Membangun Paradigma Baru Pendidikan Sejarah SMA

Identifikasi Seminar

Judul tulisan diatas adalah tema dalam kegiatan seminar sehari yang diadakan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dengan dukungan HIVOS pada Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 6 Maret 2010. Kegiatan seminar yang digelar hari sabtu, berlangsung sejak pukul 08.00-15.00 WIB dan dihadiri sekitar 80-an guru dari Jakarta dan sekitarnya.

Seminar ini menghadirkan pembicara sebagai berikut:

1. Asvi Warman Adam (Peneliti Utama LIPI) dengan 3 makalah yang berjudul: a.) Menanamkan Nasionalisme pada Era Orde Baru dan Era Reformasi, b.) Menjadi Indonesia: Proses Terbentuknya Bangsa-Negara Indonesia, c.) Nasionalisme Berbasis Maritim (dalam Perspektif Pembelajaran di Sekolah) yang sediakala dipersembahkan dalam Seminar Nasional Refleksi Satu Abad Kebangkitan Nasional, Jurusan Sejarah FIS Unnes, Semarang, 15 Mei 2008. Status makalah ini adalah: Masih dalam Bentuk Draf (seperti tertulis di kiri halaman muka).

2.) Ketua AGSI dan Guru Sejarah SMAN 6, dengan menampilkan presentasi power point tanpa ada bentuk kertas yang dibagikan kepada peserta seminar.

3.) BSNP yang diwakili Teuku Ramli Zakaria, yang hanya menyiapkan powerpoint yang digandakan kepada seluruh peserta seminar dengan pembahasan yang berjudul: Kebijakan Terkait Dengan Pendidikan Sejarah.

4.) Asih, Dosen UNJ sebagai pengganti S. Hamid Hasan, dosen UPI. Dosen UNJ tersebut tidak menyiapkan apa-apa kecuali langsung orasi, dan dosen UPI menitipkan makalah dengan judul: Pendidikan Sejarah dan Bagaimana?.

Pembicara 1 dan 2 mulai pukul 09.46-12.00 WIB, dan dilanjutkan dengan pembicara 3 dan 4, sejak pukul 13.00-15.00 WIB.

Hasil Seminar

Dari berbagai pertanyaan dari guru-sejarah, LSM dan pengacara yang menghadiri seminar tersebut, para pembicara setuju bahwa membangun paradigma baru pendidikan sejarah di SMA membutuhkan waktu, dan tak dapat diselesaikan hanya sekali seminar. Workshop dan berbagai pelatihan untuk guru serta pemasukan untuk penentu kebijakan merupakan agenda yang harus dilaksanakan bila ingin tema seminar kali ini dapat terealisir. Namun demikian, saya banyak mendapatkan ilmu, baik persahabatan ataupun dari diskusi. Ternyata, buku-buku yang kubaca, tidak jauh berbeda dari seminar itu. Bukannya percuma, tapi malah memperkaya.

Secara resmi, terdapat notulennya. Saya mendapatkannya di sebuah situs, dan berikut uraiannya.

Notulensi Seminar
Diposkan pada 02/09/2010 oleh Admin

Notulensi Seminar

“Membangun Paradigma Baru Pendidikan Sejarah di SMA”

Galeri Nasional, Jakarta, 6 Maret 2010

Pembukaan dan sambutan (Pkl. 09.00)

Asvi W:

– Salah satu masalah dalam pendidikan sejarah di sekolah adalah tidak adanya pedoman/petunjuk yang jelas untuk guru sejarah.

– Memang saat ini ada dua buku yang mungkin bisa digunakan yaitu “Indonesia Dalam Arus Sejarah” (8 jilid), tapi tampaknya belum siap diterbitkan oleh SBY. Dan kedua, Balai Pustaka menerbitkan edisi pemutakhiran Sejarah Nasional Indonesia (6 jilid).

– Dalam makalah yang saya buat, saya menyampaikan kritik SNI edisi pemutakhiran tersebut, yang belum bisa dijadikan rujukan.

– Sedangkan komentar saya terhadap ”Indonesia Dalam Arus Sejarah” belum ada kemajuan. Pada jilid-jilid awal, ada tokoh-tokoh penting seperti Kwik Kian Gie, Ibu Ely Setyowati [???], Leo Suryadinata, yang sepertinya mempunyai keahliannya di bidang masing-masing, dan ini kiranya pantas untuk jadi rujukan. Tetapi khusus untuk jilid 7 dan 8, khususnya masalah G30S yang ditulis Pak ___Hari, menurut saya tidak banyak berbeda dengan versi orde baru. Jadi saya katakan dalam catatan saya, saya memuji buku ini sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh walaupun masih belum sempurna terutama jilid 7 dan 8. Dan saya juga memuji dalam buku ini, Editor sudah mengembalikan istilah G30S menjadi G30S, meskipun kurikulum 2006 menetapkan G30S/PKI.

– Kemudian di sini saya diminta untuk memberikan pendapat tentang materi esensial yang pokok-pokoknya adalah mengenai sejarah kebangsaan. Sementara begitu banyaknya materi yang harus diajarkan, tapi intinya kita harus mengajarkan tentang sejarah kebangsaan, sejarah karakter.

– Pada masa orde baru, sudah ada PSPB tapi tujuannya lebih banyak memberikan legitimasi pada rejim yang berkuasa yang menyatakan rejim orba adalah pemerintah yang baik, pengganyangan PKI oleh kesatuan-kesatuan aksi adalah tindakan yang tepat.

– PSPB diadakan karena lebih banyak kebutuhan yang besar dari militer. Ketika itu Jenderal Yusuf berkunjung ke AKABRI, ia melihat para Taruna di situ tidak banyak mengenal pahlawan nasional. Maka, ketika ia melaporkan ke Suharto, Suharto mengeluarkan kebijakan agar diadakan pelajaran PSPB.

