Jum’at pagi, handphone ku bterang benderang, ada sms masuk. Teman minta di tlp balik. Beliau dengan nada gembira berkata: “bos, ada good news”, sertifikasi untuk guru honor undangannya dah ada”. Tak lama kemudian, beliau datang. Langsung surat edaran tertanggal 5 April 2010 dari Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta Selatan, langsung kubaca. Isinya antara lain:

1. Sertifikasi dilakukan melalui Pendidikan (belajar lagi, kuliah maning)

2. Masa kerja minimal 5 tahun pertahun 2010

3. Menyertakan Ijasah S1/DIV yang sudah dilegalisir

4. Surat pengantar dari Kepala Sekolah dan Ijin belajar dalam program ini

5. Kumpul terakhir ke Dinas tersebut pada tanggal 20 April 2010

6. Biaya ditanggung peserta sertifikasi

7. Peserta adalah guru PNS atau non PNS. Non PNS di Sekolah negeri adalah guru honor/GTT, dan non PNS di sekolah swasta ialah Guru Tetap Yayasan.
Seorang teman menuturkan, bahwa jalur pendidikan dikenal dengan istilah “Kutunggu”, yakni Kuliah Sabtu Minggu. Surat tersebut yang dapat dikatakan sebagai perencanaan, ternyata terdapat perbedaan dengan yang sudah dilaksanakan di Surabaya 3 tahun lalu. Berdasarkan berita dari  Surabaya,  guru-guru yang mengikuti program ini akan dididik layaknya mahasiswa selama setahun penuh. Selain itu, mereka disuruh praktik mengajar di lapangan melalui PPL. Dalam satu menempuh 36-38 SKS. Selanjutnya, yang bertentangan dengan isi surat edaran tahun 2010, khusunya no.6, di Surabaya, para guru yang mengikuti sertifikasi jalur pendidikan itu tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali. Bahkan, mereka mendapat uang buku, SPP, dan uang saku. Setiap bulan angkatan 2007 mendapat Rp 1 juta, sedangkan angkatan 2008 Rp 1,25 juta. Kenapa Jakarta tidak sama dengan yang di Surabaya?, kenapa harus dibedakan?…..