Saksi Hidup Timor-Timur

Fari Kiri-Kanan:Rokerdrigis (Menhan Timor Leste), Xanana Gusmao (PM.Timor Leste), Herminio Dasilva Da Costa, dan Brigjen Matauak (Panglima Timor Leste)

Dari Kiri-Kanan:Roque Rodri Gues (Menhan Timor Leste), Xanana Gusmao (PM.Timor Leste), Herminio Dasilva Da Costa, dan Brigjen Mataruak (Panglima Timor Leste)

Sejarah Timor-Timur (sekarang Timor Leste) berawal dengan kedatangan suku atau orang Australoid dan Melanesia. Pada abad ke-16,  bangsa Portugal datang ke Pulau Timor ini (1508), pertama oleh Frei Antonio Taveiro dalam misi Evangelisasi Agama Katolik yang disertai pedagang-pedagang Portugis dan angkatan laut Portugis tempo duloe untuk berdagang rempa-rempa, lilin dan kayu cendana pada awalnya dan akhirnya menjajah wilayah itu dari tahun 1508-1975. Tahun 1975 saat itu Portugis lari meninggalkan Timor Timur dalam keadaan perang saudara. Setelah terjadi beberpa bentrokan dengan Belanda, dibuat perjanjian pada tahun 1859 dan tahun 1909 di mana Portugal memberikan bagian barat pulau itu. Jepang dan Australia menguasai Timor-Timur dari 1942-1945 dan menewaskan sedikitnya 45 jiwa dalam perang antara Jepang dan Australia, namun setelah Perang Dunia II Sekutu mengembalikan Timor Leste kepada penjajah Portugal untuk dijajah kembali. Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, kolonel Mario Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka pada tanggal 22 Agustus 1975 Lemos Pires memerintahkan kepala stafnya major Magalhaes menyarahkan kekusaan militer Portugis dan pemerintahan kepada letnan Rogerio Lobato dan kemudian menarik pemerintah dan tentara Portugis yang sedang bertahan di daratan Timor Leste untuk evakuasi ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro dan pada 7 Desember 1975 lari meninggalkan wilayah Timor Leste dengan tetap membiarkan perang saudara bergema. Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.

Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September hingga November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya wanita dan anak-anak karena para suami mereka adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia). Berdasarkan itulah, kelompok pro-integrasi kemudian mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis Internasional yang berpusat di Europa Barat tepatnya di Prancis saat itu. Perlu diketahui bahwa komunisme yang dianut di Timor Leste oleh Fretilin (Prente Revolucionaria de Timor Leste Independente) tidak ada hubungan dengan komunisme di Cina dan Uni Soviet saat itu, tapi ada hubungannya dengan Komunisme Internasional yang bekerja sama dengan kolonialisme dan  kapitalisme Barat dan salah satu tokoh utama Fretilin yaitu Jose Ramos Horta (kini Presiden Timor Leste) adalah anggota Partai Sosialis Portugal pimpinan Mario Soares. Maka komunisme yang ada dan dianut Fretilin di Timor Leste adalah komunisme gaya negara-negara barat untuk tetap memilihara kolonialisme, neokolonialisme dan melestarikan kapitalisme serta menggeser komunisme Uni Soviet dan Cina.

Apa Kata Tokoh Timor-Timur

 

Jajak Pendapat Rakyat Timor Timur pada 30 Agustus 1999 masih dalam ingatan kita semua dengan peristiwa lepasnya Timor-Timur (saat ini Timor Leste) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lewat suatu refrendum yang disetujui Indonesia sebagai jalan terbaik untuk untuk melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 384 tanggal 22 Desember 1975 dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 389 tanggal 22 Apri 1976 dan  meninggalkan Timor Timur tanpa harus merasa malu, yang difasilitasi oleh PBB saat itu dan didukung Portugal. Dan hasil akhir dari Jajak Pendapat (referendum) itu sebagaimana telah disepakati adalah untuk menyelamatkan Indonesia dari rasa malu sehingga diatur agar  sebagian besar masyarakat Timor-Timur memilih opsi kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri sesuai Pasal 1 Ayat 2 Piagam PBB dan Resolusi PBB 1514  dibanding bergabung dengan otonomi khusus dalam NKRI sebagaimana dibenarkan dalam Resolusi PBB 1541. Dimana Opsi yang ditawarkan B.J. Habibie yang menggantikan  Jenderal Besar Soeharto pada 20 Mei 1998,  terdiri atas 2 pilihan, berintegrasi (bergabung) dengan NKRI dengan otonomi khusus atau opsi kedua berpisah dan memerdekakan diri yang artinya mendirikan negara sendiri lepas dari NKRI, dan akhirnya suara terbesar dialihkan untuk Opsi Kemerdekaan dan melepaskan diri dari Indonesia menjadi negara sendiri serta berdaulat yang sekarang dikenal dengan Timor Leste, sebagaimana telah diumumkan oleh UNAMET pada tanggal 4 September 1999 di Dili dan diterima oleh Presiden RI B.J. Habibie di Jakarta pada hari yang sama dan  disetujui oleh Sekjen PBB Koffi Anan pada malam tanggal 3 September 1999 di New York-AS.