– Sekarang, situasi sudah berbeda dengan masa Orba. Kita melihat pentingnya pendidikan sejarah kebangsaan untuk dua hal: ke dalam untuk memperkokoh terhadap segala sesuatu yang dapat memecah belah bangsa. Kedua, tujuan keluar yaitu penting untuk menghadapi ancaman dari luar seperti globalisasi yang makin kita rasakan di Indonesia. Dua hal ini yang menyebabkan nasionalisme semakin penting untuk ditanamkan.

– Pertanyaannya kemudian, aspek apa yang penting diberikan terkait dengan pengajaran nasionalisme ini?

– Bila dibandingkan di Singapura, untuk smp kelas 3, mata pelajaran sejarah diawali dengan asal-usul Singapura. Dan karena asal-usul orang Singapura dari etnis Cina, Melayu, dan India, maka awal yang diajarkan adalah Kebudayaan Cina, India kemudian Melayu. Kemudian, aspek yang diajarkan di sana banyak menekankan pada aspek perdagangan dalam setiap era sejarah. Jadi ketika membahas suatu era sejarah, aspek pedagangan ini ditonjolkan. Misalnya: majapahit jatuh bukan karena serangan musuh, tapi karena kalah bersaing dengan kerajaan Singosari. Itu untuk pelajaran di Singapura. Dan kita bisa memaklumi penekanan aspek itu.

– Lalu bagaimana dengan Indonesia. Kita mau-tak mau juga harus mengajarkan tentang asal usul bangsa Indonesia. Kita dari mana? Data Arkeologi menunjuukkan adanya fosil-fosil di Nusantara. Tapi ada teori lain: bahwa nenek moyang beraasal dari Cina bagian selatan kemudian menetap di Nusantara. Jadi, mereka itulah yang kemudian menetap menjadi nenek moyang di Indonesia. Apa kesimpulannya? Kita semua adalah keturunan pendatang, bukan orang asli di sini. Jadi, masalah dengan etnis Tionghoa dan lain-lainnya, bisa dikatakan sama-sama pendatang, bedanya hanyalah lebih ada yang awal dan ada yang belakangan.

– Selanjtnya, orang-orang yang menetap di nusantara mengalami pengaruh empat kebudayaan besar yaitu: kebudayaan India berupa Hindu-Budha, kemudian kebudayaan Cina, Kebudayaan Islam atau Arab, kemudian dari Eropa. Nah, dalam materi pengajaran, mengenai pengaruh kebudayaan Cina tidak pernah diajarkan. Menurut hemat saya, sudah saatnya merubah itu semua, sebab kebudayaan Cina dapat memberikan nilai sejarah kewiraswastaan kepada generasi mendatang.

– Kalau kita melihat ke belakang, ada ahli yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia adalah kumpulan etnis-etnis yang sudah ada sebelumnya seperti Batak, Sunda, Jawa, dll. Itulah yang membentuk Indonesia. Jadi kesadaran ini sangat penting untuk menjelaskan keragaman atau kemajemukan Indonesia.

– Selanjutnya mengenai sejarah nama ’Indonesia’. Di dalam berbagai buku saya kira sudah diberikan bahwa nama Indonesia itu berkembang yang pada intinya berasal dari konsep etnologi, kemudian berubah menjadi konsep politis. Perubahan konsep ini penting diperhatikan. Dan orang Indonesia pertama yang menggunakan istilah ’Indonesia’ adalah Ki Hajar Dewantara waktu di belanda. Dan kemudian ada tiga partai yang pertama-tama menggunakan kata ini yaitu PNI pada tahun 1927, sebelumnya tahun 1925 Perhimpunan Indonesia, dan sebelumnya lagi tahun 1924 PKI. Di dalam buku ”Sejarah Indonesia” yang ditulis Ibu Ratna Hapsari, hal ini diungkap juga, tapi saya bertanya-tanya, apakah benar, Jong____ mendirikan kepanduan tetapi masih menggunakan Indonesis, bukan Indonesia. Jadi, sebenarnya belum menggunakan Indonesia. Dan ini menurut hemat saya berbeda.

– Selanjutnya, kita mengetahui mengenai wawasan nusantara dan mengetahui juga bahwa Indonesia mempunyai kekayaan alam yang sangat kaya namun belum terolah maksimal. Bahkan sampai dengan saat ini. Tetapi kemudian masuklah bangsa Eropa yang kemudian melakukan penjajahan. Mula-mula mencari rempah-rempah, kemudian pendirian konsi dagang VOC, kemudian pendudukan berubah menjadi Hindia Belanda, juga tentang perlawanan dari daerah-daerah, perlawanan yang sangat lokal, tidak ada koordinasi. Salah satu contoh untuk menekankan tidak adanya koordinasi adalah saat meletus perang Padri tahun 1821 dan berakhir tahun 1837. Perang ini sempat terhenti karena Belanda harus menghadapi perlawanan Diponegoro tahun 1825. Kalau ada koordinasi dan komunikasi antara Padri dengan Diponegoro, tentunya bisa menekan Belanda secara maksimal. Belanda sempat kewalahan melawan Padri tetapi akhirnya kedua perlawanan itu bisa dihancurkan Belanda.

– Kemudian masuk dalam era pergerakan kebangsaan sejak awal abad 20 yang biasanya diungkap dengan ditandai munculnya organisasi seperti Budi Utomo. Hanya saja perlu dilihat, bahwa BU punya keinginan mendirikan sekolah karena juga adanya kecenderungan mendirikan sekolah oleh kelompok-kelompok lain. Tahun 1900 kelompok orang-orang Tionghoa mendirikan sekolah Tionghoa Hwe Kuan yang kemudian diikuti keturunan orang Arab yang kemudian mendirikan sekolahan juga. Kedua hal ini memicu orang-orang Jawa untuk mendirikan BU dan mendirikan sekolah.Jadi, menurut saya, Budi Utomo tidak bisa dilepaskan dengan organisas-organisasi yang lain.

