Sepuluh tahun lalu, saya menuliskan tentang rencana pemindahan Ibu Kota negara Indonesia, Jakarta. Hari ini di tahun 2019, saya menuliskan kembali dengan judul Rencana Pindahkan Jakarta: dari Jaman Belanda hingga Jokowi. Kini memanjang dalam waktu, sebuah rentetan.

Tahun 2009 lalu, bukan karena diawali dengan stimulus ucapan sang presiden atau rencan pemerintah yang kemudian mencuat ke publik seperti tahun 2019 ini, akan tetapi karena penyesalan saya tidak membeli buku tentang Rencana pemindahan Jakarta di jaman Soekarno….hu..huh..hu..hu..

Di luar itu semua, tulisan tahun 2009 tersebut, tentunya tidak dengan tema populis, akan tetapi tentang aspal. Ya, jalan rata halus mulus yang mencuatkan saya ingin menulis. Selamat membaca yaa….

 

1183740605

Hiruk pikuk jalan aspal yang rusak, baik itu di Jakarta atau wilayah lainnya, membawa kepada sebuah kisah yang menarik dan boleh jadi banyak yang tidak tahu. Itulah inti tulisan di Kompas beberapa waktu lalu. Menurut tulisan dari kompas dan buku yang aku baca pada even Pesta Buku Jakarta, 4 Juli 2oo9, ternyata Ibukota Indonesia ingin dipindahkan, dari Jakarta ke Palangkaraya (Pulau Kalimantan).

Pemindahan Ibu kota ini berdasarkan kepada artikel dan buku yang saya baca, yaitu tulisan yang mengisahkan jalan aspal yang tahan lama di Palangkaraya, dan dibuat oleh insinyur Unisoviet untuk kelancaran pembangunan Ibukota Indonesia yang baru (duh, saya lupa judulnya, tapi pasti di Kompas – langganan seh), dan Sabtu lalu, saya membaca juga kisah serupa pada buku yang membicarakan Rencana Bung Karno yang ingin memindahkan Jakarta ke Palangkaraya, bukunya berwarna coklat terbit tahun 2005 yang diberikan kata pengatra oleh Guruh Soekarno Putra, sayangnya tidak jadi saya beli, menyesal kini. Ini bukunya.

Kisah sejarah ini dimulai pada tahun 1950-an, ketika Presiden Soekarno merencanakan perpindahan Ibu Kota. Jalan yang rata dan tahan lama hingga tahun 2009 ini, segera dibangun. Insinyur jempolan negara besar komunis ketika itu dikerahkan. Pemindahan ini banyak memilik tafsiran, selain Jakarta yang gemar banjir, terlalu padat, dan tidak memilik hasil tambang, juga karena faktor politis, seperti letak Palangkaraya yang terlihat ditengah-tengah kepulauan Indonesia, dan mungkin rencana Soekarno dalam memobilisasi rakyat jauh lebih dekat dan kuat untuk agresi ke Malaysia (ingat slogan Ganyang Malaysia!?). Namun, gagasan Soekarno ini kemudian hilang begitu saja karena krisis politik dan ekonomi yang menghempaskannya, baik itu konsentrasi terhadap proyeknya ini, ataupun pertempuran politik dengan lawannya, baik itu golongan Islam, Tentara, maupun Amerika berserta agennya yang kerap kali menyusup.

Kini yang tinggal hanya sejarahnya seperti kisah di atas, dan jalan aspal panjang hasil buatan Unisoviet, dibuatnya memakan waktu, namun tahan amat lama. Berbeda dengan jalan aspal milik Indonesia, cepat jadinya, tetapi juga cepat hancurnya. Akankah RI seperti itu???

————-

Berikut sumber terkait yang membahas tentang rencana pindahnya Ibukota RI ke Palangkaraya dan tempat lainnya: Faisal Basri, Kompas, Tokoh Indonesia, The ATN Center, Infoindonesia, TvOne, Jalan Rusia, …..,…