TENTANG PEMBELAJARAN SEJARAH DI SATUAN PENDIDIKAN

IMPLEMENTASI FILSAFAT SEJARAH DAN METODOLOGI SEJARAH DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

Oleh

Zaenal

Mahasiswa PPS UNJ Prodi. Pendidikan Sejarah

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kehidupan manusia berdasarkan dimensi sejarah selalu berkaitan dengan waktu masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Keadaan masa sekarang adalah kenyataan hasil masa lampau untuk menentukan masa yang akan datang. Kemampuan manusia untuk memainkan perannya pada masa kini dalam rangka mewujudkan masa depan yang dicita-citakan sangat ditentukan pemahaman jiwa dan semangat masa lampau dengan baik. Sukaryanto mengatakan sejarah merupakan peristiwa yang dilakukan manusia yang dilakukan pada masa lampau(the past human event), terjadi hanya sekali (einmalig) dan tidak terulang kembali[1] menjadi sejarah yang harus diketahui manusia pada masa berikutnya. Karena itu mempelajari sejarah menjadi penting agar dapat menentukan tindakan yang tepat guna melanjutkan masa depan yang sesuai dengan harapan masa lampau.

Pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal, Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperti: nasionalisme, persatuan, solidaritas dan integritas nasional. Terwujudnya cita-cita suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh generasi penerus yang mampu memahami sejarah masyarakat atau bangsanya.

Eksistensi bangsa termasuk bangsa Indonesia mutlak harus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat bangsa dunia. Pembangunan karakter bangsa (national character building) menjadi alternatif dalam mewujudkan generasi bangsa yang memahami jati diri bangsanya secara komprehensif. Salah satu upaya pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan sejarah yang mulai diberikan sejak pendidikan dasar. Pendidikan sejarah diharapkan dapat memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periodedalam upaya pembentukan sikap dan perilaku siswa.

Perkembangan pembelajaran sejarah dalam sistem pendidikan nasional bangsa Indonesia belum dapat berjalan sesuai dengan harapan. Pembelajaran sejarah lebih ditujukan untuk mengetahui cerita sejarah belum pada substansi sikap sejarah. Seorang siswa memiliki pengetahuan sejarah tentang suatu peristiwa, tokoh-tokoh, waktu dan tempat terjadinya, tetapi tidak pernah tahu alasan dan semangat yang melatar belakangi peristiwa sejarah. Akibatnya pembelajaran sejarah menjadi kurang bermakna, bahkan ada yang mengatakan mengalami kegagalan.

Kurang bermaknanya pembelajaran sejarah perlu dicari akar permasalahannya dimulai dengan menelaah visi dan misi pembelajaran sejarah, materi atau bahan ajar sejarah, kompetensi guru, dan terakhir faktor siswa. Persoalan-persoalan di atas perlu dicermati untuk mencari solusi yang tepat dalam upaya mengembalikan pembelajaran sejarah pada hakikat semula yaitu pembentukan sikap sejarah yang mampu diaplikasikan dalam menghadapi fenomena kehidupan masyarakat dan bangsa. Belajar sejarah menurut Haryono siswa tidak diorientasikan untuk menghafal materi sejarah, melainkan pada tumbuhnya kesadaran sejarah[2]. Pemahaman hakikat pembelajaran sejarah berarti diawali dengan memahami hakikat sejarah yang dapat diperoleh melalui pemahaman filsafat sejarah.

Pemahaman filsafat sejarah diharapkan semua pihak yang berkaitan dengan pembelajaran sejarah di sekolah dapat memahami hakikat suatu peristiwa sejarah secara mendalam, dengan kata lain agar mampu memiliki jawaban atas segala sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.[3]Selain itu untuk membantu siswa memahami sejarah dengan baik tentunya diperlukan penulisan sejarah yang objektif sebab hasil penulisan tersebut kemudian menjadi bahan ajar dalam pembelajaran sejarah. Jika penulisan sejarah sudah memenuhi kriteria metodologi sejarah yang mampu memaparkan sejarah secara lengkap akan memungkinkan diperolehnya bahan pembelajaran sejarah yang relevan dengan hakikat pembelajaran sejarah. Dengan demikian berarti filsafat sejarah dan metodologi sejarah sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman sejarah yang benar.

Peran guru dalam pembelajaran sejarah menempati posisi yang menentukan terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan pencapaian tujuan pembelajaran. Aktualisasi peran guru menurut Omar Hamalik sebagai perencana, pelaksana, dan penilai proses pembelajaran[4] memberikan pemahaman bahwa guru perlu menguasai filsafat sejarah disamping filsafat belajar. Pemahaman guru terhadap filsafat sejarah sangat berguna ketika merencanakan, mengelola dan menilai pembelajaran sejarah sesuai dengan hakikat sejarah. Perencanaan pembelajaran yang dibuat guru dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya telah mengaplikasikan filsafat sejarah terutama ketika menentukan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dicapai siswa, materi pokok, strategi pembelajaran dan sistem penilaian yang akan digunakan. Demikian pula ketika guru melaksanakan proses pembelajaran hendaknya mampu menjelaskan materi pembelajaran sejarah dengan menggunakan metodologi sejarah untuk menguraikan suatu peristiwa sejarah. Guru harus mampu menggunakan kepekaan imajinasi sejarah untuk mengemukan makna, jiwa, dan nilai dari peristiwa sejarah dengan menguasai petistiwa sejarah dari sudut alasan dan faktor psikhologis yang menyebabkan peristiwa sejarah itu,

