Malaysia dan Jati Diri Bangsa

buku teks t5Gonjang-ganjing dimunculkannya tari Pendet di dalam iklan promosi pariwisata Malaysia baru-baru ini, yang ditayangkan melalui stasiun televisi Discovery masih terus menuai heboh. Ungkapan kemarahan datang dari berbagai penjuru tanah air. Segenap bangsa ini berang atas sikap Malaysia yang tidak tahu malu, yang mengklaim seni dan budaya kita sebagai milik mereka.

Pada kesempatan ini, saya tidak akan membahas tentang otentisitas tari Pendet sebagai tarian asli rakyat Bali. Saya juga tidak akan menilai jenis pelanggaran, baik hukum maupun etika yang telah dilakukan oleh Malaysia. Saya hanya ingin merenung, kenapa kasus pembajakan jati-diri bangsa ini terus-menerus dilakukan oleh saudara-muda serumpun kita, Malaysia. Kelihatannya, saudara-muda serumpun ini benar-benar sedang mengalami krisis jati-diri. Hal ini bermula dari sejarah berdirinya negara Federation of Malaya tahun 1957, yang kemudian menjadi Malaysia pada 1963.

Bangsa Indonesia lahir dan bangkit akibat penderitaan dan penindasan yang dilakukan oleh penjajahan Belanda. Sejak tahun 1908 kita sudah merintis jati-diri kita sebagai bangsa. Tahun 1928 kita sudah berikrar sebagai bangsa Indonesia yang bersatu. Untuk membentuk negara Republik Indonesia kita berani bertempur melawan Belanda dengan berkorban jiwa, raga, harta dan air mata. Semboyan kita pada waktu itu adalah “Merdeka atau Mati”. Malaysia mengalami perjalanan sejarah yang beda. Mereka tenggelam selama masa penjajahan Inggeris yang berabad-abad lamanya. Mereka justru dibangunkan dari tidur-panjangnya oleh penjajah Inggeris pada awal tahun 1950-an. Mereka disiapkan oleh sang penjajah untuk merdeka pada tahun 1957. Persiapan administratif kenegaraan dan tata kelola pemerintahan kelihatannya oke, tapi mereka tidak siap dengan jati-diri yang jelas sebagai bangsa. Bendera kebangsaan direkayasa dari pola bendera stars and stripes-nya Amerika. Lagu kebangsaan menjiplak lagu Indonesia, yang diklaim sebagai lagu rakyat Melayu yaitu, Terang Bulan Terang Dikali. Bahasa resmi masih bahasa Inggeris. Bahasa Melayu hanya dipakai secara terbatas pada semboyan negara yaitu, Bersekutu Bertambah Mutu, syair lagu kebangsaan Negaraku dan terjemahan nama resmi negara Federation of Malaya, menjadi Persekutuan Tanah Melayu (PTM). Sedangkan rakyatnya terdiri dari tiga kelompok etnis yaitu Cina, India dan Melayu, dengan perbandingan jumlah yang hampir berimbang. Setiap kelompok etnis ini berkomunikasi diantara sesamanya dalam bahasa etnisnya masing-masing, disamping bahasa Inggeris.

Selama masa penjajahan Belanda, perkembangan seni dan budaya Indonesia, terutama bahasa dan sastra Indonesia berjalan baik. Kita mempunyai Pujangga Baru dan Pujangga Lama. Bahkan orang Belandapun menaruh minat terhadap Bahasa Melajoe Indonesia ini. Kita mengenal nama-nama seperti Prof A. Teeuw, C. Ijspert, Van Opphuijzen dan lain-lain. Sedangkan Malaysia, selama masa penjajahan Inggeris tidak menggubris seni, budaya, bahasa dan sastranya. Orang Inggeris pun tidak menaruh minat atas bahasa bangsa jajahannya itu. Setelah merdeka pada tanggal 31 Agustus 1957, barulah Malaysia menaruh perhatian terhadap bahasanya. Dalam hal ini, saudara-tua serumpun Indonesia menjadi tumpuan sebagai rujukan dan malaikat penolong.

Dalam perjalanannya, Malaysia berhasil memajukan negaranya secara fenomenal. Dari sebuah bangsa yang “tidur-panjang”, Malaysia melesat bangkit sebagai negara yang berperan penting di kawasan regional dan internasional. Di bidang politik, Malaysia berhasil menjaga kestabilan pemerintahan secara berkesinambungan dimana suksesi kepala pemerintahan berjalan relatif mulus. Dibidang ekonomi, Malaysia sukses memakmurkan rakyat dan negaranya. Mereka juga maju di bidang sosial, teknologi dan lingkungan. Kota kota, pantai pantai dan sungainya bersih. Kontras dengan keadaan kita di Indonesia. Hanya di bidang budaya, Malaysia mengalami krisis jati-diri, yang sudah dimulai sejak mereka lahir sebagai bangsa.