– Berikutnya kita tahu bahwa gerakan ini menimbulkan terjadinya Sumpah pemuda. Ada pandangan bahwa bab supmah pemuda adalah tonggak penting dalam sejarah Indonesia sebelum proklamasi Indonesia. Ada sosiolog, Iwan Kardono [???] yang berpandangan bahwa dengan sumpah pemudia, sebenarnya sudah lahir jiwa bangsa Indonesia tetapi belum ada tubuhnya dan baru lengkap setelah proklamasi 17 Agustus. Saya juga melihat bahwa ketika mengajarkan Sumpah pemuda, yang ditonjolkan adalah soal persatuan dan kesatuan seperti sering digunakan sebagai istilah di jaman orba walaupun tidak jelas apa bedanya antara persatuan dan kesatuan. Namun sebenarnya, Manifesto Perhimpunan Indonesia tahun 1925 juga dapat melerngkapi kesatuan dalam sumpah pemuda. Disebutkan persatuan saja tidak cukup tetapi kemerdekaan dimana didalamnya ada kebebasan, persamaan, dan kesetaraan antar keluarga.

– Nah, selanjutnya Jaman jepang itu sangat penting untuk dilihat. Tidak hanya soal Hei-ho sampai jugun ianfu. Mengapa? Karena pada era ini, pemerintah Jepang memberikan kesempatan pada bangsa Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia. Jepang memberikan kesempatan pada Soekarno-Hatta untuk untuk berpidato menggelorakan semangat kebangsaan serta didukung pembuatan film-film. Jadi, Jepang membuat kesadaran kebangsaan semakin terbuka.

– Berikutnya yaitu soal lahirnya Pancasila 1 Juni 1945. Ini penting untuk disampaikan karena menyangkut soal dasar negara yang dapat mepersatukan bangsa Indonesia di antara idiologi yang lain.

– Kemudian Proklamasi 17 Agustusyang merupakan tonggak sejarah berdirinya Indonesia. Ada Sejarawan yang beranggapan bahwa kenapa pendidikan sejarah tidak diajarkan dimulai proklamasi saja? Baru kemudian latar belakang atau ke depan. Tetapi ini satu pemikiran yang patut kita pertimbangkan, paling tidak menunjukkan bahwa proklamasi adalah satu tonggak yang sangat penting. Pada era ini juga penting menunjukkan bahwa generasi mudalah yang mendesak atau mendorong untuk proklamasi terbentuk. Di sini terlihat juga antara generasi muda dengan generasi yang lebih senior.

– Nah masa setelah itu, era mengisi kemerdekaan 1945-1950. Kita memasuki masa-masa kekacauan yaitu dimana diwarnai: masa transisi pemerintahan, sarana dan prasarana belum tersedia, kekacauan pemerintah. Nah masuknya “Peristiwa Tiga Daerah” juga dalam konteks ini.

Ada tiga hal yang sering disampaikan di sekolah pada era ini yaitu: pentingnya diplomasi dan pentingnya perjuangan bersenjata. Juga diwarnai diplomasi, perjuangan bersenjata. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah soal dukungan rakyat terhadap politisi dan tentara. Juga termasuk berbagai kepentingan yang muncul dalam perundingan Linggar Jati sampai KMB.

– Berikutnya, kalau kita melihat dari perspektif bangsa, saya melihat bahwa tahun 1950-2005 adalah era perang saudara. Kalau dari masa orde baru menggunakan istilah pembrontakan karena negara harus satu, utuh. Maka bila ada kelompok yang bisa menimbulkan negara runtuh, mereka sebut sebagai pemberontak. Dan di Orba, tentaralah yang dianggap paling berjasa menghancurkan pemberontakan itu. Namun, kalau kita melihat dari persfektif kebangsaan, apa yang terjadi di Ambon, RMS, PRRI Permesta, DI/TII, apa yang terjadi di tahun 1965, hingga GAM, adalah suatu perang saudara.

– Juga patut di sini untuk menekankan era percobaan dua demokrasi: liberal (1950-1959) dengan puncaknya bubarnya konstituante. Perdebatan dalam konstituante sebenarnya sangat penting untuk menunjukkan upaya menjadikan Indonesia berdasar satu idiologi saja, termasuk Islam, itu gagal. Jadi, kenapa harus diulang lagi bila ada yang berkeinginan islam sebagai dasar negara? Jadi, memang pancasila sebagai dasar negara tidak didukung 100% tetapi bila digantikan dengan idiologi islam juga ndak akan didukung secara secara kuat, maka alangkah baiknya tetap gunakan pancasila sebagai alat pemersatu.

– Kemudian era 1959-1965 yaitu percobaan demokrasi Terpimpin. Kita tahu bahwa masa ini adalah masa yang sangat revolusioner. Masa ini ada keinginan ysangat besar untuk menjadikan Indonesia berpengaruh besar di dunia. Kita melihat Bung Karno berupaya membangun stadion senayan untuk tempat penyelenggaraan , Asian Gam keempat tahun 1962, kemudian ganefo tahun 1963, ini merupakan suatu capaian walaupun di sisi lain ekonomi sangat terpuruk. Pembangunan terabaikan sampai runtuhnya era ini tahun 1965.

– Kemudian era orba tahun 1966-1998. Menurut hemat saya, peralihan kekuasaan era ini, juga tak terlepas dari konteks perang dingin. Dalam konteks ini saya kira bisa untuk kita jelaskan tentang peristiwa 65. Sementara kalau dari materi pendidikan sekarang, era perang dingin diberikan secara terpisah, sedang menurut saya itu harusnya disampaikan sekaligus untuk menjelaskan terjadinya peristiwa 65. Kemudian juga, pada masa ini memperlihatkan juga ada pencapaian-pencapaian pembangunan orde baru yang harus diakui misalnya program KB untuk menekankan pencegahan peledakan penduduk walaupun dalam pelaksanaannya ada ekses-ekses yang tidak diinginkan di berbagai kasus dan daerah. Tetapi saya ingin menekankan bahwa KB cukup sukses menekan angka kelahiran pada masa orba. Kemudian kita juga melihat bahwa ada politik luar negeri yang relatif berhasil misalnya damam membangun hubungan dengan negara ASEAN. Dan di sini saya juga ingin menyampaikan bahwa pada era orba ada pencapaian penampungan pengungsi di pulau____ tahun 1970-an itu juga suatu keberhasilan dari orba. Padahal, penampungan pengungsi di negara lain pada tahun 1970-an itu sangat buruk. Tetapi kemudian kenapa ORBA tumbang tahun 1998? Tentunya ada beberapa faktor ekonomi, faktor krisis global dan lain-lain, tetapi juga karena faktor lain seperti merajalelannya bisnis putra-putri Suharto, dll.

