Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 3)

……………….
……………….
……………….
(Lanjutan…..)

6. Menurut bapak kriteria guru yang profesional dalam sejarh itu seperti apa?
Sederhana, yaitu guru yang cinta terhadap Indonesia, ilmiah, adil dan manusiawi dalam melihat masa lalu republik ini. Menyoal kemampuan keilmuannya, termasuk menguasai bahan ajar, paham kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi, saya kira itu standar yang juga terpenuhi sebagai guru profesional bagi guru pada bidang studi lainnya. Dan, yang tak kalah utamanya, yang juga dapat ditemukan pada guru yang lain, guru sejarah haruslah menjadi guru yang kreatif, bersahabat, dan demokratis.

7. Aspek apa saja yang harus dimiliki oleh guru?
Saya pikir, yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara tentang Tut Wuri Handayani dan seterusnya dapat dijadikan acuan, namun patut ditambahkan pula aspek kreatif, kepekaan, haus akan ilmu pengetahuan, dedikasi, dan berani mengungkapkan kebenaran.

8. Tips dan Trik untuk mengajar Sejarah biar image anak terhadap sejarah tidak membosankan?
Ya, harus berubah, bahkan didekonstruksi. Lagi-lagi, ini bagian dari proses evolusi, bukan revolusi. Namun demikian, langkah awalnya ialah temukan kesamaan fenomena masa lalu dengan kenyataan hari ini, dekatkanlah masa lalu terhadap permasalahan hari ini. Suguhkanlah permasalahan yang didalamnya terkait dengan siswa sebagai anak bangsa, dengan demikian, siswa merasa penting untuk mempelajari sejarah karena mereka terlibat dalam masalah tersebut. Pola ini merupakan bagian dari pembentukan kesadaran sejarah. Dengan mengkaji permasalahan yang mirip dengan masa kini, mereka dapat menemukan prinsip-prinsip solusi yang diambilnya dari masa lalu, dan makna tersebut dapat dijadikan pertimbangan dalam menghadapi masalah hari ini, bahkan untuk memetakan masa depan. Jangan takut mengungkapkan fakta hitam perjalanan bangsa ini yang seringkali berdarah-darah, perang saudara demi harta. Selanjutnya, lihatlah para pahlawan sebagai sesuatu yang manusiawi, bahwa mereka tidak sempurna seperti malaikat tanpa cacat, tapi mereka manusia yang boleh jadi kesalahannya berlimpah. Dengan itu, guru sejarah tidak lagi menjadi pembohong besar masa lalu Indonesia, bahkan sebaliknya, sejarah yang diajarkan menjadikan bangsa ini mulia, mengakui kekhilafan, kealpaan, dan kesalahannya untuk menemukan makna kebaikan dibalik kerusakan tersebut untuk berkaca agar tidak terulang lagi dikemudian hari. Dan, nuansa ilmiah, berkeadilan, serta manusiawi, tidak mengurangi makna nasionalisme Indonesia dalam proses pembelajaran semacam ini. Oleh karena, yang dibangun adalah kejujuran secara ilmiah dengan menemukan tafsiran makna untuk kebaikan di hari ini, dan menjadikannya sebagai penunjuk arah menuju masa depan yang gemilang.
Terima kasih atas kesediaan bapak untuk shearing bareng dengan kami, besar harapan kami ilmu yang telah bapak berikan ini terkait pengalaman yang telah bapak miliki selama mengajar di bidang sejarah, semoga kami lewat media Majalah EDUKASI bisa mejembatani untuk pengajar-pengajar lain yang ada amien…
Mohon disertakan _iker_ulum vitae bapakā€¦
Salam untuk Pendidikan Sejarah Indonesia
Mari kita ciptakan iklim yang kondusif untuk keberhasilan peran pendidikan sejarah dalam menumbuhkan daya _iker kritis, konstruktif anak bangsa.

3 thoughts on “Kontroversi Sejarah dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah (Wawancara: Part 3)

  1. terimakasih atas masukannya….
    saya akan coba terapkan hasil wawancaranya dalam proses KBM di kelas saya.
    Good Luck!
    “Belajarlah dari SEJARAH!”
    ————–
    Yupz, belajarlah dari sejarah!!!

  2. Wawancara yang menarik, terima kasih. Saya guru sejarah baru, 1,5 tahun mengajar sejarah X, geografi X dan XI, 3 bulan mengajar sejarah XII IPA, dan 1 pertemuan XI IPA. Menjumpai situs ini banyak yg saya pelajari, lebih terutama termotivasi. Seperti yg saya katakan pada anak2 di kelas IPA “sejarah tidak membuat kalian menjadi arsitek yang mampu membangun gedung pencakar langit, tapi sejarah mengajak kalian berpikir ‘untuk siapa gedung itu saya bangun’?” Semoga Indonesia Jaya, “Homo homini socius”, manusia adalah sahabat bagi sesamanya, ujar Driyarkara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s