Ketika Sejarah Berseragam: Telanjangi ABRI!!!

Seorang teman dengan semringahnya berkata: “baca neh buku, manstaf banget, tentang ABRI jaman Orde Baru, Disertasi lagi”…Saya tertarik membacanya, dan memang benar: manstaf, tanpa hoax!!!

Buku ini menceritakan tentang bagaimana sejarah di Indonesia dibangun, sebagai representasi sebuah usaha mempertahankan kekuasaan (Orde Baru). Hasil disertasi disalahsatu universitas di Australia ini, berbeda dari tulisan ilmiah lainnya, yang pada umumnya bertitik berat kepada dwi fungsi ABRI, misalnya. Buku yang terlebih dahulu terbit menggunakan bahasa Inggris tahun 2007, juga menyuguhkan bagaimana dampak dari usaha militer Indonesia tersebut. Ternyata, keyakinan saya selama ini semakin kuat, bahwa sejarah itu amat mungkin aplikatif seperti yang diragukan orang lain: sejarah hanya hafalan, teoritik.

ABRI membangun sebuah “dongeng, mitos” hampir ke seluruh lini kehidupan, melalui pendidikan, pers, televisi, dan museum. Selain rasa nasionalisme Indonesia terbangun, pikiran membodohkan mengikutinya. Alhasil, manusia Indonesia sulit berbeda pendapat, maklumlah kita didik untuk selalu sama, satu komando: ciri khas militeristik. Nogroho Notosusanto bertanggungjawab dalam hal ini.

Terlepas dari kecerdasan militer dalam membodohkan anak bangsa karena mengabdi kepada kekuasaan (Orde Baru), buku ini menarik untuk dibaca, terutama bagi generasi muda, termasuk saya.Jika anda tertarik membacanya, berikut pengantar dari sejarawan Belanda dan generasi baru sejarawan Indonesia yang seringkali berseberangan dengan Sartono Kartodirjo:

Ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer.


Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru. Buku ini mencermati banyak dari kejadian tersebut yang kemudian diakrabi oleh anak-anak sekolah yang tumbuh di bawah Orde Baru, lalu menganalisis metode dan pendekatan yang digunakan para pembuat sejarah di masa Orde Baru, seperti Nugroho Notosusanto dalam menggambarkan dan menafsirkan kejadian-kejadian ini.

—Henk Schulte Nordholt, Kepala Penelitian KITLV Leiden

Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia sebagai hasil dari perbenturan antara kolonialisme dan imperialisme melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu. Orde Baru hanya menggantikan Soekarno dengan militer, sementara itu para penentang Pancasila khususnya komunisme dan Islam ekstrimis telah menggantikan posisi kolonialisme dan imperialisme sebagai kambing hitam.

—Bambang Purwanto, Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada

(kutipan diambil dari : http://www.syarikat.org/article/ketika-sejarah-berseragam)

Setelah membaca buku ini, anda akan tahu:

1. ABRI adalah organisasi cerdas

2. Sejarah amat berbahaya di tangan militer

3. Sejarah senjata yang ampuh untuk nasionalisme

4. Sejarah berfungsi teoritik sekaligus aplikatif

5. ABRI habis ditelanjangi….

Ada yang mau tambah ????

———–

Senin, 22 Juni 2009,  saat surfing, ada tulisan terkait dengan tulisan diatas. Berikut isinya…

Empat Catatan Membaca Buku Ketika Sejarah Berseragam

Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti.

Pertama,

Kate McGregor dalam bukunya Ketika Sejarah Berseragam mengakui di bagian pendahuluannya, bahwa dengan momen lengsernya Suharto, bukunya itu menjadi suatu rekaman beku tentang cara militer merekam masa lalu selama niasa Orde Baru (ha1.32)

ketika1.jpgNamun, bagi saya, hal yang menarik, pertama-tama bukan hanya pada bagaimana masa lalu dikonstruksikan namun pada kesadaran bagaimana gambaran mengenai masa lalu tersebut dipaksakan. Bukan hanya pada cara mengonstruksi masa lalu, tetapi pada bagaimana konstruksi mengenai masa lalu tersebut dipaksakan menjadi narasi (supaya) kolektif. Menjadi narasi yang (di)resmi(kan), demikian kata Kate (ha1.10). Buku Ketika Sejarah Berseragam setidaknya sangat menarik untuk memberi petunjuk: tentang bagaimana cara mengonstruksi masa lalu, sekaligus bagaimana cara tersebut juga menjadi sarana pemaksaan atau intimidasi konstruksi mengenai masa lalu Indonesia.