– Nah, jadi inilah intinya, ada 15 butir yang bisa menjadi narasi utuh dengan menonjolkan aspek kebangsaan di dalamnya. Terima kasih, Wasalamkm.

IBU RATNA:

“Menggagas paradigma baru pendidikan sejarah di SMA”

– Apa yang saya sampaikan sebenarnya mengurai tentang apa yang sebaiknya kita sampaikan di kelas. Kalau tadi Bapak Asvi sudah memberikan garis besar materi yang perlu di sampaikan pada pendidikan sejarah, maka saya menekankan bahwa pendidikan sejarah haruslah lebuh menekankan pada pembangunan karakter bangsa.

– Untuk mengingatkan kembali dari apa sebenarnya tujuan pembelajaran sejarah:

membangun kesadaran siswa tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses masa lampau, masa kini , dan masa yang akan datang.

melatih daya kritis siswa untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan mendasarkan pada pendekatan ilmiah dan metode keilmuan.

menumbuhkan apresiasi dan penghargaan siswa terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban sebagai bangsa di masa lalu.

menumbuhkan pemahaman siswa terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia dari mulai asal-usulnya yang multi etnis dan melalui proses yang panjang.

menumbuhkan kesadaran siswa sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang punya rasa bangga dan punya cita-cita di tingkat nasional maupun internasional

– Kalau berdasarkan tujuan pendidikan sejarah seperti telah diungkap, sebetulnya pendidikan sejarah telah menjadi agenda nasional dimana didalamnya terkandung berbagai konsep penting dalam menumbuhkan kebangsaan. Nah, wujud konkritnya seperti apa? Jadi ada dua konsep pendidikan sejarah yaitu yaitu: konsep pendidikan dan karakter. Pendidikan berarti suatu kegiatan manusia yang bersifat dikdaktik yang ditujukan pada siswa-siswa yang sedang dalam proses pencarian jati diri.

– Pendidikan seharusnya tidak disampaikan secara sama rata kepada siswa didik. Dalam prakteknya, analoginya seperti menghadapi kebun binatang dengan berbagai hewan ada angsa, burung, buaya, dll. Burung jangan diajak berendam. Akan tetapi dalam prakteknya kita masih menyamaratakan anak berdasarkan nilai-nilai hasil pembelajaran yang muncul. Bahkan hingga sekarang, ada perguruan tinggi yang masih meminta siapa-siapa saja siswa yang mendapat rangking satu sampai sekian. Padahal lebih penting untuk menilai dari proses pembelajarannya. Nah inilah sebenarnya yang sudah tidak sinkron dengan tujuan pendidikan.

– Seperti diungkap Pak Asvi, materi sejarah yang cukup banyak tetapi harus disampaikan dengan waktu yang terbatas, misalnya untuk kelas IPA. Perlu terobosan dari guru untuk implementasi pembelajaran sejarah di tengah keterbatasan waktu. Bila pembelajaran sejarah diharapkan untuk mampu membentuk siswa yang memiliki sifat bertanggung-jawab secara moral di atas hidup bersama dengan yang lain maka kalau pembelajaran sejarah masih mengandalkan metode ceramah dari waktu ke waktu, kondisi di atas tidak mungkin tercapai.

– Apa yang bisa kita lakukan secara konkrit. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, misalnya:

· membantu siswa untuk bisa mengembangkan pemahaman dirinya sendiri dan bisa dimulai untuk mengenali asal-usul kita seperti diungkap Pak Asvi, bahwa sesungguhnya orang Indonesia asli itu tidak ada. Kita ini adalah produk campuran dari berbagai bangsa dengan berbagai latar belakang baik dari Cina, Arab, dll yang berasimilasi beratahun-tahun.

· Pembelajaran untuk materi yang kontroversi dan sangat mendasar bisa dilakukan dengan model pembelajaran yang tidak dengan metode ceramah. Misalnya dengan problem solving, inquiri, bisa anak diajak ke suatu tempat, mengembangkan ketrampilan siswa untuk bisa membangun interaksi, biasakan berdebat, berdiskusi, presentasi, mengemumakan pendapat.

· Mengembangkan kemampuan pemahaman internasional: tidak hanya sebatas soal era perang dingin, malaise, tetapi juga ada hal penting lainnya seperti mengajarkan budaya-budaya negara lain

· Mengajarkan toleransi sikap intelektual dan prinsip2 moral. Hasil pendidikan saat ini seringkali melahirkan intelektual yang bagus tapi moral yang tidak bagus.

· Mengajarkan orientasi masa depan.

· Gambaran konsep ruang dan waktu dalam masyarakat. Jadi kalau kita membahas suatu kasus tertentu, perlu diungkap latar belakang budaya dan bagaimana kondisi masyarakatnya.

· Mengevaluasi apa yang telah dicapai oleh generasi sebelumnya.

· Memperkokoh rasa nasionalisme.

– Kendala di lapangan:

· kebijakan masih membatasi tidak keluar dari idiologi negara

· menekankan hasil bukan proses

· bahan terlampau banyak cenderung diceramahkan saja

· dikotomi dalam struktur kurikulum, seolah sejarah bisa diajarkan siapa saja. Dan sering dihilangkan di program non IPS padahal soal pendidikan karakter seharusnya tidak boleh dihilangkan. Akhir-akhir ini, bagi sekolah yang akan menjalankan SKM (Sekolah Kategori Mandiri) juga akan menghilangkan lagi jam sejarah untuk kelas IPA

– Lalu, pertanyaannya selanjutnya, apa yang seharusnya kita lakukan?

