PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI, PERLUKAH?

Hansiswany Kamarga

Makalah disampaikan dalam Seminar Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS dalam rangka Lustrum UPI, 19 Oktober 2009

Pendahuluan

Salah satu dari tujuan pendidikan adalah mempersiapkan siswa dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar kelak dapat berfungsi sebagai orang dewasa. Dengan perubahan yang cepat terjadi di dunia ini, maka perlu dilakukan penilaian kembali tentang apa yang diharapkan dipelajari oleh siswa di sekolah. Kaitannya dengan pendidikan sejarah, maka Sejarah sebaiknya dipelajari, sebab memang penting bagi individu dan masyarakat. Apa dan bagaimana posisi pendidikan sejarah di sekolah seringkali tidak mendapat perhatian dari kalangan guru. Sejarah selalu diidentikkan dengan pelajaran mengetahui dan menghafalkan peristiwa/fakta sejarah, tanpa menelaah lebih lanjut apa sebenarnya yang diinginkan dari pemahaman terhadap peristiwa sejarah tersebut.

Terdapat berbagai jalan untuk mendiskusikan fungsi nyata sejarah, sebab banyak pandangan-pandangan kesejarahan yang berbeda dan terdapat berbagai potongan-potongan sejarah yang dapat dimaknai melalui beragam interpretasi. Menurut Stearns (2002), semua definisi tentang manfaat mempelajari sejarah didasarkan pada dua fakta yakni :

a. Sejarah membantu memahami manusia dan masyarakatnya.

Pada posisi awal, sejarah dapat diibaratkan sebagai “toko informasi” yang berisikan kehidupan manusia dan perilaku masyarakat. Memahami perilaku manusia dan masyarakatnya bukan pekerjaan mudah. Jika kita hanya memiliki keyakinan terbatas berdasarkan data terakhir, dengan menggunakan kajian sejarah hal tersebut tidak menjadi halangan. Seperti misalnya bagaimana mengevaluasi konsep perang jika negara dalam keadaan damai, kecuali dengan menggunakan materi sejarah. Bagaimana memahami pengaruh inovasi teknologi atau peran yang diyakini membentuk kehidupan keluarga, jika tidak menggunakan pengalaman masa lampau. Konsekuensinya, sejarah harus menyediakan semacam laboratorium dan data yang berasal dari masa lampau harus dapat menyediakan evidensi-evidensi vital untuk memberikan gambaran perilaku spesies manusia dalam setting sosial seperti itu. Hal inilah yang memberikan kejelasan mengapa kita tidak dapat jauh dari sejarah : sejarah menawarkan evidensi untuk melakukan kontemplasi dan analisis bagaimana masyarakat berfungsi, dan manusia memerlukan pemahaman tentang berfungsinya masyarakat agar mereka dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.

b. Sejarah membantu memahami perubahan dan bagaimana kondisi masyarakat di masa yang akan datang.

Alasan kedua perlunya mempelajari sejarah sangat dekat hubungannya dengan alasan pertama. Masa lampau menghasilkan masa sekarang dan masa sekarang akan menghasilkan masa depan. Jika seseorang ingin mengetahui tentang suatu peristiwa yang terjadi, apakah mengenai dominasi partai di Kongres Amerika, atau perubahan jumlah remaja yang melakukan bunuh diri, atau peristiwa perang di Balkan, maka selalu akan ditelusuri faktor-faktor penyebabnya. Beberapa kejadian sejarah mudah diidentifikasi karena waktu kejadiannya belum lama berselang, terhadap beberapa kasus perlu dilakukan kajian jauh ke belakang untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya perubahan. Hanya melalui kajian sejarah dapat ditangkap bagaimana sesuatu berubah; hanya melalui kajian sejarah dapat dilakukan kajian secara komprehensif faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan; dan hanya melalui kajian sejarah dapat dipahami elemen-elemen institusi atau masyarakat yang berubah.

