Beberapa hari belakangan ini, berita banyak diisi dengan kedatangan Wali Nanggro Hasan Tiro. Petinggi GAM di pengasingan, Swedia kembali ke Aceh pada tanggal 11 Okt 2008. Atribut yang berbau GAM seperti bendera Partai Aceh bertebaran, bahkan yang lebih parah, surat undangan yang dilayangkan kepada Yusuf Kalla selaku Waki Presiden RI yang ditandatangani oleh Hasan Tiro berkop surat dengan logo GAM.

Spekulasi bermunculan. Pendapat pertama, ada yang meyakini GAM masih memiliki syahwat untuk pisah dengan NKRI, merdeka. Kedua, ada pula yang beranggapan bahwa GAM sudah mengubur semangat GAM 4 Desember 1976 karena tunduk dengan MOU Helsinky 15 Agustus 2005. Untuk yang pertama inilah, analisis sederhana akan dihidangkan. Uraian akan tertuju kepada pertanyaan: “kenapa GAM ingin merdeka?”, tulisan ini juga, akan melihat kenapa mereka ingin merdeka, dan kemungkinan tujuan tersebut saat ini dan di masa depan.

Mereka Ingin Merdeka

Mereka, yang disponsori oleh anggota GAM dan sekian banyak orang Aceh, ingin merdeka tidak karena emosi sesaat, namun berdasarkan beragai faktor.

Pertama, Aceh merasa tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Keyakinan ini berdasarkan realitas di lapangan, bahwa sejak jaman Iskandar Muda, jaman Belanda, Jepang, dan NKRI, mereka selalu melakukan perlawan, perang fisik terhadap kekuatan “asing” yang akan menjajahnya. Bahkan, NKRI dianggapnya sebagai negara imperialis, maka mereka memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh. Inilah yang sering dikatakan kombatan GAM. Apalagi, dunia internasional, mengakui Aceh sebagai wilayah yang merdeka, terutama dari Traktat London 1824.

Kedua, ketika proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang, Aceh menyumbangkan pesawat terbang pertama RI yang uangnya dikumpulkan dari pintu-ke pintu, dari kantong rakyat Aceh sendiri. Dan, mereka sepakat bergabung, melakukan revolusi fisik melawan Belanda bersama NKRI dengan kompensasi kalau Belanda sudah kalah, maka Aceh akan mengurus pemerintahannya sendiri dengan penerapan syariat Islam. Soekarno tidak menepati janjinya, Aceh sakit hati. DI TII berkobar.

Ketiga, setelah perlawanan DI TII selesai, janji otonomi syariat Islam bagi Aceh tidak pernah terealisir. Aceh merasa dibohongi. Sementara itu, usahawan sukses di Amerika yang tidak dapat tender di tanah kelahirannya sendiri, marah dan mengangkat senjata. Bisnismen itu bernama Hasan Tiro, dan dengan tegas ingin pisah dari NKRI, bukan hanya minta otonomi syariat Islam seperti Daud, tapi merdeka, total freedom. 4 Desember 1976 GAM berdiri.

Keempat, seperti pada akhir tahun 1950-an, pemerintah RI melihat geliat protes daerah sebagai sebuah gerakan sparatis, dan berubahnya orde, tidak menghilangkan cara militeristik tersebut. Sejak awal tahun 1977, bahkan mulai tahun 1989-1998 dengan jaring merahnya, DOM, militer secara sitematis membungkam GAM sekaligus memperkosa wanita Aceh, dan membunuh sekian banyak warga Aceh. Tentara di Aceh tidak hanya tegas untuk NKRI, namun beringas bagi yang bersimpati dengan GAM. Pemandangan yang lumrah awal perlawanan ACEH, mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jalan, bahkan nyaris setiap hari. Kenyataan ini, semakin meyakinkan bahwa NKRI dengan tentaranya: ABRI, tervonis zolim terhadap Aceh.

Kelima, mereka yakin bahwa sumber daya alamnya telah diambil oleh RI karena sentralistik Orde Baru telah meresap ke ranah ekonomi, dan pembagiannya tidak seimbang. Di sisi lain, kekerasan yang dilakukan ABRI di tanah rencong, semakin mengakumulasikan kebencian terhadap NKRI. Akumulasi dari merka inilah yang semakin menguatkan GAM di akar rumput. GAM semakin kuat.

Keenam, sebagai bagian dari MOU Helsinky, GAM segera membentuk partai lokal: Partai Aceh. Partai yang diisi oleh mantan anggota GAM dan simpatisannya, langsung mendapat suara terbanyak, simpati seperti sungai yang banjir bandang. GAM tidak pernah dibubarkan dari sanubari kombatan GAM, dan dari lubuk hati rakyat Aceh yang tersakiti oleh tentara, bahkan bendera Partai Aceh serupa dengan bendera GAM. Kini GAM diatas angin, maklum, rakyat Aceh sudah muak dengan yang berbau NKRI, dan partai nasional seakan tidak berbuat apa-apa selama ini. GAM akan tetap menguasai percaturan politik, bahkan sosial di Aceh, setidaknya 2-5 tahun ke depan.

Ketujuh, total freedom yang akan dicapai GAM kini sudah mendapat pijakan politis yang kokoh. Peralihan strategi dari sejata ke politik adalah sebuah kedewasaan berpolitik sekaligus usaha pisah dari NKRI. GAM dengan Partai Aceh-nya, terus menerus membangun kekuatan politik, dari akar rumput, sehingga suara terbanyak dapat diperoleh. Jabatan publik akan terisi oleh orang GAM. Selanjutnya akan meluas, menguasai parlemen DPRD NAD. Kalau sampai disini, GAM sudah menang. DPRD NAD akan mengeluarkan opsi REFERENDUM, dan Jakarta tidak bisa berbuat apa-apa. Suara rakyat adalah demokrasi, dari rakyat untuk rakyat. Dunia akan mendukungnya. Aceh menjadi negara, pisah dari NKRI.

Semua itulah yang menyebabkan, kenapa GAM ingin merdeka dari NKRI. Bilamana Jakarta tidak waspada, ancaman disintegrasi yang menjadi isu sejak republik ini berdiri, akan terjadi, menjadi sebuah realitas sejarah yang tidak dapat diingkari.

Sumber: dari berbagai buku tentang sejarah dan politik Aceh, dan berita di televisi juga ulasan pada surat kabar.