“Klaim” Budaya Itu, Sekali Lagi

Rabu, sehari lalu, aku membaca koran Kompas dengan judul diatas. Ku baca perkatanya, perkalimatnya, dan perparagrafnya. Satu hal yang menarik, bila data penulis ini benar, maka benar adanya sikap pemerintah yang lamban dalam menanggapi banyaknya klaim budaya oleh Malaysia. Pemerintah, pertama, tidak peduli dengan khasanah budaya di wilayah NKRI, kedua, pemerintah masih ragu–tidak memiliki kajian ilmiah, kalah dengan Malaysia–apakah budaya yang diklaim adalah benar-benar milik Indonesia?, ketiga, apakah Indonesia lebih baik dari Malaysia soal jiplakmenjiplak???…namun demikian, tulisan sastrawan yang kritis ini, setidaknya menyadarkan, bahwa masih banyak perspektif, tidak selalu menyoal politik Ganyang Malaysia, dan gonjang-ganjing rakyat akan kebenciannya kepada Malaysia, tidak lebih sebagai kemarahan terhadap pemerintah karena lalai, dan pemerintahlah yang harus menjawab carut-marutnya kenyataan ini…

selamat membaca artikelnya, bagus deh…

Oleh Radhar Panca Dahana

Supaya tidak terjebak dalam siklus kata-kata yang tidak produktif, kasus ”klaim tari pendet oleh Malaysia” ada baiknya mengklarifikasi satu hal: klaim yang diributkan itu sebenarnya tidak ada. Promo wisata Malaysia yang dibuat Discovery Channel tidak menyebutkan ikon-ikon budaya Indonesia yang ditampilkan sebagai milik, karya cipta, atau hak budaya mereka. Hal itu hanya dilakukan untuk kepentingan komersial/bisnis. Untuk soal seperti ini, sebenarnya terlampau kerap kita menjumpai kasus serupa, tanpa kita keberatan.

Promo wisata Singapura, misalnya, tak terhitung frekuensinya menggunakan gambar/video karya budaya Indonesia, termasuk wayang dan tari pendet. Tak ada keributan. Sebagaimana kita tahu, dalam propaganda politiknya, Nelson Mandela hadir di media massa global mengenakan batik. Atau museum di Paris dan Barcelona mempromosikan gamelan sebagai ikon utamanya. Dalam sebuah pergaulan budaya, sejak ribuan tahun, soal jiplak-menjiplak adalah hal lumrah, bahkan menjadi kewajaran kebudayaan. India tidak pernah marah saat orang Jawa menyatakan Mahabarata atau Ramayana adalah ekspresi kultural, bahkan sumber identitas. Rabindranath Tagore, pada awal abad ini, setelah berkeliling Jawa, menegaskan kepada sejawatnya, Sanusi Pane cs, tentang sasus ada ”India kecil” di kawasan tenggara. ”Dusta. Itu bukan India,” tegasnya, ”itu Jawa, yang bahkan India sendiri tidak mampu membuatnya.” Begitupun China tidak marah dengan banyak ekspresi budaya Indonesia yang diambil darinya, mulai sisingaan di Subang, beduk, baju koko, hingga—menurut Remy Silado—nada musik slendro. Apakah keroncong membangkitkan amarah orang Portugis? Bagaimana dengan musik gambus, marawis, sastra Bali, seni Betawi, hingga gaya harajuku anak muda masa kini?
Continue reading ““Klaim” Budaya Itu, Sekali Lagi”

Advertisements

LSN: Publik Ingin Malaysia Diganyang

lukisan-ganyang-malaysia

INILAH.COM, Jakarta – Klaim Malaysia terhadap beberapa jenis kebudayaan dan juga teritorial Indonesia akhir-akhir ini rupanya cukup menjengkelkan. Masyarakat ingin pemerintah bertindak lebih tegas menanggapi persoalan ini.

vwJ

Berdasarkan siaran pers yang diterima INILAH.COM, Jakarta, Kamis (3/9), hasil survei terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN), mayoritas publik minta pemerintah RI dapat lebih bersikap tegas terhadap negeri Jiran tersebut.
Continue reading “LSN: Publik Ingin Malaysia Diganyang”

McDonald’s Kesal Dijiplak Malaysia

152453INILAH.COM, Kuala Lumpur – Selama delapan tahun terakhir, jaringan fast food raksasa McDonald’s bertarung secara hukum melawan McCurry. Mereka meributkan masalah hak cipta restoran Malaysia itu, yang dianggap mencuri ciri khas McDonald’s. Walah!

Pertempuran itu berlanjut ke pengadilan tertinggi Malaysia pada Senin (7/9), menyusul putusan pada 29 April lalu bahwa McCurry sama sekali tak meniru McDonald’s. Pihak Malaysia ngotot restoran mereka kepanjangan dari ‘Malaysian Chicken Curry’ serta menyediakan berbagai menu kari khas negara itu.

“Saya yakin ribut-ribut ini hanya masalah nama restoran dan papan iklannya saja,” ujar pemilik McCurry, P Suppiah kepada Reuters. Ia pun siap meladeni tuntutan McDonald’s yang memiliki 185 outlet di Malaysia, meski dirinya memiliki satu outlet saja di Kuala Lumpur.
Continue reading “McDonald’s Kesal Dijiplak Malaysia”