Beda antara Perencanaan Pembelajaran (Lesson Plans) dengan Rancangan Pembelajaran (Instructional Design)

Akhir tahun 2008, saya membeli buku yang dijadikan dalam daftar rujukan dalam tulisan ini. Sungguh cukup membuatku bertanya, apakah benar atau salah, atau bahkan saya yang keliru menafsirkan isi buku tersebut…
Continue reading “Beda antara Perencanaan Pembelajaran (Lesson Plans) dengan Rancangan Pembelajaran (Instructional Design)”

Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 3)

……………….
……………….
……………….
(Lanjutan…..)

6. Menurut bapak kriteria guru yang profesional dalam sejarh itu seperti apa?
Sederhana, yaitu guru yang cinta terhadap Indonesia, ilmiah, adil dan manusiawi dalam melihat masa lalu republik ini. Menyoal kemampuan keilmuannya, termasuk menguasai bahan ajar, paham kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi, saya kira itu standar yang juga terpenuhi sebagai guru profesional bagi guru pada bidang studi lainnya. Dan, yang tak kalah utamanya, yang juga dapat ditemukan pada guru yang lain, guru sejarah haruslah menjadi guru yang kreatif, bersahabat, dan demokratis.
Continue reading “Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 3)”

Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 2)

…………….
……………
(Lanjutan…)

2. Apa Tujuan dari Pendidikan Sejarah di Indonesia, Masuk sebagai mata pelajaran Indonesia, dan perkemabangannya seperti apa..?
Tujuannya ialah, lahirnya sebuah kesadaran sejarah. Kesadaran akan keindonesiaan, identitas kebangsaan, dengan kata lain, berujung kepada terciptanya rasa cinta terhadap tanah air (nasionalisme). Selanjutnya, sejarah masuk ke dalam pelajaran di Indonesia, sebagai implementasi guna mencapai tujuan tersebut, dengan harapan bangsa ini dapat berlangsung untuk tahun-tahun ke depan, yakni sebuah proses pewarisan, sekaligus kebanggaan, dan tentunya perekat sebuah bangsa. Yang idealnya menurut saya, sejarah ditujukan sebagai salahsatu pilihan landasan berpikir, baik secara pribadi, maupun bangsa. Ambil makna dari kemenangan, kebesaran, kekalahan, bahkan dari musuh kita untuk dijadikan referensi dalam bertindak, semoga lebih bijaksana nantinya. Namun, kenyataannya di pendidikan kita tidaklah demikian. Semangat indonesiasentris yang menjadi narasi besar bangsa ini dibidang sejarah, menghasilkan di satu sisi, sebuah nasionalisme yang mapan di sanubaru WNI. Di sisi yang lain, seakan tidak ada hal yang baik-positif dari pihak lain, semisal Belanda. Sejarah di sekolah disajikan secara ”hitam-putih”, Indonesia sebagai ”malaikat” dan pihak lain sebagai ”setan” (Belanda, misalnya). Alhasil, analisis baru amat sulit dimunculkan di bangku sekolah, apalagi yang kontroversial. Tabu terasa, misalnya mengecek apakah Sultan Hasanudin atau Aru Palaka yang layak di sebut pahlawan?, atau meyakini Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Artinya apa?, perkembangan pelajaran sejarah di sekolah: sama saja, walaupun satu dasa warsa belakangan ini semakin mengkhawatirkan. Dari jaman Soekarno hingga Suharto, sejarah sebagai ”pelajaran” nasionalisme yang tidak lekat dengan semangat keilmuan, tetapi sebaliknya: sejarah dijadikan alat untuk mempertahankan sebuah rezim dengan berlindung dibalik baju sejarah, yaitu demi nasionalisme. Sejak reformasi seakan pelajaran sejarah mengalami ”kehilangan arah”, bukan karena tujuannya yang tidak jelas (tapi perlu direvisi), namun banyaknya fakta baru yang bermunculan kemudian melahirkan gugatan terhadap sejarah. Kini, jangan kaget kalau anak muda sekarang, miskin nasionalismenya terhadap republik ini, terutama anak yang disekolahkan mulai tahun 1998.
Continue reading “Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 2)”