Dengan demikian, diharapkan siswa mempelajari sejarah adalah dengan memahami bahwa posisi sejarah bukan untuk dihafalkan peristiwa-peristiwanya melainkan mencari makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Pengajaran yang efektif akan terjadi apabila siswa ditempatkan sebagai fokus dalam suatu keputusan yang tidak hanya tentang ketercapaian kurikulumnya saja tetapi juga dalam hal proses di mana kurikulum tersebut dilaksanakan. Dalam konteks ini, dibutuhkan suatu pemahaman adanya hubungan positif antara guru dan siswa. Hal ini sejalan dengan pemikiran yang terdapat dalam KTSP, di mana belajar diartikan sebagai kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman.

Tujuan Pembelajaran Sejarah

Berdasarkan KTSP, tujuan pembelajaran di sekolah adalah agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui pembelajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia. Pembelajaran sejarah juga bertujuan agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang (Pusat Kurikulum, 2006).

Pada tingkat SMA, tujuan pembelajaran sejarah adalah :

* Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan masa kini dan yang akan datang
* Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari
* Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat (Pusat Kurikulum, 2002).

Atas dasar tujuan tersebut, maka kompetensi dasar sejarah pada jenjang SMA yang diharapkan dikembangkan melalui pengajaran sejarah adalah :

1. mampu mengklasifikasi perkembangan masyarakat untuk menjelaskan proses keberlanjutan dan perubahan dari waktu ke waktu;
2. mampu memahami, menganalisis, dan menjelaskan berbagai aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, ekonomi, politik, sosial dan budaya serta pengaruhnya terhadap masyarakat di Indonesia dan dunia dari waktu ke waktu;
3. mampu mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan keragaman dalam sejarah masyarakat di Indonesia dan dunia serta perubahannya dalam konteks waktu;
4. mampu menemukan dan mengklasifikasi berbagai sumber sejarah dan adanya keragaman analisis serta interpretasi terhadap fakta tentang masa lalu yang digunakan untuk merekonstruksi dan mendeskripsikan peristiwa serta objek sejarah;
5. menyadari arti penting masa lampau untuk memahami kekinian dan membuat keputusan (Pusat Kurikulum, 2006).

Jika dicermati tujuan pembelajaran sejarah dan kompetensi-kompetensi yang diharapkan diperoleh siswa sebagaimana diuraikan di atas, maka pertanyaan yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah “bagaimana mengembangkan proses pembelajaran sejarah agar tujuan dan kompetensi dapat dicapai ?”

Dalam pembelajaran sejarah terdapat dua aspek yang harus diperhatikan oleh guru yakni menguasai fakta dan mengembangkan kebiasaan berpikir kesejarahan. Melalui kajian sejarah siswa memperoleh gambaran latar belakang kehidupannya sekarang, sehingga belajar tentang peristiwa masa lampau memberikan pemahaman bahwa terdapat kontinuitas dengan kehidupan masa kini. Pengetahuan sejarah ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang perkembangan atau kecenderungan berbagai bangsa. Dengan demikian siswa memperoleh pemahaman terhadap kehidupan yang lebih luas. Sebagai contoh, terjadinya ketegangan antara Islam dan Kristen memerlukan pemahaman terhadap pola yang terbentuk sejak lebih kurang 12 abad yang lampau. Demikian pula pembelajaran sejarah memerlukan tekanan pada isu-isu penting yang terjadi di dunia sebagai dasar untuk memahami sejarah dunia. Mengembangkan kebiasaan berpikir kesejarahan melalui kajian perbandingan akan memperkaya pengetahuan dan analisis. Siswa melakukan perbandingan dalam hal pola-pola yang berbeda pada perjalanan sejarah dari berbagai tradisi dan budaya yang terdapat di dunia.

