Fenomenan dan Separate Effect Ujian Nasional

Sekitar pukul 13.30 WIB saya mendapat sms dari murid terkait dengan keadaan yang dialaminya, serta teman-temannya saat mengerjakan Ujian Akhir Nasional (UAN). Sms tersebut membangkitkan untuk menulis sekarang ini tentang sisi lain, separate effect (dampak yang menyebar) dari perjalanan UAN beberapa tahun belakangan ini. Tulisan berikut, sudah barang tentu, bukanlah versi pemerintah yang mati-matian mempertahankan kebenaran dan keberlangsungan penyelenggaraan UAN apabila berargumen didepan pakar Psikologi Pendidikan dan kaum kritis lainnya, namun hanya sebuah ungkapan yang diamati selama ini.

Pertama, dengan standarisasi tertentu menyebabkan siswa/siswi SMA dan SMP harus ekstra belajar, bahkan melakukan sewa tenaga pengajar ke rumahnya alias les private, ataupun ikut bimbeingan belajar (bimbel). Alhasil, gelombang semangat belajar masyarakat, khususnya kaum remaja terlihat luar biasa. Disamping itu, sudah tentu psikologis yang cenderung takut atau khawatir tidak lulus juga ikut didalamnya. Bimbel dan les privat kebanjiran order.

Kedua, ketakutan akan tidak lulus UAN secara psikologis telah melahirkan tren yang mengarah ke nuansa agamais. Di sekolah kami, menjelang UAN ada semacam renungan yang dipandu oleh ahli, seperti yang bergerak dalah SQ, dan mampu menitiskan air mata. Tujuan penyadaran secara psikologis ingin melihat bahwa usaha harus diiringu dengan doa. Selain harapannya mendapat pembekalan secara spiritual kepada siswa, ternyata order untuk para ahli keagaan tersebut meningkat. Pada siaran berita belakangan ini, fenomena kearah agamais tersebut marak diberbagai sekolah. “UAN dikondisikan seperti “Perang Suci”, gumamku.

Ketiga, polisi dan tim independen pengawas UAN-pun demikian. Kita tahu bahwa distribusi soal UAN memerlukan tenaga aparat keamanan tersebut, selain pengawas independen dan tenaga pendidikan terkait. Dan, polisi serta tim independen tersebut mendapatkan penghasilan lebih. Walaupun demikian, saya bertanya didalam hari: “guru di Indonesia sudah tidak dipercaya lagi mungkin, karena untuk distribusi soal saja harus diawasi oleh pihak lain, seperti polisi dan tim independen…”

Fenomena lain saya kira juga masih banyak. Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa penyelenggaraan UAN tidak selalu membawa nuansa pendidikan saja, namun juga bersinggungan erat dengan dimensi ekonomi, agamais, politis, dan profesionalisme guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s