Lebaran, Idul Fitri sampai Eyde Fetr: Muslim Dunia Merayakan Kemenangan (Ijin copy-paste???)

Judul di atas sebenarnya ialah judul tulisan yang saya buat di blog ini kemarin, 16 September 2008. Tulisan tersebut saya copy-paste dari alamat berikut ini: http://kata-kata.com/2008/09/16/lebaran-idul-fitri-aidil-fitri-eid-ul-fitr-dan-eyde-fetr/

Tentunya dengan mengirim sebuah permohonan ijin copy-paste di blognya, kata-kata.com. Tapi entah mengapa hari ini masuk sebuah respon yang berbunyi: Pak, mohon dicantumkan sumber tulisan Bapak,karena ini adalah copy paste tanpa ijin dari penulisnya. Saya agak tersentak, dan selanjutnya saya kirim klarifikasi melalui blognya (lagi). Entah salah pada bagian mana?…

Sebenarnya tulisan tersebut bagus, tapi jadi ngak bagus karena penulisnya kurang teliti, padahal tulisan yang saya copy-paste sudah tercantum nama alamat blognya. Ya sudahlah….

Lebaran, Idul Fitri sampai Eyde Fetr: Muslim Dunia Merayakan Kemenangan

Idul Fitri sebentar lagi tiba (penulis merayakan Idul Fitri tahun lalu di Swedia), selain dari esensinya sebagai penanda berakhirnya puasa dan tanda penyucian diri setelah menahan nafsu, Idul Fitri bagaimanapun adalah sebuah perayaan dunia. Diseluruh dunia dirayakan dengan beragam cara sesuai budaya dan konteksnya:

Indonesia

Idul Fitri di Indonesia adalah perayaan terbesar bagi bangsa dan mungkin juga perayaan Idul Fitri paling meriah di dunia. Sangat khas. Ditandai dengan takbir akbar pada hari terakhir puasa, takbiran keliling dengan kendaraan terbuka dan bedug, dilanjutkan dengan sholat id di lapangan-lapangan esok paginya. Hari Lebaran dibuka dengan acara Halal bi halal, sebuah ciri khas perayaan hari raya Idul Fitri di Indonesia. Mudik, sungkem ke orang tua dan saling memafkaan dengan kerabat dan rekan. Makanan khusus pun ikut meramaikan suasana Idul Fitri: ketupat & opor. Makanan disajikan kepada semua tamu, tanpa perduli kerabat ataupun bukan.
Continue reading “Lebaran, Idul Fitri sampai Eyde Fetr: Muslim Dunia Merayakan Kemenangan”

Pembukaan UUD 1945, Dasar negara hanya ada 4?

Simaklah kalimat “sakral” ini:

…susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia….

Apabila dilihat dengan baik, Pembukaan UUD ini, meliputi hanya 4 dasar negara yaitu

(1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan
beradab, (3) Persatuan Indonesia, dan (4) Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kata yang ditebalhitamkan (bold), “mewujudkan”, bermakna bertujuan, dan bukan kata benda seperti keemapt pilar tersebut. Tapi di Pancasila, sila kelima tidak diawali kata “mewujudkan”…sebenernya mana yang tepat, kenapa berlainan?…