osama1

(Gambar Osama sebagai sampul buku In The Heart of Al Qaeda)

osama-bin-laden
(Gambar Osama pada salah satu halaman buku In The Heart of Al Qaeda)


Buku tentang biografi Osama bin Laden yang berbahasa Indonesia dapat dikatakan banyak yang tidak lengkap. Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul In The Heart of Al Qaeda pada bulan ramadhan tahun 2008. Buku yang sampul kulitnya bergambar wajah Osama menceritakan biografi orang yang paling dicari oleh Amerika Serikat dan jejak kelahiran organisasi Al Qaeda.

Event pesta buku Jakarta tahun 2009 ini, merupakan jadwal wajibku untuk memburu buku, dan tanpa disangka, buku yang sudah dibaca tersebut ada yang jual, bahkan harganya discount 50%. Asiiik, harganya kini hanya 24 ribu rupiah. Buku yang ditulis oleh orang Indonesia dari analis pada situs arrahman.com, dan Jihadmagz, menyuguhkan kajian langsung dari jantung Al Qaeda. Isi buku ini banyak dibangun dari biografi Osama yang berbahasa Inggris, dan dilengkapi hasil wawancara para tokoh, seperti Osama sendiri, dan gurunya: Abdullah Azam.

Seperti pada buku, berita, dan tulisan dimedia internet, Osama berjuang karena rasa keprihatinan akan tertindasnya muslim di Afganista. Penindasan ini dimulai tahun 1979 ketika Unisoviet menginvasi Afganistan, dan berbarengan lulusnya Osama dari Universitas King Abdul Aziz sebagai sarjana tekhnik. Selama 3 ttahun, Osama bolak balik ke Pakistan, Afganistan, dan Arab Saudi, baik itu mengumpulkan dana, maupun memahami medan jihad.

Peperangan di Afganistan yang diikutinya sejak tahun 1982-1989 telah membentuk dirinya sebagai mujahidin sejati, bahkan dengan semangat dia berkata:

Osama: satu hari jihad di Afganistan sama dengan 1000 kali shalat di masjid.

Dengan ilmu tekhniknya, dan dukungan finansial keluarga dan dermawan, khususnya para pangeran Saudi, Osama mampu mendirikan kamp latihan bagi sukarelawan yang ingin berjihad di Afgan. Perlu diketahui, mujahidin yang ada di Afgan adalah bangsa Arab, dalam buku ini diistilahkan Mujahidin Arab-Afgan.

Seiring berkecamuknya perang, banyak sanak saudara mujahid yang bertanya kepada Osama akan hidup atau mati sukarelawan perang Afgan. Data base mujahidin kacau, tidak tertata rapi administrasinya. Melihat kondisi ini, Abdullah Azzam mendirikan semacam pusat informasi mujahidin, dan berlangsung secara profesional. Setelah Azzam syahid tahun 1989, Osama meneruskannya. Kamp latihan, dan pusat informasi inilah sebagai cikal bakal kelahiran Al Qaeda. Mujahidin yang datang dari berbagai belahan dunia, dan itu bukan hanya Arab saja, kemudian memiliki senjata canggih untuk menghancurkan Unisoviet, dan senjata itu dibeli dari Amerika. Saudi yang menyediakan dananya, dan Amerika memasok senjata, khususnya Stinger yang amat baik menghancurkan heikopter Unisoviet (Lihat gambar di bawah). Kini, kemanapun Osama melangkah, pengawalnya selalu menenteng Stinger, dan pesawat Amerika Serikat siap dijadikan sasaran setelah Unisoviet. Sampai akhir tahun 1980-an, Amerika Serikat memiliki politik: Permanent Enemy, Bad Friend.

stinger_03Setelah Unisoviet dihancurkan mujahidien, Bad Friend berubah menjadi permanen enemy. Mujahidien yang sampai tahun 80-an didukung Amerika Serikat, maka tahun 90-an, mujahidien menjadi musuh Amerika Serikat. Tahun 1989, jihad di Afgan mulai mereda, Osama kemudian ke Sudan menjadi tamu kehormatan rajanya. Pada kesempatan ini, Osama membangun jalan-jalan raya, dan bendungan. Antara tahun 1990-1994, Osama mengalami masa yang membingungkan. Osama kembali ke Afganistan untuk mendamaikan para mujahidin yang saling bertikai antar sesam, tapi tidak berhasil. Tawaran Osama kepada raja Saudi untuk menghancurkan Iraq yang menginvasi kuwait dengan kekuatan veteran mujahidin Afgan, ditolak, dan Saudi lebih memilik Amerika Serikat. Osama shock.

