UAN 2008: Siswaku Tidak Lulus Karena Pengawas Galak!!!

Malam Jum’at tanggal 12 Juni 2008, bebrapa guru masih tetap di sekolah, saya dan Tim SAS merasa agak janggal karena biasanya kamilah yang gemar pulang malam. Pemandangan tidak biasa ini adalah usaha untuk menunggu hasil UAN yang dihadiri Kepsek, wakil-wakilnya, dan kami. Sekitar pukul 22.00, hasil yang diharapcemaskan akhirnya datang. Siswa IPS ada yang tidak lulus, saya menyayangkan sekaligus sedih. Beberapa hari lalu, teman berkata: “sekolah kita paling banyak yang tidak lulus”.

Kini, kenyataan tersebut sudah berselang tujuh hari. Selama itu, saya tidak berkesempatan berbicara panjang, hanya mengucapkan kata-kata yang menyemangati mereka. Baru hari ini, 19 Juni 2008, saya banyak bicara dengan anak yang tidak lulus. kesempatan ini karena saya ditugasi oleh pihak sekolah untuk memberikan tambahan ilmu guna menghadapi ujian Paket C. Kami mulai pukul 08-09 WIB, setengah jam setelah pertemuan di kelas, saya langsung menulis di blog ini.

Mata pelajaran yang saya ampu, seluruhnya lulus (baca: tidak menyebabkan siswa tidak lulus), jadi apa yang saya harus sampaikan tidak terlalu banyak, dan tidak menjadi beban. Jadi, sekitar 15 menit di awal pembelajaran saya gunakan untuk memotivasi mereka. Dalam proses tersebut, beberapa siswa yang ikut program ini, sekolah menyebutnya : PM, kemudian terjadilah pembicaraan yang serius, mereka curhat. Mereka mengungkapkan “mengapa Mereka Tidak Lulus”. Mereka menceritakan bagaimana sikap yang tidak bersahabat yang ditampilkan pengawas ujian. Ketika ada siswa yang bergerak sedikit, langsung diteriaki: jangan nyontek. Bahkan, pengawas gemar bolak-balik di ruang kelas; ke depan dan ke belakang. Bahkan lagi, ada yang duduk di samping siswa saat ujian berlangsung plus tanya-tanya. muka pengawas yang menegangkan semakin membuat tegang terhadap siswa yang duduk di muka kelas. Suasana kelas menjadi tidak nyaman, dan mata pelajaran yang di ujikan dalam keadaan inilah yang menghasilkan nilai buruk bagi siswa. Karena pengalaman yang tidak akan dilupakan ini, siswa saya menghafalkan guru yang ketika itu membuat kelas menjadi tidak nyaman. Siswaku dengan tegas berkata: “guru tersebut berasal dari SMAN (?), yang badannya besar kaya “bagong””. Demikian, rangkuman hasil pembicaraan dengan siswaku yang dalam UAN tahun ini, dinyatakan tidak lulus oleh pemerintah.

Saya bergumam, jangan-jangan ini adalah pembelaan mereka karena harus ada yang “dikambinghitamkan”. Setelah saya tanyakan apakah mereka belajar selama ini, mereka dengan percaya diri menjawab: “iya saya belajar”, lalu menceritakan sejarahnya. Dapat contekan?, mereka dengan jujurnya berkata: “memang Pak ada contekan, tapi kami tidak memamakinya, banyak yang salah, ngak percaya!!”. Diluar siswa yang bagus ini, memang ada siswa yang tidak lulus karena kemampuannya, dan dalam proses pembelajaran sudah dapat terbaca dengan baik. Tidak perlu dibahas. Namun, seperti cerita di atas, dimana siswa saya yang belajar lalu tidak lulus karena pengawas galak, ada pula yang amat disayangkan. Salah satu murid yang sudah diterima di UGM dengan jalu ujian mandiri (bukan UMB dan SPMB), terancam tidak bisa meneruskan impiannya karena tidak lulus. Siapakah yang harus bertanggungjawab dalam hal ini?, apalagi saya tahu persis bagaimana kemampuannya, dan itu tidak subyektif. Seluruh guru mengatakan anak tersebut anak pintar.

Berdasarkan peristiwa itulah, seyogyanya pembenahan harus banyak dan segera dilakukan, ditindaklanjuti. Seharusnya pihak sekolah (kita) mewanti-wanti agar pengawas mengkondisikan kelas lebih nyaman, karena kenyamanan salah satu kunci konsentrasi yang kemudian melancarkan laju pengisisn lembar ujian. Apabila di langgar, sekolah wajib menegur. Di pihakpengawas, harus lebih mawas diri, introspeksi bahwa kedatangannya kesekolah lain, bukan hanya mengawasi ujian, akan tetapi menyukseskan proses ujian. Artinya, perlakukanlah siswa siswa sebaik mungkin, dan bermartabat. Dan, tulisan yang berasal dari curhat murid saya, dengan menyebutkan nama sekolah tertentu, tidaklah bertujuan menyudutkan apalagi usaha membunuh karakter tertentu, akan tetapi hanya sekedar menuangkan data apa adanya, soal kejujuran diutamakan, serta sebagai bahan introspeksi bagi kita semua. Semoga. Sebagai penutup, tulisan ini merupakan bagian dari proses belajar dari sejarah, yakni belajar untuk tidak mengulagi lagi pada kesalahan yang sama maupun yang baru dengan maksud menuju kehidupan dan pencapaian yang lebih baik, yang demikian itulah tindakan mulia guna memperoleh kebijaksanaan dalam hidup.

2 thoughts on “UAN 2008: Siswaku Tidak Lulus Karena Pengawas Galak!!!

  1. guru yang bijak…..gak nyangka padahal dulu elo kaya gitu ya …eh sekarang malah elo yg jadi gurunya..
    ————————
    people change, man!!!

  2. Salam kenal mas Sucipto, tulisan Bapak Bagus, tapi sedikit saya beri tanggapan. Pengawas UN adalah seorang guru yang bertindak mengawasi murid yang sedang ujian dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas yaitu ujian lancar tanpa kecurangan. Tetapi kenyataan di lapangan, justru sebaliknya, pengawas yang menjalankan SOP dengan baik justru menjadi pesakitan dan menjadi sasaran kemarahan anak yang tidak lulus. Menurut saya, lulus dan tidaknya bukan karena faktor pengawas tetapi kesiapan diri si anak menghadapi UN. Matur nuwun
    ——————
    Salam kenal juga mas ardan. Pendapat anda yang menyatakan: “lulus dan tidaknya bukan karena faktor pengawas tetapi kesiapan diri si anak menghadapi UN” adalah pernyataan yang tidak tepat, sekaligus menyesatkan. Kalau anda baca dengan hati-hati tulisan saya (anda baca, ngak??), disitu jelas bahwa murid saya sudah belajar, namun tidak lulus. Dalam artian, seharusnya, ketidaklulusan itu dipengaruhi oleh faktor internal (dalam diri siswa, termasuk kesiapan belajar) dan eksternal (lingkungan, termasuk pengawas ujian). Dan, saya mengungkapkan hal tersebut dalam tulisan.

    Dengan demikian, pendapat anda menisbikan faktor eksternal, padahal fakta menunjukkan banyak siswa yang mendapat medali, juara, kemudian tidak lulus UN (baca: kurang pandaikan mereka?). Dan, ini menyesatkan, karena anda menyingkirkan faktor yang secara nyata, nyata adanya….

    Terima kasih telah berbagi pendapat, selamat berpikir (kembali)….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s