KTSP, Murid Di Sekolah Hingga Sore Hari, haruskah? “entahlah”

Entah pihak mana yang memulai kebijakan dan atau penerapan jam belajar hingga sore untuk anak didik, khususnya SMA di DKI Jakarta. Entah pula, adakah suatu kajian secara ilmiah yang menjelaskan fenomena ini bagi kemajuan anak didik dan pendidikan di kota besar ini. Entah pula lagi, kenapa terkesan sang pemerintah bersikap “entahlah” terhadap perkembangan ini.

Bagi pihak keluarga yang terbilang sibuk, amat terbantu dengan kebijakan sekolah yang lebih lama menempatkan anak didiknya di sekolah. Sekolah jadi tempat terpercaya agar anak tidak nakal, atau mungkin sebagai tempat penitipan anak, atau pula sebagai tempat bermain?. Bagi keluarga yang tidak peduli terhadap perkembangan anaknya di sekolah akan tidak keberatan, karena mereka yakin kebijakan sekolah berstatus baik untuk masa depan anaknya. Namun apakah yang terjadi kini adalah sebuah harga mati yang menyiratkan “everything is fine”?, mengejar target UAN? atau, entahlah?.

Ketika mayoritas SMA di DKI Jakarta memiliki kebijakan sekolah menghentikan jam belajar sekitar pukul 12-an, tidak jarang ini dituding sebagai kesempatan terjadinya aksi tauran antar sekolah yang marak tahun 1990-an. Sehingga jam belajar ditambahkan, seringkali kegiatan ekskul digalakkan pula. Memang cukup berhasil, dan trend tahun 2000-an, terutama sejak ada UAN, maka pulangnya siswa hingga sore hari adalah bagian dari usaha sekolah untuk mempersiapkannya, jam belajar ditambah dengan istilah PM (Pendalaman Materi).

Beberapa orang, bahkan guru meyakini bahwa belajar lebih banyak adalah usaha yang baik dalam membekali anak didik dikemudian hari. Keyakinan ini diterapkan di SMA, dengan KTSP yang seharusnya lebih fleksibel dan mengutamakan kepentingan anak didik, ternyata diterjemahkan masih dengan gaya lama. Jam belajar semakin tambah, rasanya semakin sulit saja anak didik menikmati hidup. Sepuluh jam di dalam sekolah (asumsi: berangkat ke sekolah pukul 6, pulang pukul 16 sore), dan di rumah hanya 6 jam (Asumsi: tidur pukul 22). Siswa bahkan melebihi seperti pekerja. Pekerja berangkat pagi, pulang sore, malam bercengkrama dengan keluarganya. Namun siswa Jakarta lebih dari itu, pulang pukul 16 langsung istirahat, bersih-bersih dan santap malam hingga pukul 19, kemudian mengulang pelajaran dan aktivitas belajar lainnya hingga pukul 21-22, apabila tidak ketiduran karena lelah).

Hak anak didik (baca: anak manusia) seakan terampas oleh kebijakan yang mengharuskan mereka tinggal lebih lama di sekolah. Mereka sulit mencerna apa itu yang namanya bermain, berinteraksi, kenal satu sama lain, bahkan dengan tetangganya saja tidak kenal. Sibuk sekolah, kilah mereka. Lalu, jangan aneh kalau kemudian anak Jakarta individualis, egois, dan tidak bersahabat (sejenis dengan sombong).

Seharusnya pihak sekolah jangan terlalu memaksakan kehendaknya untuk menerapkan KTSP dengan mengorbankan jam main mereka dengan menggantikannya dengan jam belajar, baik itu yang reguler atau tambahan. Yang harusnya dibenahi adalah pengefektifaan proses pembelajaran sekaligus berdampak kepada jam belajar yang tidak membengkak. Buatlah di setiap mata pelajaran dengan sistem team teaching, selain untuk sebuah perhatian yang lebih fokus karena jumlah siswa yang banyak, juga mengembangkan suatu kerja tim yang solid. Student oriented dan studen centered yang diamanatkan dalam KTSP, saya kira cukup terpenuhi, dan lagi-lagi, guru harus diberdayakan sedemikian rupa.

Saya amat meyakini, bahwa membengkaknya jam belajar SMA di DKI Jakarta, disebabkan perkembangan perubahan berbagai kebijakan di negeri ini.

1. Adanya UAN, tambah jam belajar

2. Contoh luar negeri: pulang sore, DKI Jakarta ikuuuuut

3. Orang Tua yang sibuk, siswa hanya bertemu Sabtu (Minggu, belum tentu)

4. Melengkapi no. 4, jam belajar dipadatkan, Senin-Jum’at

5. Ketidak beranian guru dalam mengembangkan KTSP sesuai kondisi siswa dan lingkungan belajar

Seharusnya kenyataan di atas ditanggapi secara hati-hati dengan sikap profesional. Jangan ada lagi menunggu perintah dari Dinas selama untuk kebaikan anak didik (Sabtu libur di DKI Jakarta adalah perintah Dikmenti). Tinggalkan mental yang penting “ngak merepotkan guru”, kenapa? karena dengan pola tersebut, siswalah yang terbebani nantinya, baik itu mencari informasi materi belajar, tugas yang berlimpah, juga proses pembelajaran yang “asal”, asal ngajar, asal ujian, asal nilai (baca: dengan asal, guru ngak repot). Inibelum terhitung dengan penilaian Online SAS yang menjadikannya semakin parah, gurunya asal-asalan, SAS membuka peluang. Jadi, jangan kaget kalau pendidikan di Jakarta selalu tertinggal dengan wilayah lain di Indonesia.

Guru dan kepala sekolah harus profesional, artinya mengembangkan dengan potensi yang dimiliki, dan bukan menjadi pegawai birokratif yang hanya menunggu instruksi dari “atasan”. Hancurkan mental “dijajah” yang hanya bergerak kalau ada perintah atau diperintahkan, dirikanlah mental merdeka yang mengedepankan inisiatif dan bertindak merdeka pula.

Kebijakan pihak pemerintah, yang diterapkan oleh pihak sekolah tentang menempatkan siswa lebih lama di sekolah harus segera dihentikan, minimal harus ada kajian yang lebih transparan sekaligus ilmiah. Sehingga, penerapan KTSP dengan mengedepankan hak hidup anak manusis dapat terealisir dengan baik, sembari membenahi berbagai regulasi dan tindakan bagi pembinaan kepala sekolah dan guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s