Polisi dan Mahasiswa Unas (Pasca Kenaikan BBM)

Sengaja menulis sedikit, dan jauh dari gegap gempita naiknya harga BBM. Tujuannya agar bias dan subyektifitas, tidak terlalu banyak menghinggapi. Ini sebuah harapan, namun saya bukanlah robot yang tanpa emosi (perasaan). Semoga dari tulisan ini, pembaca yang budiman dapat belajar dari sejarah, yakni belajar dari peristiwa yang sudah berlalu.

Setelah membaca koran di Indopos dan Detkcom, serta menonton siaran televisi TvOne, Metro Tv, RCTI, dan SCTV, saya merasa miris melihat perilaku intelektual (mahasiswa) dengan aparat (polisi), seakan nilai-nilai kebaikan telah hilang ditelan amarah. Kedua belah pihak merasa apa yang dilakukannya adalah benar, “sesuai undang-undang”,  kata polisi, dan “ini hak politik kami”, kata mahasiswa setelah peristiwa Sabtu pagi, 24 Mei 2008. Pekik “sesuai undang-undang” adalah usaha melindungi diri (polisi) setelah segerombolan polisi merangsek masuk kedalam kampus, dan “berdemonstrasi sampai semalam suntuk”merupakan kilahan mahasiswa.

Masih banyak yang tidak diungkap media massa, dan perlu diklarifikasi. Misalnya polisi yang mengambil properti kampus, dan mahasiswa yang membawa narkoba. Dalam hatiku bergumam untuk menamai peristiwa pagi di UNAS tersebut, dengan judul: “polisi penjarah” versus “mahasiswa narkoba”. Judul apalagi ya, untuk melihat perilaku mereka, seperti polisi yang memukuli mahasiswa bak maling ayam, dan mahasiswa yang gemar melempar batu layaknya pelempar lembing yang handal. Keduanya sama-sama “beringas”. Mahasiswa yang sudah terdidik sebagai kaum intelektual tidak mampu menahan amarahnya, apalagi polisi yang tidak pernah bertemu dunia intelektual (baca: PHH hanya lulusan SMA).

Mungkin saya tidak memahami psikologis polisi, terutama PHH yang pendidikannya rendah, juga komandan lapangannya. Namun, berdasarkan penglihatan saya tentang menyelesaikan demonstran di Korsel yang terkenal “gemar” chaos itu, PHH lebih memilih membuat barikade yang kokoh. Kecuali, polisi sudah parah mendapatkan lemparan dan pukulan demonstran. Barisannya kokoh, bahkan tendangan dan pukulan dari demonstran, tidak menghancurkan pertahanannya. Tetapi, barikade atau pertahann PHH di Indonesia, Jakarta khususnya payah. Selain tamengnya tidak sebesar dan setinggi di Korsel, polisinya terbilang lemah.  Tontonan di televisi belakangan ini jelas memperlihatkannya: baru dilempari aja dah kocar kacir, dan ditendang mahasiswa barisannya pecah. Setelah menunjukkan kelemahan pertahanannya, polisi lebih memilih bubar barisan..lalu mengejar, menghajar, dan meninju, kemudian memukul dengan pentungan, selanjutnya menginjak serta menendang, terakhir dipiting, sambil sesekali polisi yang lain melengkapi dengan tendangan maut ala Serial film Satria Baja Hitam, dan bogem mentahnya. Alhasil, demonstran langsung lemas, mandi darah, bahkan teriakan “ampun” tidak diindahkan lagi. Itulah yang terjadi di Unas.

Tindakan vandal tersebut adalah buah dari lemparan batu dari demonstran. Komnas Ham menyebutnya sebagai pelanggaran HAM, walaupun Kapolri menyebutnya: tidak. Selanjutnya, peristiwa penyeragan tersebut, telah melahirkan insipirasi polisi di luar Jakarta untuk melakukannya (kembali). Kemarin, 27 Mei 2008, di Sulawesi, persis yang terjadi di Unas. Bedanya, kalau di Sulawesi, polisinya sudah menonton film Troy yang dibintangi Brat Pitt, sehingga pola penyerbuan dengan formasi kura-kura diterapkan untuk membobol pagar kampus. Tetapi, di Jakarta, polisinya sering nonton tauran anak SMA, jadi beringas banget.

Sebagai penutup, dapat diketahui bahwa setiap ada gejala yang diyakini akan menyengsarakan rakyat, maka mahasiswa akan menjadi pembela terdepan, yang menyuarakan untuk perbaikan. Namun, pengaruh kenangan kebrutalan polisi, juga mahasiswa dalam tahun 1998, terlihat tetap menghinggapi hingga kini. Dan, saya ingin teriak: “Tetaplah membela rakyat kecil, wahai mahasiswa!!!!”.

2 thoughts on “Polisi dan Mahasiswa Unas (Pasca Kenaikan BBM)

  1. Oalah mahasiswa… Mbok mendingan belajar yang tekun. dapet IPK bagus, skripsi cepat kelar, cepat dapet kerjaan, cepat dapet gaji, kalo gajinya gede, harga BBM naik setinggi langit ya tetap kuat beli…
    ——————————
    waduh, pak..pikiran bapak ini jangan ditularkan ke anak-anak muda yaa…nanti kita dibodohi terus, terutama oleh para kapitalis….karena, bagi saya, pendapat bapak tersebut menyuruh mahasiswa menjadi/memperoleh “employed skill” (kemampuan bekerja, menjadi pekerja seperti mesin). Seharusnya memperoleh “life skill”, manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan, lebih kreatif. Saya hampir bisa pastikan, bapak tidak pernah ikut dalam gerakan moral mahasiswa, kalaupun ikut, lebih menjadi “pemandu sorak saja”. Pemikiran bapak, persis para “londo” yang dulu pernah menjajah kita, bumiputera hanya diajarkan ilmu untuk bekerja, tapi tidak peka terhadap realitas yang ada, yang sering kali tidak adil kepada rakyat jelata. Untungnya, orang Indonesia tidak semua seperti bapak. Bisa-bisa “bubar negoro ne…” Dan, saya menyayangkan pendapat bapak ini. Menyedihkan untuk kehidupan manusia yang memiliki intelektual, integritas, dan moral yang mulia.

  2. Sikap Refresif aparat dalam aksi kawan2 mahasiswa tidak terlepas dari skenario pemerintah untuk membiaskan tujuan dari aksi-aksi mahasiswa, dan upaya untuk mengkerdilkan mahasiswa di mata rakyat, padahal mahasiswa telah berjuang sepenuhnya demi kepentingan masyarakat tidak hanya masyarakat ibu kota yang akhir-akhir ini sering komplain dg aksi mahasiswa yang diblow up oleh media sebagai aksi anarkis…ini adalah kepentingan rakyat Indonesia dan media jangan sampai melakukan provokasi yang akhirnya memunculkan sentiman masyarakat terhadap aksi mahasiswa..kalaupun kita harus flashback mahasiswa sudah menyampaikan aspirasi secara elegan tapi apa respon pemerintah? nihil mereka tulis dengan cara-cara yang beradab
    ——————————
    selamat berjuang!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s