Kenyataan yang terjadi dalam proses pembelajaran sejarah di sekolah pada saat ini cenderung belum mampu menyediakan pembelajaran sejarah yang dapat membantu siswa memiliki sikap dan perilaku sejarah suatu perilaku yang didasari jiwa dan semangat yang ada dalam peristiwa sejarah. Keterbatasan bahan ajar dan kemampuan guru dalam memahami sejarah yang belum memadai menjadi hambatan dalam pembelajaran sejarah. Selain itu perubahan kurikulum pendidikan nasional dengan menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan menjadi persoalan baru dalam pembelajaran sejarah sebab pembelajaran sejarah disajikan secara terpadu dalam mata pelajaran IPS pada jenjang SMP/MTs. Kondisi ini memungkinkan materi sejarah akan disampaikan oleh guru yang memiliki latar belakang pendidikan bukan sejarah. Fenomena pembelajaran sejarah yang demikian perlu dicari alternatif pemecahannya agar pembelajaran sejarah tetap memberikan peluang penguasaan sikap dan perilaku sejarah bagi siswa.

Berdasarkan uraian di atas dalam makalah ini akan dibahas mengenai fenomena pembelajaran sejarah yang menghendaki penerapan filsafat sejarah oleh guru dalam proses pembelajaran yang diuraikan dalam pokok-pokok berikut:

1.Filsafat Sejarah dan Historiografi Sejarah Indonesia

2.Hakikat Pembelajaran Sejarah di SMP/MTs

3.Aplikasifilsafat dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah

4.Pera aplikasi filsafat dsn metodologi sejarah nan Filsapat dan Metodologi Sejarah bagi guru dalam pembelajaran sejarah

B.Masalah

Permasalahan umum yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: ”Bagaimanakah aplikasi filsafat sejarah dan metodologi sejarah dalam pengelolaan pembelajaran sejarah yang berorientasi pada sikap sejarah di SMP/MTs?” Guna mengarahkan pembahasan kemudian permasalahan dijabarkan dalam sub-sub masalah sebagai berikut:

1.Bagaimanakah filsafat sejarah metodologi sejarah Indonesia?

2.Bagaimanakah karakteristik pembelajaran sejarah di SMP/MTS?

3.Bagiamanakah aplikasi filsafat dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah di SMP/MTs?

4.Bagaimanakah peran guru dalam menerapkan filsafat dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah?

C.Tujuan

Pembahasan masalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai aplikasi fislafat sejarah dan metodologi sejarah dalam pengelolaan pembelajaran sejarah yang beroorientasi pada pembentukan sikap sejarah. Secara khusus digambarkan perspektif mengenai hal-hal sebagai berikut:

1.Pengertian filsafat sejarah dan metodologi sejarah

2.Karakteristik pembelajaran sejarah di SMP/MTS

3.Aplikasi filsafat dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah di SMP/MTs

4.Peran guru dalam menerapkan filsafat dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah

BAB II

IMPLEMENTASI FILSAFAT SEJARAH DAN METODOLOGI SEJARAH

DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

A.Filsafat dan Metodologi Sejarah

Filsafat merupakan pengetahuan yang pertama dimiliki manusia sebagai hasil pemikiran dan perenungan terhadap fenomena alam dan kehidupan manusia. Awal perkembangan filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan dan tidak membedakan apakah objeknya masalah kealaman, budaya ataupun sosial sehingga wilayah pengkajian filsafat pada mulanya meliputi seluruh ilmu pengetahuan. Perkembangan pengetahuan manusia yang semakin luas dan cenderung mengarah lebih khusus menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan yang mengkhususkan pada objek kajian tertentu dan memisahkan diri dari filsafat kemudian menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Semakin banyaknya muncul disiplin ilmu yang memisahkan diri dari filsafat, menurut Jan Hendrick Rapar banyaknya pertanyaan yang diajukan pada berbagai bidang ilmu pengetahuan yang telah melampaui kompetensi bidang pengetahuan itu sendiri dan harus dimintakan jawabannya kepada filsafat, maka lahirlah filsafat khusus tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan[5].

Filsafat sejarah merupakan salah satu filsafat khusus yang memusatkan pengkajiannya mengenai sejarah yaitu peristiwa-peristiwa masa lampau yang terjadi dalam kehidupan manusia. Mulanya filsafat sejarah dikembangkan atas pandangan religius yang memandang peristiwa sejarah diutamakan pada tujuan steologis bahwa setiap yang ada adalah atas kehendak Tuhan. Perkembangan berikutnya pada masa pencerahan yang lebih menguatamakan manusia, maka sejak itu sejarah dipandang sebagai suatu proses yang membimbing manusia sampai pada kesempurnaannya sehingga setiap epos kerja lebih sempurna dari yang sebelumnya.

Pengertian filsafat sejarah menurut R.Z. Leirissa menyangkut dua hal yang berbeda tetapi berkaitan yaitu objek penelitian berupa peristiwa, struktur, dan fakta dan cara menelitinya[6]. Selanjutnya Rustam E, Tamburaka filsafat sejarah merupakan salah satu bagian filsafat yang ingin menyelidiki sebab-sebab dari suatu peristiwa serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah[7].

Filsafat sejarah pada dasarnya tidak saja menyelidiki fenomena peristiwa sejarah yang dimulai dari sebab-sebab akhir suatu peristiwa hingga akhir dari suatu sejarah, melainkan juga membentuk sikap berfikir analitis dan kronologis serta memiliki wawasan yang luas dan kebijaksanaan. Filsafat sejarah berupaya untuk mencari penjelasan tentang perbuatan manusia yang sudah terjadi dengan memberikan jawaban atas sebab-sebab terjadinya, alasan-alasan suatu peristiwa itu sudah terjadi. Setiap peristiwa masa lalu yang terjadi dalam kehidupan manusia perlu seleksi untuk menentukan manakah yang merupakan peristiwa yang memberi makna dalam kehidupan manusia dan mengandung peristiwa-peristiwa sejarah.

