Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2009

Niatnya seh mau belajar Lesson Plan 2 hari kedepan….

Semoga sukses aja ya….

Advertisements

Read Full Post »

Bushro 2(Klik Alamat Blog Ini)

Bushro(Klik Alamat Blog Ini)

Sejak kemarin, televisi swasta di Indonesia memberitakan kabar terbaru tentang Bom Ritz Carlton dan JW Marriot. Kabar terbarunya ialah pernyataan resmi bahwa Nordin M. Top adalah otak pelaku pengeboman Jum’at Pagi 17 Juli 2009 lalu. Ini berarti sudah 2 minggu berlalu, padahal dengan nama yang sama: BUSHRO,  ternyata memiliki blog yang lain dan isi pernyataan tersebut terbit satu hari setelah pengeboman. Analisisku yang ditulis sekitar satu setengah jam Jum’at pagi kelabu itu: terjawab sudah, berikut penggalannya:
(more…)

Read Full Post »

Oleh

Sucipto Ardi, S.Pd.

Pepatah yang mengatakan: “Belajar tanpa buku adalah kosong” merupakan sebuah penjelasan bahwa buku adalah salah satu sarana yang penting dalam dunia pendidikan. Dengan demikian peserta didik diusahakan memiliki salah satu sumber pembelajaran, dalam hal ini ialah buku pelajaran. Terkait dengan itu, maka terdapat beberapa cara dalam memperoleh buku pelajaran secara legal sebagai berikut.
(more…)

Read Full Post »

Oleh :

Siswo Dwi Martanto

Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan dalam suatu institusi pendidikan. Kualitas pembelajaran bersifat kompleks dan dinamis, dapat dipandang dari berbagai persepsi dan sudut pandang melintasi garis waktu. Pada tingkat mikro, pencapaian kualitas pembelajaran merupakan tanggungjawab profesional seorang guru, misalnya melalui penciptaan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dan fasilitas yang didapat siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Pada tingkat makro, melalui sistem pembelajaran yang berkualitas, lembaga pendidikan bertanggungjawab terhadap pembentukan tenaga pengajar yang berkualitas, yaitu yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan intelektual, sikap, dan moral dari setiap individu peserta didik sebagai anggota masyarakat.
(more…)

Read Full Post »

A. PENDAHULUAN

Pada saat ini wacana tentang sertifikasi guru dan berbagai persoalan yang terkait dengannya ramai dibicarakan bukan hanya di kalangan guru itu sendiri tetapi juga di kalangan masyarakat luas. Penerbitan Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menuntut kualifikasi guru minimal berpendidikan D4/S1. Hal ini membuat para guru yang belum memenuhi persyaratan sebagaimana yang dituntut oleh undang-undang itu mulai berlomba mencari gelar sarjana. Bagi kebanyakan guru, keinginan untuk dapat mengikuti sertifikasi menjadi semacam obsesi. Seperti diketahui bahwa sampai awal 2008 tidak satu pun guru di Indonesia yang memegang sertifikat pendidik. Padahal terdapat sekitar 2,7 juta guru di Indonesia.[1] Mereka membayangkan jika lulus dan mendapat sertifikat pendidik, selain menerima tunjangan fungsional, mereka pun dijanjikan menerima tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji pokok. Jadi seringkali terjadi para guru lebih membayangkan konsekuensi finansial dari sertifikasi daripada idealisme yang ada di balik program sertifikasi itu sendiri. Di samping itu, banyak juga yang mengkhawatirkan bahwa ’kesempatan’ itu akan digunakan oleh LPTK (Lembaga Pendidikan dan Teknologi Kejuruan), termasuk universitas-universitas eks IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), melakukan sertifikasi massal dengan pendekatan proyek. Jika hal itu terjadi maka sertifikasi itu tidak akan banyak memberikan manfaat positif bagi peningkatan profesionalisme guru. Ujung-ujungnya, negara dan rakyat yang akan dirugikan karena sudah mengeluarkan ongkos yang besar untuk melaksanakan program itu.
(more…)

Read Full Post »

A. Pendahuluan

Tema seminar dan judul tulisan ini secara implisit menyiratkan adanya dua hal yang berbeda, tetapi dapat disinergikan untuk tujuan yang positif. Di satu sisi, frasa “peningkatan kualitas pembelajaran sejarah dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)” menyiratkan adanya persoalan dalam pembelajaran sejarah dan IPS di sekolah, sehingga perlu ditingkatkan; di sisi lain frasa “pemanfaatan sumberdaya budaya lokal” menyiratkan adanya potensi pada sumberdaya budaya lokal untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi dalam pembelajaran sejarah dan IPS di sekolah. Terlepas dari adanya persoalan dalam pembelajaran sejarah dan IPS di sekolah (kalau memang ada), suatu hal yang masih dapat dirasakan adalah adanya citra buruk yang tampaknya masih melekat pada mata pelajaran sejarah dan IPS (karena di dalamnya juga terdapat substansi sejarah) sampai sekarang. Sejarah dianggap sebagai  mata pelajaran yang membosankan dan tidak menarik, karena harus menghafalkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau yang antara lain mencakup nama-nama raja, kerajaan, dan angka tahun, sementara IPS dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting (dinomorduakan), (mungkin) karena di dalamnya terdapat materi sejarah. Pendek kata, suatu hal yang pasti adalah minat siswa terhadap mata pelajaran sejarah lebih kecil dibandingkan dengan minat siswa terhadap mata pelajaran yang dianggap penting  (Ilmu Alam dan Ilmu Pasti). Kondisi ini diperparah dengan adanya anggapan bahwa sejarah dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak ada gunanyanya karena yang dipelajari adalah peristiwa pada masa lampau, sehingga dianggap tidak dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam kehidupan kekinian dan apalagi masa depan.
(more…)

Read Full Post »

posterFMP

Menulis tentang film ini, ternyata cukup mengagetkan: di internet dah ramai sejak Maret lalu. Mang kemana aja bang???….hahahaha…., tertinggal juga saya yaa….
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: