Dari Nusantara Menjadi Indonesia

oleh: Retty N. Hakim

Mempelajari sejarah sangat penting agar kita mampu mengambil pelajaran dari sejarah yang terjadi dan tidak mengulangi jatuh ke dalam lubang yang sama. Artikel ini sebagian besar merupakan bahan tulisan Muhammad Yamin dalam buku “Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara” terbitan Balai Pustaka. Buku ini pertama kali terbit tahun 1945, dan yang saya gunakan sebagai referensi adalah cetakan ke 18 yaitu cetakan tahun 2005.

Dari tulisan Rakawi Walmiki pada abad kedua, kepulauan Indonesia disebut Yawadwipa. Yang termasuk dalam Yawadwipa adalah Daerah yang Delapan, yaitu tujuh lingkaran kerajaan dan satu pulau bersalju yaitu Irian (Papua) . Bangsa Tionghoa menyebutnya Ye-po-ti, bahasa Yunani membahasakannya sebagai Jabadiu.

Kuen Luen, dari Cina, pernah menyebutkan nama lain dari Yawadwipa yaitu Dwipantara (Kawi Sansekerta) yang kalau disalin ke dalam bahasa Majapahit menjadi Nusantara (dwipa=nusa=kepulauan)

Perkataan Indonesia pertama kali muncul dalam tulisan James Richard Logan (1869) juga menunjukkan keberadaan kepulauan di lautan Hindia Pasifik (Inde = Hindia dan nesos=pulau).

Pada tahun 1894 dalam ketika puri Cakranegara di Lombok jatuh ke tangan Belanda, di antara barang rampasan ditemukan buku tulisan rakawi Prapanca yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno berasal dari tahun 1365. Inilah kitab Negarakertagama. Di dalamnya secara jelas syair ke 13 menyebutkan bahwa Nusantara meliputi Sumatera, Jawa, Madura, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Ambon, Semenajung Melayu, dan Irian.

Buku ini memang berasal dari zaman keemasan Majapahit, dimana Gajah Mada sebagai tangan kanan raja dan ratu Majapahit berhasil mempersatukan daerah kedaulatan yang mencakup Indonesia saat ini.

Ahli sejarah tidak mengetahui asal usul Gajah Mada. Ada yang mengatakan bahwa dia lahir di Bali, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di tepi aliran sungai Berantas di Jawa. Dia kelahiran rakyat jelata yang dengan kegigihan dan ketaatan pada raja berhasil membawa keharuman nama Nusantara ke negeri-negeri tetangga. Pada tahun 1364 Gajah Mada meninggal tanpa pernah diketahui secara jelas makamnya. Ada yang mengatakan dia meninggal di Majapahit, ada pula yang menyatakan bahwa Gajah Mada menenggelamkan diri di lautan Indonesia.

Prapanca menuliskan 15 sifat Gajah Mada yang memberikannya keistimewaan, diantaranya adalah matanggwan (menjadi kepercayaan dari rakyat dan Negara) serta satya bhakty aprabhu (setia dengan hati yang ikhlas kepada Negara dan Pemegang Mahkota). Gajah Mada mengabdi kepada tiga orang raja dari Majapahit, suatu masa bakti yang cukup panjang untuk masa itu.

Dalam buku Muhamad Yamin, juga diuraikan kekurangan Gajah Mada. Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan Gajah Mada. Hal pertama yang dituliskan Muh. Yamin adalah obsesi gajah Mada pada persatuan itu sendiri. Kesetiaannya pada persatuan Negara acap kali menyalahkan orang yang melanggar kesetiaan itu dan menggunakan kekerasan. Gajah Mada lupa bahwa rasa persatuan dan kesetiaan itu pada orang lain mungkin tidak setinggi dalam dirinya sendiri.

Hal yang kedua adalah perhatiannya kepada masalah negara begitu mendominasi sehingga kurang memperhatikan keluarga sehingga nama keluarganya pernah tercoreng aib. Gajah Mada juga meletakkan segala urusan dalam kacamata politik. Karena mengemukakan politik dan kebesaran Negara maka Gajah Mada telah mengacaukan niat Prabu Hayam Wuruk menyunting putri Pajajaran Diyah Pitaloka. Keangkuhan Gajah Mada sebagai negara kerajaan yang besar telah merubah upacara pernikahan yang diharapkan sang prabu menjadi ajang peperangan yang berakhir dengan kematian sang calon pengantin yang diimpikannya.

Kesalahan terakhir dan yang terberat adalah tidak dipersiapkannya angkatan muda sebagai pengganti dirinya. Inilah kemudian yang menjadi sumber kehancuran Majapahit.

