Romantisme Timor Leste

Oleh: Didik P Wicaksono

Sejak merdeka, 20 Mei 2002, perekonomian dan stabilitas Timor Leste tidak menunjukan pemulihan dan perkembangan yang lebih baik. Presiden pertama, Xanana Gusmoa gagal menyatukan antar faksi dan menyejahterakan rakyatnya. Hingga sekarang, di era presiden ke dua Ramos Horta, negara baru ini sibuk mengurusi konflik dan berbagai kerusuhan antar faksi akibat kesulitan perekonomian.

Kemelut terakhir adalah upaya pembunuhan Xanana Gusmoa dan Jose Ramos Horta yang dilakukan oleh Alfredo Reinado Alves (11 Pebruari 2008).

Di balik konflik, rakyat Timor Leste pasti dapat merasakan perbandingan pencapaian kesejahteraan antara merdeka dan pada saat integrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Siapapun presidennya, kuncinya adalah mampu mengangkat perekonomian dan kesejahteraan rakyat Timor Leste yang lebih baik, dibanding sewaktu integrasi dalam NKRI.

Romantisme dan Kegagalan

Timor Leste (Timor Timur), memiliki romantisme bersama Indonesia, ketika menjadi provinsi ke-27 pada tahun 1976 s.d. 1999. Pada masa Integrasi tersebut, masyarakat Timor Timur menyebut dirinya dengan istilah ‘Indonesia Baru’, pusat kotanya di Dili. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Indonesia Lama’ adalah warga Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pusat Kotanya di Kupang. Kebanyakan masyarakat Timor-Timur beranggapan Indonesia adalah Kupang, wilayah NTT. Satu pulau dengan Timor Timur. Bukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pandangan ini, setidaknya masih dipercaya hingga kini, terutama bagi kebanyakkan masyarakat awam.

Rakyat Timor Timur mayoritas sangat bersahaja dan tulus. Memberikan apresiasi yang positip bagi warga Indonesia. Ilustrasi kebaikan masyarakat Timor Timur kepada warga Indonesia adalah ‘apabila di beri satu mereka membalas dengan memberi dua’. Mereka juga memuji dan banyak belajar bercocok tanam (bertani) atau keberhasilan dalam bidang lain dari warga Indonesia Lama. Refleksi keserasian ini nampak dalam kemeriahan perayaan jamuan makan dan pesta dansa. Masyarakat Timor Timur senang mengadakan pesta dansa sebagai tempat perjumpaan komunitasnya. Seperti perayaan kelahiran, perkawinan dan momen-momen tertentu lainnya. Gambaran mengharukan ini terjadi, terutama di daerah Timor Barat dan sebagaian besar wilayah lainnya.

Daerah Timor Barat adalah daerah yang paling damai, yaitu wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah NTT. Dilihat dari asal-usul ras, geografis, sosial dan budaya, masyarakat Timor Timur dan NTT memiliki banyak kesamaan. Di Atambua, Kabupaten Belu, NTT, merupakan jalur darat yang menghubungkan Timor Timur dan NTT. Daerah Atambua menjadi pusat pertemuan warga ‘Indonesia Baru’ dan ‘Indonesia Lama’. Suplai kebutuhan masyarkat Timor Timur kebanyakan melalui jalur Atambua. Di daerah ini masyarakatnya penuh toleransi dan saling pengertian. Semua warga dapat berbaur, tanpa ada kekhawatiran dan kecurigaan. Pedagang dan pengusaha dari Indonesia (Kupang, Makasar, Padang, Jakarta, Surabaya dan Madura, Banyuwangi dll) banyak terdapat di daerah Atambua. Perekonomian tumbuh pesat.

Selama integrasi, pemerintah Indonesia telah menjadikan ‘anak emas’ Timor Timur dalam anggaran pembangunan, di banding dengan provinsi lain di Indonesia. Infrastrutur berupa sarana transportasi, instalasi listrik, baik PLN maupun listrik tenaga surya, sarana kesehatan dan sarana pendidikan gencar dibangun dan hampir merata di semua wilayah Timor Timur. Di tiap Kabupaten terdapat rumah sakit dan di tiap kecamatan terdapat puskesmas. Dokter, perawat, guru dan pekerja lainnya banyak yang bekerja di Timor-Timur. Kemakmuran bagi rakyat Timor Timur diharapkan semakin menyadari bahwa Integrasi adalah pilihan yang rasional.

Disisi lain, proses pembangunan adakalanya memang menciptakan komunitas yang terpinggirkan. Konsekuensi logis dari integrasi dan pembangunan adalah proses ‘peng-indonesia-an’ dalam semua aspek kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik. Indonesia, sewaktu di bawah pemerintahan orde baru cenderung menyeragamkan (uniform) dalam banyak hal. Sikap kritis bisa di tuduh suversif, apalagi sikap kritis di Timor Timur. Sikap kritis di Timor Timur mendapat perlakuan represif dari pemerintah.

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya elite politik yang pada awalnya pro-integrasi akhirnya mereka merasa kecewa. Indonesia bukan sebatas Kupang/NTT. Keinginan ‘meminjam tangan’ atau integrasi hingga tahun 1980 sulit terwujud. Sebaliknya pengaruh Indonesia semakin luas dan secara perlahan pula ‘di antara mereka merasa marjinal’ di daerahnya sendiri. Lebih banyak jabatan strategis dan lapangan pekerjaan baru yang dipegang oleh orang ‘Indonesia lama’ dibanding dengan ‘Indonesia baru’.