Kunci untuk mengembangkan kebiasaan berpikir kesejarahan adalah dengan memberikan pengalaman berulang kali dalam kegiatan inkuiri. Joe Exline (http://www.thirteen.org/edonline/concept2class/inquiry/index.html)menjelaskan bahwa Inquiry implies involvement that leads to understanding. Furthermore, involvement in learning implies possessing skills and attitudes that permit you to seek resolutions to questions and issues while you construct new knowledge. Dalam melakukan inkuiri, siswa dihadapkan pada berbagai materi yang bervariasi dan analisis masalah yang berbeda. Fakta memang diperlukan dalam mempelajari sejarah, sebab analisis dapat dilakukan jika siswa menguasai fakta-fakta sejarah; tetapi belajar sejarah tidak berhenti sampai pada penguasaan fakta-fakta belaka, melainkan perlu dikembangkan kebiasaan berpikir kesejarahan sampai tahap berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, pengembangan kegiatan pembelajaran sejarah seharusnya diarahkan kepada pengujian terhadap perubahan sejarah, interpretasi terhadap konflik atau isu-isu kontroversial melalui contoh-contoh yang berbeda, dan kajian terhadap satu peristiwa yang dianalisis melalui berbagai evidensi. Mengembangkan kemampuan mengulang, kebiasaan berpikir melalui berbagai latihan yang kompleks, sangat diperlukan dalam belajar sejarah. Dalam hal ini guru dituntut untuk dapat mengembangkan proses pembelajaran yang berkualitas.

Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi

Menurut Bettelheim (Nash, 1996 : 2) mempelajari sejarah bagi siswa adalah ” rich food for their imagination, a sense of history, how the present situation come about”. Sejarah akan memperluas pengalaman siswa, sebagaimana dikatakan oleh Phenix (Nash, 1996 : 2) ” a sense of personal involvement in exemplary lives and significant events, an appreciation of values and vision of greatness”. Sejarah menghubungkan setiap siswa dengan “akarnya”, dan mengembangkan rasa memiliki ( a sense of personal belonging).

Agar dapat mencapai apa yang dikemukakan baik oleh Bettelheim maupun Phenix, maka pembelajaran sejarah harus kaya dengan sumber/resource, agar siswa dapat mengembangkan imajinasinya. Persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dari perbedaan persepsi antar penulis akan memaksa siswa untuk berpikir lebih tajam, sensitif, dan berupaya mengembangkan kemampuan nalarnya. Sumber atau resource yang paling kaya ada di internet, dan inilah gudangnya resource untuk bahan belajar siswa.

Persoalan yang muncul kemudian adalah, bagaimana mengembangkan pembelajaran yang berbasis internet (dalam hal ini terminologi teknologi informasi disederhanakan dengan berbasis internet). Apa yang harus dilakukan oleh guru?, bagaimana memulai pembelajaran tersebut?, pembelajaran apa saja yang dapat dikembangkan melalui internet?, berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkannya?, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan oleh guru ketika berbicara tentang pembelajaran berbasis internet. Pertanyaan-pertanyaan ini memberi gambaran bahwa dalam benak guru, mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi informasi sangat kompleks dan membutuhkan biaya yang besar. Pada bagian ini akan diulas hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.

a. Posisi internet dalam pembelajaran sejarah

Ketika seorang guru akan membuat perencanaan pembelajaran sejarah, dan guru tersebut berkeinginan untuk memposisikan pembelajarannya berbasis internet, maka ada 2 hal yang dapat dikembangkan yakni (1) mengembangkan model belajar dengan menggunakan internet sebagai salah satu medianya, dan (2) menggunakan sumber-sumber tertulis (artikel) sebagai resource belajar.

Pada posisi butir (1), guru membuat perencanaan pembelajaran melalui salah satu model belajar yang berbasis internet; sehingga pada guru tersebut dituntut untuk dapat mengembangkan situs yang akan digunakan sebagai tempat belajar siswa atau menggunakan situs2 pembelajaran yang sudah ada. Dalam hal ini, situs yang dikembangkan atau dipakai oleh guru merupakan media pembelajaran. Sebagai contoh, guru dapat mengembangkan model belajarnya dengan menggunakan situs pbwork (www.pbwork.com) atau situs webquest (www.webquest.org) sebagai tempat menampung rencana pembelajaran, materi, kegiatan/proses belajar, bahkan evaluasi hasil belajarnya. Selain itu, guru dapat mengembangkan situs khusus yang digunakan sebagai tempat belajar siswanya, seperti misalnya situs e-laboratory. Dengan demikian, pada posisi ini, guru sebagai pengembang model belajar yang berbasis internet.