· melakukan pemetaan materi esensial dan menyusun bahan ajar yang harus disipkan oleh guru sendiri. Tidak hanya mengacu pada buku saja. Kalau bisa menulis buku sendiri itu lebih bagus dengan menyesuaikan kondisi sekolah bapak-ibu.

· mengembangkan materi keterhubungan antara rasio dan emosi

· mengembangkan konsep sejarah (perubahan, konflik, sebab, akibat, nasionalisme, rakyat, bangsa, dll) dengan pendekatan ilmu-ilmu lain

Sesi Tanya Jawab:

1. Bapak _____ dari SMA ______ Sukabumi

– mengkonfirmasi penjelasan Pak Asvi dalam makalah ”Menjadi Indonesia…” hal. 5, ditulis adanya kesimpulan terbentuknya keindonesian dari etnografi, geografis, dan politis. Padahal menurut saya adalah proses mental, proses mencari identitas. Dan terus berkesinambungan. Berikutnya halaman 8, sepertinya itu bagian yang ditulis Pram dalam ”Jejak Langkah” padahal buku ”Jejak Langkah”, apakah bisa digunakan sebagai sumber? Dan apakah ada sumber lain yang bisa bapak tunjukkan?

– Mengkonfirmasi soal tema seminar tapi dari dua pembicara belum lahir paradigma baru

2. Dari SMA 72 Jakarta

Dari pembicara muncul kesan kita ditantang memperjuangkan bagimana posisi sejarah dibanding ilmu lain yang di UN-kan. Dan dimata Bu Ratna, ilmu sejarah cenderung diajarkan secara kognitif dan belum secara afektif.

3. Budiarti dari UNJ

Seharusnya tidak hanya paradigma baru di sejarah saja tetapi seharusnya juga di ranah pendidikan seluruhnya. Pendidikan karakter emang tidak perlu di UN-kan, tapi Bahasa Inggris juga seharusnya tidak perlu di-UN-kan. Pemikiran para pengambil kebijakan pendidikan harusnya perlu mengkaji kembali.

Hal lain, para guru juga sering terjebak hanya pada rutinitas. Perlu terobosan, misalnya mengulas sejarah perdagangan dari masa ke masa, ini akan menarik bagi siswa.

Tanggapan:

Pak Asvi:

– Konsep dari etnografis, geografis dan politis, dijelaskan dam hal 4 sesuai perkembangan sejarah

– Buku ”Menjadi Indonesia” tulisan Parakirti adalah tulisan menjadi Indonesia secara utuh. Sama sesungguhnya seperti yang diungkap Komarudin Hidayat tetapi punya nuansa berbeda.

– Soal pendidikan Tionghoa sebenarnya tidak hanya diungkap dalam ”Jejak Langkah” tetapi juga diungkap dalam buku-buku lain seperti Riklef. Artinya Pram menawarkan untuk menengok tidak hanya dari Budi Utomo aja untuk menjadi tonggak nasionalisme, bisa saja dari mulai THHK, sampai Kartini.

– Paradigma baru, barunya di mana, bisa saja dari dokumen yang baru, metodologi yang baru, dan persfektif baru. Kalau dulu hanya mengandalkan dokumen tulis, tapi bisa menggunakan sejarah lisan. Persfektif baru, kalau di masa lampau, sejarah dijadikan alat penindas, misalnya G30S/PKI dijadikan alat untuk menyingkirkan orang-orang yangdi-PKI-kan. Jadi persfektif baru adalah sejarah harus membebaskan.

– Membangun rasa nasionalisme dapat melalui mengungkap capaian-capaian bangsa dalam materi sejarah. Contoh: 1600 ada Tan Seko yang menjadi muslim kemudian menjadi kapala Syahbandar di Banten dan mempunyai piutang berdasarkan surat-surat kerajaan Banten. Ini menunjukkan bahwa di era itu ada orang bangsa kita sudah menjadi konglomerat

– Sebenarnya paradoks juga soal pengambil kebijakan pendidikan sejarah bersikap dan memandang ilmu sejarah. Di satu sisi sepertinya tidak menganggap penting tapi dari pidato SBY sepertinya ia memanfaatkan sejarah misalnya dalam penjelasan kasus bank Century dengan membandingkan krisis 2008 dengan 1997.

– Penguasaan dokumen sebagai sumber sejarah juga penting, kalau di Soviet, sejarawan ditakuti karena menguasai sumber dokumen yang sering tak terbantahkan.

Bu RATNA:

– Judul seminar diambil untuk mencoba menggugah tetapi masih akan disambung dengan workshop. Jadi tidak berhenti di sini. Nanti setelah hasilnya didapat akan kita coba bawa ke pengambil kebijakan.

– Seminar diharapkan membangun mindset baru meninggalkan cara pembelajaran sejarah konvesional.

Penanya

1. Allie, mahasiswa UNJ

Kalau guru masih mengajarkan secara konvensional berarti kita masih belum sadar sejarah.

2. Desi dari SD Cikal

– di Cikal pelajaran tidak disampaikan secara terpisah-pisah selain matematika, bahasa Inggris.

– Sejarah diajarkan untuk menunjukkan pengaruh masa lalu terhadap kehidupan sekarang ini

– Metode ceramah sudah ketiggalan jaman

– Bertanya bagaimana mengajarkan sejarah karakter?

Bu Ratna:

– Salut dengan Lani, guru muda dengan semangat baru dan sangat berarti untuk guru-guru sepuh agar tetap berpacu tidak hanya mengeluh jamnya terbatas.

– Bisa melakukan pengajaran tematis (penggabungan mat, ipa, sosiologi, bahasa, dll), misalnya dengan datang ke museum Kota Jakarta, dimana guru biologi diminta menjelaskan kenapa daerah itu pernah menjadi epidemi dan harus pindah, guru bahasa inggris diminta untuk presentasi tidak hanya dgn bahasa indonesia.