Osama dengan para ulama yang jumlahnya banyak meyakini bahwa Haramain (mekkah dan Madinah) tidak boleh dikangkangi oleh kaum kuffar, contohnya Amerika Serikat. Dan yang membuat Osama kecewa, 20.000 tentara Amerika Serikat boleh membuat pangkalan di Saudi pasca mundurnya Iraq dari Kuwait. Kontan, kritikan Osama yang pedas terlontar. Saudi dan Amerika Serikat menekan Sudan agar mengusir Osama, tapi tak digubris. Puncaknya tahun 1994, Saudi mencabut kewarganegaraan Osama, sebuah tindakan untuk pertama kalinya oleh kerajaan Saudi sepanjang sejarahnya. Selanjutnya, aset Bin Ladin Corporation dibekukan oleh Amerika Serikat, tentunya dengan kerjasama Saudi. Dua tahun di Sudan kemudian diakhiri untuk menetap di Afganistan agar cita-cita ada sebuah negara yang menjalankan Islam dengan kaffah tercipta.

Pemilihan Afganistan sebagai awal Khilafah Islamiyah yang dicita-citakan karena memiliki persamaan visi-misi. Di Afganistan, Osama diterima sebagai tamu kehormatan oleh Thaliban yang tahun 1996 menguasai Kabul, sebuah kota akhir penaklukan oleh pasukan yang dipimpin oleh Mullah Muhammad Omar. Masa-masa di Afganistan diisi untuk menguatkan dalam menghancurkan Amerika Serikat. Di Afganistan inilah, Osama merencanakan, melatih 19 pejuang untuk menghancurkan gedung kembar WTC, dan Pentagon. Selain itu, juga berhasil meluluhlantakkan kapal perang Amerika Serikat di Teluk Aden tahun 1998, pemukiman tentaranya di Saudi tahun 2000. Osama sudah mengetahui kalau beliau, Al Qaeda dan Thaliban akan dihancurkan Amerika Serikat, dan harus bertindak:

pertahanan terbaik adalah memulai penyerangan!!.

Rencana Amerika Serikat tersebut, bukan hanya karena properti perangnya dihancurkan, akan tetapi lebih kepada minyak. Thaliban menolak ijin Amerika Serikat yang akan menanmkan pipa minyak yang melalui Afganistan sekitar medio akhir tahun 1990-an. Dan perang tidak bisa dihindari.

Tiga bulan sebelum 11 September 2001, Osama telah mengirim email ke FBI tentang rencana penghancuran bersejarah itu, 230 tahun sejak pembukaan pasar di WTC. Osama mengakui bahwa dia yang melakukan semuanya, dan mendoakan 19 syuhada pembuat sejarah tersebut, terbesar event dalam abad 21. Penghancuran tersebut sesuai dengan 39 prinsip jihad yang dikeluarkan Osama bersama ulama-ulama. Disisi lain, jihad tidak harus dengan perang, pada prinsip no.34 dinyatakan adalah penting berjihad melalui media elektronik, dalam hal ini salah satunya ialah internet. Cyberjihad yang mulai marak tahun 1999 menjadi senjata ampuh, ketika itu situs yang dibangun untuk perang di Balkan, baik itu Bosnia ataupun Cechnya. Tahun 2000, Al Qaeda memiliki situs resmi, tapi hanya berumur setahun. Hubungan lewat jalur internet tidak diintensifkan melalui situs-situs, namun email yang sekali pakai lalu dihancurkan agar tidak terdeteksi oleh CIA atau Mossad. Tahun 2004, Irhaby 007 amat terkenal sebagai hecker dan simpatisan Al Qaeda yang onlie terus di forum diskusi tentang Jihad.

Banyak yang mengira Afganistan negara miskin, dan tertutup sehingga amat mungkin teknologi menjadi lamban. Namun tidak demikian bagi Al Qaeda dan Thaliban (sahabat sejati). Ketika Tora Bora dibombardir oleh Amerika Serikat akhir tahun 2001, wartawan menyaksikan bahwa:

“anggota Al Qaeda menyelamatkan diri sambil menenteng laptop dan menyandang AK”, bahkan dikatakan oleh pengamat Timur Tengah, bahwa Osama adalah cerdas, apalagi anggotanya amat mahir dalam perangkat video dengan berbagai format, dan tentunya internet.

Selama tahun 2002-2008, Al Qaeda tetap melakukan peperangan dengan tentara Amerika Serikat dan sekutunya juga NATO di Afganistan, dan meluaskan jaringannya ke seluruh dunia, baik itu melalui kegiatan militer, maupun teknologi informasi seperti televisi, media cetak, dan cyber. Seluruh negara didunia yang muslimnya tertindas, maka dapat dipastikan ada jaringan Al Qaeda, baik itu yang menyatakan dirinya sebagai anggota atau afiliasi, kasus ini dapat dilihat di Afganistan, Cechnya, Sudan, Somalia, Filipina, Indonesia, Tajikistan, Palestina, Bosnia, Iraq, Libanon, Dagestan, Kashmir, dan Pakistan. Buku ini ditutup dengan pernyataan bahwa,

Al Qaeda menjadi organisasi jihad terbesar karena organisasi jihad ini membuka terhadap gerakan Islam apapun, kecuali Syiah. Al Qaeda menjadi fenomena Internasional, baik itu bagi dunia muslim, ataupun dunia global yang tanpa batas.

zbignew-brezinski-osama-bin-laden400

osama460x276Osama Bin Laden walks with Afghanis in the Jalalabad area in this 1989


Sumber dan tulisan terkait: Bedah buku In The Heart…, The Giant Man, …………..