MELIHAT SITUS BERSEJARAH HINDARI PEMBELAJARAN MEMBOSANKAN

( Selasa, 22 April 2008 )

Banda Aceh,
Pembelajaran sejarah bisa dihindarkan dari kesan membosankan bila didukung berbagai kegiatan, terutama dengan cara melihat langsung situs-situs sejarah. Namun, mengingat tujuan pelajaran sejarah adalah menjadi wahana bagi pembentukan bangsa dan sekaligus karakternya, prioritas kunjungan ke situs-situs sejarah haruslah yang memiliki nilai-nilai kebangsaan.

Dengan semangat inilah, program lawatan sejarah tingkat nasional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaksanakan oleh Asisten Deputi Urusan Sejarah Nasional pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 14-18 Agustus 2004. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta, terdiri atas para guru sejarah dan siswa yang berasal dari seluruh Indonesia.

“Tujuannya jelas, yakni untuk menumbuhkan kesadaran sejarah guna memperkukuh semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, ’lawatan sejarah’ ini adalah suatu kegiatan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah yang merupakan simpul-simpul perekat bangsa Indonesia,” kata Susanto Zuhdi, Asisten Deputi Urusan Sejarah Nasional pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Banda Aceh, Minggu (15/8) sore.

Sebelumnya, tim ’lawatan sejarah’ ini telah berkunjung ke Sabang. Selain memiliki nilai strategis sebagai pelabuhan besar tempo dulu, Sabang juga memiliki makna simbolik tempat “titik nol” Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Sabang, kata Susanto, hari Senin ini rombongan akan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di Kota Banda Aceh. Besok rombongan ’lawatan sejarah’ ini akan mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Aceh.

Selain tempat-tempat bersejarah seperti Kerkkhop Peutjoet yang merupakan kuburan para serdadu Belanda yang tewas dalam perang di Aceh, di Banda Aceh juga dapat dilacak kembali bahwa pertautan antarsuku bangsa sudah terjalin sejak berabad-abad lampau. Bukti itu antara lain dapat dilihat dari keberadaan makam-makam raja-raja Aceh yang berasal dari keturunan orang Bugis.

“Memahami keberagaman adalah kunci dasar untuk mencegah konflik dan ancaman disintegrasi bangsa. Dan, memahami sejarah yang memperlihatkan proses terbentuknya keindonesiaan adalah cara kita mewujudkan cita-cita bangsa untuk tetap merdeka, bersatu, dan berdaulat,” kata Susanto Zuhdi. (kompas) (Sumber: http://www.smu-net.com/main.php?act=hl&xkd=2188)

4 thoughts on “MELIHAT SITUS BERSEJARAH HINDARI PEMBELAJARAN MEMBOSANKAN

  1. aslmkum.wr.wb
    hi…teman2 lasenas 2004, aq peserta dr makassar yg mewakili sulselra.. itu,yg bawakan tari bosara tgl 17-08 malam di RRI Banda Aceh. aq banyak kehilangan kontak dgn tmn2 dr aceh setelah tsunami. smoga tmn2 selamat atas musibah itu
    klw masih ada yg ingat dgnku. bisa hubgi aku via email di
    ekasetiaku@yahoo.com
    kita bisa berbagi crita lg

    pak susanto zuhdi, met berpuasa…
    tmn2 yg laen met berpuasa jg ya…
    wslm==
    ————————–
    LaNJOoot…

  2. assalamualaikum…

    Masih ingat aku ga, Cholifah yang dr Kalimantan Timur…
    waaah..senangnya, nemu jg temen2 lasenas II, kangen juga…iya ni setelah tsunami kontak teman2 dah ga bs lg…tp untungnya, gara2 kuliah di Undip semanrang jd ketemu ama Heru..tp no.hpnya ga tau, Eka apa kabar?? Salam nostalgia buat semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s