Aspek pertama yang menjadi kajian filsafat sejarah adalah faktor-faktor yang menyebabkan serta menguasai semua kejadian dan peristiwa jalannya sejarah. Hasil pembahasan aspek ini memberikan penjelasan mengenai sebab-sebab suatu peristiwa sejarah terjadi, faktor-faktor apa saja yang menjadi penggeraknya, apa saja yang menjadi tujuannya, serta bagaimana akhir dari pristiwa sejarah, dikenal sebagai filsafat sejarah spekulatif[8]. Aspek kedua adalah menguji metode dan kepastian ilmu sejarah. Aspek ini memberikan penjelasan hasil-hasil yang diperoleh dengan cara menguji kemampuan metode sejarah serta memberikan penilaian tentang hasil analisis dan kesimpulan-kesimpulan terhadap suatu karya sejarah. Hasil pengujian metode sejarah dan kepastian suatu karya sejarah memberikan sumbangan yang amat berarti terutama dalam pengembangan ilmu sejarah. Keunggulan metode pengkajian sejarah yang digunakan dapat membawa pada suatu pengertian terhadap karya sejarah yang objektif. Selanjutnya penilaian karya sejarah dapat membawa pada suatu pemahaman mengenai peristiwa sejarah yang benar, objektif dan diperoleh berdasarkan hasil kerja ilmu sejarah.

Berkaitan dengan karya sejarah yang objektif diperlukan proses penulisan sejarah atau historiografi yang sesuai dengan keriteria metodologi sejarah. Hasil pemikiran sejarah baik spekulatif maupun kritis sangat berguna dalam proses penulisan sejarah yang memberikan gambaran mengenai peristiwa sejarah yang benar dan objektif. Berbagai metodologi sejarah yang mungkin digunakan dalam menjelaskan (eksplanasi) suatu peristiwa sejarah diantaranya metodologi individualis, holistik, dan strukturis.[9] Setiap metodologi sejarah dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah sehingga menghasilkan kisah sejarah yang dapat dipahami pada masa kini. Usaha sejarawan merekontruksi peristiwa sejarah dalam karya-karya sangat dibutukhan untuk menghubungan masa lampau dengan masa sekarang, membantu manusia pada masa sekarang memahami masa lampau atau bahkan menggunakan masa lampau untuk melakukan fungsinya hari ini menuju masa depannya. Diantara manfaat dari penulisan sejarah adalah sebagai sumber belajar untuk memahami peristiwa masa lalu, menyikapi masa sekarang dan merancang masa depan. Karena itu penulisan sejarah sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran sejarah di sekolah.

B.Karakteristik Pembelajaran Sejarah di SMP/MTs

Pembelajaran sejarah di sekolah dilaksanakan sesuai kehendak kurikulum pendidikan nasional sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan tersebut secara umum pendidikan nasonal dinyatakan sebagai pendidikan yang berwawasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perkembangan zaman[10] Berdasarkan pernyataan di atas dipahami bahwa penyelenggaraan pembelajaran di sekolah sebagai bagian dari pendidikan secara umum didasarkan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan dapat diketahui melalui pembelajaran sejarah.

Pembelajaran sejarah di sekolah memiliki karakteristik sebagai pembelajaran yang memberikan pengalaman masa lampau untuk diterapkan pada masa sekarang. Pengetahuan masa lampau dapat berguna untuk memecahkan masa kini dan untuk merencanakan masa depan[11] Pengalaman masa lampau dapat dijadikan pijakan untuk menyikapi kehidupan nyata saat sekarang dan selanjutnya menciptakan kehidupan masa yang akan datang. Artinya pembelajaran sejarah di sekolah diharapkan mampu memberikan bekal sikap melalui peristiwa-peristiwa masa lampau.

Pemahaman pembelajaran sejarah memerlukan pemahaman peristiwa masa lampau secara filosofis atau dengan kata lain memahami filsafat sejarah. Filsafat sejarah yang menyelidiki sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan peristiwa sejarah[12] Penjelasan yang diberikan filsafat sejarah mengenai sebab-sebab dan alasan suatu peristiwa sejarah sangat dibutuhkan dalam pembelajaran sejarah. Maknanya setiap tujuan pembelajaran sejarah hendaknya berorientasi pada pembentukan sikap dan perilaku sejarah pada siswa. Sebagai contoh salah satu kompetensi dasar dalam Standar Isi Kurikulum SMP/MTs mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada materi sejarah Kelas VIII adalah: ”Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah.[13] Melihat rumusan kompetensi dasar tersebut memerlukan kejelian dan kepekaan guru dalam merumuskan indikator yang mengarah pada pembentukan sikap dan perilaku sejarah terhadap peristiwa perkembangan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia serta pengaruhnya bagi bangsa Indonesia di berbagai daerah.

Pembelajaran sejarah pada kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 1994 dan Kurikulum Berbasis Kompetensi dilaksanakan berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, tetapi sejak Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diterapkan mulai tahun pelajaran 2007/2008 pembelajaran IPS pada jenjang SMP/MTs dikembangkan dengan pendekatan terpadu yang terdiri dari disiplin ilmu geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, dan budaya.[14] Konsep demikian menghendaki pembelajaran IPS terdiri dari berbagai unsur disiplin ilmu sosial yang diramu menjadi satu perpaduan dengan konsep ilmu pengetahuan sosial. Pembelajaran sejarah menjadi bagian dari IPS Terpadu yang memiliki kesamaan dengan disiplin ilmu sosial lainnya seperti: geografi, ekonomi, dan sosiologi.

