Evaluasi Peserta Didik Untuk Guru

Semester gasal (1) tahun ajaran 2009/2010 telah berlalu. Sebagai bagian untuk perbaikan pelayanan kepada peserta didik, sejak tahun 2004, saya selalu melakukan evaluasi terhadap cara pembelajaran. Evaluasi yang dimaksud berupa pendapat peserta didik yang ditulisakan pada secarik kertas tanpa nama, terkait kelebihan dan kelemahan saya dalam proses pembelajaran selama satu semester yang telah berjalan, dan suguhan saran dari peserta didik.

Saat membaca, saya tersenyum-senyum, pasalnya selain lucu, ternyata ada pula yang keluar dari yang saya minta, tak terpikirkan sama sekali. Misalnya, saya harus mengganti potongan rambutnya, dan wangi parfum yang saya kenakan juga diperhatikan. Guru, sebuah profesi yang menjadi sorotan, baik itu peserta didik, maupun masyarakat.

Selain itu, beberapa yang umum berkembang dikalangan peserta didik adalah, saya tergolong guru yang ketat dan kritis (beberapa mengartikan: pelit) dalam soal penilaian. “Tidak ada upah nulis”, selalu saya dengungkan setiap kali sebelum dan saat verifikasi hasil ulangan, sehingga nilai yang saya berikan adalah benar apa adanya. Uraian panjang lebar yang ternyata salah, bagi saya, mendapat nilai nol (baca: tanpa ada penambahan nilai sebagai upah nulis).

Selanjutnya, saya juga dinilai oleh beberapa peserta didik sebagai guru yang kurang tegas karena banyak memberikan kebebasan sehingga ada peserta didik yang becanda, tidak memperhatikan saat proses pembelajaran. Namun, beberapa peserta didik, mengakui penguasaan kelas begitu baik. Selain itu, kebanyakannya yang positif, saya juga dikenal sebagai guru yang disiplin, tepat waktu, jarang absen, murah senyum, jarang marah, asiik diajak ngobrol, nyambung, dan cara ngajarnya membuat peserta didik jadi lebih maju. Beda dengan guru yang lain.

Saya membiasakan peserta didik membaca dirumah dan saya periksa ketika awal belajar, serta mulai menanyakan apa yang telah diperolehnya melalui membaca. Selain proses yang terus berjalan disetiap pertemuan, menulis essay terhadap berbagai latihan serta diskusi didepan kelas adalah agenda rutin disetiap semester. Ini yang menurut saya, menjadi sarana dalam mencapai tujuan pembelajaran: “bisa menulis dan berbicara”, dua buah kompetensi yang nantinya berlaku disegala situasi. Semoga peserta didik saya dapat memahaminya. Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s