Belajar dari Sejarah

Tampaknya kita memang tidak belajar dari sejarah. Buku yang ditulis sejak tahun 1945 ini telah dicetak ulang sampai 18 kali tapi tetap saja kesalahan yang sama terus terulang.

Walaupun Rakawi Prapanca atau dikenal juga sebagai Mpu Prapanca, memuji Gajah Mada karena keberanian dan kekuatannya mempersatukan Nusantara, toh telah tergores pula akibat dari kekerasan itu sendiri. Persatuan yang dipaksakan memang pada akhirnya akan hancur sama seperti hancurnya Majapahit di tahun 1528.

Tapi dari sejarah kita juga belajar betapa rentan posisi kerajaan-kerajaan yang tidak bersatu di bawah Majapahit. Selain ancaman dari pasukan Khubilai Khan, pertempuran di antara kerajaan hanya memperlemah dan memusnahkan kerajaan itu sendiri.

Muhamad Yamin dalam bukunya menyatakan perlunya kita untuk menyadari dan berucap dari dalam sanubari:” Inilah daerah tumpah darah Persatuan Indonesia, seperti yang kami terima sebagai pusaka Nusantara di bawah lindungan negara Majapahit! Kesetiaan hati kepada daerah pusaka, tumpah darah Indonesia Daerah yang Delapan, selalu menimbulkan rasa kedaulatan daerah negara Indonesia seperti yang sedang dibentuk oleh Angkatan Bangsa Indonesia pada waktu sekarang. Peninggalan Majapahit, seperti yang diwariskan kepada kita oleh Gajah Mada, kita terima dengan penjagaan sepenuh hati, supaya dapat diturunkan lagi dengan sempurna kepada bangsa yang akan berumah tangga di atas tumpah darah Nusantara yang kekal abadi itu”.

Enam puluh dua tahun sudah berlalu sejak buku ini diterbitkan, tapi Indonesia tetap dalam bayang-bayang separatisme. Warisan yang diturunkan lebih banyak berupa hutang daripada rasa kebangsaan. Ketika Uni Eropa kini bergabung dalam satu wadah untuk memperkuat diri dalam posisi di dunia global, kita malah semakin terpuruk dalam perpecahan yang memperlemah posisi tawar Indonesia sebagai negara berdaulat.

Ada satu sifat Gajah Mada, yang juga hadir dalam falsafah wayang, yaitu “anayaken musuh” (memusnahkan musuh) yang masih juga diartikan secara harafiah. Menurut saya falsafah ini harusnya sudah diperbaharui dengan kesadaran bahwa musuh utama yang harus diperangi adalah kebodohan dan kemiskinan. Dengan bebas dari kebodohan dan kemiskinan maka barulah kita bisa menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka. Inilah musuh sesungguhnya yang harus diperangi! Dengan musnahnya kebodohan dan kemiskinan dari muka bumi Indonesia maka dalam generasi berikut yang tampil rasa persatuan dan kesatuan bukan lagi suatu yang dipaksakan melainkan memang berasal dari kesadaran pribadi.

Terus terang saya menyayangkan terpisahnya Timor Leste dari Indonesia. Nasi sudah menjadi bubur, tapi politik kekerasan masih belum juga ditinggalkan. Maka marilah kita bersama-sama berjuang untuk persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan dengan senjata dan kekerasan tapi dengan tenaga dan sikap hidup. Menghargai pendapat orang lain, mencintai sesama, dan bersama-sama mencari upaya untuk peningkatan taraf hidup bersama! Berjuang untuk merdeka dalam satu kesatuan sebagai bangsa. Berusaha mencapai arti kemerdekaan yang sesungguhnya!. Jumat, 15-06-2007 15:25:30

(Sumber: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2719)

2 thoughts on “Dari Nusantara Menjadi Indonesia

  1. Bagus juga tulisannya. Tapi ada bebrapa hal yang menjadi catatan, sbb:
    Pertama, tulisan ini amat nasionalis, kayanya penuis cinta abiss sama Indonesia (sama dwonxx!!)
    Kedua, penggagas nama Indonesia pertama bukan James Richard Logan, tetapi Jhon Richardson Logan.
    Ketiga, masih adakah orang seperti gajah mada, yang berjuang menghabiskan hidupnya untuk persatuan Indonesia???

  2. wah, iya aku kurang cek dan ricek ya…namanya bukan James Richardson Logan, ini setelah recek ke id.wikipedia. Terima kasih pak komentarnya, kapan ikutan menulis?
    ——————-
    saya menulis di blog pribadi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s