 

Selama 24 tahun (1976-1999) Propinsi Timor-Timur sebagai propinsi termuda Indonesia yang sebelumnya telah terjadi konflik atau perang saudara sejak tahun 1974 antara partai-partai politik UDT, Fretilin, Apodeti Kota dan Trabalhista dan antara sesama suku di Timor-Timur yaitu Firaku, Kaladi, Tetum dan Atoni sebagai akibat dari ketidak mampuan Portugal melaksanakan dekolonisasi dengan baik di koloninya itu. Dengan konflik perang saudara peninggalan penjajah Portugal sejak meninggalkan wilayah itu, dan dengan ketidak mampuan Indonesia untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik secara adil dan diterima dengan baik oleh semua pihak selama kurung waktu 24 tahun serta ekses-ekses yang ditimbulkannya akibat operasi keamanan seperti tuduhan pelanggaran HAM secara sistematis, maka masalah Timor-Timur kembali menjadi sorotan dunia internasional di PBB oleh negara-negara Barat dan sekelompok bangsa Indonesia yang anti Soeharto dan Orde Barunya yang menuntut penarikan mundur Indonesia dan kemerdekaan penuh bagi rakyat Timor-Timur. Dalam konflik berkepanjangan yang dipelihara oleh Indonesia demi kepentingan kelompok dan orang-perorangan telah mengkondisikan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Timor-Timur mendunia antara lain Jose Alexandre Gusmao dengan nama perangnya Kairala Xanana Gusmao sebagai panglima pasukan perlawanan terhadap Indonesia, Jose Ramos Horta di PBB, Amerika dan Europa, Rogerio Lobato dan Mari Bin Alkatiri masing-masing di Angola dan Mocambik-Afrika dan tenggelamnya sebagian tokoh-tokoh-tokoh pejuang integrasi sebagai bagian dari skenario Indonesia untuk mengurangi dukungan rakyat terhadap Indonesia dan memungkinkan mundur dari Timor-Timur tanpa beban moral dan rasa bersalah dan malu.

Dibalik kisah lepasnya Timor-Timur dari NKRI, ada seseorang yang memiliki peranan yang sangat penting dalam memperjuangakan dengan gigih agar masyarkat Timor-Timur  di negerinya untuk teap menjadi kelompok pro integrasi dengan NKRI. Alasannya karena dia tahu betul bahwa Timor-Timur bekas jajahan Portugal tidak bertanggung jawab atas nasib ratusan ribu masyarakat Timor-Timur disebabkan negara Portugal sendiri pada saat itu mengalami krisis dan bangkrut, sehingga Portugal tidak lagi memperdulikan bekas jajahannya tersebut. Orang tersebut adalah Herminio Da Silva Da Costa, pejuang Timor-Timur Pro Integrasi. Bebeapa waktu lalu Forum NGO menemuinya di kediamannya di salah satu perumahan daerah Bogor, Jawa Barat. Berikut hasil wawancara Forum NGO dengannya.

 

Apakah Lepasnya Timor-Timur Dari NKRI Karena Kekecewaan Rakyat Timtim Atau Ada Alasan Lain?

Tidak ada isitlah kekecewaan pada kami, yang ada hanya satu tekad yang ingin bersatu dan berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi karena ada sebagian masyarakat Timor Timur berkepentingan berjuang untuk melepaskan diri dan membentuk suatu negara merdeka tentunya perlu dihormati kehendak itu sebagai wujud dari sebuah demokrasi yang berlaku pada kami warga atau masyarakt Timor Timur. Kalau masalah kecewa saya kira itu adalah bahasa yang dipolitisasi oleh pihak tertentu termasuk di Indonesia untuk mengkaming hitamkan pihak pro-Indonesia dan menghiulangkan hak silpil dan politik yang seharusnya dihormati dan diberikan dalam proses dekolonisasi yang diatur oleh UNTAET dari PBB.