Mereka yang kecewa diam-diam merindukan otoritas primordialismenya. Integrasi hanya terkait dengan ‘rupiah’-nya. Pro integrasi dan sekaligus memperjuangkan kemerdekaan merupakan fenomena yang lazim. Mereka yang bersikap mendua secara rahasia membangun jaringan ‘gerakan bawah tanah’ atau kladestein. Lambat laun para pendukung integrasi semakin banyak yang membelot dan melibatkan diri dalam gerakan bawah tanah. Sebagian juga membangun jaringan dengan Fretilin yang sebelumnya dianggap sebagai musuh bersama.

Pemerintah Timor Timur (terutama di era Gubernur Abilio Jose Osorio Soares, 18 September 1992 – Oktober 1999), dihadapkan pada puncak situasi elite politik yang diam-diam menginginkan kemerdekaan. Tidak jelas siapa ’merah putih’ sejati dan siapa ’merah putih’ setengah hati. Sikap-sikap mendua banyak terdapat lembaga-lembaga pemerintahan, mulai dari tingkat gubernur sampai aparat di bawahnya. Demikian juga keuskupan (gereja) di Timor Timur, banyak memberi dukungan dan perlindungan terhadap aktivis pro kemerdekaan. Mantan Gubenur sebelumnya Mario Viegas Carrascalao ( 18 September 1983 s.d 18 September 1992) adalah tokoh merah putih setengah hati yang bahu membahu dengan Uskup Belo dalam mendukung kemerdekaan Timor Leste.

Disisi lain, gaya feodalistik warisan Portugis yang diterapkan para elite Timor Timur telah menciptakan jarak dengan rakyat Timor Timur sendiri. Elite politik pro integrasi dapat dihitung yang sepenuh hati berkomitmen memperjuangkan kemakmuran rakyat secara menyeluruh. Selebihnya, disamping bersikap mendua juga hanya memikirkan kepentingan golongannya sendiri. Hal ini pula yang dimanfaatkan dengan baik oleh simpatisan Fretilin.

Upaya-upaya integrasi secara utuh meliputi aspek psikologis, sosial dan budaya akhirnya tidak pernah terjadi. Justru korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) banyak mewarnai jalannya pemerintahan. Elite politik Timor Timur kebanyakan terjebak pada sikap oportunis. Seakan-akan berintegrasi dengan Indonesia tetapi sesungguhnya diam-diam mempersiapkan diri untuk dapat lepas dari pengaruh Indonesia.

Banyaknya sikap oportunis elite Timor Timur, lambat laun integrasi dan wacana mempertahankan Timor Timur semakin tidak poluler. Provinsi lain di Indonesia juga masih banyak yang tertinggal. Perhatian pemerintah lebih besar ke Timor Timur dibanding, misalnya provinsi NTT dan NTB malah mengundang kecemburuan. Sebaliknya konstribusi timbal balik Timor Timur bagi Indonesia hampir tidak ada.

Bahkan karena Timor Timur, Indonesia menuai kecaman bertubi-tubi dari dunia Internasional. Timor Timur ibarat infeksi usus buntu yang apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Elite politik era reformasi pun mayoritas tidak keberatan melepas Timor Timur. Di samping itu, Timor Timur secara administratif termasuk wilayah Portugis. PBB tidak pernah memberi pengakuan terhadap Integrasi bersama NKRI.

Kemerdekaan Timor Timur hanyalah masalah waktu. Eforia kemerdekaan Timor Timur menemukan momentum ketika presiden BJ Habibie memberikan opsi tetap Integrasi atau merdeka, melalui referendum. Padahal Elite Timor Timur sebenarnya masih merasa gamang dan ragu tentang kemerdekaannya. Sebagian besar mereka yang berada di ’status qua’ pro integrasi lebih menginginkan otonomi luas dibandingkan dengan harus merdeka.

Menjelang referendum, di samping wacana ’lebih baik merdeka walau menderita’ berhasil dihembuskan oleh kelompok-kelompok oportunis, juga berbagai bentuk intimidasi telah memaksa rakyat Timor Timur memilih merdeka, dibandingkan dengan alternatif pilihan otonomi luas yang ditawarkan oleh Indonesia.

Akhirnya penderitaan itu benar-benar menjadi kenyataan sejak merdeka hingga kini. Kesulitan perekonomian semakin mendera rakyat Timor Leste. Perekonomian terus merosot, Timor Leste terperosok sebagai negara termiskin di Asia Tenggara.

Siapapun presidennya, Timor Leste tidak akan dapat merdeka dan berdaulat dari campur tangan negara asing. Campur tangan negara asing pimpinan Australia merupakan kebutuhan bagi penguasa Timor Leste dalam menghadapi konflik antar faksi dan pemulihan ekonominya. Pemerintahan Australia berkepentingan dalam pengolahan minyak di Celah Timor dengan prosentase perbandingan 80 persen untuk Australia dan 20 persen untuk Timor Leste. Agaknya “andekdot” minyak di Celah Timur Leste di tukar dengan Bir terbaik buatan Australia ada benarnya?.

***

Didik P Wicaksono. Pemerhati perkembangan Timor Leste. Penulis pernah tinggal di Kabupaten Kovalima, Timor-Timor pada tahun 1993 s.d 1994. Tulisan ini didedikasikan buat sahabatku “Merah Putih” sejati Eurico Guterres. Semoga sukses dipemilihan caleg pemilu 2009 sehingga dapat berjuang demi kesejahteraan rakyat. Lebih dari itu semoga Saudara Eurico Guterres dapat mengembangkan bentuk kerjasama dengan Pemerintahan Timor Leste demi kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. Rakyat Timor Leste dan NTT adalah Saudara serumpun. Tidak ada alasan untuk memelihara dendam pada masa lalu demi masa depan yang lebih baik.

Sumber: PAclapo

2 thoughts on “Romantisme Timor Leste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s