Mantan Guru SMAN 2 Mengemis

Tanjungpinang, Konon, saat ini menjadi guru lumayan nyaman. Kerja mapan, tunjangan jalan, insentif berkucuran, dan lagi: kalau sempat, bisa kerja sampingan.

Itu sih khusus untuk guru pemerintah (baca: guru PNS). Yang non-PNS (guru honor, GTT, dan sebagainya) harus maklum dengan “belas kasihan”. Meski dibutuhkan, guru-guru non-PNS wajib maklum karena tidak bisa menandalkan honor bulanan, baik dari sekolah ataupun “suntikan” pemerintah.

Ketika memasuki masa purna, guru non-PNS harus siap-siap banting tulang. Kerja apa saja demi menghidupi keluarga. Malah sampai ada yang “menadahkan tangan” ke mana-mana. Nurdin Aman Sitompul, misalnya.

Rabu siang (28/10) yang lalu, Tompul–begitu dia suka dipanggil–sempat menyambangi redaksi Koran Peduli. Dengan sebatang tongkat penyangga kayu dan bersandal jepit kumuh, plus peci kusam, Nurdin terseok-seok melangkah ke lantai dua. Tampak raut wajah “orang susah”, ditambah rambut yang didominasi warna putih.

Bukan untuk bercerita tentang kurikulum, bukan pula untuk berdiskusi soal belajar mengajar. Saat itu, Nurdin memelas meminta sumbangan!

Dia berkisah, saban hari mesti berkeliling kota Tanjungpinang. Dari rumah ke rumah, dari kantor ke kantor. Semua itu dilakukan hanya untuk mengumpulkan rupiah!

“Untuk membiayai perobatan, saya berjalan berkeliling kota mendatangi sekolah-sekolah demi meminta bantuan suka rela untuk membantu biaya perobatan saya,” tutur Nurdin, dengan wajah berpeluh setelah seharian “jalan-jalan”.

Dia mengaku, saat ini sedang menderita stroke. Karena tak punya andalan penghasilan bulanan, dia mengaku terpaksa menyambangi siapa saja demi belas kasihan. Dia berasalan, semua itu terpaksa dilakukan demi biaya perobatan yang dijalaninya.

Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Tompul bercerita. Katanya, dia sempat berkiprah di dunia pendidikan, tepatnya menjadi tenaga pengajar bahasa asing (bahasa Jepang, red) di SMA Negeri 2 Tanjungpinang.

Statusnya saat itu hanya guru honor, dan bertugas selama tiga tahun sejak 2004 hingga 2007. Tompul, yang mengaku pernah bekerja di kapal asing ini mengatakan, bahasa Jepang sudah tak asing baginya. “Tapi karena ada tambahan seorang guru tetap, saya pun terpaksa keluar dari sekolah itu,” tuturnya.

Diceritakan, sejak hengkang dari SMAN 2 Tanjungpinang, dia mencoba peruntungan di sejumlah sekolah. Namun, nasibnya belum mujur jua.

Kemudian, dia mencoba ke Batam. Di kota inilah dia mendapat pekerjaan sebagai tenaga pengajar di Politeknik Batam.
Di tempatnya yang baru itu pun hanya bertahan setahun (2007 – 2008). “Saya berhenti karena (menderita) stroke,” ujarnya sedihnya.

Tompul menuturkan, sejak menderita stroke, tidak banyak yang bisa dilakukannya. Karena itu ia pun memutuskan untuk kembali ke Tanjungpinang. “Kalau di sini paling tidak ada keluarga yang merawat,” ungkapnya.

Hanya saja, persoalan tak langsung hilang. Biaya perobatan masih menjadi masalah lantaran cekaknya kantong dia. Tompul pun mengaku terpaksa mengharapkan belas kasihan dari rekan dan guru-guru yang ditemuinya. Tanpa malu, dia biasanya langsung bicara apa perlunya.

“Kadang mereka memberikan bantuan semampunya, kadang 50 ribu (rupiah). Tergantung kemampuannya,” katanya memaklumi jumlah bantuan yang diberikan.

Syukurlah, untuk berobat ke Puskesmas, Tompul tak perlu menguras kantong. Pihak Puskesmas menggratiskan biaya perawatan, lantaran adanya program khusus untuk orang lanjut usia.

Tapi, “Namanya Puskesmas, yaa memang tidak bisa berharap bisa sembuh,” ujarnya sedih.

Usai berkeluh-kesah, Tompul pun berundur. Langkahnya masih terseok-seok ketika hendak menuruni tangga. “Tak usah, tak usah, saya bisa, kok,” tolaknya ketika hendak ditolong. (*)

Sumber: GI

6 thoughts on “Mantan Guru SMAN 2 Mengemis

  1. Prihatin dgn nasib para guru bangsa ini,,,….
    gimana bangsa ini mau berkembang dan maju pesat jikalau nasib pencetak pibadi2 harapan bangsa
    saja sebegitu menyedihkan,,,
    Oya kalau boleh sedikit menyisipkan,, saat ini hampir di semua Puskesmas seluruh Indonesia sudah menggratiskan pelayanan kesehatannya. Bukan cuma buat para lansia (orang lanjut usia), bukan pula hanya untuk oang miskin,, tetapi semua orang tanpa kecuali.
    Dan lagi yang sering sekali orang lupa Puskesmas ‘Pusat Kesehatan Masyarakat’ beda dgn RS,’Rumah Sakit’ , pada hakekatnya Pusk,, bukan tempat pelayanan orang sakit melainkan sekumpulan sistem yg memenej usaha untuk kesehatan masyarakat dan untuk mencegah terjadinya penyakit/ wabah di suatu lokasi,,mis pemberian imunisasi,pomasi kesehatan,dll. tapi berhubung Puskesmas yg paling mudah di akses oleh masy maka tetap diberikan pengobatan untuk penyakit2 tertentu yg memang bisa ditangani,, tapi kadang ini menjadi pisau bermata ganda buat Puskesmas sendiri,, karena orang malah beranggapan pelayanan Puskesmas tidak memadai karena obat yg itu2 saja,, alat2 tdk lengkap,,dll…
    Weee,,,kepanjangan ya komentnya??
    Salam kenal,,,
    Sukses selalu,,,🙂
    ————-
    Saya baru tahu kalau puskes itu gratis, di Jakarta masih mbayar mbak…tapi memang pelayanan, baik itu sikap dan obatnya benar-benar tidak memuaskan, mungkin lebih baik ke rumah sakit, swasta lebih baik, tapi tidak di OMNI yaa…hehehehehe….

  2. Ya ampun, beginikah nasibmu sekarang Pak?
    saya mantan murid anda Pak.
    kira2 dmn Beliau skrang ya?
    apa masih di Tanjungpinang?
    Beliau selalu mengatakan kepada saya “Gambatte”.
    tapi sekarang keadaan Beliau jadi seperti ini,
    semenjak lulus, ga pernah lagi bertemu dengan Beliau,
    Semoga Bapak Selalu diberikan ketabahan dan kesabaran.
    saya ingin sekali bertemu dengan Bapak.
    Semoga Allah SWT. selalu melindungi Bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s