Apa Yang Telah Anda dan Kawan-kawan Lainnya Lakukan Dalam Memperjuangkan Integrasi Timtim Ke Indoesia?

 

 

Dengan hasil Jajak Pendapat tanggal 30 Agustus 1999 yang diterim oleh Presiden RI B.J. Habibie pada tanggal 4 September 1999 maka konsep integrasi gaya 1974 dan 1975 yang diperjuangkan partai [olitik Apodeti serta konsep otonomi khusus dalam NKRI yang ditawarkan pada jajak pendapat itu hanya kenang-kenangan sejarah masa lalu dan tidah etis apabila masis dibawa-bawa sebagai suatu konsep politik untuk Timor Timur.

Kenapa pada Saat Itu Portugal Berniat Melepas dan Tidak Mau Bertanggungjawab Atas Timor-Timur Saat Itu?

 

Sebenarnya Portugal pada saat itu telah dalam keadaan tidak stabil dan ekonomi negara  boleh dikatakan hampir bangkrut, karena di negaranya sendiri tidak dapat mengatur kedaulatan dan kemerdekaannya dengan negara lain karena dalam satu bulan pemerintah sering berganti 3 sampai 4 karena dikup oleh tentara yang tidak puas dengan pemerintah, maka Portugal sendiri dalam keadaan saat itu  mengharapkan agar Timor-Timur lebih terhormat berintegrasi dengan Indonesia, karena jika Timor Timur berdiri sendiri, maka negara yang paling bertanggungjawab atas nasib rakyat Timtim adalah Portugal sebagaimana tercermin dalam pidato menteri seberang lautan Almeida Santos pada tahun 1974 di Dili-Timor-Timur, sebagai berikut ” Timor adalah suatu kontinen yang tidak bergerak dan hanya menjadi beban untuk Portugal dan juga tidaklah mungkin Portugal mengakui dan memerdekakan wilayah Indonesia…’. Maka atas dasar itu partai politik Apodeti lebih percaya diri optimis telah memilih untuk bergabung dengan Indonesia, karena itu, adalah suatu pilihan yang tepat, bila dilihat dari adanya kesamaan budaya dan bahasa  dari rumpun Melayu di Nusantara.

Pada Saat Itu Presiden Soeharto Dan Orang-Orang di Lingkungan Pak Harto, Bagaimana Tanggapannya Atas Kasus Timtim?

 

Pak Harto dan orang-orangnya seperti Letjen TNI (Purn) Yogo Sugama dan Letjen (Purn) Ali Moertopo yang ditugaskan mengikuti perkembangan proses dekolonisasi Timor Timur oleh Portugal dan membantu men yelesaikan permasalahan yang dihadapi rakyat Timor-Timur dan Portugal di bidang politik dan kebutuhan pangan. Ali Moetopo pada tahun 1984 dihadapan para peserta Tarpadnas dimana saya ikut hadir mengatakan bahwa pemerintah Indonesia saat itu berkeinginan memperhatikan dan memberikan bantuan kepada masyarakat Timor-Timur agar mereka lepas dari penderitaan, dengan demikian rakyat Timor-Timur lebih makmur dan mandiri agar tidak lagi dijajah negara-negara lain. Indonesia di masa yang akan datang akan berkembang menjadi suatu Uni Asia Tenggara, kalau dia sudah merdeka akan mendapat tantangan berat dari Asia Tenggara untuk masuk dan bergabung karena sesudah ia merdeka sendiri negara itu akan dikendalikan dan dijadikan basis oleh negara-negara barat termasuk Australia dan Selandia Baru untuk mengganggu dan mendikte Indonesia, juga basis untuk mendukung kelompok perjuangan kemerdekaan seperti RMS di Maluku, OPM di Irian Jaya dan mungkin juga gerakan baru akan muncul di Timor Barat dan Flores. Maka jikalau Timor-Timur merdeka dalam keadaan belum siap akan menjadi masalah dan ancaman dan ganguan bagi Indonesia, ungkap Ali Moertopo saat itu. Dan jika Timor-Timur kita terima dulu sebagai bagian integral dari Indonesia sebagaimana permintaan partai politik Apodeti maka kita akan bimbing wilayah itu sampai Uni Asia Tenggara itu menjadi nyata sesudah tahun 2000 mendatang, dan pada saat itu kita akan carikan bentuk yang ideal dalam Uni itu sebagai anggota.