Pembahasan materi sejarah dalam pembelajaran IPS Terpadu dilaksanakan dalam bentuk terpadu dengan materi disiplin ilmu sosial lainnya yang dikemas dengan tema. Tema yang dipiih untuk dibicarakan dalam pembelajaran dibahas dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu sesuai kompetensi dasar yang relevan dengan tema. Sebagai contoh: ”Potensi Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata” dalam pembelajaran dikembangkan dalam kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis, dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan.[15] Peran materi sejarah dalam pembahasan ini adalah menjelaskan secara historis perkembangan sosial dan budaya masyarakat Bali dengan tujuan menumbuhkan sikap menghargai dan melestarikan karya budaya bangsa, tanggung jawab pengembangan budaya Bali serta memupuk kebanggaan sebagai bangsa pemilik pulau Bali yang terkenal sebagai tujuan wisatawan asing di Indonesia. Sikap sejarah dapat mennggunakan materi pembelajaran di atas dengan pembahasan Bali sebagai tujuan wisata dari makna sejarah untuk membentuk kesadaran siswa merasa memiliki, menjaga, memelihara dan melestarikan nilai-nilai luhur bangsa.

C.Aplikasi Filsafat Sejarah dan Metodologi Sejarah dalam Pembelajaran Sejarah di SMP/MTs

Pembelajaran sejarah yang berorientasi dari pemahaman peristiwa-peristiwa masa lampau bertujuan membentuk sikap dan perilaku sejarah pada siswa. Tujuan pembelajaran sejarah akan tercapai apabila didukung oleh pemahaman yang mendalam mengenai hakikat pembelajaran sejarah terutama oleh guru sebagai pengelola pembelajaran dan pihak lain yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran terutama bagi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Pemahaman hakikat pembelajaran sejarah dapat dimiliki melalui pemahaman kembali filsafat sejarah.

Terkait dengan filsafat sejarah dapat dipahami bahwa kehidupan manusia diarahkan pada tujuan-tujuan terciptanya kesejahteraan hidup manusia. Perbedaan sudut pandang mengenai kesejahteraan hidup manusia dapat menimbulkan perbedaan pula dalam hal tujuan pembelajaran sejarah. Dalam hal ini filsafat sejarah mengarahkan pikiran dan pandangan segenap orang terhadap pemnbelajaran sejarah yang sesuai dengan ide-ide kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Maknanya filsafat sejarah mutlak harus dipahami oleh segenap pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pembelajaran sejarah seperti: perancang kurikulum dan silabus, pelaksana pembelajaran, pembina pembelajaran, perancang instrumen penilaian serta pihak-pihak lain yang berkaitan dengan pembelajaran.

Kesesuaian proses pembelajaran dengan kompetensi sebagai tujuan yang hendak dicapai siswa dalam pembelajaran sejarah memerlukan pertimbangan filsafat sejarah baik filsafat spekulatif maupun filsafat sejarah kritis. Uraian berikut memberikan gambaran mengenai pertimbangan-pertimbangan filsafat sejarah terhadap pembelajaran sejarah di sekolah adalah sebagai berikut:

1.Proses penyusunan kurikulum dan silabus sejarah

Kurikulum merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pembelajaran yang berisikan gagasan-gagasan umum pembelajaran atau visi dan misi pembelajaran, standard kompetensi dan kompetensi dasar, dan materi pokok. Sebagai ide pokok dalam pembelajaran hendaknya kurikulum sejarah disusun dengan mempertimbangan hakikat mempelajari sejarah dengan menggunakan teori filsafat sejarah dan metodologi sejarah. Pencetusan ide pembelajaran sejarah yang dituangkan dalam visi dan misi pembelajaran sejarah menjadi dasar dalam merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar sejarah yang harus dimiliki siswa setelah belajar sejarah. Pentingnya ide sebagai nilai yang hendak diwujudkan dalam kehidupan nyata seperti pendapat George Wilhelm Friedrich Hegel berpandangan bahwa ”sejarah adalah suatu proses menuju perwujudan dari ’Geist’ yang diterjemahkan dalam bentuk ’idea of freedom’ dalam kehidupan manusia. Kenyataan adalah perwujudan dari kesadaran diri yang bersumber dari pikiran atau idea sehingga fakta yang ada bukanlah hal penting melainkan apa yang ada di belakang kenyataan itu yang tidak lain adalah geist atau the idea of freedom[16]. Berkaitan dengan penyusunan kurikulum maka ide-ide yang terkandung dalam setiap peristiwa masa lampau yang dijadikan materi pembelajaran sejarah harus mampu diangkat ke permukaan menjadi visi misi pembelajaran sejarah yang selanjutnya direalisasikan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa the idea of freedom kemudian menjadi free will yang dikehendaki setiap individu baik sendiri-sendiri maupun bersama. Negara dianggap perwujudan dari the idea of freedom yang melibatkan semua warga negara sebagai komunitas yang solider.[17] Pandangan filsafat sejarah tersebut dijadikan pertimbangan filosofis ketika guru menyusun silabus pembelajaran sejarah yang didasarkan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar. Penjabaran kurikulum dalam silabus memuat tentang indikator pencapaian kompetensi dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, penilaian, sumber bahan dan alokasi waktu sesuai dengan visi sejarah yang mengarah pada pembentukan sikap sejarah. Penjabaran kurikulum dan silabus sesuai prosedur di atas memberikan gambaran bahwa silabus merupakan penjabaran lebih rinci mengenai ide-ide yang ada dalam peristiwa masa lampau.

