Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2008

Senengnya baca pengumuman dari Aida di Buku Tamu SAS Online DKI…

Mulai tanggal 21 Juli 2008, milis SAS dapat diakses oleh umum, setelah sekian lama ditutup. Bahkan, sekarang, jauh lebih terbuka. Akhirnya, Tim Pengembang SAS DKI akhirnya berani membuka diri. Tahan kritikan?….
(more…)

Advertisements

Read Full Post »

BAGIAN SATU : ARTIKEL

Judul Artikel : KONTROVERSI SEJARAH DAN “KURIKULUM EKSPERIMEN” Oleh: Suparman

Sumber : http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=3549 KONTROVERSI SEJARAH DAN “KURIKULUM EKSPERIMEN”

Ada apa lagi dengan kurikulum sejarah? Itulah pertanyaan yang muncul di benak kita ketika mendengar berita terkait pelarangan beredarnya buku-buku teks sejarah untuk SMP-SMA sederajat oleh Kejaksaan Agung. Sebelum pelarangan itu dilakukan, beberapa waktu lalu kita pun sudah disuguhi pemberitaan terkait diperiksanya kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) oleh Kejaksaan Agung. Pemeriksaan itu dilakukan terkait dengan beredarnya buku sejarah untuk SMP-SMA sederajat yang tidak mencantumkan kata PKI di belakang penyebutan G 30 S (Gerakan 30 September), salah satu peristiwa sejarah politik yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1965. Pertanyaan ini wajar muncul karena memang sudah sejak lama pelajaran sejarah di sekolah sering menimbulkan kontroversi. Sebut saja di antaranya keberadaan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang mengundang reaksi. PSPB dinilai sarat dengan kepentingan politik untuk melestarikan kekuasaan Orde Baru melalui penanaman “nilai-nilai” sejarah perjuangan bangsa sejak kemerdekaan sampai masa pemerintahan Orde Baru. Ada lagi soal konflik dalam penyusunan buku babon setebal enam jilid berjudul Sejarah Nasional Indonesia, yang berakhir dengan mundurnya beberapa sejarawan penulisnya yang ingin tetap mempertahankan prinsip akademis daripada harus mengikuti kemauan penguasa. (Asvi Warman Adam, Pengantar dalam Berpikir Historis, 2006).
(more…)

Read Full Post »

Oleh: Doni Koesoema A
Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education, Boston

Polemik seputar tujuan ujian nasional, seperti penentuan siapa yang berwenang meluluskan siswa, tidak muncul dalam diskusi tentang ujian akhir sekolah berstandar nasional atau UASBN SD/MI/SLB.

Mengapa? Karena semua telah ditebus dalam 11 ayat 1 Permen No 37/2007 yang mengatakan, ”kriteria kelulusan UASBN Tahun Pelajaran 2007/2008 ditetapkan oleh tiap sekolah/madrasah yang peserta didiknya mengikuti UASBN.”
(more…)

Read Full Post »

Oleh: M. Didi Darsono, M.A.
Wakil Ketua Pelaksana Yayasan Pendidikan Gamaliel

Mencermati penjelasan Ade Irawan, Koordinator Bidang Monitoring dan Pelayanan Umum Indonesia Corruption Watch (ICW) di sebuah harian di Makassar tentang kebocoran soal ujian nasional dan tulisan Budhi A M Syachrum, S.Pd tentang model-model kecurangan yang dapat dilakukan oleh guru yang ingin membantu siswanya, maka ujian nasional telah menjadi kekuatiran bagi banyak pihak, baik pihak penguji, pihak yang diuji maupun pihak penyelenggara pendidikan.

Pihak penguji, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan mengkuatirkan terjadinya kebocoran soal-soal ujian. Oleh sebab itu mereka melakukan pengawalan ekstra ketat terhadap soal-soal ujian hingga melibatkan pihak kepolisian lebih besar lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
(more…)

Read Full Post »

Oleh: M Agus Nuryatno
Staf pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, sedang belajar di McGill University

SECARA kebetulan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei bertepatan dengan meninggalnya filosof pendidikan terkemuka abad ke-20, Paulo Freire, pada 2 Mei 1997. Tulisan ini dimaksudkan sebagai renungan memperingati Hardiknas dengan mendiskusikan pemikiran Freire dan kemungkinan dikontekstualisasikan di Indonesia.

Untuk menggambarkan betapa pentingnya Freire dalam dunia pendidikan bisa disimak dari statemen Moacir Gadotti dan Carlos Alberto Torres (1997) “Educators can be with Freire or against Freire, but not without Freire.” Pernyataan ini menunjukkan signifikansi Freire dalam diskursus pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia (ada sembilan buku yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia). Sebagai seorang humanis-revolusioner, Freire menunjukkan kecintaannya yang tinggi kepada manusia. Dengan kepercayaan ini ia berjuang untuk menegakkan sebuah dunia yang “menos feio, menos malvado, menos desumano” (less ugly, less cruel, less inhumane).
(more…)

Read Full Post »

Oleh: Nakoela Soenarta
Guru Besar Ilmu Teknik Mesin di FTUI, ISTN, dan FTUP

BIAYA pendidikan akademis tidak pernah murah. Yang membuat biaya pendidikan terlihat tinggi karena dibandingkan dengan penghasilan rata-rata rakyat Indonesia.

Di zaman kolonial Belanda, pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universitas. Mereka mendirikan hogeschool agar lulusan dapat membantu mission mereka menjajah rakyat Indonesia dengan mudah karena dapat memanfaatkan tenaga inlanders untuk diangkat sebagai pembantu utamanya.
(more…)

Read Full Post »

Oleh:

Syamsir Alam Mantan Staf Teknis Puspendik, Balitbang Depdiknas

UJIAN (Akhir) Nasional alias UN selama ini sepertinya hanya diperlakukan semacam upacara ritual tahunan tanpa
memberikan pengaruh berarti terhadap upaya pembina dan pengelola serta pelaksana pendidikan pada tingkat sekolah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Masukan berupa informasi pendidikan yang diperoleh lewat Ujian Akhir Nasional hanya diperlakukan sebagai barang pajangan dan menjadi dokumen mati.

APABILA sumber data ujian itu dipakai, pemanfaatannya pun hanya sebatas pada bahan kajian beberapa peneliti Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) untuk kepentingan cum jabatan peneliti; sedangkan para pejabat pengelola kebijakan pada tingkat pusat (direktorat, Puspendik, dan pusat kurikulum) hampir dapat dipastikan tidak akan menyentuh dan memperbincangkannya lagi sampai masa ujian berikutnya.
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: