Ujian Nasional & Pendidikan Holistik

Oleh: M. Didi Darsono, M.A.
Wakil Ketua Pelaksana Yayasan Pendidikan Gamaliel

Mencermati penjelasan Ade Irawan, Koordinator Bidang Monitoring dan Pelayanan Umum Indonesia Corruption Watch (ICW) di sebuah harian di Makassar tentang kebocoran soal ujian nasional dan tulisan Budhi A M Syachrum, S.Pd tentang model-model kecurangan yang dapat dilakukan oleh guru yang ingin membantu siswanya, maka ujian nasional telah menjadi kekuatiran bagi banyak pihak, baik pihak penguji, pihak yang diuji maupun pihak penyelenggara pendidikan.

Pihak penguji, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan mengkuatirkan terjadinya kebocoran soal-soal ujian. Oleh sebab itu mereka melakukan pengawalan ekstra ketat terhadap soal-soal ujian hingga melibatkan pihak kepolisian lebih besar lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selanjutnya pihak yang diuji, dalam hal ini para siswa, kuatir tidak dapat lulus ujian. Oleh sebab itu mereka berusaha mendapatkan bocoran soal-soal ujian, dengan tujuan agar dapat lulus ujian. Sedangkan dari pihak penyelenggara pendidikan, dalam hal ini pihak yayasan, kepala sekolah atau guru, demi mempertahankan atau meningkatkan prestise lembaganya, mereka rela berbuat curang.

Berbagai macam cara ditempuh oleh para penyelenggara pendidikan agar tingkat kelulusan bisa mencapai 100 persen. Sebab sudah tertanam dalam benak publik bahwa sekolah yang berhasil mencapai kelulusan 100 persen adalah sekolah yang terbaik dan akan diminati oleh masyarakat.

Namun jika memperhatikan tulisan Budhi AM Syachrum, maka betapapun ketatnya pengawalan yang dilakukan akan sia-sia saja. Sebab menurutnya, kecurangan itu bukan saja terjadi pada saat pendistribusian soal, tetapi dapat terjadi pada saat ujian nasional tersebut berlangsung.

Masalah mau berbuat curang atau tidak, semua itu memang bergantung pada hati nurani masing-masing. Memang hati nurani dapat berfungsi mengarahkan seseorang pada jalan yang benar. Masalah apakah mereka mau berbuat curang atau tidak itu tergantung dari keputusan yang diambil, apakah mereka mau menuruti suara hati nurani atau tidak.

Hati Nurani

Dan kenyataanya, suara hati nurani tidak selamanya dapat diandalkan, sebab hati nurani bisa menjadi “tumpul” atau tidak lagi menyarakan kebenaran, ketika manusia secara sadar dan terus-menerus menolak suara hati nurani. Juga kecurangan tidak dapat dihentikan hanya melalui himbauan-himbauan saja. Diperlukan suatu sistem agar kecurangan itu tidak terjadi lagi dan mutu pendidikan tetap dapat ditingkatkan sesuai dengan ukuran yang diharapkan.

Untuk itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengusulkan untuk kembali pada apa yang pernah dikembangkan pada tahun 2004, melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi yang menerapkan model “Pendidikan Holistik Berbasis Karakter”. Model pendidikan holistik adalah pendidikan yang secara eksplisit ditujukan untuk mengembangkan seluruh aspek manusia, yaitu aspek akademik (kognitif), emosi, sosial, spiritual, motorik dan kreativitas.

Dalam model pendidikan seperti ini, pendidikan benar-benar ditujukan untuk memanusiakan manusia, sebab seorang siswa diperhatikan sebagai pribadi yang utuh. Model pendidikan holistik ini sudah menjadi acuan di banyak negara maju dan dianggap cocok untuk menjawab tantangan zaman di abad 21 ini.

Untuk merealisasikan model pendidikan ini, dibutuhkan perubahan paradigma dalam pendidikan karena sangat diperlukan metode dan strategi yang berbeda. Selain metode dan strategi pembelajaran yang berbeda, sistem penilaian juga harus berbeda. Penilaian untuk penentuan kelulusanpun harus diberikan dengan pertimbangan secara holistik.

Menurut hemat penulis, penentuan kelulusan melalui ujian nasional merupakan penilaian yang tidak adil, karena siswa hanya diuji pada aspek kognitif saja dan bersifat temporer tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi siswa pada saat mengikuti ujian. Sedangkan aspek lain yang juga penting tidak diberikan penilaian.

Sembilan Kecerdasan

Menurut Howard Gardner, pencetus Multiple Inteligensia, aspek kognitif itu hanya sebagian kecil dari aspek-aspek yang lain yang tidak kalah pentingnya untuk dikembangkan. Dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind, Gardner menyebutkan ada sembilan kecerdasan yang dapat dikembangkan, yaitu, kecerdasan liguistik yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka membaca, menulis, bercerita, bermain kata dan menjelaskan. Biasanya mereka berhasil dalam bidang pemberitaan, jurnalistik, berpidato, debat, percakapan dan lain-lain.

Ada pula yang disebut kecerdasan logis atau matematis yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka bereksperimen, bertanya, memecahkan teka-teki dan berhitung. Biasanya mereka berhasil dalam bidang matematika, akutansi, program komputer, perbankan dan lain-lain.