Pada posisi butir (2), guru (dan siswa) hanya sebagai user yang memakai berbagai situs yang berisikan sumber/resource belajar untuk kepentingan updating pengetahuan. Di sini tidak ada tuntutan guru untuk paham dan dapat mengembangkan situs belajar; yang diperlukan adalah kepiawaian user untuk dapat menemukan atau mengakses sumber/resource yang berisikan content belajar siswanya. Masalahnya adalah sampai saat ini banyak di antara para user yang menghadapi kesulitan untuk dapat mencapai tingkat akses artikel bermutu di internet.

Dari kedua posisi tersebut, tampak bahwa baik untuk mengakses sumber, apalagi kemampuan untuk mengembangkan model belajar, para guru masih berada dalam kondisi menyedihkan. Keadaan ini sangat bertentangan dengan niat pemerintah yang ingin melakukan percepatan pengembangan mutu pendidikan melalui pengembangan fasilitas internet bagi sekolah-sekolah di seluruh pelosok Indonesia.

b. Menggunakan internet sebagai resource

Terdapat banyak fasilitas di internet yang dapat digunakan sebagai resource belajar, di antaranya artikel-artikel yang ditulis oleh berbagai kalangan tentang sejarah, foto-foto atau peta-peta sejarah, film-film dokumenter sejarah, yang semuanya dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah. Dalam konteks akses internet, sumber-sumber ini terdapat dalam WWW (world wide web), yakni kumpulan situs yang diakses melalui hyper text transport protocol (http).

World wide Web (WWW) atau seringkali disebut sebagai Web merupakan fasilitas internet yang paling disukai dan diperkenalkan pada awal 1990an (http://www.livinginternet.com). Melalui tampilan grafisnya yang menarik, Web mampu mengumpulkan khalayak di seluruh dunia dari berbagai kepentingan untuk berinteraksi dalam jaringan raksasa ini. Sebenarnya WWW ini terdiri atas milyaran dokumen informasi yang berada dalam berbagai komputer server (server web) dan masing-masing komputer server ini terhubung menjadi suatu jaringan yang disebut internet. Dokumen-dokumen informasi yang terdapat dalam situs dibuat melalui format HTML (Hypertext Markup Language) dan disimpan dalam server web berbentuk file yang disebut dengan Web Page atau Page. Satu halaman (page) dapat berisi teks atau objek yang berhubungan atau mempunyai keterkaitan dengan dokumen lain. Keterkaitan halaman lewat teks atau objek ini disebut dengan hypertext. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa WWW adalah sekelompok dokumen multimedia yang saling terkoneksi lewat hypertext link, sehingga dengan mengklik suatu tanda hypertext link pengguna dapat berpindah dari satu dokumen/file ke dokumen/file lain.

Sebagai contoh, sumber/resource yang dapat diakses dan berisikan teks tentang sejarah di antaranya jika akses ke

http://www.gimonca.com/sejarah/sejarah.shtml ; http://www.asianinfo.org/asianinfo/indonesia/pro-history.htm ; http://www.iisg.nl/w3vlindonesia/ ; http://www.regit.com/regitour/indonesi/about/history.htm

Contoh sumber/resource yang berisikan peta-peta sejarah di antaranya dapat akses ke

http://www.lib.utexas.edu/maps/historical/history_asia.html

http://www.lib.utexas.edu/maps/historical/ambon_1943.jpg

http://www.lib.utexas.edu/maps/historical/batavia_1897.jpg

Contoh sumber/resource yang berisikan film-film dokumenter tentang sejarah di antaranya

http://www.youtube.com/watch?v=8dNorgkG-Ek

http://www.youtube.com/watch?v=b-mKe1fKqPY

Sumber/resource ini terdapat dalam jaringan internet yang jumlahnya sampai saat ini mencapai milyaran situs. Persoalannya adalah bagaimana pengguna mampu mengakses atau sampai kepada sumber yang diinginkan. Dalam hal ini diperlukan keterampilan akses melalui directory atau search engine.

