Permasalahan berawal ketika banyak ditemukan nama orang tua yang beragam di raport, khususnya ditempat tanda tangan orangtua/wali. Ada orang tua yang tidak mau tanda tangan (dan minta dicetak ulang) dengan alasan nama orang tuanya masih nama bapak yang lama. Di lain kasus, bahkan ada yang mengganti dengan cara ditempel, karena bapaknya telah tiada (entah meninggal , sudah bercerai, ataupun pergi tanpa kabar cerita).

Kami, selaku Tim SAS juga menemukan nama orang tua yang sudah berganti, ketika mengetahui ada yang salahsatunya meninggal dunia. Namun timbul petanyaan, manakah yang benar?. Haruskah yang menandatangani raport SAS adalah bapak biologis seperti tertera dicetakan raport?, bolehkah digantikan dengan Ibunya, yang mungkin, karena sudah meninggal atau lainnya?, bahkan wali?. Satu jawaban, kami tidak atau belum menemukan petunjuk tertulis-legalformal terkait permasalahan tersebut.

Pihak guru yang sudah pernah menjadi wali kelas, dan pegawai TU yang berhubungan denga arsip, menyatakan bahwa yang tanda tagan adalah orang tua laki-laki (dan tertulis di lembar raport). Haruskah bapak?, bagaimana anak yang dilahirkan akibat Ibunya yang disetubuhi beberapa laki-laki, bahkan tidak ada satupun yang bertanggungjawab?, bagaimana dengan anak pelacur (PSK-red)?, bagaimana kalau anak yang dititipkan ke panti tanpa mengetahui sang penitipnya?. Bukankah yang lebih baik adalah nama Ibu yang dicantumkan?, bukankah yang melahirkan adalah pasti: Ibu?, kenapa tidak seperti identitas di Bank yang menggunakan nama Ibu?. Kenapa harus bapak?….