Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2009

Akhir tahun 2008, saya membeli buku yang dijadikan dalam daftar rujukan dalam tulisan ini. Sungguh cukup membuatku bertanya, apakah benar atau salah, atau bahkan saya yang keliru menafsirkan isi buku tersebut…
(more…)

Advertisements

Read Full Post »

……………….
……………….
……………….
(Lanjutan…..)

6. Menurut bapak kriteria guru yang profesional dalam sejarh itu seperti apa?
Sederhana, yaitu guru yang cinta terhadap Indonesia, ilmiah, adil dan manusiawi dalam melihat masa lalu republik ini. Menyoal kemampuan keilmuannya, termasuk menguasai bahan ajar, paham kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi, saya kira itu standar yang juga terpenuhi sebagai guru profesional bagi guru pada bidang studi lainnya. Dan, yang tak kalah utamanya, yang juga dapat ditemukan pada guru yang lain, guru sejarah haruslah menjadi guru yang kreatif, bersahabat, dan demokratis.
(more…)

Read Full Post »

…………….
……………
(Lanjutan…)

2. Apa Tujuan dari Pendidikan Sejarah di Indonesia, Masuk sebagai mata pelajaran Indonesia, dan perkemabangannya seperti apa..?
Tujuannya ialah, lahirnya sebuah kesadaran sejarah. Kesadaran akan keindonesiaan, identitas kebangsaan, dengan kata lain, berujung kepada terciptanya rasa cinta terhadap tanah air (nasionalisme). Selanjutnya, sejarah masuk ke dalam pelajaran di Indonesia, sebagai implementasi guna mencapai tujuan tersebut, dengan harapan bangsa ini dapat berlangsung untuk tahun-tahun ke depan, yakni sebuah proses pewarisan, sekaligus kebanggaan, dan tentunya perekat sebuah bangsa. Yang idealnya menurut saya, sejarah ditujukan sebagai salahsatu pilihan landasan berpikir, baik secara pribadi, maupun bangsa. Ambil makna dari kemenangan, kebesaran, kekalahan, bahkan dari musuh kita untuk dijadikan referensi dalam bertindak, semoga lebih bijaksana nantinya. Namun, kenyataannya di pendidikan kita tidaklah demikian. Semangat indonesiasentris yang menjadi narasi besar bangsa ini dibidang sejarah, menghasilkan di satu sisi, sebuah nasionalisme yang mapan di sanubaru WNI. Di sisi yang lain, seakan tidak ada hal yang baik-positif dari pihak lain, semisal Belanda. Sejarah di sekolah disajikan secara ”hitam-putih”, Indonesia sebagai ”malaikat” dan pihak lain sebagai ”setan” (Belanda, misalnya). Alhasil, analisis baru amat sulit dimunculkan di bangku sekolah, apalagi yang kontroversial. Tabu terasa, misalnya mengecek apakah Sultan Hasanudin atau Aru Palaka yang layak di sebut pahlawan?, atau meyakini Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Artinya apa?, perkembangan pelajaran sejarah di sekolah: sama saja, walaupun satu dasa warsa belakangan ini semakin mengkhawatirkan. Dari jaman Soekarno hingga Suharto, sejarah sebagai ”pelajaran” nasionalisme yang tidak lekat dengan semangat keilmuan, tetapi sebaliknya: sejarah dijadikan alat untuk mempertahankan sebuah rezim dengan berlindung dibalik baju sejarah, yaitu demi nasionalisme. Sejak reformasi seakan pelajaran sejarah mengalami ”kehilangan arah”, bukan karena tujuannya yang tidak jelas (tapi perlu direvisi), namun banyaknya fakta baru yang bermunculan kemudian melahirkan gugatan terhadap sejarah. Kini, jangan kaget kalau anak muda sekarang, miskin nasionalismenya terhadap republik ini, terutama anak yang disekolahkan mulai tahun 1998.
(more…)

Read Full Post »

Akhir tahun lalu, saya berhubungan dengan salah satu wartawan kampus, Mbak Naila namanya. Saya diberi tawaran untuk diwawancara tentang kontroversi sejarah dan bagaimana pembelajarannya di Sekolah. Menarik. Namun sampai hari ini, kami belum pula komunikasi lagi karena kesibukan saya. Entah juga, apakah wawancara ini jadi diterbitkan atau tidak.

Diluar itu semua, sesuai tanggapan yang “Mbak Naila” berikan pada tulisan saya tentang Pembelajaran Sejarah, maka hasil wawancara tersebut diterbitkan. Selamat membaca!.
(more…)

Read Full Post »

Tanggapan SAS Online Dzolim

Ini surat yang kesekian kalinya untuk Group SAS. Namun, saya cukup yakin kalau nanti tidak diterbitkan. Entahlah….

Oke silahkan membaca….
————–

Kepada A***

Saya cukup kaget juga, surat dari MK (inisial) tidak ditanggapi marah-marah, emosional, kebakaran jenggot selayaknya ketika membalas surat saya. Ada apa???. Entahlah.
(more…)

Read Full Post »

Sejak beberapa hari ini milis SAS cuku ramai karena Aida menerbitkan surat yang cukup kritis dan milister diminta menaggapinya. Hari ini, “Skarwati” telah membaca tulisan saya, dan kami mulai berkenalan….

Tanpa berpanjang lebar, berikut email yang di re: oleh Aida….

MERY KARTINI
Date: 2009/2/15
Subject: NASIHAT
To: amorgani@yahoo. com, amorgani@gmail. com

Kepada yth:

1. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta ( Bpk Amargani )
2. Aida Lucia Maria

Sebelum ada proses pencetakan raport SAS Online ulah Aida Lucia Maria kami di SMA negeri atau swasta sudah sanggup mencetak sendiri raport dengan program yang sederhana. Pada akhir semester nilai yang sudah diproses oleh para guru mata pelajaran diserahkan kepada Tata Usaha. Proses awal dari pengenterian nilai hingga pencetakan raport hanya dikerjaka oleh 3 orang tata usaha dalam waktu 3 hari saja dan tidak perlu lembur, tidak perlu begadang malam.
(more…)

Read Full Post »

……………….
Posting berikut adalah terkait Program SAS DKI Jakarta, yang dijawab Tim Pengembang setelah ada milister yang menaggapinya. Selamat membaca….

————-
Terima kasih atas tanggapan para Rekan Milister tentang akan diluncurkannya program Buffer SAS di akhir Maret 2009 mendatang.

Menjawab pertanyaan senada yang anda kemukakan di milis tentang “….. dengan akan diluncurkannya Prtogram Buffer itu, apakah seluruh entry nilai semester genap ini sudah harus menggunakan program Buffer itu ? ….” , jawaban kami adalah : TIDAK
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: