “Tingkah Polah Polisi di Perempatan “lampu Merah” Pasar Minggu

  1. Memang sepertinya idealisme di negeri ini sudah begitu mahal sehingga sulit dipegang teguh dan ditanamkan dalam hati sanubari seluruh rakyat negeri ini, atau mungkin begitu murahnya sehingga kalah dengan beberapa lembar uang rupiah.
    ———————————-
    lama-lama bubar republik ini…..

  2. Tarip Tilang ;

    Polisi (MOCIL) Motor Kecil
    Dewasa ; Rp. 5000 – Rp. 20.000
    Anak-anak ; Rp. 20.000 – Rp. 40.000
    Harga Dewasa lebih murah karna lebih mengeluarkan urat saraf dibanding anak-anak.
    Dengan rumus ;
    D<A=P , D=Dewasa, A=Anak-anak, P=Polisi
    Alternatif lain selain uang ;
    – Gorengan
    – Aqua + Rokok
    – Nasi Warteg

    Polisi (MOGE) Motor Gede
    Dewasa ; Rp. 50.000 – Keatas tergantung Nego
    Anak-anak ; Paling panggil Ortu klo mo beres sambil mewek dikit.

    Diceritakan berdasarkan pengalaman penulis yang dialami selama mengendari kendaraan roda dua di jakarta. Sepertinya dengan makin banyak nya pengendara motor di Jakarta, hal diatas tidak akan pernah hilang malah makin menambah banyak permasalahan yang ada.
    ————————

    Saya jadi ingat cerita temen, kalau tentang “Alternatif Lain Selain Uang” yang anda maksud….temen cerita, katanya untuk “melunasi” tagihan tilangnya, maka harus membayar gorengan…wekekekekek….kalau masuk acara “Tangkap” Bang Joe Projek P, lucu kale’ ya…

    Walaupun demikian, saya lebih merasakan “miris” melihat aparat hukum di republik ini, terutama polisi…

  3. polisi beuki duit…makin banyak peraturan-peraturan, makin memudahkan Polisi untuk mendapatkan kekayaan…nambah peraturan baru lampu besar siang hari dinyalakan (aneh)…kalo mati kena tilang deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s