Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 dan GAM

A. PENGANTAR
Selama Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, historiografi tentang perang menjadi salah satu yang paling banyak diproduksi, baik itu oleh pemerintah, bahkan kaum intelektual seperti sejarawan. Sejarah perang yang dilukiskan, kebanyakan terkait erat dengan dinamika politik dan ekonomi, dan tampaknya memang itulah yang seringkali terungkap dari masa lalu nusantara. Perlawanan elit kerajaan dan elit lainnya yang kemudian didukung rakyat, dideskripsikan melakukan aksi peperangan karena adanya penjajahan serta himpitan ekonomi yang disebabkan oleh sistem yang diterapkan kaum kolonialis. Para penulis sejarah tidak patut dipersalahkan dalam hal ini, karena menyangkut sumber sejarah yang menyisakan jejak masa lalu dan seringkali tidak lengkap, biasanya ditulis berdasarkan sesuatu yang menarik (umumnya adalah politik dan ekonomi) dan tentunya aspek yang disoroti terpengaruh oleh pandangan dan kepentingan penulis sejarah yang sudah barang tentu subyektif. Ini adalah hal yang lazim terjadi dalam dunia sejarawan.
Continue reading “Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 dan GAM”

Advertisements

Sejarah NIT: Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Dari Federalism ke Unitarisme: Studi tentang Negara Sumatra Timur 1947-1950

A. PENGANTAR

Perubahan selalu menjadi sesuatu yang menarik, selain akan melihat dinamika sebuah proses, di situ juga seringkali ditemukan penjungkirbalikkan hard fact yang diyakini kebenarannya selama kurun tertentu. Itulah yang ada pada buku yang berjudul: Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Dari Federalism ke Unitarisme: Studi tentang Negara Sumatra Timur 1947-1950. Buku yang memaparkan tentang NST (Negara Sumatra Timur) ini menjadi menarik, oleh karena berbicara isu-isu besar di Indonesia, seperti diskursus federal, unitarisme, dan otonomi khusus atau otonomi daerah, serta ditemukannya fakta terkait stigma yang selalu tertulis dalam sejarah bangsa ini, bahwa negara-negara federal pada awal kemerdekaan Indonesia adalah “negara boneka” hasil bentukan Belanda.
Continue reading “Sejarah NIT: Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Dari Federalism ke Unitarisme: Studi tentang Negara Sumatra Timur 1947-1950”

Post Modernisme dalam Penulisan Sejarah Indonesia

POST MODERNISME DALAM HISTORIOGRAFI DAN PANDANGAN PROF. BAMBANG PURWANTO
Post modernisme (postmo) adalah gerakan untuk melawan, bahkan menolak arus utama modernisme, ada pula yang mengganggapnya sebagai anti-modernisme dan anti-positivisme. Selanjutnya postmo diartikan sebagai bentuk kesadaran yang menginginkan pembaharuan, bahkan perombakan dalam dunia moderen. Berbagai standarisasi yang sifatnya universal, dan teori-teori besar yang menjadi panduan keilmiahan ilmu moderen, terpatahkan. Postmo menolak pikiran tentang kebenaran universal (universal truth) yang mencari metanarrative (narasi besar) atau grand theory (kerangka-kerangka teoritis besar untuk menjelaskan makna segala sesuatu). Pikiran-pikiran mendasar modernisme ditolak, digantikan dengan penjelasan-penjelasan mikro (microexplanations) dan keragu-raguan. Postmo belajar mengkontekstualisasi, mentoleransi relativisme, dan menyadari selalu ada perbedaan (Sjamsudin 2007; 336-337). Dengan kata lain, semangat postmo menganut sikap relativisme dan pluralisme (Oen 2001; 3).
Continue reading “Post Modernisme dalam Penulisan Sejarah Indonesia”