– Problem solving bisa dilakukan dengan pembahasan kasus di sekitar kita kemudian ditarik dari kacamata sejarah

– Pengajaran ceramah tetap masih perlu untuk menyampaikan soal konsep dan selebihnya bisa menggunakan metode lain

Asvi:

– sesungguhnya sejarah tetap saja bisa diringkas. Kalau dari 15 poin yang saya sampaikan bisa saja diringkas menjadi satu dari sejarah kebangsaan, cukup tentang proklamasi kemerdekaan

– Film ”Indonesia Calling” bisa di downlod dan cukup menarik untuk bahan pengajaran tentang konsep ”boycot”

Moderator:

Metode ceramah itu butuh kemampuan anak untuk bisa menyerap dan menyimak. Bangsa Indonesia saat ini, membutuhkan kemampuan untuk bisa MENYIMAK, bisa menarik perhatian dan membuat bahan penyampaian bisa dipahami secara menyenangkan.

MAKAN SIANG

Sesi II

Moderator:

– Menjelaskan tujuan seminar dan lokakarya yang akan diadakan sebagai kelanjutan seminar. Hasil seminar dan lokakarya ini akan diolah dan disampaikan kepada pihak terkait sebgai rekomendasi pengembangan pendidikan sejarah di masa mendatang, termasuk BSNP.

– Rencana lainnya adalah penerbitan buletin asosiasi guru sejarah yang isinya kegiatan-kegiatan AGSI, ISSI dan HIVOS. Para guru juga diharapkan bisa ikut menulis dalam buletin tersebut, karena ada poin dalam publikasi tertulis yang bisa berguna untuk sertifikasi.

– sesi sebelumnya pak asvi sudah menekankan pendidikan sejarah sebagai pendidikan kebangsaan atau karakter. Selanjutnya ia menawarkan 15 butir atau materi esensi yang bisa dijadikan acuan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Dari 15 poin ini masih bisa dipadatkan lagi. Implementasinya bisa disesuaikan serta bisa diringkas hingga satu poin besar misalnya tentang kemerdekaan sebagai pondasi berdirinya kebangsaan indonesia. Juga kaitannya dengan kondisi sosial politik pada masa kini.

– Bu Ratna menyebutkan bahwa perlu ada perubahan dalam praktek pembelajaran sejarah yang memuat asas-asas: toleransi, intelektualisme, prinsip-prinsip demokrasi, orientasi ke masa depan dan memperkokoh rasa kebangsaan.

– Sesi kedua ini akan melihat apakah usulan-usulan narasumber tadi sejalan dengan prinsip-prinsip penyusunan dan perkembangan kurikulum pendidikan sejarah serta kebijakan pemerintah melalui pemaparan Dr. Umasih (UNJ) dan Dr. Teuku Ramli (BSNP).

DR Teuku Ramli:

– Kajian sejarah merupakan kajian tentang peristiwa masa lalu untuk mengambil pelajaran dalam rangka pembentukan kepribadian manusia yang cinta pada bangsa dan tanah air. Juga dapat menjelaskan kondisi saat ini dan dapat memprediksi kondisi masa depan.

– Pendidikan merupakan kegiatan yang berhubugnan dengan kemanusiaan.

– Kegiatan pendidikan pada hakikatnya adalah upaya memaksimumkan pertumbuhan dan perkembangan potensi insani peserta didik. Kita sebenarnya bukan membentuk, tapi mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik.

– Eksistensi manusia terdiri dari tiga dimensi: manusia sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial, dan dalam kerangka Pancasila keduanya dihargai secara seimbang. Sedangkan dalam negara-negara liberal, penghargaan terhadap eksistensi sebagai makhluk hidup lebih besar. Di negara-negara sosialis, manusia sebagai makhluk sosial dihargai lebih besar. Hakekat manusia sebagai makhluk individu dan sosial adalah ciptaan Tuhan YME.

– Potensi insani adalah kelebihan, yang berupa kekuatan dan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, untuk dapat mengemban tugas insani di muka bumi ini, yakni memelihara, mengolah dan mengelola alam semesta, dengan menciptakan dan mengembangkan budaya.

– Potensi insani itu antara lain: kecerdasan intelektual, fisikal/ kinestika, spiritual/intrapersonal/intrapersonal dan sebagainya.

– Antara otak, raga dan hati sama-sama harus dikembangkan dalam rangka pendidikan.

– esensi mendidik: salah satu tugas professional pendidik adalah menanam dan mengembangkan nilai serta sikap peserta didik sesuai dengan:

eksistensi/ kodrat manusia (universal).

nilai-nilai sosial, budaya luhur yang tumbuh dan berkembang dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan dalam pergaulan global.

– Sejarah memuat nilai-nilai luhur, yang perlu diinternalisasikan kepada siswa, antara lain: menghargai jasa para pahlawan, mencintai bangsa dan negara, semangat rela berkorban, dsb.

– Pendidikan sejarah sebenarnya kental dengan nilai, tapi dalam praktek mengajar guru pada umumnya hanya mengajar saja.

– Tugas profesional pendidik (termasuk guru sejarah) adalah:

Mengajar, sasarannya: pengembangan kecerdasan intelektual.

Mendidik, sasarannya: pengembangan kecerdasan spiritual dan intra dan interpersonal.

Melatih: sasarannya: pengembangan kecerdasan kinestetik.

Menilai, untuk mengetahui: tingkat efisiensi dan efektivitas proses guna dapat melakukan perbaikan berkelanjutan dan tingkat ketercapaian hasil pembelajaran.

– Ini harus dilakukan oleh semua guru, tapi guru pada umumnya guru hanya mengajar tapi tidak mendidik. Akibatnya, anak tidak diasah hati dan keterampilannya sesuai dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan.

– Hasil mengajar dan melatih dapat diukur, tapi mendidik sulit untuk dinilai karena harus melalui proses pengamatan dalam waktu yang relatif lama.

– Kompetensi yang harus dimiliki pendidik menurut PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan: kompetensi pedagogik yang berhubungan dengan mengajar, kepribadian, profesional (penguasaan substansi mata pelajaran) dan sosial.

– Dari perspektif lain, kompetensi yang harus dimiliki guru: menguasai substansi (konsep dan skill, menguasai sejarah dengan sangat baik), metodologi, evaluasi, memiliki integritas kepribadian yang baik (pantas digugu dan ditiru).