Sementara, kecerdasan spatial atau visual yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini senang mendisain, menggambar, membuat sketsa, menvisualisasikan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik antara lain membuat peta, fotografi, melukis, desain rencang bangun dan lain- lain.

Sedangkan kecerdasan body atau kenestetik yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka menari, berlari, membangun, menyentuh, bergerak dan kegiatan fisik lainnya. Biasanya mereka akan cemerlang dalam olah raga, seni tari, seni pahat, dan sebagainya.

Kecerdasan Musical adalah murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini gemar menyanyi, bersiul, bersenandung, menghentak-hentakkan kaki atau tangan, mendengar bunyi-bunyian. Murid yang mempunyai kecenderungan ini akan sukses dalam bernyanyi, menggubah lagu, memainkan alat musik dan lain-lain.

Ada juga yang disebut kecerdasan interpersonal yaitu murid yang memiliki cenderung pada kecerdasan ini suka memimpin, mengatur, menghubungkan, bekerja sama, berpesta dll. Pada umumnya mereka berhasil dalam pekerjaan guru, pekerja sosial, pemimpin kelompok, organisasi, politik.

Ada pula yang dikenal dengan sebutan kecerdasan intrapersonal yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka mengkhayal, berdiam diri, merencanakan, menetapkan tujuan, refleksi. Biasanya mereka cemerlang dalam filsafat, menulis penelitian dan sebagainya.

Sedangkan, kecerdasan natural yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini senang berjalan, berkemah, berhubungan dengan alam terbuka, tumbuh-tumbuhan, hewan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik adalah botani, lingkungan hidup, kedokteran dan lain-lain.

Dikenal pula sebutan kecerdasaneEksistensialis yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini biasanya suka berfilsafat, suka agama, kebudayaan dan isu-isu sosial. Pada umumnya mereka berhasil dalam bidang keagamaan dan psikologi.

Untuk itu, sekolah harus memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Sekolah juga berkewajiban memberikan penilaian secara jujur dan proporsonal terhadap perkembangan setiap aspek siswa agar tingkat perkembangannya dapat diukur dan diarahkan. Sistem pendidikan holistik yang mengembangkan setiap potensi siswa akan membuat membuat proses belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan (learning is fun).

Mengacu ke AS
Sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia ini mengacu kepada sistem yang dipakai di Amerika Serikat. Tetapi sistem ini sudah ditinggalkan Amerika Serikat sejak sepuluh tahun yang lalu. Mereka justru telah lama menyadari bahwa sistem pendidikan yang menekankan potensi IQ hanya mengakomodir 10 persen saja dari seluruh jumlah penduduknya, sedangkan yang lainnya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia meninggalkan sistem pendidikan yang sudah lama ditinggalkan oleh Amerika Serikat tersebut. Terlebih lagi setelah diberlakukannya kurikulum tahun 2006 yang disebut KTSP atau Kurikulum Tingkat Stuan Pendidikan.. Sebenarnya, KTSP ini merupakan revisi yang menyempurnakan kurikulum tahun 2004.

Dengan diterapkannya KTSP, maka terjadi pula perubahan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi, dimana daerah, dalam hal ini lembaga sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, maka ujian nasional tidak sesuai dengan jiwa KTSP.

Mengubah Paradigma
Banyak penyelenggara pendidikan yang telah mulai mencari terobosan baru dengan mengubah paradigma, sistem pembelajaran, setting kelas dan menyediakan fasilitas agar pengembangan siswa secara holistik itu dapat tercapai.

Namun semuanya itu masih terkendala di pihak birokrasi. Para kepala sekolah dan guru yang telah mendapat pelatihan metode pembelajaran yang holistik tidak berani segera melakukan perubahan, karena para penilik sekolah dari dinas pendidikan yang datang selalu menanyakan hal-hal yang sudah baku saja.

Karena itu, perubahan paradigma baru pendidikan harus dimulai dari pihak birokrasi. Selain itu, ujian nasional juga telah menghacurkan karakter dasar (basic character) , yaitu kejujuran yang sangat dibutuhkan agar seseorang dapat hidup bermasyarakat dan bernegara. Justru dengan adanya ujian nasional ini, karakter para pendidik dan peserta didik runtuh demi mendapatkan sebuah prestise dan mempertahankan jabatan serta demi selembar ijazah.

Padahal berlaku pepatah dalam masyarakat bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Apa jadinya dengan bangsa ini jika sejak dari bangku sekolah ini mereka sudah terbiasa berbuat curang ? Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional perlu mengkaji ulang, apakah ujian nasional ini telah mencapai hasil yang diharapkan.

Banyaknya catatan mengenai kecurangan pada saat ujian nasional dan terpuruknya pendidikan di negeri ini kiranya mengingatkan pemerintah untuk segera membenahi sistem pendidikan di negeri ini.

Sumber: http://www.tribun-timur.com/view.php?id=76056&jenis=Opini
(Sumber: http://www.duniaesai.com/pendidikan/didik20.html)

One thought on “Ujian Nasional & Pendidikan Holistik

  1. Lalu, apa yang paling harus dilakukan pemerintah untuk segera mngentaskan pendidikan Indonesia dari keterpurukan?
    —————-
    Banyak……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s