Moto Malaysia Truly Asia adalah terjemahan visi bangsa yang dirumuskan secara jenius. Visi bangsa Malaysia adalah Malaysia yang maju dan memainkan peran yang penting dalam percaturan dunia, dan dalam berbagai bidang. Terjemahan visi ini dalam bidang transportasi adalah menjadi titik pusat atau hub lalu lintas dunia di kawasan Asia Tenggara. Artinya, di kawasan ini Malaysia ingin menyingkirkan Singapura sebagai pelabuhan transito laut dan udara. Dalam bidang pariwisata, Malaysia Truly Asia ingin merepresentasi Asia di Malaysia. Bagi dunia luar (luar Asia), Asia diidentikkan dengan Cina dan India, dua peradaban besar yang mendominasi Asia. Melalui pariwisata mereka ingin menunjukkan bahwa peradaban dan budaya Cina, India dan ditambah dengan Melayu bisa dijumpai di Malaysia. Ambisi pariwisata dan transportasi Malaysia adalah menempatkan Malaysia sebagai daerah tujuan wisata (DTW) utama (main destination), sekaligus menempatkan negara-negara tetangga lainnya, termasuk Indonesia, sebagai DTW tambahan (side destinations). Moto ini kini dikumandangkan secara intensif dan efektif ke seluruh dunia melalui promosi pariwisata sebagai garda garis depan. Malaysia kini telah mencapai apa yang dicita-citakannya sebagai negara paling terkemuka di Asia Tenggara. Jumlah kedatangan pelancong dari mancanegara telah mencapai angka 20 juta wisatawan per tahun, melampaui Thailand yang cuma bisa meraih 15 juta. Bandingkan dengan pencapaian Indonesia yang hanya 6,4 juta saja. Di lingkungan pergaulan internasional, Malaysia tampil sebagai negara industri yang maju, setara dengan negara-negara maju yang lain. Tapi di forum ini pula mereka merasakan ada sesuatu yang kurang pada dirinya yaitu, identity atau jati-diri sebagai bangsa Asia. Hal ini menyebabkan mereka merasa “minder”.

Jati diri sebagai bangsa yang multi-etnis mungkin tidak terlalu masalah. Tapi elite yang berkuasa sekarang adalah puak Melayu yang gamang dengan jati-dirinya, ditengah-tengah euforia suksesnya pembangunan ekonomi dan kemakmuran. Alih-alih menciptakan jati-diri yang pantas untuk dirinya, mereka malah mengklaim seni budaya orang lain sebagai miliknya. Mereka tampil sebagai les nouveaux riches atau orang kaya baru (OKB) dengan segala ulah-polahnya. Hal ini ditingkah pula dengan sikap angkuh terhadap saudara-tua serumpun, menganggap rendah dan menghina Indonesia. Tapi untuk hal jati-diri yang tidak ia miliki, ia tidak malu-malu mengklaim dirinya sebagai saudara-muda serumpun. Pepatah mengatakan, bila hari telah panas maka lupa kacang akan kulitnya, begitulah kira-kira tabiat saudara-muda serumpun kita sekarang. Almarhum Coluche, seorang komedian Perancis pernah berkata bahwa istilah le nouveau riche atau OKB tidaklah tepat, yang tepat adalah l’ancient pauvre atau mantan “kere”. Kita tahu bahwa kelakuan mantan “kere” dimana-mana sama saja noraknya.

Hikmah yang dapat dipetik dari kasus ini adalah, bahwa pembajakan aset-aset budaya ini sebaiknya ditangani secara kepala dingin. Ada jalur hukum yang dapat kita tempuh tanpa harus mengobarkan emosi kita secara sia-sia. Sebaliknya kita juga bisa belajar dari Malaysia bahwa visi nasional itu sangat perlu dan dapat dikomunikasikan secara efektif melalui promosi pariwisata. Kalau Malaysia bisa berjaya, padahal ia memulai pembangunan negaranya lebih kemudian dari kita, mengapa Indonesia tidak bisa? Benar kita sudah merdeka selama 64 tahun, tapi tidak ada istilah terlambat untuk berusaha maju. Paling tidak, Indonesia mempunyai identitas nasional yang sangat kuat.

Jakarta, 31 Agustus

Suhandi Taman Timur

———

Sumber: kompasiana, Klik: Sumber Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s