Jadi Anda Dan Partai Apodeti Sebenarnya Setuju Dan Sependapat Dengan Pernyataan Pak Ali Moertopo Tersebut?

 

Kita juga sempat berpikir demikian sebab bagi kita Timor Timur tidak boleh mendi ancaman dan gangguan bagi Indonesia dalam bentuk apapun, tapi anehnya ada sekelompok elit-elit politik pada era reformasi yang pendidikannya tinggi-tingi mengatakan bahwa Timtim tidak  dijajah Belanda dan tidak masuk dalam wilayah NKRI karena tidak tercantum dalam UUD 1945, sikap politik mereka  berbeda dengan elit-elit politik dahulu meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi diluar negeri seperti elit-elit sekarang, tapi mereka sudah berpikir jauh ke depan. Padahal dalam UUD 1945 alinea terakhir jelas-jelas menyatakan dan Timtim sudah dimasukkan dalam sebuah TAP MPR RI. Saya sesalkan kalau ada pejabat yang tidak mengerti akan itu. Tapi memang mungkin karena kultur Patrialis di negeri ini, kalau ada pejabat negara menyatakan hal yang salah dianggap benar, terlebih masa Orde Baru, seperti model Kraton Kerajaan selalu menganggap benar semua perkataan raja. Berikut kutipan alinea terakhir pada pembukaan UUD 1945 :

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada….”. Bukankah Timor-Timur keturunan dari orang-orang dari rumpu malaio? Jadi kami berhak mendapat perlakuan dan hak yang sama seperti rakyat lainnya di Nusantara ini, jadi janganlah kami diperlakukan seperti anak tiri.

Sergio Viera Demelo (Ketua UNTAET) dan Hermenio Dasilva Da Costa
Sergio Viera Demelo (Ketua UNTAET) dan Herminio Dasilva Da Costa

Menurut Anda Siapa Yang Paling Bertanggung Jawab Atas Lepasnya Timor-Timur Dari  NKRI?

 

Habibie adalah orang yang paling bertanggungjawab atas lepasnya Timtim dari NKRI, karena keputusan kedua opsi yang diberikan kepada rakyat Timor-Timur tidak dilandasi dasar hukum yang kuat, seperti tidak ada konsultasi dengan DPR-RI dan DPRD Tingkat I Timor-Timur dan tokoh-tokoh Masyarakyat dan Politik di Timor Timur. Memang Habibie memanggil Yang Mulia Uskup Belo saat itu, tapi Uskup Belo harus minta izin ke Paus di Roma sehingga tidak dapat segera memenuhi pangglilan itu, dan karena\itu Habibie marah dan membatalkan pertemuan dengan Uskup Belo. Sikap Habibie saat itu tidak konstitusional dan terkesan ”DIKTATOR” dalam mengambil keputusannya tersebut, dan akibat dari keputusan itu yang tidak dilandasi suatu analisa yang matang dari sudut politik dan kemanusiaan maka banyak warga Timor Timur harus menderita dan tidak mampu menghidupi keluarganya, menderita lahir dan batin dan  penderitaan lainnya, tentunya hal ini tidak dapat dimaafkan oleh masyarakar Timor-Timur yang menjadi korban dari pemberian ke dua opsi itu .

Kenapa Anda Bisa Mengatakan Demikian?

 

Pasca kekalahan jajak pendapat dari kedua opsi yang ditawarkan itu, 370.00 jiwa warga masyarakat Timor-Timur yang pro integrasi atau telah memilih otonomi khusus dalam Indonesia memutuskan mencari perlingdungan di NTT dan daerah lainnya, akhirnya terlantar dan menderita, karena tidak ada perhatian dan pembekalan dari pemerintah Indonesia kepada masyarakat pada saat itu bahkan hingga saat ini pun penderitaan masih berlanjut, pada hal seharusnya tidak perlu terjadi apabila rasa pri kemanusiaan menjadi landasan moral dan politik untuk memandang warga Timor-Timur di Indonesia. Maka apabila kita hubungkan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dapat kita simpulkan bahwa keputusan Presiden RI ke-3, B.J. Habibie dalam memberi kedua opsi tersebut benar-benar melanggar Konstitusi RI dan melanggar HAM di bidang Hak Sipil dan Hak Politik.

