Indiana Jones 4 sampai Gajah Mada and The Kingdom of Nusantara (?)

Tanggal 22 Mei 2008, Kamis, kita sepakat untuk nonton film yang ditunggu-tunggu: Indiana Jones (seri ke-4). Setelah 19 tahun tidak terbit, Harrison Ford berlagak kembali sebagai seorang Prof. Arkeolog gaek yang berpetualang di Lima, Peru. Sehari setelah tanggal tayang perdananya, Jum’at sore setelah kuliah, kami naik Transjakarta, Busway menuju Plangi (Plaza Semanggi). Seperti pada penayangan film Iron Man, 2 dari 3 studio distel film yang sama. Yang sekarang 2 studio ialah Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull.

Kamis ini, 29 Mei 2008, telahku baca berita terkait dengan film Indiana Jones di beberapa situs. Minggu ini, Indy nomor satu, menggungguli Narnia 3, dan Iron Man. Dan, kekurangan Indy juga terlihat, yakni film nuansa arkeologi ini memiliki 40 kesalahan, dan gaya bermotornya masih kalah dengan Crof dalam film Tomb Raider.


Terlepas dari itu semua, kecintaanku terhadap film yang berbau petualangan, misteri ilmiah, kolosal, dan science fiction, melahirkan keseriusan dalam menonton. Setting waktu tahun 1957 dalam film Indy ini begitu hidup. Yang menjadi perhatianku adalah usaha sutradara yang kemudian dibawakan (diperankan) para pemain film ini tentang misteri peradaban bangsa Maya, yaitu piramida dan gambar terstruktur rapi yang teramat besar (terlihat sempurna dari atas), cukup gamblang diungkap. Pengungkapan tersebut tertuju pada hadirnya “campur tangan” makhluk dari alam lain dalam penciptaan peradaban di tanah Amerika Selatan.

Memang ini belum berbukti, bahkan banyak ilmuan, baik itu arkeolog, antropolog, dan sejarawan, yang berani berteori dan berkeyakinan bahwa peradaban didunia adalah “diajarkan” oleh makhluk bukan manusia. Namun, sebagai sebuah hiburan, adalah cukup menantang. Menantang bagiku, setidaknya untuk bertanya “apa bener begitu?”. Sepertinya, insan perfilman cukup lihai membawakan keingintahuan manusia dan isu yang tetap abadi kedalam film: “apakah kita sendirian di alam semesta ini”. Untuk menjawab hal tersebut, banyak film yang dibuat, misalnya Stargate, E.T., Star Wars, Star Trek, Phenomenon, X-Files, dan lainnya (ada yang mau menambahkan??).

Setelah menyaksikannya, adalah layak untuk memasukkan ke daftar terbaik pada film-film yang pernah aku tonton, setidaknya film yang sesuai minatku. Setelah Indiana Jones, best movie lainnya adalah Kingdom of Heaven, Troy, Mongol, Transformer, Star Wars, Star Trek, ET, Alexander The Great, dan, ukhhhh, banyak deh…..Dalam benak, aku bergumam seraya bertanya;”…kenapa ya, Indonesia tidak (pengennya memakai kata: “belum”) mampu membuat film seperti Hollywood?? yah, semisal Gladiator?”,…*sambil tertunduk dan menghela nafas panjang*, berkata: “paling jauh kita bisa buat film Saur Sepuh,…coba buat yang bagus ya, misalnya, berjudul: Gajah Mada and The Kingdom of Nusantara….”

One thought on “Indiana Jones 4 sampai Gajah Mada and The Kingdom of Nusantara (?)

  1. Insya Allah setelah perusahaan film di cikarang (mirip hollywood) jadi, film-film indonesia bakal lebih maju. saat ini sedang dibangun pabrik film terbesar di Indonesia, ya mirip hollywood. segala produksi film yang memiliki efect visual ataupun audio akan dilakukan disana, namun jika hanya bisa membuat film cinta dgn teknik sederhana mendingan ga usah dibangun….

    http://www.tawvic.co.cc
    ——–
    Kita tunggu yaa “hollywood”-nya Indonesia itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s