Dua hari sebelum rusuh di Koja, Tanjung Priok terjadi, aku menulis hal yang sama, namun tentang Tahun 1998 di Jakarta (juga). Kekerasan, dan kekerasan terjadi. Belum selesai kerusuhan besar di Bangkok, kini di Jakarta. Aku disajikan tontonan kekerasan “yang menakjubkan”, betapa beringasnya bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang memiliki catatan sejarah yang gemar “amok” dalam menyelesaikan berbagai sengketa, ya, sebuah amuk massa.

Korban berjatuhan tidak terhindarkan. 3 meninggal dunia dari pihak pemerintah daerah (baca: Satpol PP), dan ratusan luka berat dan ringan dari rakyat dan Satpol PP-Polisi. Dilihat dari sejarah, Indonesia sudah mengalami perubahan. Gaya militerisme ala Orde Baru tidak ada, sehingga peristiwa Tanjung Priok 1984 juga tidak terulang. Namun, amuk massa yang banyak dimotori kaum rohaniawan, seperti FPI, dan rakyat lainnya, termasuk preman pelabuhan Tanjung Priok, telah menyadarkan kebodohan Satpol PP bahwa penggusuran dengan kekerasan tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang pasti: pasti tergusur. Ternyata, simbol agama yang tidak digubris, telah memukul mundur Satpol PP dan Polisi, kramatnya makam Mbah Priuk menjadi semacam candu untuk melakukan aksi mati-matian untuk menggagalkan penggusuran.

Pastinya, seperti halnya Tanjung Priok Tahun 1984, 2010, Tanjung Priok juga berdarah…..