c. Menggunakan web 2.0 untuk mengembangkan pembelajaran sejarah

Web 2.0 merupakan produk pengembangan web 1.0 yang berisikan seperangkat provider service di mana pada situs model web 2.0 pengguna tidak hanya sebagai user pasif melainkan dapat memproses content sebagaimana yang diinginkan. Pada perkembangannya saat ini, web 2.0 lebih dikenal sebagai situs sosial yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas untuk berkolaborasi, berpartisipasi, dan mendistribusikan sesuatu (Knobel & Wilber, 2009 : 20). Lebih lanjut, Knobel menjelaskan bahwa the internet makes room for all kinds of interests and affinities, and more and more online service making it possible for people leave comments, review posted work, and respond to others’ opinions in truly participatory ways (Knobel & Wilber, 2009 : 20).

Perkembangan situs yang interaktif seperti ini, dengan berbagai fasilitas yang terdapat di dalamnya (chat, message board, photo posting, notes, dan lain sebagainya) memunculkan model pembelajaran berbasis internet yang lebih sederhana. Dengan menggunakan satu situs, guru dapat mengembangkan berbagai keterampilan untuk keperluan pembelajarannya. Chat dapat digunakan untuk melatih berkomunikasi, message board dapat digunakan untuk forum tanya jawab, notes dapat digunakan untuk melatih menulis artikel, dan foto posting dapat digunakan untuk menyimpan gambar dan sebagainya.

Selain sebagai pengguna situs web 2.0, penggunaan jenis situs ini akan memperluas jaringan sebagaimana yang dikemukakan oleh Richardson (2009 : 26) … our students’ learning lives will be spent interacting in online, virtual networks, forming groups with others on the basis of their passions and their need to learn, all the wlihe making complex decisions about whom to connect to, how much information to share, and how best to achieve both collective and individual goals. Dengan demikian maka dalam proses belajar, siswa mengembangkan kurikulumnya sendiri, mengkreasi projek/tugas nya, dan menilai hasil kerjanya berdasarkan masukan dari orang-orang di sekitarnya yang memberikan masukan terhadap pekerjaannya tersebut. Di sini siswa didorong untuk self-directed, self-motivated, dan menjadi lifelong learner yang melek jaringan (network-literate).

Situs web 2.0 yang dapat diakses dan digunakan di antaranya :

http://www.blogger.com ; situs blog yang dapat dikembangkan menjadi situs penempatan artikel

http://docs.google.com ; situs kolaboratif yang dapat digunakan untuk mengelaborasi tulisan dan diperiksa oleh teman untuk kemudian dikoreksi pada tempat yang sama. Situs ini dapat digunakan secara terbatas, sehingga ketika guru menggunakan situs ini untuk melatih siswanya menulis, maka secara langsung hasil tulisan siswa dapat dikoreksi. Selain itu juga dapat dilakukan komunikasi langsung secara tertulis.

http://www.delicious.com ; situs sosial yang mempunyai fasilitas untuk mengumpulkan bookmark (penanda situs), sehingga jika pengguna sudah melakukan browsing, dan ingin menyimpan hasil browsingnya dapat menggunakan situs ini

http://www.zamzar.com ; situs yang berisikan fasilitas program konversi. Situs ini diperlukan jika pengguna ingin mengambil file video dari youtube maka agar dapat digunakan file tersebut harus dikonversikan terlebih dahulu.

http://www.facebook.com ; situs pertemanan yang sangat terkenal, di dalamnya terdapat fasilitas chat, notes, group, posting message.

Kesimpulan

Jika ditelaah, bahwa begitu banyak keuntungan yang dapat diperoleh melalui internet, apakah kemudian masih harus dipertanyakan perlukah pembelajaran sejarah dikembangkan dengan berbasis internet? Jika sampai saat ini masih ada guru sejarah yang anti atau phobi terhadap teknologi informasi, maka dapat dibayangkan, betapa membosankannya pembelajaran sejarah yang dikembangkannya.

Sumber : clioedu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s