– Menurut Permen no. 16 tahun 2007, kompetensi inti guru sejarah SMA adalah:

Menguasai hakekat struktur keilmuan, ruang lingkup dan objek sejarah.

Membedakan pendekatan-pendekatan sejarah.

Menguasai materi sejarah secara luas dan mendalam.

Menunjukkan manfaat mata pelajaran sejarah.

– Bahan pelajaran sejarah mengacu pada:

Standar Kompetensi & Kompetensi Dasar yang termuat dalam PERMEN No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.

Standar Kompetensi Lulusan, yang termuat dalam PERMEN No. 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan.

– Standar kompetensi adalah kompetensi minimal yang harus diajarkan oleh guru dan harus dipelajari oleh peserta didik.

– Standar kompetensi lulusan adalah kompetensi minimal dan esensial yang harus dikuasai peserta didik sebagai persyaratan untuk lulus dari satuan pendidikan.

– Kompetensi dasar adalah rincian dari standar kompetensi.

– Muatan dari kompetensi yang harus diajarkan dan dipelajari oleh peserta didik adalah: pengetahuan, nilai dan kecakapan. Ini mengacu pada rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan.

– Nilai secara eksplisit dan implisit terkandung dalam semua standar kompetensi.

– Proses pembelajaran sejarah menurut Permen no. 41 tahun 2007: perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil dan pengawasan proses pembelajaran. Yang terakhir dilakukan oleh pengawas dan kepsek, sedangkan tiga hal pertama dilakukan oleh guru.

– Pelaksanaan pembelajaran meliputi: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti (eksplorasi – siswa diminta mencari bahan sendiri, elaborasi – diminta untuk membaca dan konfirmasi – dilakkukan dengan pemberian tugas-tugas), kegiatan penutup.

– Penilaian hasil pembelajaran Menurut PP No. 19 Tahun 2005 dan PERMEN No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan, terdiri atas: penilaian oleh pendidik, penilaian oleh satuan pendidikan dan penilaian oleh pemerintah. Untuk pelajaran sejarah, hanya ada dua yaitu penilaian oleh pendidik (classroom assessment untuk pembelajaran berkelanjutan dan laporan/ pengisian raport/ kenaikan kelas) dan penilaian oleh satuan pendidikan (ujian sekolah).

– Teknik penilaian: tes (tertulis, lisan, praktik), observasi, penugasan, bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi.

– Aspek yang dinilai dalam pelajaran sejarah:

Pengetahuan (perkembangan kecerdasan intelektual).

Sikap (hasil dari penanaman nilai, perkembangan kecerdasan spiritual, intra dan interpersonal).

Kecakapan/ skill (perkembangan kecerdasan kinestika.

– Ketiga poin ini harus dinilai, tidak boleh salah satu saja.

– Nilai adalah ukuran atau kriteria dari perbuatan, keindahan, atau keberhargaan dari sesuatu yang menjadi pegangan bagi seseorang. Ia adalah kepercayaan normatif tentang apa yang disukai atau tidak. Nilai terdiri dari: agama, etika, moral, keindahan, ekonomi, kecerdasan, politik, dsb. Nilai seseorang memberi arah dalam pembentukan dan pengembangan sikap.

– Sikap adalah kecenderungan dalaman (internal behaviour), perasaan suka atau tidak suka pada diri seseorang.

– Perilaku adalah kebiasaan untuk bertindak dengan cara atau pola tertentu.

– Komponen sikap: kognisi, afeksi dan konasi.

– Pengetahuan dapat membentuk sikap, dan sikap dapat membentuk perilaku.

– Hakikat sikap adalah perilaku batin, niat, ikhtiat yang melandasi dan mengarahkan perilaku lahir, yang disebut dengan akhlak/ budi pekerti/ moral.

– Akhlak mulia adalah perilaku lahir batin yang sesuai dengan kodrat dan martabat manusia serta norma etika, moral dan hukum dalam masyarakat.

– Pelajaran sejarah harus dapat membentuk ahklak anak.

– Proses pembentukan sikap: mengamati dan meniru, menerima informasi verbal dan menerima penguatan.

– Sikap yang dinilai dan perlu dikembangkan dalam perlajaran sejarah: sikap dan nilai positif terhadap guru sendiri, terhadap mata pelajaran sejarah, pembelajaran sejarah, sikap sesuai nilai-nilai tertentu yang melekat pada misi dan karakteristik mata pelajaran sejarah (misalnya menghargai para pahlawan, rela berkorban, dsb), sikap sesuai dengan nilai-nilai umum, yakni sesuai dengan norma-norma etika, moral dan hukum dalam masyarakat.

– Cara guru mengembangkan sikap dan nilai positif siswa: memberi teladan, memberi informasi verbal (tidak hanya materi, tapi juga nasehat), memberi ganjaran, membiasakan pengamalan atau pembiasaan, menciptakan kondisi kondusif bagi pengamalan.

– Teknik penilaian sikap: observasi, laporan pribadi, pertanyaan langsung, skala sikap (daftar cek, skala rentang dan buku catatan harian siswa).

Dr. Umasih:

– Pendidikan karakter tidak dipisahkan dan berdiri sendiri, tapi terintegrasi dengan pelajaran.

– Menurut Prof. Hamid Hasan, pendidikan – khususnya pendidikan sejarah – memiliki dua kepentingan yang terkait yaitu kepentingan bangsa dan kepentingan peserta didik à dituangkan dalam kurikulum yang tercermin dalam standar isi.

– kritik: kurikulum terlalu berat, terutama di kelas X karena di sini juga diberikan keilmuan sejarah.

– sejarah memiliki dua fungsi: sebagai media pendidikan dan media keilmuan. Media keilmuan diberikan di awal, agar anak-anak memahami informasi, menganalisis dan mampu menggunakannya. Anak-anak sudah diperkenalkan bagaimana mencari sumber, mengkritik, menganalisis dan membuat konstruksi dari apa yang akan dipelajarinya kemudian.