Bagian penting dalam silabus sejarah yang dewasa ini membutuhkan perhatian lebih serius dari para guru dan penanggung jawab pembelajaran adalah materi pokok pembelajaran sejarah. Hal itu didasarkan perkembangan penelitian sejarah kritis terhadap penulisan sejarah oleh para sejarawan terdapat perbedaan mengenai suatu peristiwa masa lampau. Kondisi demikian memerlukan sumber materi pembelajaran sejarah yang benar dan mampu mengungkap ide-ide, nilai-nilai dan jiwa yang ada dalam pembelajaran sejarah di SMP/MTs sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku sejarah sebagai hasil belajar sejarah.

Pemilihan materi pembelajaran menjadi sangat penting karena merupakan bahan-bahan bacaan utama dalam pembelajaran sejarah. Kekeliruan dalam memilih materi pembelajaran sejarah akan berakibat tidak terwujudnya ide-ide dari peristiwa sejarah dalam bentuk sikap dan perilaku siswa. Persoalan materi pembelajaran sejarah yang hingga saat ini belum dapat menyajikan materi sejarah yang benar dan bahkan terdapat kontroversi dari berbagai peristiwa sejarah. Kontroversi materi sejarah dalam penulisan sejarah belum dapat menyajikan informasi yang valid sehingga dapat membingungkan siswa bilamana mengunakan materi yang tidak lengkap. Berikut diberikan contoh kontrovesi dalam penulisan sejarah Indonesia:

Kategori pertama, yang berkaitan dengan penulisan sejarah Indonesia yang maragukan karena terdapat bukti-bukti lain yang berbeda dengan fakta yang ditulis. Misalnya: benarkah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun? Prof. Mr. Gertrudes Johan Resink (1911-1997) membantah hal itu dengan argumen bahwa pada tahun 1854 Menteri Urusan Koloni mengatakan pada parlemen Belanda bahwa di Kepulauan Indonesia masih ada negeri-negeri merdeka dan beberapa kasus pengadilan, hakim dan Mahkamah Agung menolak mengadili dengan alasan bukan kewenangan karena yang bersangkutan dianggap bukan penduduk Hindia Belanda melainkan rakyat kerajaan negeri pribumi yang merdeka.[18] (Asvi Warman Adam,2007 p.2)

Kemudian kategori kedua, yang berkaitan dengan penulisan sejarah Indonesia dengan menggunakan alasan-alasan yang lebih memihak pada kelompok tertentu. Sebagai contoh: kelahiran Budi Utomo yang dinyatakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, terdapat kritik terhadap organisasi ini karena bersifat kedaerahan sehingga tidak cukup bukti untuk untuk dinyatakan sebagai organisasi nasional, atau mengenai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebab terdapat data lain yang menganggap manifesto politik 1925 adalah tonggak sejarah yang lebih penting daripada Sumpah Pemuda[19].

Selanjutnya kontroversi kategori ketiga dalam sejarah Indonesia adalah hal-hal yang tidak jelas dalam sejarah Indonesia. Misalnya: mengenai keberadaan naskah asli Supersemar, peristiwa malari (11 Januari 1974). Ketidakjelasan sejarah yang sampai pada kerusuhan, isu sara, krisis ekonomi dan provokasi terencana yang belum diketahui data sebenarnya[20].

Terkait kontroversi penulisan sejarah seperti dicontohkan di atas yang seharusnya menjadi materi pembelajaran sejarah berarti diperlukan klarifikasi penulisan sejarah Indonesia sehingga mampu memberikan fakta-fakta sejarah yang objektif. Klarifikasi penulisan sejarah yang sudah beredar selama ini memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan metodologi sejarah yang tepat. Terdapat berbagai pandangan metodologi sejarah sehingga memerlukan pemilihan metode yang tepat sesuai dengan jenis peristiwa dan fakta sejarah yang akan digunakan. Pertimbangan lain yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan sejarah yang berkaitan dengan pembelajaran sejarah adalah pengungkapan ide-ide dan nilai-nilai yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter bangsa (national character building).

Materi sejarah yang dipelajari siswa dari penulisan sejarah hendaknya menguraikan suatu peristiwa sejarah tidak saja mengungkapkan pengetahuan tentang apa, siapa, dimana tetapi lebih ditujukan mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi, alasan-alasan apa yang mendasari suatu peristiwa. Maknanya materi sejarah yang disediakan untuk dipelajari oleh siswa harus mengandung ide-ide dan nilai-nilai yang hendak dikembangkan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Penulisan sejarah yang saat ini hanya mengungkapkan tentang pengetahuan sejarah tanpa mengedepankan isi peristiwanya, maka pembelajaran sejarah tidak akan memberi makna dalam perkembangan siswa sebab ”upaya rekonstruksi peristiwa masa lampau tidak hanya sekadar deskriptif naratif, melainkan sebagai upaya menghidupkan kembali pemikiran manusia masa lampau atau rethinking of human thought.”[21]

Sebagai contoh: Terjadinya perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda 1825-1830 tidak saja disekripsikan hal-hal fisik atau fenomena mengenai kapan, dimana, jumlah orang yang terlibat, jumlah korban[22] atau keterangan lain yang bersifat naratif, melainkan mengemukakan hal-hal yang paling esensial mengenai mengapa terjadi, apa yang melatarbelakangi peristiwa.