 

 

Dari Mana Asli Asal Anda?

Saya orang keturunan dari pulau Rote dari pihak ibu sedangkan ayah saya dari Timor-Timur, berarti saya juga keturunan dan asli Indonesia separti bangsa Indonesia lainnya. Sedangkan dari ceritra orang Laleia kampung halaman Kairala Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor Leste saat ini, juga katamya berasal dari keturunan Flores. Jadi perpindahan orang-orang kulit putih dari sana karena pada saat itu bersama-sama rakyat Flores dan Portugis berjuang melawan Belanda dan kalah yang akhirnya mundur ke pulau Timor. Saya sendiri sampai pada tahun 1960 belum mengenal Indonesia, yang saya kenal itu Holanda atau holandes kalau orangnya, saat itu saya sering datang bersama keluarga atau teman bermai ke perbatasan dengan Nusa Tenggara Timur dan menyebut Indonesia sebagai Holanda atau holandes kalau orangnya, itulah akibat pembodohan dan peperangan yang dilakukan oleh kaum penjajah dulu. Dan perlu diketahui bahwa Flores ini dulu dijual oleh Portugis ke Belanda (ditukar tambah). Dan pada saat tukar tambah itu terjadi semua orang yang dulu pro Portugis itu pindah ke Timor. Dan mungkin disitulah orang-orang ini mengungsi ke Oe-kusse pada saat masyarakat Flores dan Belanda mengusir Portugal dari Pulau Flores. Kemudian mereka mendirikan pusat pemerintahan di Lifau-Oekuse. Dan pada tahun 1769 penjajah Portugal diusir dari Lifau-Oekuse dan mereka berlayar menuju timur dan akirnya mereka berlabuh dan mendarat di Karbela dekat Laleia dan Vemasi  dimana daerah itulah tempat sebagian besar perahu Portugal mendarat dan rencananya disitu akan didirikan pusat pemerintah Portugal sebagai pengganti Lifau dan Laleia, (kampung halamannya Kairalka Xanana Gusmao). Jadi nama Karbela adalah nama perahu layar dalam bahasa portugis yaitu ”caravela” yang awal mulanya direncanakan sebagai ibu kota Timor-timur, tapi karena daerah itu kering kurang cocok untuk tempat sebuah ibu kota provinsi, akhirnya dipindahkan ke Dilli. (Forum NGO-Darwan, Idris).

Sumber: Forum NGO

6 thoughts on “Saksi Hidup Timor-Timur

    1. Pak asep, doakan biar Timor-Leste tambah miskin. rakyat Indonesia akan semakin makmur di dunia, tidak ada korupsi, tak ada pencopet dan perampok pokoknya sorga ke dua di bumi.

  1. sejarah dari mana ia……….??????Ternyata sejarah yg anda di tulis semuanya info yg membohongi Ex Tim-Tim dan warga Indo…siapa yg bilang Pa XANANA keturunang Flores heheheh malu don…bapa itu keturunan Indo ia boleh komen begitu karna ibarat kamu ibawahmu seperti harga sebungkus Supermi dan sebunkus Gula, yg jual negaramu, ke pd Indo karna Rupiah sangat memalukan dirimu……Pa Cornelio Xavier Sakit hati atau sakit jantung……yg penting kami merdeka Viva Timor Leste….pa dulu milisi bunuh org ia…makanya pengunsi ke negara org ……pasti kamu kembali yawamu kami akan cabut agar membalas keluarga kami yg kamu bunuh itu

  2. Pa Cornelio ………..sekarang kami punya negara, bendera, Presiden, perdana mentri, Punya UDD, Punya tentara, Punya polisi, Punya uang……Punya Senjata yg Cangih….Perekonomian jg sangat maju apa yg salah…..miskin dari……… Hongkong ia…………atau dulu berjuang Demi Supermi atau Gula….ternyata tidak di capai tujuanmu sekarang hidup kamu sangat miskin makan susah cari uang susah pemerintah Indo tidak memperhatikan kalian akhirnya ……….Alias Kecewa memilih salah……..mau ke Timor-Leste tapi latar belakang Milisi jadi Tingal di Indo kehidupan sangat miskin di dunia….heheheh malu sehinga sembarangan Komen…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s