– eksperimen di SMA 72 dan 52: anak-anak diajarkan untuk berpikir kritis dengan menggunakan sumber primer sejarah, bukan buku teks. Pada tahap awal, sumber primer terpaksa disiapkan oleh guru lalu dikritisi bersama oleh anak. Periode yang diambil adalah masa demokrasi liberal.

– penelitian sejarah berbeda dengan ilmu sosial lain. Penelitian sejarah diawali dengan data, sedangkan ilmu sosial mengawalinya dengan fakta.

– materi tentang penelitian sejarah diberikan di awal agar setelah mereka paham tentang penelitian sejarah, anak bisa lebih mengkritisi materi-materi berikutnya, bisa mencari sumber, memahami sumber dan membuat cerita menurut pemahamannya.

– Pendidikan karakter dan apa yang ingin dicapai oleh pendidikan sejarah saling berkaitan. Ada karakter-karakter yang ingin dibangun pada siswa: jujur, disiplin, bertanggung jawab, dsb.

– Keterkaitan antar mata pelajaran penting sehingga perwujudan pendidikan karakter juga bisa dilakukan pada mata pelajaran lain, tidak hanya sejarah.

– Keteladanan guru penting agar tujuan pendidikan sejarah sebagai pendidikan karakter dapat tercapai.

– Pendidikan sejarah sebagai pendidikan karakter merupakan kurikulum tersembunyi à ada hasil yang diinginkan, namun tidak dicantumkan dalam tujuan pembelajaran.

– Himpunan sarjana ilmu-ilmu sosial akan menyampaikan evaluasi terhadap kurikulum 2006 kepada pemerintah (BSNP).

DISKUSI

Ade (sukabumi):

– Ketika sekolah di LPTK, bisa menjadi murid paling pintar. Tapi ketika mengajar dan praktik di sekolah, malah guru mengalami pembodohan dan terdegradasi.

– penerjemahan UU Sisdiknas ke dalam Permen, PP malah menjerat guru sehingga tidak bisa berkreasi dalam kelas. Sekolah kita memiliki kultur birokrasi yang kental sekali. Guru dituntut untuk mengembangkan kreativitas, tapi dalam kenyataannya kita dihadapkan pada persoalan-persoalan kurikulum, misalnya membuat soal ujian yang targetnya kognitif.

– Bagaimana semangat akademis, egaliter yang tercermin dalam UU Sisdiknas tidak hilang dalam peraturan-peraturan turunannya?

Nani Asriyani (SMU MH Thamrin):

– kenapa jam sejarah sangat sedikit, padahal penting untuk pembangunan karakter?

– Berdasarkan pengalaman mengajar sejarah, yang dibutuhkan anak adalah penjelasan logis kenapa mereka harus belajar sejarah.

Fadillah:

– dalam makalah Pak Teuku, proses pembelajaran ada tiga. Tapi dikaitkan dengan tupoksi guru dan SAS (sistem administrasi sekolah), masih kurang. Ini terkait dengan jam pelajaran yang kurang. Tupoksi guru ada 5 dan dalam SAS, kita boleh mengubah sistem penilaian agar memperbaiki prestasi siswa.

– Tentang keteladanan, saya setuju dan mendapatkan pencerahan dari pernyataan ini

Daud (JSKK):

– belajar sejarah adalah membangun karakter dan identitas bangsa, belajar tentang masa lalu. Pelajaran sejarah dipandang sebagai pelajaran esensial untuk pembentukan karakter, tapi terbentur dengan persoalan klasik kebijakan. Bagaimana BSNP memandang kurikulum sejarah yang ada sekarang ini?

– Melihat karakter siswa yang menyukai seni atau olahraga, pelajaran sejarah bisa dikaitkan dengan kegemaran siswa tersebut. Bagaimana pendapat narasumber terhadap trend-trend kontemporer ini?

TANGGAPAN PEMBICARA

Ramli:

– BSNP menetapkan standar, yaitu hal yang sifatnya minimal. Ukuran maksimalnya diserahkan pada guru. Standar-standar yang ditetapkan oleh BSNP tidak membatasi guru. Kenapa guru bosan? Karena guru belum menghayati profesinya, belum memanfaatkan waktunya dengan baik.

– Ada keluhan bahwa kurikulum kita sangat padat. Berkaitan dengan jam pelajaran, kita menetapkannya dengan melibatkan tenaga guru dan perguruan tinggi. Tenaga BSNP sendiri sangat terbatas. Kalau jam pelajaran sejarah kurang, dapat diterima sebagai masukan dan akan disampaikan pada pleno BSNP.

– Mengenai tupoksi guru, sudah tercakup dalam tiga proses pembelajaran yang disebutkan tadi. Evaluasi yang dilakukan guru bisa bermacam-macam: remedial, evaluasi normatif, somatif, dlsb.

– Tentang keterkaitan sejarah dengan peristiwa aktual, itu dikembalikan pada guru. Intinya adalah standar kompetensi, tapi perluasannya tergantung guru. Guru hanya mengajar sesuai dengan alokasi waktu, tidak menghiraukan bagaimana mencapai standar kompetensi.

Umasih:

– guru-guru takut kalau menambah SK dan KD, padahal boleh saja asal tidak mengubah.

– Tentang jam pelajaran, keputusan itu terletak di tangan eselon 1 meskipun ada pelibatan guru dan akademisi.

– Mencegah anak agar tidak bosan: beranjak dari masa kini ke masa lalu. Kaitkan peristiwa masa lampau ke masa kini. Beranjak dari apa yang terjadi di sekitar anak.

Moderator:

– pendidikan sejarah sebagai pendidikan nilai bukan konsep yang baru, tapi harus terus menerus diperbaharui.

penutup dari pembicara:

– guru adalah pekerja profesional. Maka jangan membuang-buang waktu, bekerja keras, cerdas dan kreatif, tuntas, totalitas, ikhlas.

– kita harus mengubah mind set sebagai guru. Jangan menyerah, nikmati pekerjaan.

One thought on “Membangun Paradigma Baru Pendidikan Sejarah SMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s