Keterbatasan materi sejarah seperti yang diharapkan dari buku-buku teks sejarah yang ada saat ini membutuhkan kreativitas guru sejarah untuk mengaplikasikan pemahamannya mengenai filsafat dan metodologi sejarah dalam meramu materi pembelajaran sejarah dengan menggali dan mengangkat kepermukaan aspek-aspek kejiwaan dari peristiwa sejarah yang akan dipelajari siswa. Kreativitas guru sejarah yang demikian memungkinkan menghindari terjadinya pembelajaran sejarah yang kering nilai dan berpeluang mewujudkan pembelajaran sejarah yang sarat dengan ide, nilai, jiwa historis yang sangat dibutuhkan siswa.

2.Pelaksanaan pembelajaran sejarah

Bagian penting dalam pembelajaran sejarah di sekolah adalah pelaksaan proses pembelajaran sebagai aktualisasi perencanaan yang telah disusun oleh guru dalam silabus dan rencana pembelajaran.Proses ini ditandai dengan aktivitas siswa melalui bantuan guru untuk memperoleh informasi, pengalaman mengenai sejarah dari sumber-sumber belajar yang tersedia. Profesionalisme guru sebagai pengelola proses pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan melalui strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan.

Proses transformasi nilai-nilai sejarah berlangsung pada bagian ini yang memungkinkan siswa memperoleh kesempatan untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman nilai-nilai dari materi kajian sejarah, Terkait dengan itu berarti proses pembelajaran mestilah mampu menyediakan fasilitas kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kompetensi yang disyaratkan. Strategi pembelajaran hendaknya memihak kepada siswa, demikian pula sarana dan sumber belajar yang dibutuhkan siswa dapat dengan mudah diperoleh siswa untuk membangun pengetahuan, pemahaman dan sikap.

Persoalan yang sering kali muncul dalam proses pembelajaran adalah keterbatasan sarana dan sumber belajar, apalagi dalam pembelajaran sejarah yang dewasa ini mengalami berbagai persoalan terutama berkaitan dengan materi sejarah yang diragukan kebenarannya. Kondisi demikian diperlukan kiat-kiat guru sejarah untuk mensetting proses pembelajaran yang mengarahkan siswa mencari, menemukan, dan mengolah informasi mengenai materi sejarah dari berbagai sumber. Melalui cara demikian secara tidak langsung guru mulai memberikan pengalaman kepada siswa tentang bagaimana memperoleh dan mengolah informasi sejarah sehingga menjadi suatu kesimpulan yang mengarah pada kebenaran,

Pembentukan sikap sejarah melalui pembelajaran sejarah dapat dlakukan guru dengan menerapkan berbagai pendekatan yang berorientasi pada aktivitas siswa dalam memecahkan masalah, menemukan sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Alternatif yang mungkin digunakan guru dalam pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem based learning, contextual learning, kooperative learning, inquiri, dan project. Pendekatan-pendekatan tersebut lebih memungkinkan siswa membangun dan mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan sikap sejarah melalui aktivitas pengalaman belajar secara langsung.

3.Penilaian pembelajaran sejarah

Keberhasilan proses pembelajaran sejarah ditandai dengan penguasaan kompetensi dasar oleh siswa sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Tercapai tidaknya kompetensi dasar dapat diketahui melalui kegiatan penilaian yang dilaksanakan sebelum proses, dalam proses, atau akhir proses pembelajaran. Alat penilaian yang digunakan untuk mengetahui berhasil tidaknya proses pembelajaran atau tercapai tidaknya tujuan pembelajaran haruslah tepat.

Kecenderungan yang masih sering dijumpai dalam proses penilaian pembelajaran sejarah adalah penilaian yang dilaksanakan masih dominan pada pengetahuan sejarah dan sangat sedikit yang menilai aspek sikap dan perilaku.Penilaian berbasis kelas merupakan sistem penilaian yang harus digunakan guru untuk mengetahui secara komprehensif penguasaan atau kompetensi yang telah dimiliki siswa. Diantara bentuk penilaian yang mungkin digunakan untuk mengetahui sikap sejarah yang dimiliki siswa antara lain melalui penilaian kinerja, performance, portofolio.

D.Peran Guru dalam Mengaplikasikan Filsafat Sejarah dan Metodologi Sejaran dalam Pembelajaran

Konsekwensi pengembangan IPS terpadu di SMP/MTs memberikan implikasi pada guru sebagai penanggungjawab proses pembelajaran di kelas. Guru diharapkan mampu menguasai seluruh unsur ilmu sosial yang terpadukan dalam materi pembelajaran IPS sehingga mampu memberikan pemahaman terhadap peserta didik. Pengelolaan pembelajaran dengan konsep terpadu menghendaki pengembangan kompetensi dasar ditinjau dari berbagai aspek mata pelajaran

Kondisi guru IPS yang ada di sekolah pada saat ini memiliki kiualifikasi akademik berdasarkan pendekatan mata pelajaran berdasarkan disiplin ilmu seperti: geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Kenyataan ini merupakan kontadikstif dari harapan pengembangan pembelajaran IPS dengan konsep terpadu sementara para guru hanya menguasai satu disiplin ilmu yang ada dalam IPS terpadu. Guru mengalami kesulitan untuk mengembangkan pembelajaran IPS dengan konsep terpadu karena penguasaan mereka hanya pada materi disiplin tertentu.

Alternatif yang memungkinkan untuk membantu guru dalam pengembangan pembelajaran IPS dengan konsep terpadu adalah dengan menyelenggarakan pembelajaran IPS yang diampu oleh beberapa guru mata pelajaran yang tergabung dalam IPS Terpadu. Pembelajaran yang diampu oleh beberapa guru mata pelajaran yang tergabung dalam IPS dikenal dengan Tim Teaching.[23] Pengelolaan pembelajaran dengan Tim Teaching diharapkan adanya saling bantu antar guru dalam membahas satu konsep yang dikaji dari berbagai disiplin baik secara interdisipliner maupun multidisipliner sehingga kekurangan satu guru dapat ditutupi oleh guru lain yang berada dalam satu tim teaching. Kemampuan kerjasama guru dalam tim teaching diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS Terpadu sesuai yang diharapkan.