Pemahaman pada soal sarana (bukan sekedar cara) pemaksaan konstruksi masa lalu ini sangat penting bagi saya, setidaknya untuk membantu menjawab pertanyaan: Bagaimanakah cara saya membaca – tepatnya menggambarkan – buku Ketika Sejarah Berseragam? Ini pertanyaan penting bagi posisi pembacaan. Setidaknya, saya sebagai warga sebuah negara bangsa Indonesia sejak lahir. Saya, sebagai manusia yang dihasilkan dari mengenyam ajaran dan produk-produk keseragaman historiografi Indonesia melalui pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi, termasuk melalui produk-produk visualnya (film, museum, monumen, dil) yang disosialisasikan – tepatnya dipaksakan – secara terus-menerus.

Dengan memahami adanya sarana-sarana pemaksaan atau bentuk-bentuk intimidasi dalam mengonstruksi sejarah Indonesia, membaca buku Ketika Sejarah Berseragam tidaklah sepenuhnya menjadi beku. Pemahaman seperti ini tetap meletakkan militer (sebagai institusi maupun ideologi) sebagai bagian utama dari wacana dan tindak kekerasan, wacana dan tindak kriminalisasi, serta praktek manajemen ke(tidak)amanan dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia hingga sekarang.

Kedua,

ketika3.jpgHal lain yang menarik saya dalam Ketika Sejarah Berseragam, yaitu: Segala macam teks dan sarana dalam membangun historiografi masa lalu Indonesia sesungguhnya cermin dari kerapuhan dan keterbelahan di dalam tubuh elit kekuasaan yang didominasi oleh militer dalam rezim Orde Baru. Konflik dan konsolidasi elit kekuasaan yang didominasi oleh militer dalam rezim Orde Baru sesungguhnya menyebar dan disebarkan keluar melalui berbagai bentuk saluran atau teks (film, museum, monumen, buku ajar sejarah, hari-hari peringatan dan latihan-latihan indoktrinasi).

Seperti: muka buruk cermin dibelah. Lemah syahwat, istri dan orang lain disalahkan.

Ketiga,

ketika4.jpgDengan pemahaman adanya nalar paksaan atau ;ntimidasi (yang menelan banyak korban) dan cermin kerapuhan dalam tubuh militer sendiri di dalam produksi dan rzproduksi sejarah Indonesia, kita tidak cepat “menghakimi” berbagai macam teks, kejadian atau ekspresi yang terus terulang dalam keseharian masyarakat hingga hari ini. Apalagi men-cap-nya sebagai bentuk militerisasi. Misalnya: Bulan Agustus ini Museum Yogya Kembali tetap dikunjungi banyak pelajar, upacara penurunan bendera di kampung tetap dilaksanakan, juga lomba gerak jalan, pendirian pos ronda – gapura – patung-patung, dll.

Memang sih, Kate McGregor mengatakan, bahwa masyarakat Indonesia secara bersamaan dihadapkan pada berbagai sumber gambaran tentang masa lalu Indonesia, dan bahwa gambaran-gambaran ini berfungsi bersama-sama untuk membentuk kesadaran bersejarah bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksudkan oleh “militer” (ha1.13). Namun, Kate juga memeringatkan via Vickers, bahwa semakin versi militer dijaga begitu ketat, akan membuat orang meragukan kebenarannya. Semakin akan membuat orang terpesona pada yang ‘alternatif’(Ha1.186). .

Produksi dan reproduksi pos ronda, gapura, patung-patung, dll, misalnya,… tetap dibangun orang hingga hari ini, sesungguhnya tidak hanya menunjuk bahwa gambaran mereka dibangun tidak sepenuhnya tergantung pada order dan nalar rezim militer, tetapi tergantung pada kebutuhan massa dan juga pasar.

Keempat,

Jika historiografi negara bangsa merupakan meta-narasi yang sentralistik dan tidak adil (karena mengandung logika “the other”), dan jika sejarah nasional merupakan sesuatu yang abstrak untuk dikerjakan tanpa mengandung kekerasan, bagaimana kita menulis sejarah hari ini?

Jika “everything is illumination”, dan jika siapa saja ternyata bisa “menulis” sejarahnya sendiri di konteks sekarang, dimana posisi sejarawan hari ini?

Katherine McGregor, Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, Yogyakarta, Penerbit Syarikat, Mei 2008

Penulis dan Arsitek freelance

(Sumber: http://www.syarikat.org/article/catatan-bedah-buku-ketika-sejarah-berseragam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s