Berkaitan dengan proses pembelajaran IPS secara terpadu yang didalamnya terdapat pembelajaran materi sejarah disampaing materi disiplin ilmu lain. Karakteristik sejarah sebagai disiplin ilmu hendaknya dipahami oleh guru dalam mengkaji suatu tema, topik, atau permasalahan yang dikaji dari berbagai disiplin ilmu tetapi tidak meninggalkan ciri khas dan tujuan dari belajar sejarah. Pembahasan suatu masalah dalam pembelajaran hendaknya mampu dilaksanakan secara bijaksana dengan tetap bersandar pada nilai-nilai filosofis dan kebenaran, Artinya pembahasan masalah dari sudut pandang sejarah mestilah berdasarkan filsafat sejarah, memahami suatu peristiwa sejarah hendaknya memahami secara komprehensif dari unsur yang tampak maupun unsur-unsur di dalamnya.[24]

Fungsi lain dari peranan guru dalam pembelajaran sebagai fasilitator hendaknya mampu menyediakan sumber-sumber belajar sejarah yang dibutuhkan siswa. Guru mesti mampu menyeleksi buku-buku teks sejarah bahkan mampu memberikan penjelasan makna dalam dari kisah sejarah yang dibahas siswa mengenai mengapa atau alasan apa suatu peristiwa sejarah terjadi. Pengelolaan pembelajaran sejarah yang dilakukan guru hendaknya mampu mewujudkan situasi pembelajaran sejarah yangn memungkinkan siswa belajar dari sejarah dan menghindari kesan hanya belajar sejarah. Melalui pembelajaran sejarah guru harus mampu menjembatani semangat peristiwa masa lampau dengan keadaan masa kini sehingga siswa mampu berperilaku sesuai dengan zamannya dengan belajar dari semangat zaman sebelumnya. Seperti dikemukakan Sukaryanto bahwa merekonstruksi peristiwa masa lampau tidak hanya sekadar deskriptif naratif, melainkan sebagai upaya menghidupkan kembali pemikiran manusia masa lampau atau rethinking of human thought.[25] Hal itulah yang mesti diterapkan guru dalam mengemukakan materi sejarah dalam pembelajaran untuk membantu siswa memahami jiwa dan semangat pada peristiwa masa lampau yang dapat dijadikan pedoman, perbandingan untuk bertingkah laku dalam menghadapi fenomena kehidupan pada masa ini.

Aplikasi filsafat sejarah dan metodologi sejarah oleh guru dalam pembelajaran sejarah diwujudkan ketika guru merancang persiapan pembelajaran dengan menetapkan indikator pencapaian kompetensi sejarah. Indikator yang ditetapkaguru merupakan indikator yang mengarah pada sikap dan perilaku sejarah. Selanjutnya dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru menerapkan berbagai metode dan sumber belajar yang mampu menciptakan situasi pembelajaran yang mendorong siswa memahami sejarah dan belajar dari sejarah untuk membentuk sikap dan perilaku sejarah.

Sebagai contoh: pembelajaran dilakukan dengan metode diskusi dengan media pembelajaran audio video. Siswa menyaksikan film dokumenter tentang suatu peristiwa sejarah hingga selesai. Setelah selesai menonton, siswa mendiskusikan bersama kelompoknya mengenai: pandangan mereka terhadap pristiwa dalam film itu, alasan yang mendorong peristiwa itu terjadi, mengandaikan diri ketika peristiwa itu terjadi, menentukan sikap apa yang tepat digunakan dalam kehidupan dari peristiwa sejarah itu.

Strategi pembelajaran sejarah sebagai mana diuraikan di atas memberikan gambaran bahwa guru telah menerapkan filsafat sejarah dan metodologi sejarah dalam pengelolaan pembelajaran. Penguasaan filsafat sejarah dan metodologi sejarah memungkinkan guru mampu merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan visi dan misi pembelajaran sejarah. Peran ini guru sebagai sumber belajar menggunakan kretivitas dan profesionalitasnya dalam menghubungkan peristiwa masa lampau dengan keadaan yang sekarang melalui pemahamannya mengenai filsafat sejarah dan metodologi sejarah. Kemampuan guru menggali dan mengangkat kepermukaan nilai-nilai dan semangat yang ada dalam peristiwa masa lampau dalam proses pembelajaran diharapkan siswa memiliki pemahaman bahwa setiap masa memiliki karakteristik dan kewajiban yang berbeda sesuai masa kapan dia hidup. Hal ini menjadi penting agar siswa mampu mengatur perilakunya dengan belajar dari perilaku masa lampau sehingga perilaku yang ditampilkan merupakan hasil perenungan pengalaman masa lalu. Masa lampau menentukan perilaku masa sekarang dan selanjutnya masa akan datang dirancang pada masa sekarang.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bagian terdahulu dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran sejarah menempati kedudukan yang penting dalam upaya pembentukan karakter bangsa melalui pembentukan perilaku sejarah pada siswa. Kenyataan pelaksanaan pembelajaran sejarah yang telah berlangsung hingga saat ini belum memberikan penekanan ke arah pembentukan perilaku sejarah pada siswa karena diperlukan perubahan paradigma pembelajaran sejarah. Perubahan paradigma pembelajaran sejarah seperti ditawarkan dalam pembahasan ini melalui upaya-upaya sebagai berikut:

1.Proses pembelajaran sejarah yang berorientasi belajar sejarah dengan menitikberatkan pada esensi materi sejarah dengan mengetahui terjadinya peristiwa sejarah tentang dimana, kapan, siapa, bagaimana, perlu dilakukan perubahan menjadi belajar dari sejarah yang menitikberatkan pada tujuan belajar sejarah tentang mengapa terjadi, alasan apa penyebabnya.

2.Perubahan paradigma harus dimulai dari pengambil kebijakan dalam pendidikan dan pembelajaran seperti perancang kurikulum, guru, pengawas dengan cara memahami filosopi pembelajaran sejaran yaitu filsafat sejarah dan metodologi sejarah

3.Guru dengan peran strategisnya dalam proses pembelajaran sebagai perencana, pelaksana, penilai pembelajaran mutlak memahami filsafat sejaran dan metodologi sejarah dan menerapkannya dalam pembelajaran.

4.Aplikasi filsafat sejarah dan metodologi sejarah dalam pembelajaran sejarah dapat dilaksanakan guru sejak menetapkan kompetensi dan indikator yang harus dicapai siswa, strategi pembelajaran dan penilaian yang berdasar pada filsafat dan metodologi sejarah.

5.Pemahaman jiwa dan semangat masa lampau hendaknya dapat diakomodasi dalam pembelajaran dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami fenomena masa sekarang melalui kreativitas dan profesional guru menghubungkan jiwa zaman masa lampau dengan kenyataan saat sekarang dan menggambarkan cita-cita masa depan yang ditentukan masa sekarang.

6.Filsafat sejarah dan metodologi sejarah mutlak dimiliki setiap guru sejarah agar mampu menciptkan suasana pembelajaran sejarah dengan orientasi belajar dari sejarah dan menghapus kesan belajar sejarah.

DAFTARPUSTAKA

Adam, Asvi Warman, Seabad Kontroversi Sejarah, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2007

BSNP, Standar Isi untuk SMP/MTs, Jakarta:BSNP,2006

Daldjoeni,N., Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Mahasiswa IKIP (FKIP) dan Guru Sekolah, Bandung: Alumni,1999

Depdiknas, Model Pembelajaran Terpadu IPS,Jakarta: Puskur Balitbang Jakarta : Depdiknas, 2006

Hamalik,Omar, Proses Belajar Mengajar,Jakarta:Bumi Aksara,2005

Haryono, Peran dan Tangungjawab Guru Sejarah dalam Pembentukan Karakter Bangsa Materi Seminar Sejarah dan Workshop Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Pembelajaran Sejarah Tanggal 11 April 2002, Jakarta: Jurusan Sejarah FIS UNJ

Leirissa,R.Z., Filsafat Sejarah Kritis Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta,2007

———, Filsafat Sejarah Spekulatif Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta, 2007

———, Metodogi Sejarah Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta,2007

Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996

Sukaryanto, Peran Intellectual Emphaty dan Imajinasi dalam Historiografi, 2007 (http://www.journal.unair.ac.id/TEXT.pdf)

Tamburaka,Rustam E., Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan IPTEK,Jakarta: Rineka Cipta,1999

Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Surabaya: Karina, 2004

Catatan Kaki:


[1]Sukaryanto,Peran Intellectual Emphaty dan Imajinasi dalam Historiogarafi, hlm.2, 2007 (http://www.journal.unair.ac.id/TEXT.pdf)

[2] Haryono,Peran dan Tangungjawab Guru Sejarah dalam Pembentukan Karakter Bangsa,hlm.6,2002

(Materi Seminar Sejarah dan Workshop Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Pembelajaran Sejarah Tanggal 11 April 2002, Jurusan Sejarah FIS UNJ)

[3] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan IPTEK (Jakarta: Rineka Cipta,1999). hlm. 130

[4] Omar Hamalik,Proses Belajar Mengajar (Jakarta:Bumi Aksara,2005) hlm.127

[5] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996. hlm.74

[6] R.Z. Leirissa, Filsafat Sejarah Spekulatif (Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta, 2007) hlm.1

[7] Rustam E. Tambura, loc.cit. hlm. 142

[8] R.Z. Leirissa, Filsafat Sejarah Kritis (Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta,2007) hlm.1

[9] R.Z. Lerissa, Metodogi Sejarah, (Materi Kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta,2007) hlm.2

[10] Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Surabaya: Karina, 2004.hlm.2

[11] N.Daldjoeni, Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Mahasiswa IKIP (FKIP) dan Guru Sekolah, Bandung: Alumni,1999.hlm.79

[12] Rustam E. Tamburaka, loc cit, hlm.130

[13] BSNP, Standar Isi untuk SMP/MTs, Jakarta:BSNP,2006. hlm.21

[14] Depdiknas, Model Pembelajaran Terpadu IPS,Jakarta: PuskurBalitbang Jakarta : Depdiknas, 2006

[15] Depdiknas, loc.cit. hlm. 10

[16] R.Z. Leirissa, loc.cit. hlm.3

[17] ibid hlm. 4

[18] Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2007. hlm.1-2

[19] Asvi Warman Adam, ibid. hlm.3

[20]Asvi Warman Adam, ibid, hlm. 4

[21]Sukaryanto, loc.cit. hlm.1

[22] Sukaryanto, ibid. hlm.5

[23] BNSP, Standar Isi. hlm.8

[24] Rustam E.Tamburaka, loc.cit.hlm.161

[25] Sukaryanto, loc.cit. hlm.5

One thought on “TENTANG PEMBELAJARAN SEJARAH DI SATUAN PENDIDIKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s